Andi X Sarah

Andi X Sarah
139. Ada Elo (SEASON 3)


__ADS_3

Hari keberangkatan KKN pun tiba. Andi sangat penasaran sekali untuk pertama kali di dalam hidupnya ia tinggal jauh berkilo-kilometer dari rumah kedua orangtuanya. Sebagai orang Minang yang kenal dengan perantauannya, Andi ternyata tidak terlalu menyimpan mental itu. Ia lebih suka bertahan di tempat yang membuatnya nyaman. Namun, kali ini ia harus melawan arus dan banyak memperlajari hal baru untuk adaptasi nanti.


Desa tempat KKN mereka berada di lima hingga enam jam perjalanan menggunakan mobil. Termasuk desa terpencil dahulu, tetapi semenjak dibina oleh pemprov setempat, akses ke sana sudah mulai membaik. Listrik dan jaringan internet sudah bisa dikatakan bagus. Anak-anak KKN pun jadi lega setelah mendengar penjelasan dari papanya Tasya.


Ngomong-ngomong mengenai orangtua laki-laki dari Tasya, beliau berbaik hati menyewakan minibus yang nyaman mereka. Minibus itu yang akan mengantarkan anggota KKN beserta dosen pembimbing KKN menuju desa tersebut. Dosen pembimbing KKN pun senang karena langsung berkomunikasi dengan pembina desa dari anggota DPR. Beliau berharap anak-anak bimbingannya bisa melaksanakan KKN ini tanpa hambatan berarti.Ya jangan sampelah ada berita anak KKN yang kabur gara-gara enggak betah, atau pun anak KKN yang malah tinggal di sana seusai masa KKN karena udah jatuh cinta dengan salah satu gadis dan lajang desa.


Sebelum berangkat, Andi menyempatkan diri untuk memberitahu Bang Dedi bahwasanya ia sedang KKN. Senior itu pun memberikaan saran-saran baiknya karena sudah berpengalaman ketika KKN bertahun-tahun lalu.


“Sini gue bawain koper elo ke dalam,” ucap Andi kepada Sarah yang tampak mengantuk pagi hari ini. Beda banget sama Andi yang semangat empat lima.


“Baik banget kek ada maunya,” balas Sarah.


“Nih gue sentil lo biar ga ngantuk lagi.” Andi menjentik dahi Sarah dengan lembut. “Lo ngapain sih malam tadi? Kan gue suruh tidur biar besoknya seger.”


“Lah emangnya gue bucin yang langsung tidur kalau disuruh ayang? Gue main PS lah ngelanjutin progress residen evil gue. Untung  aja bisa tamat semalaman,” jawab Sarah dengan tenang dan tanpa hambatan.


Andi pun baru sadar kalau selama ini ia pacaran tidak dengan wanita biasa. Kalau wanita pada umumnya suka ngegym biar tubuhnya sexy dan dilirik sama cowok-cowok, lah Sarah malah sibuk di karate biar bisa ngesmekdon cowok-cowok yang ngeliriknya. Di kala cewek lain mainannya skinkeran mahal, lah Sarah mainnya motor trail yang kalau dia naik harus ngejinjit dulu. Nah, kali ini Sarah main game PS Residen Evil yang isinya zombie-zombie menyeramkan dan menegangkan. Andi aja ampun mainin game itu.


“Nanti kalau elo sakit, gue enggak nanggung loh. Pasti capek hari ini ….”


“Ya elah sayang, gue mah hujan badai halilintar angin ribut pun jarang sakit. Emangnya gue kaya elo minum es dikit langsung tenggorokannya serek?” balas Sarah tidak ingin kalah.


“Yakan itu beda. Lo ini kaga bisa dibilangin. Ah, ga taulah gue.” Andi mengangkat tas koper milik Sarah. “Ini tas isinya apaan yak? Berat banget.”

__ADS_1


“Ya bajulah, apalagi? Tangan lo noh yang kurang otot, isinya lemak doang.”


“Marah-marah mulu. Efek ga tidur gini nih ….”


