
“Lo ngedeketin Tami?” tanya Memet tanpa basa-basi.
Bukan tanpa alasan bagi Memet untuk mengajukan pertanyaan tersebut. Gelagat Pram di mata Memet masih sama seperti pertama kali ia kenal. Pram selalu bisa membuat luluh hati wanita yang ia kenal dari setiap sikap lembut dan penuh perhatian. Terkadang membuat bingung orang-orang yang melihat sikapnya tersebut, antara sikap aslinya atau pun memang benar-benar bermaksud untuk mendekati. Memet terjebak di antara dua persepsi tersebut.
Tami merupakan wanita yang penuh pesona. Ia lemah lembut, lugu, dan anggun. Sangatlah cocok jika Tami dan Pram disandingkan berdua, lain dengan dirinya sendiri. Menjadi pesaing Pram untuk mendapatkan Tami sangatlah mustahil. Ujung akhir sudah dapat ia rasakan, meskipun belum ia coba. Lawan yang cukup berat bagi Memet dengan segala kekurangannya. Hal yang ia banggakan hanyalah ketulusan. Lalu, apakah wanita cukup hanya dengan ketulusan? Tentu saja tidak. Memet selalu memikirkan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi.
Pertemuan antara Tami dan Pram setelah lama tidak bersua sudah diketahui oleh Memet. Ia menjadi sangat khawatir dengan hal tersebut. Tatapan wajah Tami sangat berbeda apabila berhadapan dengan Pram. Ada sebuah simpul gugup tertunjukkan setiap ia berbicara, jauh berbeda apabila Memet yang menjadi lawan bicara. Terlebih lagi Pram selalu membawakan sesuatu untuk Tami setiap kali mereka bertemu. Bagi Memet, tentu saja hal itu akan membekas dan mungkin saja akan tumbuh menjadi benih-benih bagi Tami.
Denting bunyi peralatan perbengkelan di tangan Memet tetap bergema di antara mereka berdua. Tangan Memet masih saja memutar baut agar kencang dan tidak lepas. Asap rokok yang terselipkan di bibirnya mengawang tanpa perlu ia hisap, bahkan abunya saja tidak sempat ia petik. Sementara itu, mata Memet berfokus kepada sosok maskulin yang berada di hadapan. Tatapan mereka saling bertemu pada satu titik, seakan menimpulkan impluls listrik yang beradu.
“Atas dasar apa lo nyimpulin hal seperti itu?” Pram membakar rokok yang sedari tadi terselipkan pada telinga.
Memet mengalihkan padangannya ke ban mobil Agus. Ban sudah sanggam terpasang pada tempatnya dan setiap baut sudah ia pastikan tidak akan mudah lepas. Ia mulai menyimpan peralatan kembali pada kotaknya.
“Sikap lo … tatapan lo … dan banyak hal lainnya.”
“Rasanya dia enggak ada beda sama cewek-cewek lainnya. Tami memang menarik. Dia cantik dan seorang wanita cerdas. Mungkin saja dia bisa bikin gue tertarik buat ngedeketin.”
“Apa itu jawaban dari pertanyaan tadi?” tanya Memet untuk memastikan.
Pram tersenyum pelan. Ia tarik ujung rokok dari bibirnya, lalu memetik abunya agar jatuh ke tanah berpasir.
“Gue belum selesai bicara,” ucap Pram tatkala asap mengepul di antara mereka. “Dengan segala kelebihan Tami, bukan berarti gue suka sama dia. Lo enggak bisa nyimpulin hanya dari sikap luar gue. Karena apa? Perihal rasa itu ada di hati. Lo emang tahu isi hati gue?”
“Kalau gue tahu, berarti gue dukun.”
__ADS_1
“Nah itu maksudnya. Emangnya kenapa? Lo keberatan atas sikap gue?” tanya balik Pram.
Memet berdiri sejenak. Ia kembali mengantar kotak peralatan tersebut ke dalam mobil Pram. Jawabannya terucap tepat tatkala ia menutup pintu mobil.
“Soal keberatan atau enggaknya, itu bukan urusan lo.”
“Lalu? Apa hubungannya?”
