Andi X Sarah

Andi X Sarah
21. Ngutang


__ADS_3


Ngutang



Ada sesuatu yang menjanggal dari dirinya. Setiap hari Pram tidak nafsu makan karena hal itu. Perasaan merupaka sesuatu yang sangat sensitif tatkala tersentuh. Benih yang tumbuh hingga merekah membentuk bunga yang harum di hatinya. Sesuatu yang membuatnya tak ingin melakukan sesuatu kecuali memikirkan wanita itu.


"Sarah memang pura-pura atau mereka cuma berusaha buat nyembunyiin hubungan mereka?" tanya Kevin ketika mengocok batu domino di atas meja kedai Momon. Kedai Momon adalah tempat nongkrongnya anak-anak KODOMO.


Pram langsung tertarik dengan kalimat Kevin. Hatinya tersentak dengan kuat. "Mereka pacaran?"


Batu domino dibagi tujuh-tujuh kepada empat orang yang bermain. Kevin tersenyum senang karena batu yang ia dapatkan sangatlah mujarab.


"Ga tau lah. Waktu itu Raisa si mantannya Andi ngeciduk mereka lagi pacaran dan Andi ngaku kalau Sarah adalah pacarnya.


Bunyi hentakan batu domino berkali-kali menghantam meja tua itu. Terpal iklan rokok yang menjadi alas meja sudah mulai memudar saking seringnya mereka memutar batu di atasnya.


"Ah, masa'?" tanya Pram tidak percaya. Hatinya mulai berhenti berdetak karena hal itu. "Udah jelas mereka sering berantem."


Revin menghantamkan batu ketiganya. Ia juga dilanda patah hati karena pujaan hatinya dilanda isu-isu yang tak mengenakkan. "Gua juga mikir gitu, sih. Masa' cewek gua direbut gitu."


"Eh, nyadar muka lo anjirr...."


"Beneran, waktu di taman itu Sarah juga bilang kalau Andi itu pacarnya. Mana yang bener sih, Sarah pacarnya Andi atau Andi pacarnya Sarah."


Kevin menghantam muka Revin. "Same aje goblok!"


Tangan Pram menghantam meja. "ENGGAK MUNGKIN MEREKA PACARAN!"


"Ya biase aje kali," balas Kevin. "Ga usah ngantam meja juga, njing."


"Iya, maap deh."


Jemari Pram mengambil sebatang rokok Kevin dari kotaknya. Ia sulut ujung rokok hingga gemeretak yang khas. Asap mengepul di udara. Bulatan-bulatan asap ia ciptakan dari bibirnya. Biarkan beban ini terbang bersama asap yang mengudara, mengusir semua patah hati yang saat ini menyayatnya.


"Lah, tumben ngisap ngerokok?" tanya Kevin.


"Suka-suka gua dong. Daripada punya lo yang gua isap, mau?"

__ADS_1


Kevin menutup resletingnya rapat-rapat.


Kalimat itu memang menggegerkan satu sekolahan. Menyebarlah isu-isu mengenai hubungan Andi dan Sarah. Mereka berdua bagaikan seleb yang lagi dirumpiin sama semua stasiun televisi nusantara. Setiap group kelas ngerumpiin mereka berdua. Ingat ngerumpiin saudara sendiri sama dengan memakai bangkai saudara sendiri.


Fanbase-fanbase Sarah yang baru berdiri juga turut ngerumpiin Andi dan Sarah. Berbagai demo dilancarkan kepada Sarah untuk mengklarifikasi hubungan mereka. Berkali-kali pula Sarah menyatakan bahwa mereka hanya berteman dan masih ga akur seperti dahulu. Namun, para fans Sarah tetap tidak percaya dan tidak menyetujui hubungan mereka.


Mereka lebih setuju Sarah dengan ............


Dengan Agus .... Ya enggak lah. Ya kali Sarah mau sama otak mesum kaya dia.


Seperti biasanya, kalau udah masuk kelas Andi bakal diam di belakang kelas sampe bunyi bel pulang atau istirahat berbunyi. Matanya fokus melihat berbagai pilem di situs download pilem LK69.


Kalau ada pilem bagus dia bakal download, kalau stok bahan gituan habis, Andi ganti situs dan bakal download lagi. Soalnya Nanang udah jarang nyetok bahan. Dia kan donlotnya pake paket bapaknya. Nah bapaknya sekarang sering ceramah ke luar kota.