Andi memasukkan tas milik Sarah ke dalam minibus. Sudah ada supir yang akan merapikan tata letak barang bawaan mereka. Pagi hari ini harusnya sudah berangkat. Namun, papanya Tasya mentraktir para mahasiswa sarapan bubur ayam dulu. Ia meminta supirnya untuk membelikan bubur ayam agar bisa dimakan di dalam bus nanti.


Supir bus enak-enakan ngerokok sambil ngopi diparkiran fakultas, apalagi di hadapan dosen dan papanya Sarah yang seorang anggota DPR. Santuy banget kaya ga ada beban. Supirnya kan yang bakalan ngebawa anak-anak. Kalau enggak ngerokok dan ngopi dulu, nanti takutnya tidak fokus. Nah, Andi karena melihat supir bus begituan, mulutnya jadi asem pengen ngerokok dan ngopi. Waktu permisi ke belakang fakultas dulu, Sarah malah menahan karena tahu Andi pergi untuk merokok.


“Lo ini di mana-mana jadi ahli hisab terus!”


Tangan Sarah mencubit pinggang Andi agar ia kembali duduk di sampingnya.


“Asem mulut gue Sar. Kalau ngerokok di sini, gue segan sama Bapak Dosen dan papanya Tasya.”


“Tahan dulu napa?! Temenin gue di sini ….”


“Nanti gimana ya di posko KKN. Kita kan pacaran, apa kita terus kelihatan kaya orang pacaran?”


Andi paham, ia pasti bakalan canggung sama anak KKN yang lain mengenai hubungan mereka berdua. Seluruh anak KKN akan tinggal di dalam posko, tentu saja satu rumah. Sarah takutnya nanti mereka sedikit relatif di-spesialkan. Nanti anak cewek yang lain segan bicara sama Andi, atau anak cowok yang segan bicara sama Sarah.


“Kan selama ini kita emangnya kaya orang pacaran?” tanya Andi balik.


“Lah kok gitu sih?” Sarah jadi cemberut.

__ADS_1


“Gitu doang dipikirin. Udah … bersikap aja kaya biasanya. Toh orang selama ini kaga ngira kita pacaran karena elo enggak mau romantis-romantisan gitu. Tapi gue tahu lo itu sayang banget sama gue, cuma romantisan-romantisan itu bukan gaya elo ….”


Wajah Sarah jatuh di pundak Andi untuk sementara, lalu menariknya lagi karena takut Bapak Dosen melihat perbucinan mereka hari ini. Baru aja di sini udah berduaan, apalagi nanti kalau di posko KKN yang notabene satu rumah tinggalnya.


“Jangan bikin ulah ya di desa. Lo itu sering bikin ulah!”


“Lo ini mikirnya gue ini pengacau mulu. Gimana sih?” tanya Andi.


“Ya nanti lo malah gelud sama pemuda kampung. Kan elo ga bisa dilirik lama dikit sama cowok. Langsung tuh ditantangin.”


Tangan Andi mengelus rambut Sarah. “Sarah, gue ini mahasiswa … bukan atlit MMA. Ingat itu. Pergi tuh ngobrol sama Nabe atau Kelly, jadi gila gue gara elo di sini …..”


“Kan gue ini memang bikin elo gila mulu, kan?”


Ujung lidah Sarah terlihat untuk menyindir Andi. Ia pergi kemudian dengan meninggalkan wangi parfum yang masih menempel di tangan Andi. Harum banget, sampe pengen Andi jilat, soalnya wangi vanilla vanilla gitu. Kaya wangi eskrim kalau Andi cium dengan lama.


Tatakala Sarah berpindah dengan Nabe dan Kelly, Andi melihat Tasya yang datang kepadanya. Ia bersandar di sebalik tiang bangunan fakultas sembari menyentuh ujung rambut indanya itu.


“Andi, gimana … udah siap KKN kan?”


“Udah dong, gue udah siap. Kalau elo?” tanya balik.


“Gue seneng banget bisa KKN. Soalnya ada elo ….”

__ADS_1


Wajah Andi yang tersenyum, kini terdiam melihat wajah Tasya yang menyimpulkan hal lain.


***


__ADS_2