Andi X Sarah

Andi X Sarah
58. Pekerjaan (SEASON 3)


__ADS_3

Alam menceritakan sendiri bagaiman mereka memikat para penikmatnya. Mungkin saja melalui gemercik air terjun dan gemuruhnya tatkala jatuh di kolam pemandian, mungkin pula dengan jernihnya air yang membuat setiap mata mampu untuk menatap dasarnya. Lalu, setiap hari bersyukur dengan apa yang terjadi hari ini, berharap tetap terjadi di kemudian hari yang dinantikan. Hati pun terpikat, tidak ingin lepas dari alam. Bahkan, rasa sedih dan rindu muncul begitu saja tatkala kata pulang berucap di antara waktu.


Tami dan Memet tidak lebih dari sekian banyak hati yang sedang melakukan itu. Rasanya ingin berlama-lama di sini untuk menikmati air terjun. Meskipun hanya duduk di tepian air sembari meminum kopi kalengan, hati pun terasa bahagia. Tidak perlu berendam ke tengah kolam air terjun, cukup mencelupkan kaki untuk merasakan kesegarannya.


Sesi foto sudah berakhir. Tami mendapatkan banyak foto bagus dengan Memet sebagai modelnya. Sebagai orang yang tidak pernah mencoba modelling seperti itu, Memet boleh dikatakan terdukung oleh postur tubuh proposionalnya dan paras hitam manis. Ia tidak butuh seputih Andi untuk menjadi perhatian, melainkan dari kulit eksotis khas pria nusantara pada umumnya. Selain itu, Memet memiliki karisma gelap yang memikat. Ia cocok memakai pakaian bercorak gelap khas pria-pria berandal dengan gaya sangarnya.


Tawa Memet memancar tatkala ia melihat hasil foto yang ia lakukan kepada Tami. Mereka sempat bergantian untuk mencoba kemampuan masing-masing.


“Hahaha … kayanya gue kaga bakat deh buat fotoin orang. Tapi gue heran, kenapa setiap orang mau foto, malah gue yang diminta motoin.”


“Kamu itu megang kameranya kurang stabil, terus belum terbiasa mencari angel yang tepat untuk mengambil gambar. Tapi, lumayan sih buat pemula,” balas Tami.


Air beriak tatkala Tami menarik kakinya dari dalam air. Ia sedikit menyirami kaki Memet yang bernoda lumpur. Maklum, pria itu rela bertelanjang kaki agar kakinya tidak lecet menjejal medan licin dan tajam ini.


“Foto yang lo ambil dari gue keren juga. Gue enggak nyangka bisa seganteng gitu. Apa karena efek kamera kali ya?”


“Hmm … bisa jadi karena kamera gue bagus. Tapi, lebih besar pengaruhnya karena kamu itu cocok buat gaya urak-urakan seperti itu. Pokoknya kalau kamu casting pilem jadi anak geng motor, pasti cocok banget deh.”


“Hahah … ya kali gue main pilem. Disuruh tampil di SMK aja gue kabur. Ade-ade aje lu, Tam,” balas Memet.


“Aku ini serius, Met.” Ia memandangi Memet. “Kamu itu punya postur tubuh lebih tinggi dari Andi. Otot-otot kamu juga tegas. Dipakaikan pakaian apa aja pasti cocok. Wajah kamu juga ngedukung untuk pose coolboy atau badboy gitu.”


“Gue kan memang preman, Tam. Preman itu kan badboy ….” Satu alis Memet berdiri tatkala mengatakan hal tersebut.


Menurut informasi yang ia dapatkan dari thread di twitter, cewek-cewek itu suka sama badboy. Cowok badboy itu memang terkesan sexy dan menggoda, terutama tatkala mereka menatap cewek yang lewat. Tapi, Memet rada-rada kaga percaya. Kalau dikira-kira, Memet kurang badboy apa lagi. Satu kampung, preman-preman pada tunduk sama dia. Kalau ada preman yang malakin, malah preman itu yang ngasih duit sama Memet. Kembali lagi ke pasal kedua dan ketiga, yaitu good looking dan good rekening. Memet ngerasa tidak punya kedua hal itu.

__ADS_1


“Met … kamu mau job ga?” tanya Tami.


“Job buat jadi preman, gue tiap hari mah ngelakuinnya. Satu kampung gue jagain dari pos ronda,” jawab Memet.


“Ih, aku serius Memet. Aku ada job buat kamu.” Tami menekan kalimatnya.


Mendengar hal tersebut, Memet jadi bingung. Emangnya job apaan yang cocok buatnya. Kaga mungkin aja Tami seorang bandar narkoboy yang lagi nawarin job buat jadi kurir. Soalnya Memet udah beberapa kali ditawarin sama bandar-bandar kecil buat jadi kurir. Tapi karena Memet masih punya keteguhan diri untuk tidak menjadi orang kriminal, Memet pun menolaknya dan tanpa menjadi cepu. Muka boleh preman, tapi hati tetap penuh dengan iman.


