
Yang tulus selalu kalah sama yang good looking dan good rekening. Itulah yang dibahas oleh Memet dalam pergolakan hatinya bersama kotak makanan berisikan sup yang sudah dingin. Miris dirinya bagaikan taplak meja dijadikan lap muka, hancur hatinya seperti ketika layangannya putus lalu yang dapat duluan malah Andi. Mata hatinya mewek mengalir air mata tersembunyi, meskipun wajahnya masih mempertahankan wajah sangar. Mau bagaimana pun, muka Memet tetap aja kaya preman.
Bayangkan saja, ia rela hujan-hujanan sampai masuk angin cuma buat beliin abat dan vitamin untuk Tami di malam hari. Lalu, semalaman ia kepikiran bagaimana hari-hari Tami yang sebatang kara di rumah itu, tanpa orangtua yang mengurus. Okelah Sarah mau saja menemaninya, tetapi wanita itu juga punya kesibukan sendiri. Rela Memet mengibuli bos dealer motor tempat ia bekerja hanya untuk membuatkan sup spesial, lalu panas-panasan di siang hari menuju kantor Tami. Namun, hanya pemandangan itu yang ia dapatkan. Hanya lambaian tangan Tami kepada Pram yang ia lihat.
Memet tetap tegar di hadapan Andi agar tidak terlihat sedih, meskipun sebenarnya ia pengen banget ngeluh kenapa kisah cintanya begini-begini aja. Kalau enggak dicuekin, ya disakitin. Andi tetap menangkap ekspresi Memet yang sedih itu ketika ia menyerahkan kotak makan berisikan sup kepadanya. Memet meminta Andi agar dimakan saja sup itu sendirian karena ia harus balik lagi bekerja. Tanpa kata-kata, Memet langsung pergi kembali ke dealer motor.
Berceritalah Andi kepada Sarah mengenai apa yang Memet alami tadi. Sembari makan sup berdua yang mungkin saja rasanya pahit bagi Memet untuk sekarang, Andi menceritakan secara detail, bahkan sampai ke cerita waktu Memet nantangi satpam Kantor Kementrian Keuangan.
“Jadi gitu … yaa gue mau gimana ya, kaga bisa berbuat apa-apa waktu Memet balik lagi. Gue sebagai sahabatnya Memet tentu aja kasihan. Tapi walaupun begitu, Tami kan juga sahabat gue. Gue bingung sekarang,” jelas Andi.
“Huuu … ka … ka … sian Memet. Huuu ….” Sarah malah nangis terisak-isak mendengar cerita cinta Memet yang kaya di novel-novel. Soalnya Sarah pernah baca novel penulis yang bernama Bang Jai itu. Katanya sih novelnya bagus-bagus, katanya ….
“Lah kok elo nangis sih? Heran gue ….”
“Gue kasiaaan lihat Memet disakitin mulu dari dulu. Huuu ….”
“Ah lebay banget sih!” protes Andi.
“Ya elo cowok ga mikirin sampai perasaan, cuma sampai logika doang.” Sarah mengelap matanya pakai kaos doraemon yang ia kenakan.
“Sekarang mulai nyalah-nyalahin gue. Nyesel gue nyeritain ini ke elo,” balas Andi.
“Kan elo marah sama gue ….”
“Haaa gila gue … iye … iye … gue yang salah.” Andi jadi kesel bicara sama Sarah. Mau gimana pun, Sarah tetap pacarnya sehingga Andi menempelkan wajah Sarah ke bahunya. “Udaah … nanti Memet bakalan baik lagi kok. Sama preman aja ga takut, masa sama ginian aja dia mewek ….”
Meanwhile di WC dealer motor … Memet malah mewek sendirian sambil ngerokok. “Tamiii … lo tegaa sama guee Tami …..”
Sarah sungguh prihatin dengan Memet. Takutnya dia nanti malah bundir gara-gara patah hati dengan cara nahan napas sendiri, soalnya Memet pernah bercanda seperti itu kepadanya. Ingin sekali Sarah menanyakan hal sebenarnya sekaligus memberitahu setulus apa Memet kemarin, tetapi Sarah tidak ingin terlalu mencampuri urusan mereka berdua. Nanti takutnya Sarah dianggap sok-sokan menengahi urusan orang. Lagi pula, hubungan Tami dan Pram merupakan hal privat. Selama ini Tami tidak pernah bercerita yang menjadi tanda jika Tami sangat merahasiakannya.
