
Keceplosan
Dingin khas sebuah mall menusuk hingga ke tulang Andi. Tanpa diduga hujan turun tiba-tiba ketika mereka sedang dalam perjalanan. Masih dengan seragam SMA, mereka melangkah menuju konter servis handphone-nya Sarah. Masing-masing mereka sedikit menjaga jarak, walaupun lama kelamaan Sarah tertinggal beberapa langkah karena langkah Andi yang lebar.
"Kamu bawa uang, kan? Ga apa-apa kok kalau aku aja yang bayar biayanya," tanya Sarah di belakang.
Andi terhenti sejenak. Ada yang mengganjal dari kalimat Sarah. "Apa? Aku? Kamu?" tanya Andi.
"Oh, lidah gua kepeleset. Lo bawa uang ga? Kalau enggak, gua aja yang bayar."
"Nggak, gua kan rajin menabung, ganteng lagi. Uang gua lebih dari cukup buat bayar biaya servisnya," balas Andi.
Ingin rasanya Sarah muntah di depan Andi trus ngacak-ngacakin mukenya sampai ancur. Jijik bener Sarah mendengar kalimat sok ganteng dari Andi. Ganteng sih ... tapi ga kepedean juga kalii.
Ia biarkan Andi berbincang dengan abang servis kemarin. Tampak handphone Sarah sudah seperti baru lagi, tidak ada kaca yang pecah seperti waktu itu.
Tangan Andi menyerahkan sejumlah uang kepada abang servis. Ia juga tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.
"Uangnya berlebih malah, lo ngeremehin gua soal uang," kata Andi samba menyerahkan handphone Sarah. "Ayo, ke Kaefci. Mumpung gua lagi beduit."
Ia tampak ragu, terlihat dari caranya melihat jam tangan sesaat. "Anu─"
"Udah ... ngikut aja. Bawel amat ... itung-itung utang gua lo traktir gua waktu itu."
Anjir nih anak. Dari tadi narekin tangan gua. Giliran gua narek tangan dia, eh malah dibilang jijik!!!!!!
Andi mengambil tempat duduk duluan. Sementara Sarah menjaga jarak dari holang kaya tapi norak kaya Andi. Masuk Kaefci kaya udah masuk ke taman bermain. Girang amat ga karuan.
Seperti kemarin, Sarah yang pergi memesan makanan. Dia udah tahu kalau si Andi ini bener-bener katrok sampe mesan makanan di restoran aja ga pande.
"Makannya pelan-pelan ya," kata Sarah sambil memberikan burger kepada Andi.
"Perhatian banget lo sama gua."
Sarah terbatuk, keselek, kayang bentar, trus duduk lagi.
__ADS_1
"Bukan perhatian, gua malu punya temen katrok sedunia kaya lo?"
"Jadi, lo nganggap gua teman?"
"Yaa. Hmmmm ...." Sarah membuang pandangannya. "Ya, ga gitu juga kali."
"Jadi, gua ga temen lo?" tanya Andi dengan singkat.
Njirr.... wajah ini anak kok serius banget, ucap Sarah dalam hati.
"Yaa ... bukan begitu maksud gua. Iya, lo temen gua. Susah banget ngomong sama lo, Ndi."
Senyum Andi memekar hingga ke sudut maksimalnya. Matanya melebar menatap Sarah, lengkap dengan pupilnya yang berbinar. Ia sangat senang Sarah menganggapnya teman.
"Gua ga punya temen cewek. Liat aja sendiri di kelas," kata Andi.
"Lah, kok begitu?"
"Setiap cewek yang jadi temen gua, pasti ujung-ujungnya suka sama gua," balas Andi sambil menggigit burgernya. "Itu saking gantengnya gua."
"PEDE AMAT LO MUKE MAHOO!!!" Sarah membalas dengan melempar sebuah kentang goreng ke muka Andi. "Jadi, lo ngatain gua bakal suka sama lo gitu, Njing?"
