
Kisah cinta itu telah lama berlabuh seperti cerita Rahwana dan Shinta. Betapa dalamnya rasa yang membentuk palung manja pada hati Memet, tidak lekang oleh rindu pada setiap ujung malam. Berkalungkan secarik kertas pengutipan uang ronda menjadi awal mula rasa menggerogoti sukma. Awan pun terasa teduh semenjak itu, meskipun panas memanggang dahaga. Malam menjadi hangat, meskipun dingin menembus ke dalam tulang. Masakan Andi pun jadi enak, meskipun gosong bagian tepinya.
Ya begitulah jika cinta telah merasuki jiwa. Tiada hati tanpa kata untuk memikirkannya. Setiap jamuan kopi tersaji untuk menulis puisi-puisi rindu, petikan gitar bermain hanya untuk sebuah nama. Waktu tidak berjalan sebagaimana mestinya, terdapat gaya yang berhasil untuk memanipulasi agar punya ruang membayangkan seraut wajah. Wajah itu terbayang-bayang dalam lamunan, hingga tidak sadar bos perusahaan lagi nangkring di depan wajah Memet.
Memet pun tidak merasa lega tatkala Sarah mengatakan jika Tami belum memiliki pacar. Ia masih merasa ragu, meskipun terkesan tidak tahu diri. Sepanjang perjalanan, Memet tampak serius mengendarai motor tanpa bertanya lebih lanjut. Ia tidak ingin Sarah membahasnya lebih jauh karena akan semakin membuatnya patah hati.
“Makasih banget, ya.” Sarah memberikan uang jasa nganterin plus uang rokok kepada Memet. “Uang rondanya minta aja sama papa. Dia udah pulang.”
“Oke, gue masuk dulu nih.” Memet memasukin pekarangan rumah Sarah.
Sembari menunggu Memet keluar dari rumah, Sarah pura-pura ngotak-ngatik motor yang parkir di pekarangan. Ia memberhentikan Memet tatkala pamit untuk keluar pekarangan.
“Lo suka sama Tami?” tanya Sarah.
Wajah Memet tidak mampu menyembunyikan jawaban itu. “Kenapa lo harus tahu?”
“Duduklah sebentar … cerita sama gue.” Ia menunjuk tempat duduk kayu yang berada di bawah pohon rambutan. “Gue bawain minuman.”
“Boleh request, ga?”
“Pala lu boleh gue request mau dibogem pakai apa?”
Awalnya kasihan malah jadi kesel. Berani-beraninya request minuman. Mumpung Sarah punya stok minuman energi emsatulimalima, ia memberikan satu kepada Memet. Sementara itu, Sarah nyusu minuman indomilik kesukaannya.
“Jadi, elo yang maling rumah Pak Armen?”
“Gue mau ngomong serius ini. Lo malah bawa becanda. Ga asik,” balas Sarah.
Wajah Memet turun menatap dedaunan kering. Ia injak salah satu dedaunan selayaknya kondisi hati yang sedang ia rasakan. “Dia cinta pertama gue.”
“Wow, seorang Memet mengatakan kalau Tami cinta pertama. Cowok yang dulu berani nantangi satu sekolah gue, malah luluh sama Tami. Terus gimana kelanjutannya?” tanya Sarah penasaran.
__ADS_1
“Gue ditolak sama dia. Waktu itu gue beraniin bawa makan Tami di Soto simpang komplek⸺”
“Yang sotonya ada pohon beringin itu, kan? Andi pernah kesambet di situ.” Sarah memotong pembicaraan.
“Hey, gue lagi ngomong ini, vangsat.” Memet memandang datar Sarah. “Jadi, waktu itu gue bawa makan Tami di sana. Karena gue enggak sanggup bawa Tami pakai motor butut, jadi kami pergi masing-masing. Di sana dia nolak gue.”
“Jadi, lo ngira Tami itu udah punya pacar?”
Memet menggeleng. “Tami bilang kalau dia enggak punya pacar. Tapi gue yakin pasti banyak yang ngedeketin dia. Lah dia cantik aduhai mempesona begitu.”
“Alasannya apa nolak elu?” tanya Sarah.
“Karena gue bukan yang terbaik buat dirinya. Dia ngerasa kalau gue bukan orang yang tepat untuknya saat itu.”
Seketika Sarah mengeluarkan lidah karena jiji mendengar alasan tersebut. “Kek drama-drama, sumpah!”
“Ya … gue mana tahu. Kan dia bilangnya begitu.”
“Begini, pertama Tami itu bukanlah tipe orang yang mudah diajak pacaran. Kedua, memang banyak yang ngedeketin dia tapi enggak satu pun yang berhasil jadi pacar dia, termasuk elo. Ketiga, sampai saat ini Tami selalu curhat sama gue dan dia belum pernah bilang kalau punya pacar.”
“Makanya gue tanyain itu ke lo. Soalnya elo kan orang terdekat Tami.”
