Andi X Sarah

Andi X Sarah
49. Berenang (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


“Lo pengen foto berdua kan? Lo sendiri sebenarnya pengen.”


Pertanyaan Andi menghentikan langkah Memet. Wajahnya kelihatan serius, tetapi tidak kunjung merespon. Memet tetap diam dan kembali menuruni bukit kebun teh. Sikap Memet itu dipahami oleh Andi sebagai tanda ketidaksukaan. Terkadang, Memet tidak ingin hal-hal privatnya diurusi oleh orang lain, bahkan oleh sahabatnya sendiri. Andi pun berinisiatif untuk mengajak Tami berfoto bersama yang pada akhirnya berujung berfoto berdua, termasuk Memet sendiri.


“Deketan dong, kok malah berjarak kaya social distancing,” pinta Andi.


Mereka bingung dong dengan istilah tersebut. Pada waktu itu tidak ada istilah begitu.


“Istilah apaan itu?” tanya Tami.


“Entahlah, gue baru dapet mimpi kalau di masa depan kita sering berjarak. Katanya gitu di mimpi gue.”


Mimpinya adalah benar karena author sendiri yang ngeletakin mimpi itu di kala Andi tidur. Kan Author yang nulis cerita ini. Waduh makin kaga jelas nih cerita.


Berkesan sekali wangi tubuh Tami tatkala mereka tanpa jarak, saling tersenyum menghadap kamera, terlebih lagi Tami tidak sengaja menyentuh tangannya yang kasar itu. Seakan ada impuls listrik yang sedang mengalir pada tubuhnya, Memet merasakan ketegangan yang hampir sama waktu menghadapi Ujian Nasional dulu. Jadi, foto Memet agak kaku yang bikin Andi ngakak. Ni anak seremnya di depan laki-laki doang, kalau di deket cewek langsung ciut begini.


Sesi berkunjung di kebun teh ini pun berakhir. Mereka kembali ke mobil untuk pergi menuju destinasi selanjutnya. Memet jadi supir kali ini biar gantian dengan Agus yang mengantuk. Sebelum itu, Andi ngelihatin Memet yang senyam-senyum dengan foto di hape. Waktu lihat di Instagram, Memet menjadikan foto mereka bertiga sebagai story dengan caption yang diajarin sama Sarah. Sarah udah jadi tukang bikin caption memang.


Tidaklah terlalu jauh jarak dari pintu air saluran irigasi petani dari kebun teh tersebut. Sekitar lima belas menit, mereka sampai di lokasi. Gemericik air pun terdengar meskipun mereka belum sampai melangkah ke sana. Pandangan beralih ke derasnya aliran air sungai irigasi serta bendungan yang berada di atasnya. Melihat hal tersebut, mereka tidak sabar lagi untuk mendinginkan diri di hari yang udah dingin ini. Namanya ngelihat air tergenang begini, siapa yang tidak ingin berenang. Tidak peduli walaupun cuaca di sini termasuk dingin.


“Yang mau ganti pakaian, di sini kaga ada ruang ganti ya. Kalian bisa numpang di warung itu. Nanti aku bilangin sama pemiliknya.”


“Serius sesepi ini tempatnya? Bagusnya dijadiin objek wisata dong,” ucap Felix.


“Pernah diwacanakan sih, tapi warga lebih milih biar kaya gini aja. Takut ngotorin sungai.” Pram melangkah ke warung yang berada di tepi bendungan tersebut. “Kita makan siang di warung itu aja ya.”

__ADS_1


Mereka pun duduk sebentar di warung tersebut untuk menikmati gorengan hangat yang baru saja diangkat dari penggorengan. Mereka tidak kunjung mengganti baju karena keenakan makan gorengan dan bahkan anak laki-laki memesan kopi untuk menghangatkan diri. Bincang pun berpadu dengan suara tawa bapak-bapak petani yang menyempatkan diri untuk singgah setelah berkebun.


“Kenalkan ini Mbah Putri. Mbah Putri ini dulu yang jadi asisten rumah tangganya Kakek dan Nenek gue,” ucap Pram.


Tangannya merangkul wanita tua berambut yang hampir keseluruhannya sudah berwarna putih. Senyum Mbah Putri tulus untuk menyambut para anak muda yang sedang mampir ke warungnya tersebut. Satu per satu dari mereka menunduk dengan tangan menyalami Mbah Putri. Sementara tangan Andi menyalami Mbah Putri, matanya fokus ke baju partai dari pertarungan pemilihan presiden periode lalu. Ternnyata, dia punya kaos yang sama dengan Mbah Putri. Waktu itu Andi datang ke kampanye salah satu paslon dan Andi dapet baju partai.


“Duh, enggak kerasa koe udah gede begini. Dulu masih cilik ga bisa ngapa-ngapain. Mau ke WC aja harus ditemenin.”


Jelas terasa ekspresi senang dan takjub melihat Pram. Ia memeluk Pram dengan erat, lalu mengusap-usap tangan kekar pria itu.


“Haha … itu kan dulu, Mbah. Sekarang udah beda.”


“Bener ya koe udah jadi polisi? Kata nenek koe, koe udah jadi polisi,” tanya Mbah Putri.