"Bisa jadi. Hahahahah."
Tangan Andi menyambut handphone-nya yang pernah menjadi saksi bisu anget angetan kalau sendirian di dalam kamar. Ia sudah kangen dengan semua pilem-pilem .... Pilem boruto dong yang dikasih Nanang. Baru sampai episode 20, eh terpaksa dia berhenti menonton karena handphone itu dia pinjamin ke Sarah.
Mata Andi fokus ke gantungan handphone yang terpasang di sana. Tali berwarna biru dengan manik-manik bintang berwarna kuning sudah memperimut hanphone-nya yang dulu sangar dengan lagu-lagu metal, trus lagu dangdut, Via Vallen apalagi.
"Seriously?" tanya Andi dengan mengangkat gantung handphone tersebut.
"Aneh ya kalau anak cewek makai begituan?"
"Bukan itu maksud gua, ini gua lepas atau lo ngasih ke gua?"
"Lo pakai aja kalau lo mau," jawab Sarah.
Andi teringat dengan kejadian tadi yang banyak anak SMK sebelah ngedatangin Sarah. "Tadi berandalan itu ngapain?"
"Dia minta ID LINE gua."
__ADS_1
"Apa?"
"Ya begitu lah." Sarah menggigit gigitan burger terakhitnya. "Andi, gua boleh cerita?"
"Ya, silahkan."
Matanya menatap ke bawah meja. Napasnya tampak lambat tidak seperti biasanya.
"Gimana ya ... Gua ngerasa ga enak kalau semua laki-laki takut sama gua. Apa gua seserem itu ya?" Sarah tersenyum nyengir kepada Andi untuk membuktikan bahwa dia tidak seseram itu.
"HAHAHAHAHAAGHAHAHAH, yang benar saja?"
"ANJIR LO, gua serius, Ndi."
Andi berpikir sejenak. Ada satu saran yang ingin ia sampaikan. "Jadi, gini ... Coba lo bersikap sedikit manis sama laki-laki. Dikiiiiittt aja ...."
"Jadi lo ngatain gua ga manis, gitu? Gua clurit juga pala lo ntar."
"Nah, yang seperti itu yang harus lo hindarin. Coba lah bersikap sedikit lembut," balas Andi dengan santai.
"Bersikap lembut, ya?"
Sarah mengingat lagi yang sering ia lakukan kepada anak laki-laki yang suka melawan aturan sekolah. Mulai dari nyeret mereka ke ruang BP dengan satu tangan, ngejar mereka yang cabut, meng-smekdon anak cowok yang ngerokok di WC, ngelempar sepatu setiap cowok yang enak-enakan tidur di UKS, meg-sleding kepala anak cowok yang udah terkontaminasi micin, dan yang terakhir kali ia menendang pentolan SMK sebelah sampai mampus.
"Jadi gua harus bersikap seperti ini?" Ia berdehem sebentar untuk mempersiapkan ekpresi lembut apabila Andi melakukan pelanggaran lagi. "Andi, jangan kaya gitu ya ..... "
Andi terdiam. Senyum Sarah terlalu hangat untuk dipandang. Wajahnya terlalu manis untuk dilihat, terlalu mahal untuk dilewatkan. Pesan bapaknya Nanang, apabila kita melihat wanita seperti ini, kita harus banyak mengucap. Subhanallah, Andi mengucap kagum.
Ia mimisan.
"Itu terlalu imut, Sarah."
"Kata lo gua harus bertindak lembut, jadi gimana, sih?
"Ya ... biasa aja. Ga usah lebut-lembut banget. Bisa-bisa lo bikin cowok satu sekolah mimisan. Soalnya lo itu can─"
Andi menutup mulutnya dengan tangan. Ia keceplosan.
Kepala Sarah memereng tatkala mendengar kalimat terpotong dari Andi. Ia tersenyum keci. "Apa? Gua cantik?"
__ADS_1
"ENGGAKK!!!!!!"
***