“Job apaan?” tanya Memet dengan singkat.


“Bua jadi model …..”


Memet sontak terbatuk karena hal tersebut. Boro-boro mau jadi model, minta fotoin aja dia gagu. Untuk kedua kali seumur hidupnya Memet ditawarin job yang absurd bagi dirinya, setelah yang pertama ditawarin jadi kurir narkoboy.


Tami mengangguk tegas. “Iya, kamu sekarang aku tawarin jadi model.”


“Emangnya kenapa bisa gue jadi model, mon maap nih ye,” sanggah Memet.


“Jadi gini, kamu masih kenal Naila kan? Itu loh yang pernah bikin Sarah cemburu. Waktu dulu kita kelas 12 dan Naila kelas 10. Dia itu loh pernah deketin Andi, ngegatel sama Andi, terus ngajakin jalan Andi gitu. Aku tuh rada-rada enggak suka sih sama dia sebenarnya dulu. Gimana aku enggak suka sama dia, dia kan udah bikin Andi selingkuh. Sarah jadi stress banget waktu itu. Pokoknya Naila parah banget sih. Udah tahu Andi punya pacar, tapi masih dideketin⸺”


“Tami… pliss ….” Memet mengelus rambut Tami dua kali. Kini ia pun paham dengan Tami, ia tetap seperti wanita pada umumnya yang suka ngajakin gosip. “Langsung aja ke intinya, malah ngegosip … hahaha ….”


“Oke sorry, kok malah jadi gossip ya? Hehehe ….” Tami berdehem sebentar. “Nah, Naila kan udah baikan tuh sama Sarah termasuk aku. Kami diajakin main ke rumah dia. Ternyata, Naila punya olshop buat produk fashion. Rencananya sih dia mau bikin toko gitu. Nah, aku dijadiin fotografer buat produk tokonya. Kami lagi nyari model. Model yang cocok buat cowok itu, aku rasa kamu.”


“Lo beneran yakin nih ngejadiin gue model?” tanya Memet dengan baik-baik. Ia masih merasa ragu kenapa Tami menjadikannya model untuk sebuah produk, sementara Memet sama sekali belum ada pengalaman menjadi model.

__ADS_1


“Bener, kamu itu cocok banget buat jadi model produk fashion pria. Untuk yang kecil dulu, jadi model produk tokonya Naila aja. Fee-nya gede lo, lo pasti suka.”


“Pertama, gue bukan orang berpengalaman. Kedua, gue enggak mau ditawarin hanya karena gue temen kalian. Ketiga, gue itu orangnya pantang banget nolak rejeki.” Memet menganggu kemudian. “Oke … gue terima. Asalkan lo bombing gue apa aja yang bakal dilakukan.”


“Tenang aja, lo enggak bakalan kecewa.”


Memet mendapatkan job setelah liburan ini, yaitu menjadi model. Sungguh penawaran yang sangat diluar topik kemampuannya. Memet merasa dirinya itu ditakdirkan untuk mesin dan bekerja di lingkungan mekanik dengan berpakaian noda oli. Namun, kali ini ia akan mencoba hal yang berbeda. Meskipun begitu, Memet merupakan orang yang pekerja keras. Ia tidak pernah milih-milih pekerjaan. Oleh karena itu, Memet berusaha untuk tetap profesional menjalani  pekerjaan tersebut.


Percakapan itu pun berakhir. Mereka kembali pulang. Sesampainya di rumah, Memet pun heran kenapa terjadi keributan di belakang villa. Tatkala ia lihat, ternyata tengah berlangsung pertandingan basket three on three.


Baru saja Memet dan Tami datang, peluit tanda permainan berakhir pun berbunyi. Penonton yang berasal dari ibu-ibu petugas kebun villa bersorak seperti pemandu sorak.


“HAHAHA … akhirnya kita menang!!!” Sarah meloncat ke punggung Andi.


Tanpa ragu dan tanpa bimbang, Sarah malah naik ke pundak Andi. Kini, mereka berdua bener-bener kaya posisi di konser-konser Band Slank. Kedua paha Sarah yang berkeringat, tengah mengapit leher Andi dengan kuat. Mau tidak mau, Andi harus tetap mengangkat Sarah dengan posisi seperti itu.


“Yooo … kita menang,” balas Andi.


“Alah … udahlah kalian cowok semua, tapi malah kalah sama tim yang ada satu orang cewek,” sindir Sarah.


Kevin pun mendunduk  malu karena diejekin. Ia ingin pertandingan selanjutnya dimenangkan sebagai cara mengambil hadiah dan membawanya pulang. Kini, skor satu sama untuk kedua belah pihak, yaitu tim Andi dan tim Pram.


“Sarah, turun govlok!” Andi udah kaga tahan,


***

__ADS_1


__ADS_2