Andi X Sarah

Andi X Sarah
31. Kekecewaan


__ADS_3


Kekecewaan



Pertandingan basket yang digelar bersamaan dengan pertandingan volley ternyata tidak membuahkan hasil bagi kelas Andi. Mereka kalah telak oleh kelas 12 yang merupakan juara bertahan. Dengan tulus mereka menerima kekalahan tersebut. Tinggallah harapan pada pertandinga volley dan futsal.


Sementara itu Sarah dan kawan-kawan berkali-kali jatuh bangun untuk membangun serangan yag apik. Tiga pertandingan dilalui dengan susah payah akhirnya membuahkan hasil. Mereka berhasil maju ke final melawan kakak-kakak kelas 12. Lawan mereka akan terasa berat karena rata-rata dari mereka adalah atlit volley sekolah. Tentu saja akan menaikkan persentase kemenangan mereka.


Para lelaki yang sudah kalah bermain basket turut memberikan semangat kepada teman-teman mereka yang berhasil masuk babak final.


"AYO BUSUNGKAN DADA KALIAN LAGI!!!!! JANGAN TAKUTTT!!! AYOOO!!!!" Andi mengobarkan semangatnya pada para pemain volley mereka.


Bunyi drum dibunyikan untuk membangkitkan semangat. Rencanya Andi bakal ngadain bunyi rebana. Tapi karena dia tahu kalau Sarah bakal jadi huluk kalau itu terjadi, ia mengurungkan niat konyolnya itu.


"Sudah cukup, Andi. Mau nempel lagi sepatunya?" tanya Sarah. Matanya menangkap seorang perempuan yang naujubillah super duper cantik dan bohay aduhai. Ia menarik tangan Andi. "Ndi, gue bakal lawan Raisa."


"Apa? Mantan terindah gua? Yaudah, gua ganti posisi jadi suporter mereka."


"Coba aja kalau berani!" ancam Sarah. Ia melihat sosok pria tegap yang sedang duduk di samping Raisa. "Pram juga ada di sana. Gue mesti ngapain????"


"Trus lo bakal baper kalau liat Pram ngedukung Raisa? Trus lo malu dan gengsi diliatin kaya kingkong marah kalau lagi main volley? Jadiin batu loncatan, Sar. Ingat gua ada selalu untuk lo."


Ada selalu untuk gue???


Sarah tak berhenti menatap binar-binar Andi. Setiap gerakan dari garis-garis bibirnya menyiratka arti lebih bagi Sarah. Sementara itu, usapan lembut tangan pria yang kadang goblok itu seakan membuat waktu ini seakan berhenti.


Maksudnya lo selalu ada buat gue??? Ambigu banget ....


"Loh, kok bengong gitu, sih?" tanya Andi.


Kepala Sarah menggeleng. "Maksud lo selalu ada buat gue?"


"Hahaha, bukan itu maksudnya ... baper amat sih lo. Maksudnya gua bakal selalu ada kalau lo butuh bantuan. Udah ... fokus ke pertandingannya. Gue ga bisa fokus lagi, soalnya ada Raisa, sexy banget kalau keringetan."


Bekas usapannya seakan masih ia rasakan walaupun pertandingan akan dimulai. Kehangatannya mengalahkan terik matahari yang menerjang. Saking hangatnya bisa-bisa gosong tuh kepala Sarah. Aneh juga ya gosong gara diusap sama Andi.


Servis pertama dilakukan dengan sempurna oleh tim lawan. Posisi Sarah dan Raisa sama-sama sebagai spiker. Mereka yang akan melakukan penyelesaian terhadap setiap serangan yang dibangun. Dua belah pihak saling meluncurkan serangan bertubi-tubi. Memang kelas Raisa terlihat lebih unggul dari sisi pemain. Tetapi mereka tidak bisa menganggap enteng dari lawannya, soalnya ada huluk yang bisa tiba-tiba ngamuk di tengah lapangan.

__ADS_1


Napas Sarah ngos-ngosan kaya babi yang baru kabur dari nyuri singkong dikebun trus dikejar sama petaninya. Memang terlihat laki banget deh kalau ngos-ngosannya.


Njir, napasnya Sarah kaya tukang ya ... Anak Amak saling berbincang satu sama lain.


Sementara itu mata mereka beralih ke Raisa yang mengenakan baju bola ketat yang bikin gundukannya itu terlihat sekali. Celana pendek di atas lututnya memang benar-benar ngepress denga kaki indahnya. Ditambah lagi keringat yang bikin Raisa semakin terlihat menggoda.