Malam ini Sarah tetap menemani Tami di rumah dengan bercanda ria seperti biasa. Tami masih merasakan lemas pada tubuhnya dan belum benar-benar pulih. Sup yang diberikan Memet tadi siang cukup banyak. Sebagiannya ia berikan kepada Tami dengan dalih jika papanya lagi senang memasang hari ini. Oleh karena itu, maksud Memet agar Tami memakan sup itu akhirnya terwujud, meskipun sedikit bumbu pengibulan.
Agar Memet kembali ceria, Andi meminta Memet agar libur menjaga pos ronda malam esok untuk ikut bersama mereka ke festival musik kampus. Selama tiga hari, akan ada festival musik yang diadakan oleh BEM Universitas. Sebenarnya Andi dan Sarah ingin berduaan di festival tersebut karena selalu saja dijadiin ajang pacaran bagi pasangan-pasangan kampus. Demi Memet kembali ceria, Sarah mengajak Memet karena pria itu cukup menyenangi musik band indie.
Tentu saja Tami menolak ikut karena tubuhnya masih lemas. Pergilah Sarah dan Andi ke rumah Memet memakai mobil mamanya Andi. Ditemukan Memet sedang terkapar di bambu tempat bersantai depan rumahnya. Ia sedang memandang langit dengan setelah sarung dan pecian, sekaligus rokok kretek yang menempel pada bibirnya. Bahkan, kopi di sampingnya masih utuh dan beruap.
“Bengong-bengong, nanti lo diseruduk genduruwo, mau?” sindir Sarah.
Memet duduk ketika melihat dua orang temannya itu datang mengunjungi.
“Kalian ngapain pakai baju bagus, mau ngemall?” tanya Memet.
“Enggak, mau ke festival musik kampus. Di sana ada Band The Djancuck loh,” sambung Andi. Band tersebut merupakan band punk rock yang lagi booming saat ini. Ia berharap dengan kehadiran band tersebut membuat Memet ikut karena Memet penikmat musik-musik keras.
“Terus?” tanya Memet sembari menyeruput kopinya.
Duduklah Sarah di samping Memet dengan mengambil alih peci pria itu, lalu diletakkan ke kepalanya sendiri. “Ikut yuk bareng kami. Di sana ada cewek-cewek sexoy lo. Nanti gue kenalin deh sama Nabe temennya Andi. Sumpah tuh anak body-nya badadontos kaya gitar spanyol.”
“Mending gue nonton pilem bokev kalau cuma ngelihat cewek-cewek begitu,” balas Memet frontal.
“Oh gitu ya?” Sarah menoleh ke arah rumah Memet. “MAAK … MEMET KEMARIN KAGA SOLAT JUMAT. DIA MAIN KE WARUNG⸺”
Mendengar hal tersebut, Memet langsung membekap mulut Sarah pakai sarungnya. Bisa-bisanya Sarah memberitahukan kepada Emak kalau Memet tidak solat jumat minggu kemarin. Sewaktu itu, Sarah mempergoki Memet sedang menongkrong di warung dekat lapangan bola di kala ceramah solat jumat sedang berkumandang dari speaker masjid, Bukannya ikut bersama para Jemaah dengan duduk diam dan tenang mendengarkan ceramah, Memet malah asyik memutat scatter pada permainan slot online yang sedang banyak digandrungi para pria.
“Tunggu bentar gue ganti baju ….” Memet berdiri sembari merapikan sarungnya.
__ADS_1
“Jangan lupa pakai pakaian keren ya, pakai sepatu sama parfum. Mana tahu ada cewek yang nanti lengket sama elo ….”