“Alhamdulillah Mbah. Dikasih rejeki sama Allah buat jadi polisi.” Pram menoleh kepada temen-temen lain yang kelihatan gemes melihat kemesraan antara dirinya dan Mbah Putri. “Guys, dulu gue sering diasuh sama Mbah Putri. Makanya, bendungan ini punya kenangan banget deh sama masa kecil gue.”


“Nanti makan siang di sini dulu. Pram udah ngasih tahu Mbah buat masak makan siang,” kata Mbah.


“Enggak apa-apa. Pram ini udah kaya cucu Mbah sendiri,”


Kebaikan hati Mbah Putri begitu terlihat tulus dan hangat. Meskipun senyumnya tidak lagi sempurna karena sebagian gigi depan yang tiada, ia masih ingin memberikan lekuk bibir terbaik dari setiap perkataannya. Saran dan Tami mengikuti Mbah ke dapur belakang untuk menyiapkan makanan. Kedua wanita itu pun mendapatkan banyak cerita dari Mbah Putri, termasuk pengalamannya bekerja melayani keluarga Pram hingga bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Meskipun anak-anaknya sudah sukses, Mbah Putri tetap memilih tinggal di warung sederhana ini sembari berjualan makanan untuk para petani sekitar.


Sementara itu, anak laki-laki langsung buka baju  di tepi bendungan. Kelihatan deh perut-perut buncit mereka yang udah lama kaga dibawa berolahraga. Hanya Kevin, Agus, dan Pram yang masih terjaga bentuk tubuhnya dan bahkan kelihatan lebih bagus daripada ketika di SMA.


“Laki-laki itu harus item. Biar sangar dan menakutkan.” Agus memamerkan otot bidang dadanya.


Felix yang putih banget jadi kesindir. “Cowok itu harus putih karena cewek suka yang putih-putih.”


“Ya elah, laki-laki itu harus rajin solat dan pandai mengaji.” Nanang ingat perkataan bapaknya waktu sebelum pergi berlibur.

__ADS_1


“Kaga ngerti deh gue. Pokoknya cowok itu adalah pria yang benar-benar laki-laki. Karena jaman sekarang banyak cowok jadi-jadian yang demen bentuk tubuh kaya Kevin.”


Bukannya kesindir, Kevin malah ngegerakin otot dadanya yang menonjol itu. Andi jadi jijik karena Kevin udah keseringan banget ngelihatin otot dadanya yang gondal-gandul kaya aderai.


Mereka pun berenang bersama menikmati segarnya air bendungan. Para ikan langsung kabur karena Andi berenangnya brutal banget, kaya bocah yang baru pertama kali berenang. Pintu air bendungan dapat dinaiki, mereka menjadikannya untuk terjun-terjunan dan berlomba siapa yang paling tinggi lompatannya. Belum lagi aliran pintu air yang deras, sungguh seru untuk dijadiin seluncuran. Keseruan mereka tidak berlaku bagi Nanang yang cuma main ditepian, soalnya Nanang sama sekali tidak pandai berenang. Temen-temennya kaga tahu diri, pelampung malah dipakai buat seru-seruan.


“Ah, kaga enak nih. Kok enggak ada ceweknya.” Kevin berdiri di atas bendungan. Ia bersiap-siap untuk terjun.


“Awas ada gozila mau loncat!” Andi dengan brutal menghindar karena kaga mau ditimpa sama Kevin. Kalau itu terjadi, Andi bisa langsung knock dan ngambang di atas air.


Tiba-tiba saja denger teriakan keseruan dari Sarah yang baru saja keluar dari warung. Sudah tiga puluh menit lebih mereka membantu Mbah Putri menyiapkan makanan. Tanpa basa-basi, Sarah membuka kemeja yang ia pakai dan hanya mengenakan tank top warna cokelat. Kelihatan deh otot-otot tangan Sarah yang kekar untuk ukuran cewek, soalnya dia sering karate. Sementara itu, Tami tetap mengenakan blues-nya karena tidak ingin terlalu terbuka. Hanya saja, hot pants dari Tami bikin mata para lelaki jadi seger, termasuk Andi sendiri.


“Sambut kami di bawah ya!!!” teriak Sarah dengan semangat.


Ia menggenggam tangan Tami untuk bersiap-siap meloncat. Tidak lama kemudian, mereka berlari dan terju ke air bendungan. Air tersibak ke udara hingga mereka semua menutup mata. Andi sigap untuk  memegang Sarah karena cemas ia tidak bisa berenang di kedalaman seperti ini. Kalau Tami, ia sudah yakin pandai untuk mengapung.


“Tenang Sar, gue di sini!” ucap Andi. Pandangannya terhalang gelombang air yang tercipta oleh lompatan mereka.


Lembutnya tangan wanita bersambut dan sedikit gerakan gondal-gandul yang tidak sengaja tersentuh. Andi pun menarik tangan yang ia gapai, dan mendekatkan ke tubuhnya.


“Kan udah gue bilang, gue ada di sini buat lo Sar.”


Ia melihat seluruh teman-temannhya memalingkan wajah. Ada yang sibuk main-main air kaga jelas.


“GUE DI SINI GUOBLOK!!!” Sarah langsung menjitaki kepala Andi.


Ternyata yang dipeluk Andi ialah Tami sendiri. Ga apa apa sih, Andi malah seneng wkwkwk. Temen vangsat ya gini.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2