“Main kek ke rumah Andi. Dia itu ampir tiap hari main ke rumah Tami kalau lapar. Lagian, kalian bertiga kan temen masa kecil. “
Rasa kecut emsatulimalima membuat Memet memicing.
“Gue insecure sama kalian, makanya gue enggak pernah main ke sana.”
“Apa sih yang elo insecure-in?” Sarah menekan suaranya.
“Kalian orang tajir semua. Siapa sih yang enggak tajir di sana? Elo? Andi yang rumahnya semewah itu? Nanang bapaknya ustadz terkenal. Felix keturunan pengusaha. Agus bapaknya punya kebon sawit dan sekarang jadi polisi. Tami? Lo tahu sendiri kan dia gimana orangnya.”
__ADS_1
“Lo segitunya memandang kami, Met? Kita ini masih diitung tinggal satu wilayah dan biasa aja kali kalau gaul satu sama lain.”
Memet menggeleng. “Beda, Sar. Gue bukan anak orang kaya. Kerjaan gue bisa dibilang tukang bengkelin motor. Beda sama kalian yang walaupun enggak banting tulang kaya gue, kalian tetep bisa jajan dan pakai mobil. Makanya gue kebanyakan main di luar komplek atau sama anak-anak belakang.”
“Tapi lo berani tuh ngedeketin Tami. Lo bilang sendiri kalau Tami anak dari orang tajir melintir,” sindir Sarah.
“Mungkin itu kesalahan awal gue bisa suka sama dia. Coba aja gue enggak suka sama dia, pasti gue enggak insecure begini. Gue ngerasa enggak pantas aja sama dia, kaya langit dan bumi. Kulit aja beda. Kalau gue kawin sama dia, anak kami bakalan abu-abu.”
Jemarin Sarah menjentik dahi Memet kuat-kuat.
“Woy, jangan mikirin hal begitu. Kami enggak pernah mikirin materi, tahu?! Andi lo tahu sendiri gimana temennya di sekolah. Dia open-open aja temenan sama Kevin, Revin, atau Ajiz yang bukan dari anak orang kaya. Nanang, Agus, dan Andi walaupun lo kira anak orang kaya, mereka masih pakai motor butut ke sekolah. Gue? Gue naik sepeda, tahu enggak? Tami itu anak mami, jadi masih dianterin sama Andi. Kita semua enggak pernah mandang temen dari hal materi.”
“Tapi tetep aja, Sar. Realitanya memang begitu.”
“Enggak, lo aja yang udah salah sudut pandang. Lo udah negative thinking sama kami. Buktinya, Tami masih aja mau dideketin elo, dibawa pergi makan, makannya malah soto tepi jalan. Lo mikir enggak? Kalau Tami itu mandang materi, dia sama sekali enggak bakalan ngerespon. Dia pasti ngerespon orang-orang yang bisa bawain dia mobil dan ke tempat-tempat mahal.”
“Lo cuma lagi ngehibur gue,” sanggah Memet.
“Lama-lama gue bogem juga lo.” Sarah melempar kotak susu indomilik dari kejauhan ke dalam tong sampah. “Dua hari lagi kami ngumpul di rumah Tami. Gue ajakin elo ikut biar lo sadar kalau kami itu enggak seperti yang elo pikirin.”
Memet seketika berdiri. “Apa? Gue datang ke rumah dia setelah gue ditolak? Lo gila.”
“Enggak ngedapetin cinta dia bukan berarti lo ngehancurin persahabatan kalian dari kecil, kan? Elo, Andi, dan Tami itu sahabatan dari kecil. Gue masih belum ada apa-apanya dari kalian.” Tangan Sarah menyentuh bahu Memet. “Gue juga ajakin lo liburan ke luar kota sama kami. Kalau lo enggak punya dana, gue yang bayarin. Gue cuma pingin lo gabung sama kami dan ngerasa enggak sedang sendiri. Plis ikuut ….”
Perkataan seorang Sarah menyentuh hatinya. Teringat bagaimana bringasnya Sarah menendang dua bola kehidupannya pada tawuran waktu itu. Sikapnya yang sekeras baja bak seorang Hercules betina, ternyata menyimpan sifat lembut dan bijaksana seperti author cerita ini. Memet ingin berlinang air mata, tapi ia menahan sekuat tenaga. Ya malulah, kan dia pernah jadi orang terkuat di SMK permesinan dan berani menantang satu sekolahannya Andi. Masa nangis cuma gara-gara ini.
“Makasih ya Sar. Gue bakalan ikut besok ke rumah Tami. Soal jalan-jalan, gue mikirin dulu, ya.”
“Oh cu … cu … cu … anak mama. Jangan nangis, dong.” Sarah melihat satu garis air mata dari Memet.
*Anjrit, gue pakai nangis lagi*! Memet langsung lari untuk mempertahankan harga dirinya.
__ADS_1
\*\*\*