
Matahari bergelimang cahaya di pagi hari yang tegang ini. Setiap murid berdebar-debar bagaikan bom perang yang berjatuhan. Langkah mereka begitu getir di belakang deru jalan para orangtua. Pengambilan raport memang yang paling menengangkan daripada hari-hari lainnya.
Selapis seyum menyingsing di bibir Andi tatkala keluar dari mobil bersama Mama. Hari yang menegangkan bagi para murid pada umumnya bukanlah hal menakutkan baginya. Baginya sebelas tahun bukanlah waktu yang lama untuk membiasakan diri dengan pengambilan raport. Lagi pula, Andi sudah bisa menebak bagaimana hasil nilainya.
"Ma, kalau nilai Andi jelek, jangan marah di rumah ya."
"Indak, do. Andi kan anak Ama. Sayang Ama jo Andi. Ndak mungkin Ama berang-berangkan Andi. Tapi iyo, potong jajan ang sabulan." Mama Andi menjawab menggunakan bahasa minang (Enggak, kok. Andi kan anak Mama. Sayang Mama sama Andi, Ga mungkin Mama marahin Andi. Tapi iya, potong jajan kamu sebulan)
Andi terguncang mendengar jajannya akan dipotong jika nilainya jelek. Ia hanya tersenyum. Tiap semester ancaman seperti itu sudah biasa ia dengar. Namun, hal yang ia takutkan tidak pernah terjadi.
Koridor kelas Andi sudah tampak dipenuhi oleh para orangtua. Di sana terdapat Mama Tami yang sedang berbincang dengan seorang pria berkumis tebal.
"Sarah itu sebenarnya ga pernah belajar. Dia sering keluyuran. Dia malah sibuk sama motor. Tuh, akibat motornya dia kecelakaan," ucap Om Isan atau yang lebih dikenal sebagai papanya tami.
"Aduh, Tami malah saya suruh keluar rumah, Pak. Dia sendiri yang ga mau. Takut ntar item. Walah, kulit seputih itu susah itemnya," jawab mama Tami. Tak lama kemudian ia menatap kebelakang dan mendapati mama Andi sedang mendekat. "Uni Eti, lama banget datangnya."
Uni berarti kakak dalam bahasa Minang.
"Eh, Amel ... Pak Isan." Mamanya cipika-cipiki sama Tante Amel. "Itu loh, Andi bokernya kelamaan. Saya tungguin setengah jam. Udah saya siapin pepaya biar dia makan. Saya kirain Andi sembelit makanya bokernya lama banget."
Seketika Andi menajarak sambil nutup muka.
"Uda Budi mana? Biasanya pulang kalau ngambil raport Andi," tanya Tante Amel.
Uda berarti abang dalam bahasa Minang. Udah Budi ini merupakan panggilan daripada papanya Andi. Andi dan Budi, lah udah kaya nama di buku cetak Bahasa Indonesia-nya anak SD.
"Uda masih di luar kota. Sibuk banget. Udah diminta tuh Andi pindah sekolah ke Padang biar ketemu sama Papa terus. Dia sendiri yang ga mau. Tapi ga apalah, kan papanya bisa pulang sekali seminggu."
Ketiga temannya ia dapatkan sedang bersantai di kantin sambil menyantap sarapan pagi. Tampak wajah tegang dari masing wajah mereka. Agus yang itam legam menjadi pucat putih karena pengambilan raport.
"Untung enyak gue yang ngambil. Babe masih ada ceramah di luar kota," ucap Nanang. Ia masih terlihat santai, tidak seperti Agus.
"Mending, Nang. Lah gua, bapak gua pulang jauh-jauh dari kebun sawitnya buat ngehajar gua kalau nilai jelek."
__ADS_1
"Mampus lo semua. Hari ini cece gue yang ngambil. Orangtua gue ga peduli mau gua tinggi atau rendah nilainya. Yang penting gue bisa bikin bisnis sendiri." Felix menyendok lontong sayurnya.
Mendengar kata cece, telinga Andi langsung berdiri. Cecenya Felix punya paras yang cantik dan kulit putih mulus seperti orang Tionghoa pada umumnya.
"Mana Cece lo?" tanya Andi.
"Ga tau, tadi lagi berdiri di depan kelas."
"Lah, kok gue ga lihat?"
"Mana gue tau."
Pengumuman dari toa meminta para murid untuk berkumpul di lapangan upacara. Dari seluruh penjuru sekolah, irin-iringan murid terlihat untuk menyaksikan sang juara umum bertegak diri di podium sekolah.
Para guru sudah duduk di kursi yang telah di sediakan Mic serta speaker tersedia di atas podium. Murid-murid yang membuat suara ribut di barisan seketia diam ketika Kepala Sekolah berjalan ke arah podium. Jalannya tampak tegap dengan sepatu hak tinggi serta perhiasan yang menunjukkan dirinya merupakan bukan dari kalangan biasa.
"Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada para wali murid yang sudah menyempatkan datang untuk pengambilan raport para murid."
Kalimat terakhir dari Kepala Sekolah menjadi pertanda bahwa pengambila raport semakin dekat. Murid-murid seketika bergumam mengenai siapa yang akan mendapatkan juara umum di sekolah.
"Ga mungkin, paling anak kelas 12. Mereka pasti nilainya tinggi-tinggi."
"Tapi, Sarah jangan dianggap enteng juga. Walaupun kelas 11, dia sering bawa harum nama sekolah."
Telinga Andi risih mendengar anak cewek yang merumpi mengenai calon juara umum. Tidak penting mau anak kelas 12 yang juara umum atau siapa saja, yang penting tidak akan pengaruh apa-apa baginya.
"Gua yang juara umum." Andi menggertak kumpulan rumpi anak cewek di sebelah kanannya. "Ribut banget, sih."
"Ga mungkin lo yang juara umum. Berandalan kaya lo mana bisa. Bahkan gue ga yakin lo bisa dua puluh besar di kelas."
Andi, harap bersabar ....
Tangannya mengurut dadanya untuk tidak emosi. Memang sih, kalimatnya tadi benar adanya dan nge-jleb banget sama Andi.
__ADS_1
"Yang penting gua ga pernah ngina orang yang lebih bodoh dari gua." Andi memalingkan wajahnya dari kumpulan rumpi anak cewek.
Agus dan lainnya menahan tawa melihat Andi yang emosi menghadapi para anak cewek itu. Nanang merangkul Andi dan mengelus dadanya.
"Sabar, cewek selalu benar," ucap Nanang. Ia tertawa kemudian,
"Tapi yang dibilang sama mereka benar, Ndi. Lo ga boleh marah. Hahahaha," tambah Agus.
Benar, ia adalah anak bodoh yang tidak punya prestasi apa pun di akademik. Namun, dunia ini tidaklah begitu adil bagi orang-orang seperti dirinya.
Ia selalu dihina seperti itu hingga acap kali memancing emosinya. Bahkan, guru juga sering menyinggung mengenai prestasi akademiknya yang jelek. Padahal dirinya sudah belajar tiap malam untuk meningkatkan nilanya. Meskipun demikian, usahaya sering berujung sia-sia.
Kalimat yang tadi ia dengar membuat Andi menjadi tidak mood. Ia tidak mengerti mengapa setiap orang hanya menilai seseorang dalam konteks akademik. Begitu tidak adil. Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing. Andi cukup sering mengharumkan nama sekolah di kancah olahraga. Orang lain belum tentu bisa seperti dirinya. Namun, itu tidak pernah menjadi tolak ukur penilaian bagi orang lain.
Andi tidak pernah marah jika dianggap rendah oleh. Hal itu tertuang dalam Kode etik keberandalan No.7 tahun 2017, yang berubunyi,
kesel boleh, balas jangan.
"Juara umum 2 diraih oleh Sarah Veronika dari kelas XI. IPA. 2"
Setiap pasang mata tertuju kepada seorang wanita yang baru saja berdiri dari tempat duduknya. Paras cantik serta matanya yang bening tak bercelah itu seketika membuat Andi terpana sesaat dalam imajinya sendiri. Sungguh senyum yang penuh makna saat ia menyambut piala di sana, begitu sempurna melengkung pada wajahnya.
Andi berteriak di balik wajahnya yang murung. Teriakan yang tidak akan pernah didengar oleh siapa pun. Hatinya diam-diam memuji seseorang, sambil berharap hati di seberang sana balas menatapnya. Sebuah angan yang tak kan pernah tersampaikan. Ia tak akan pernah sesempurna Sarah, menjadi orang yang selalu dipuji oleh orang-orang.
"Gua cabut dulu," izin Andi pada ketiga temannya.
Hati Sarah begitu riang karena saat ini adalah tahun keduanya ia mendapatkan piala juara umum di sekolahnya. Kepala Sekolah memujinya berkali-kali atas prestasinya tersebut. Pria tua berkumis tebal yang tengah berdiri di bawah pohon cemara itu sangatlah bangga karena anaknya tengah dipuji oleh seluruh warga sekolah.
Namun, ia lihat pria dengan setelan baju yang dikeluarkan. Berjalan dengan tatapannya yang turun. Bermandikan cahaya mentari yang hangat, langkahnya tetap terlihat dingin. Tak ada usaha darinya untuk menghentikan Andi. Ia biarkan pria itu melakukan hal yang ia mau. Ia selalu seperti itu di saat bahagia seperti ini.
Agus, sahabat seperjuangannya pernah berkata kepada Sarah.
"Ia membenci orang-orang pintar, karena ia nggak akan pernah seperti mereka. Satu alasan ia nggak pernah hadir di acara penghargaan, karena ia nggak akan pernah dianggap."
__ADS_1
***