“Bacot lu, diem,” jawab Memet dengan kesal,
Memet keluar dari rumahnya dengan penampilan bak seorang badboy berdamage. Sarah mengakui jika Memet cocok sekali sebagai pemeran-pemeran badboy SMA di film remaja jaman sekarang. Wajahnya bersih, tidak seperti Andi yang masih ada jerawatnya, cuma cenderung cokelat aja karena kecilnya sering main panas-panasan. Postur tubuh Memet sangat mendukung untuk penampilan badboy karena memilih tubuh tinggi dan berotot. Kalau memakai kaos tipis yang ngepas banget ke tubuh, tampaklah otot bahu dan pundak Memet yang menonjol. Apalagi kaosnya yang dia pakai ialah kaos item dan celana sobek, bikin wanita takut dipalak, eh maksudnya bikin wanita bakalan ngelirik. Hanya saja, Memet tidak menyadari kelebihannya tersebut.
“Anjir lo mau jadi tukang parkir atau apaan ….” Andi malah mikir kalau Memet berpenampilan terlalu sangar.
“Hussh …,” sindir Sarah, lalu menoleh ke Memet. “Enggak kok, malah keren dan cocok buat lo.”
“Kalau makai kemeja atau jas ke konser, mending nonton paduan suara aja lo,” sindir Memet balik.
Andi menggaruk keningnya dengan polos. “Bener juga ya ….”
Pergilah mereka ke festival musik kampus yang merupakan malam terakhir. Tentu saja malam puncak ini akan didatangi oleh banyak para mahasiswa karena aka nada band-band indie Ibu Kota yang mengisi panggung. Halaman berbagai gedung fakultas dijadikan tempat parkiran. Terlihatlah penuh sesak oleh para pengunjung. Acara ini gratis untuk umum dan tentu saja akan ada banyak mahasiswa dari kampus lain.
Baru saja mereka berjalan menuju lapangan bola yang dijadikan tempat konser, jalanan kampus dipenuhi oleh para muda-mudi yang ingin menikmati malam bersama. Cewek-cewek dengan berbagai fashion pun ditemui oleh Andi dan Memet. Andi sedikit was-was untuk melirik karena ada Sarah di sampingnya. Sementara Memet sibuk menelusuri cewek mana yang paling cantik malam.
Sewaktu matanya lagi jelalatan, Memet teringat lagi kepada Tami. Meskipun cewek-ceewek itu jauh lebih cantik daripada Tami, tetapi tidak ada yang lebih baik dari Tami untuk saat ini. Tami itu spesial di hatinya, mendapatkan tempat terindah dan terukir dalam benaknya. Sehingga, jejak-jejak itu akan terbawa ke mana-mana membentuk rindu, meskipun akhirnya patah hati yang Memet rasakan.
Sarah berbaik hati membelikan Andi dan Memet minuman boba dari stand minuman yang didirikan oleh BEM Fakultasnya, sekaligus memperkenalkan teman-teman Sarah yang lagi banyak nongkrong di sana. Lagi-lagi, cewek yang bikin Andi kesel ketemu lagi di sana, yaitu Kelly.
“Kelly ….” Ia menarik tangan Kelly ke arah Memet. “Kenalin nih temen gue, Memet.”
“Oh, ya? Gue Kelly, udah punya pacar tapi ….”
Kan bener, mulutnya Kelly sebelas dua belas sama Sarah, tidak bisa ditahan sama sekali. Padahal, Memet tidak ada menyampaikan maksudnya untuk memacari cewek itu. Tapi entah bagaimana, otaknya mungkin sedang sengkle malam ini karena minuman boba BEM Fakultas Kedokteran kecampur baygon.
“Oh gue Memet ….”
“Andi, lo main aja sana ke kerumunan konser. Gue di sini sama Kelly. Lo bisa bawa Memet ke stand BEM fakultas kalian, mana tahu Memet nyantol sama salah satu cewek kalian kan …. Hehehe ….”
“Wah bagus sekalii dong …,” balas Andi.
“Kok bagus jawabannya …..?” tanya Sarah dengan heran.
“Biasa … pasti Andi mau ngelihatin cewek-cewek waktu lo ga ada Sar. Hehehe ….” Kelly malah menyambung kalimat.
“Ih beneran ngeselin ya lo?”
Kelly malah membalas dengan menjulurkan ujung lidahnya.
“Terserah deh, gue kaga peduli. Yang penting lo waktu balik ke sini, udah bawa makanan yaa. Awas kalau enggak ….”
“Ya udah … oke oke …. Daah … lop yu,” ucap Andi.
“Lop yu tuu ….”