Jamarinya menekan icon galeri untuk melihat pilem yang baru di donlot. Eh ga sengaja dia nemuin puluhan foto Sarah yang masih tersimpan. Dia lihat satu per satu. Cantik bener apalagi kalau lagi pakai baju rumahan.


Kaya buka puasa dengan kurma, biar sederhana tapi manis rasanya.


Senyum Andi mekar tatkala menggeser foto Sarah satu per satu. Berbagai macam pose dipertunjukkan oleh Sarah dalam setiap fotonya. Lucu abis dah, imut-imut masyaallah. Tanpa disadari Andi mimisan karena melihat foto-foto Sarah.


"Woi, hidung lo berdarah tuh," kata seseorang dari arah depan kelas.


"Oohh," balas Andi dengan cuek. Dia tetap ngelihatin foto imut Sarah.


Andi menggapainya.


Gua kayanya kenal dengan suara ini, kata Andi dalam hati.


Ia melihat sosok di depannya. Mimisannya tambah deras melihat sosok di depannya itu.


Ternyata lo kalau dilihat secara langsung lebih can.....


"Liatin apa sih? Serius amat sampai ga sadar mimisan." Ternyata ia adalah Sarah.


Seketika ia tesadar dari khayalan sesaatnya. Jemari Andi langsung mengeluarkan galerinya dan berpindah ke browser buat donlot pilem.


"Gua lagi mimisan ya? Gua lagi demam."


Sarah jadi kepoan apa yang sedang Andi lihat. Ia langsung mengambil handphone Andi. Sarah tampak tertarik dengan apa yang ia lihat. Tampak Sarah tersenyum .

__ADS_1


"Pilem ini bagus nih. Tapi kalau donlot masih kualitas kamera. Soalnya baru keluar, sih," kata Sarah.


"Kalau begitu, nonton yuk."


Mataya melebar menatap Andi. Mulutnya terbungkam dengan apa yang ia dengar. Tangannya mengepal ingin menyabet Andi segera.


"APA LO BILANG?"


Andi menjadi panik karena baru tersadar apa yang baru ia katakan. Salah tingkah yang ia tunjukkan tidak dapat ia elak. Mukaya merah banget dan sekali lagi dia pingin makan racun pasukan o'om hitler itu. Namun sekali lagi dia sadar kalau dia ga punya racun itu.


"Ah ga ada, kok. Maksudnya nonton yang pilem itu di hape gua. Soalnya gua udah donlot." Andi menghela napas. "Jangan ngamuk ya ... kan udah gua bilang 'selow dikit'."


Wanita itu tidak menjawab. Ia beranjak meninggalkan Andi. Namun, ia berhenti dalam langkahnya.


"Padahal gua tadi mau loh, Tapi lo yang bayarin ya ...," balas Sarah dengan sikat. "Kalau di hape gua ogahan. Soalnya hape lo udah sering dijadiin nonton bokep sama Agus."


Hidung Andi langsung ngembang sebesar biji nangka. Senyumnya lebar kaya jidat bapaknya Agus. Napasnya ga karuan kaya waktu Nanang ngendus rendang emaknya Andi di rumah. Matanya menyipit kaya mata tipe minimalis milik Felix. Lengkap deh, ga ada kurang. Ada sih yang kurang.


DUITNYA KURANG, COEG!!!!!!


Demi terjaganya Kode Etik Keberandalan No. 4 tahun 2017 yang berbunyi, pria itu yang dipegang omongannya. Maka Andi akan tetap membawa Sarah buat nonton.


"Oke, malam ini yaa?" tanya Andi.


"Jemput gua." Sarah meninggalkan Andi.


Untuk memegang kata-katanya tadi, Andi terpaksa melakukan ini. Tidak ada cara lain yang lebih manjur daripada cara yang satu ini. Ia mengeluarkan handphone-nya kembali dan mencari nama seseorang yang ia kenali. Jemari Andi mengetik sesuatu di papan keyboard.


LINE


Andi : Gus, minjam duit lo 150 rebu. Minggu depan gua baru gajian. (READ)


Agus : Buat apaan? Butuh amat kayanya. Tumben olang kaya bokek.


Andi : Buat bayar uang SPP yang gua tilap bulan lalu. (READ)


Agus : I know that feel, bro ... gua pernah kaya gitu juga. Ke kelas gua sekarang!


Andi : Lo memang kawan terbaik, Gus. Makin sayang gua sama lo :* (READ)

__ADS_1


Tangan Andi mengepal karena senang banget dapet uang yang bisa diganti kapan-kapan.


***


__ADS_2