Agus mulai kumat dengan penyakitnya, Nanang bacain doa biar ngilangin setan yang lagi mengerumuni Agus, sedangkan Felix dan Andi mencari-cari tissue soalnya udah pada mimisan.


Set pertama dimenangkan oleh kelas Raisa. Kini mereka kembali kalah unggul dengan perbedaan dua poin. Sementara itu, Raisa hanya membutuhkan satu poin lagi buat menang. Jika mereka berhasil menyetak poin kali ini, maka piala bergilir akan menjadi milik mereka.


Servis kini dilakukan oleh kelas Raisa. Servis atas bak seorang atlit pro liga dapat ditahan dengan baik oleh mereka. Tami memberikan umpan yang baik agar disambar oleh Sarah. Sarah meloncat, kakinya terbang, eh loncatnya ketinggian soalnya melebihi net, dia turun lagi, loncat lagi, dan menyambar bola dengan sangar.


Eh .........


Sarah mendarat dengan sempurna setelah dia lompatnya melebihi net. Sorak bergembira menggema di kubu sebelah. Raisa berlari memeluk Pram dengan erat. Perasaan bergembira menyelimuti mereka.


Sarah gagal memukul bola dengan sempurna. Ternyata saking gedenya otot Sarah, dia mukulnya kuat banget. Sampe-sampe melebih pagar dan jatuh ke semak di sebelah pagar sekolah.


Air matanya mengalir deras menyesali kenapa ia telah memukul bola seperti itu. lututnya tak lagi sanggup menahan badannya. Ia jongkok dan cebok ditempat.


Plis deh thor ... jangan ngancurin momen ini. Hobi banget ya ...


Iyaa, maap deh ...


Lelah dan letih bersimbah keringat yang membasahi seakan tidak berarti apa-apa. Semua dukungan dan teriakan dari para teman-teman kini terasa hampa. Tetesan air matanya jatuh menitik di butiran pasir putih. Matanya dengan jelas melihat betapa hinanya air mata itu.


Helaan napas seseorang menerpa helaian rambut Sarah. Sentuhan hangat yang familiran kembali dirasakan. Rasanya baru lima belas menit yang lalu hangatnya tangan itu menyentuhnya. Ia memberanikan kepalanya untuk tegak menampar teriknya matahari yang menyengat. Kibasan cahaya silau memenuhi wajah bersih dari pria itu. Ia tak bisa melihat dengan jelas. Satu hal yang ia tahu, senyumnya manis tak bercelah.


Hatinya berdegup tak biasa. Berdetak-detak seakan ada yang memberontak di dalam sana. Kehampaan yang menyergap kini terusir oleh kehadiran yang tidak diundang. Memeluknya hangat oleh belaian senyum manjanya.


"It's okkay¸ main lo bagus hari ini. Kekalahan itu hal yang biasa," ucap Andi di ujung matanya. Ia julurkan telunjuknya ke tepian mata Sarah untuk menyeka air mata yang mengalir.


"Gue takut, Andi." Sarah menatap wajah pria yang menyeka air matanya.


"Apa yang lo takuti? Bilang sama gua, biar gua smekdon dia," balas Andi.


Air mata Sarah semaki deras. Napasnya kini tak beraturan.


"Gue takut dengan namanya kekecewaan. Alasan kenapa selama ini gue ambisius banget, biar apa asal lo tau? Gue suka ngatur kalian biar para guru ga kecewa sama gue yang ketua OSIS. Gue belajar tiap hari biar untuk juara satu biar ga ngecewain papa sebagai satu-satunya orangtua yang gue punya. Gue─"

__ADS_1


Kalimat Sarah dihentikan oleh rengkuhan peluk dari Andi. Air mata yang sedari tadi ia seka dengan jemarinya, kini menyesap ke serat-serat seragam putih abu-abunya. Isakan itu berhenti dalam satu pelukan.


"Gue ga peduli seberapa takutnya lo dengan kekecewaan. Tapi, asal lo tahu. Lo ga adil nyimpan beban itu semua sendirian. Lo punya gua, lo mungkin canggung cerita sama gua karena kita punya masa lalu yang ga baik. Lo punya Alena sebagai sahabat lo."


"Maaf, karena gue ga pandai cerita sama orang lain," jawab Sarah dalam pelukan Andi.