“Kita punya masa lalu yang buruk Pram. Tapi di antara semua orang di sini, cuma lo yang masih gue awasi.” Memet menunjuk dada Pram. “Gue cuma mau bilang, kalau enggak mau bikin baper anak orang, lo berhenti bersikap lembut sama mereka. Mungkin itu biasa aja bagi lo, tapi belum tentu sama mereka.”
Pram membuang pelan tangan Memet. “Itu bukan urusan lo. Lo suka sama Tami?”
“Haha … seperti yang lo bilang, apa lo tahu isi hati seseorang? Kalau lo tahu, berarti lo dukun.”
“Gue cuma bertanya.”
“Hal yang sama, itu bukan urusan lo,” pungkas Memet.
Pram meludah kecil setelah kalimat penutup dari Memet. Ia merasakan jika Memet memiliki prasangka tertentu terhadap dirinya. Tatapan dari pria itu seakan ingin menantang dirinya. Pram mengakui mentalitas seorang Memet benar-benar di atas rata-rata. Di antara seluruh orang dari sisa-sisa perseteruan masa lalunya, hanya Memet yang tidak menyimpan rasa segan. Ia tidak kenal takut sampai sekarang. Pram pun tidak heran jika banyak orang menyandingkan kekuatan antara Memet dan Kevin. Memet sebagai orang terkuat di SMK Permesinan pada masanya, sedangkan Kevin merupakan orang yang memegang kendali kekuatan di SMA.
Satu langkah memasuki warung singgah tersebut melupakan seluruh pikiran negatifnya tadi. Pram memasang wajah positif sebagaimana wajarnya ia bersikap. Satu senyumnya tampak kepada kepada seorang wanita yang tampak melambai kecil di antara para pria tersebut.
“Itu kenapa dua sejoli bisa beda meja?” tanya Pram kepada Tami.
Tami menggeleng tidak tahu. “Entahlah. Mereka malah milih duduk di sana.”
__ADS_1
Sementara itu di meja Sarah dan Andi, mereka sedang sibuk saling bertatap serius. Sarah berada di seberang Andi. Tangan mereka terlipat di atas meja seperti anak SD yang ingin dipilih untuk pulang lebih duluan. Andi pun berkedip dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Nah, elo kalah. Sekarang elo yang traktir gue. Gue mau mie dabel.” Sarah menempelkan kedua telapak tangannya.
Ternyata eh ternyata, mereka lagi lomba adu tatap-tatapan. Cukup absurd gaya pacaran dua orang ini yang enggak masuk di akal. Dikirain saling ngambek dan bicara serius, ternyata lagi ngelakuin hal unfaedah. Hal begini udah biasa bagi Andi dan Sarah ketika memilih orang yang mentraktir.
Yaelah … gue yang menang pun tetap gue yang traktir, ucap Andi dalam hati.
Andi menggenggam tangan Sarah.
“Ayo gabung sama mereka. Kita misah gini gara-gara ngelakuin hal konyol kaya begini. Aneh-aneh aja.”
“Tunggu dulu ….” Sarah menahan langkah Andi. “Lo ngelihat antara Pram dan Memet ga tadi?”
“Gimana? Apaan sih … kayanya enggak terjadi sesuatu.”
Tangan Andi membantu Sarah untuk berdiri.
“Entahlah, gue ngerasain mereka bicara serius. Telunjuk Memet tadi nempel ke dada Pram.”
“Elo aja sering nempelin telunjuk lo ke dada Kevin. Kan elo bilang kalau orang berotot itu dadanya kaya ayam goreng tebel. Kali aja Memet lagi ngetes ototnya Pram.”
“Oh iya juga ya … mungkin aja Memet pengen punya otot kaya Pram dan Kevin.”
Sungguh tidak berfaedah percakapan mereka berdua. Sesampainya di meja bersama, mereka langsung nimbrung ke percakapan yang sedang berlangsung. Ternyata mereka lagi ngegibahin Andi yang pernah muntah setelah minum-minum. Waktu itu keluar semua tuh isi pecel malam hari yang waktu itu ia makan.
__ADS_1
Yaelah … pergi clubbing mahal-mahal, eh sebelumnya ngeganjel perut dulu sama pecel.
\*\*\*