“Jijik gue,” pungkas Memet.
“Gimana dia cool kan?” tanya Sarah ke Kelly, tapi malah kedengaran sama Memet.
“Diem lo Sar ….” Memet jalan duluan dan diikuti oleh Andi di belakang.
Ternyata usaha Sarah memperkenalkan Kelly kepada Memet gagal sudah. Padahal sebenarnya, Kelly tidak punya pacar dan baru saja putus dua bulan lalu sama anak teknik gara-gara diselingkuhin. Mungkin saja Memet bukan tipenya Kelly sehingga ia merespon kehadiran Memet biasa-biasa aja.
__ADS_1
Andi pun mengajak Memet ke stand BEM Fakultas Keguruan yang menyediakan makanan kekinian. Ia sekaligus berniat membeli makanan di sana agar nanti bisa dimakan sama Sarah yang selalu lapar. Sebenarnya Andi tidak terlalu kenal dengan mereka, tetapi di sana masih ada Rijik si ganteng dari kelasnnya Andi, Tasya, dan Naila. Sewaktu Memet bertemu Tasya dan Naila, Andi tidak menyangka jika mereka saling mengenal. Barulah Andi tahu kalau Memet sedang menjadi model produk fashion dari Naila dan projek mendatang akan menjadi model produk parfum pria di toko online milik Tasya.
“Keren banget lo, keling-keling begini jadi model,” ucap Andi.
“Eh, Memet ini punya wajah yang maskulin loh,” bantah Naila.
“Iya … lo ini ada-ada aja. Makanya gue pilih buat jadi model produk kosmetik pria di toko gue juga,” sambung Tasya sembari toss ama Memet. “Sarah mana?”
“Itu dia nangkring ke stand BEM Fakultas kedokteran. Hmm … ya udah deh, Kami liatin konser yaa ke tengah.”
“Okee ….” Tasya melambai kecil. “Nanti mampir lagi ya ….”
Dari kegelapan pohon, Andi melihat sosok cewek yang sedang duduk sendirian di kursi plastik. Sewaktu diperhatikan, ternyata itu Nabe yang lagi sendiri-sendiri kaya miss kunti lagi nangkring. Apalagi rambut Nabe itu kan panjang, makin mirip deh. Andi bersama Memet menyempatkan diri untuk ke sana lebih dahulu untuk menghampiri Nabe.
“Ngapain sendirian di bawah pohon ….”
“Andiiii ….” Nabe berdiri dan langsung memegang tangan Andi. “Ari Kiting jahat malah ninggalin gue sama temen-temennya. Katanya mau nemenin gue di sini ….”
Andi panik waktu Memet ngelihatin Nabe yang bertingkah manja padanya. “Aduuh … si Ari Kiting malah nganggurin anak orang di sini.”
“Masa gue gabung sama anak cowok kelas? Kan gue enggak akrab ….”
“Oh ini … Memet kenalin dulu. Temen rumah gue ….”
Nabe memandang datar kepada Memet. “Nabe …”
“Memet ….” Memet malah memicing ke bawa dagu Nabe. Sudah tahu apa yang sedang diperhatikan Memet dengan penampilan Nabe seperti itu, selalu sexy dan menggugah selera para pria.
“Nama lo ga seserem penampilan lo,” sindir Nabe.
“Ya gimana lagi emak gue yang ngasih nama ….”
“Gue pergi sama kaliaaan yaaa …..”
Andi melihat memet. Pasti anak itu sedang memikirkan hal yang tidak-tidak pada dirinya.
“Main sama cewek kelas napa?”
“Ga mau, gue mau sama elo.” Wajah Nabe tampak sebal.
“Udah … biarin aja nih anak ikut sama kita.”
“Tuh temen lo aja pengertian sama gue, masa elo enggak?” tanya Nabe.
“Ya udaaaah ayoo ….” Andi bergerak duluan.
“Mumpung kaga ada Saraaah ….” Nabe malah menggandeng Andi.
Di belakang Memet hanya menggeleng kepala, parah nih anak main di belakang ….
“Eh bangsaat …. Gue ceburin lo ke kolam anak perikanan mau?”
“Heheheeh …..” Nabe tertawa licik.
***
__ADS_1