"Lo ga harus minta maaf. Kami yang minta maaf karena sebagai teman yang ga pernah peka akan masalah lo."


TEMAN? Sarah mengulang kata itu dalam hatinya.


Baru kali ini ia diucapkan kalimat seperti itu. Seseorang yang secara lisan menyebutkan dirinya adalah seorang teman. Selama ini ia tak banyak mendapat teman. Sindirian dan cibiran dari berbagai orang─terutama anak laki-laki─selalu ia dapatkan karena sikapnya yang keras terhadap kedisiplinan. Para kakak kelas terutama perempuan berkali-kali menerornya karena dianggap sok cantik akibat dekat dengan Pram dan Andi. Bahkan teman-teman seangkatannya pun cenderung menghindarinya.


Kehadiran Andi memberikan secercah cahaya perubahan bagi dirinya. Niat awal Sarah hanyalah berkeinginan merubah Andi menjadi siswa yang baik. Ternyata dibalik itu semua, Andi yang lebih banyak memberi pengaruh bagi dirinya. Terutama menjelaskan betapa pentingnya arti pertemanan. Berkat dirinya, Sarah memiliki banyak teman seperti sekarang.


Matanya masih sembab meski sudah sejam yang lalu ia menangis dalam pelukan Andi. Ditambah lagi alunan musik dari Payung Teduh semakin menyentuh hati serta membasahi matanya. Andi mengantarnya pulang karena dirinya tidak membawa motor. Sementara itu, Tami sekarang dijemput pulang oleh orangtuanya yang sedang tidak diluar kota. Selama ini Andi selalu pulang bersama Tami.


Andi menepikan mobilnya saat sampai di depan rumah Sarah.


"Kita sampai," kata Andi sembari membuka pintu mobil. Tampak Sarah hanya membalas kalimatnya itu dengan selapis senyum.


Mata Andi melihat raut wajah Sarah dengan seksama. Raut wajah yang selama ini selalu riang, kini berubah drastis. Gerak langkahnya lemah tak seperti biasa. Sesuatu yang ia temukan, tidak ada orang yang terlihat tegar dan sangar yang luput dari ketakutan. Setiap orang memiliki ketakutannya sendiri. Sarah memang selalu terlihat bersemangat dan pemarah dalam kesehariannya. Namun, jika ditelusuri lebih jauh ternyata Sarah merupakan wanita yang rapuh dan berusaha terlihat tegar dari kerapuhannya tersebut.


"Thanks udah ngantarin, Ndi," balas Sarah. Ia melangkah ke pagar rumahnya.


"Ada yang lo takutin lagi?" tanya Andi. Ia bersandari pada mobilnya. "Cerita sama gua."


Langkah Sarah berbalik menuju Andi. Tatap matanya menyorot lurus kepadanya. Tepat di hadapan Andi, ia berjinjit. Seakan tak ada beban yang memikulnya, bibirnya mendarat pada pipi Andi.


Sarah mencium pipi Andi.


"Gue takut ngecewain lo. Karena lo gue bisa berubah seperti ini. Itulah kenapa gue berusaha merubah sikap gue yang keras, menjadi sedikit lunak seperti yang lo bilang. Alhasilnya gue dapet banyak teman sekarang. Terutama, ketiga temen bangke lo itu.".


Senyum Sarah mekar di antara cahaya senja yang merambat lurus ke arah mereka. Entah mengapa, senyum yang ia pancarkan bagaikan pemberhenti waktu yang berjalan. Andi tak ingin mengakhir senyum terbaik Sarah yang pernah ada. Sementara itu, ia tidak menyadari betapa memerahnya wajahnya karena kecupan manja dari Sarah


Sarah melambai pada Andi saat melangkah masuk ke dalam rumah. Benarkah Sarah benar-benar selalu cantik seperti ini? Ataukah hanya ia sendiri yang memungkiri selama ini? Seakan dirinya tidak pernah melihat wanita tangguh seperti itu.


Jantungnya berdegup kencang tatkala memegang bekas kecupan Sarah yang masih terasa. Darahnya seakan mengalir dengan kencang oleh semua gairah yang Sarah berikan. Wangi Sarah yang belum hilang semakin menambah rasa dari momen ini. Tidak pernah ia merasakan perasaan yang begitu kuat seperti ini.


Akankah gua jatuh cinta?

__ADS_1


Ataukah gua yang sedang jatuh cinta?


***


__ADS_2