
Tangan Pram dan Andi pun melakukan hompimpa sebagai penentuan siapa yang akan memilih anggota pertama kali. Tatkala menampakkan tangan pertama kali, jelas terlihat perbedaan siapa tangan gembel dan siapa yang tangan sultan. Tangan Pram bersih putih dan kekar, sementara tangan Andi ada dikit-dikit bentol gatal karena sering megang cacing buat mancing dan juga gelap oleh sinar matahari. Namanya beda kasta, tentu beda pula aktifitas yang sering dilakukan.
“Nah, gue duluan yang milih kan.” Andi melihat ke arah yang lain. Aturan menunjukkan jika harus memilih anggota perempuan terlebih dahulu. Jelas sudah Andi akan memilih siapa, yaitu wanita paling perkasa di antara mereka. “Gue pilih hani bani switi gue, Sarah dong. Siapa lagi.”
Ada maksud lain buat bikin Pram cemburu. Jelas dari wajah Pram tidak bisa menyembunyikan kejijikan dari kalimat Andi.
“Oke, gue udah jelas milih Tami.” Pram memberikan tos tinju yang disambut oleh Tami.
“Gue milih Memet.”
“Kevin ….”
Mendengar nama Kevin, Andi menelan ludah. Udah jelas dari awal kalau Pram bakal milih aderai. Waktu di SMA, Kevin jadi lawan yang sering bikin rusuh. Sekali bikin rusuh, lawan enggak berani nantang balik. Siapa juga yang pengen dibogem sama tangan aderai milik Kevin. Yang ada bisa tepar.
“Agus ….”
“Felix …,” ucap Pram.
Revin jadi heran kenapa Pram malah milih Felix, bukan dirinya yang satu geng. Padahal dia juga salah satu jagoan futsal di tongkrongan.
“Revin …,” balas Andi.
“Berarti yang terakhir, gue milih Nanang.”
Wajah Nanang memandang kesal sama Andi. Dia pengen banget satu tim sama Andi karena mereka berdua dulunya sering main futsal bareng. Mereka juga satu tim waktu membela SMA di turnamen futsal se-kota.
“Awas lo Ndi, gue hajar habis-habisan tim kalian,” kesal Nanang.
Setiap orang pun mengambil posisi. Perempuan disetujui untuk menjadi penjaga gawang dengan syarat tendangan harus tidak full dan dalam pergerakan datar. Sarah bergaya kaya kiper shoulin soccer songong, sementara Tami bingung mau ngapain. Pokoknya Pram nyuruh Tami tetap berada di depan gawang. Andi masih seperti biasa, jadi jangkar pertahanan. Lawan di seberang sana ialah aderai KW yang bakal menghadang penyerangan. Selebihnya menjadi penyerang pada masing-masing tim.
Bapak Santoso mengambil alih pluit dan menjelaskan peraturan-peraturan umum. Permainan dilakukan selama dua puluh menit dibagi dua babak.
__ADS_1
“Kak, aku takut,” ucap Tami kepada Pram.
“Tenang, gue enggak bakalan ngebiarin mereka nendang bola. Lo lihat Kevin udah segede ini badannya, jadi jangan khawatir,” balas Pram.
“Adekku yang manis, abang enggak akan biarin adek megang bola. Berdiri aja di situ, biar abang yang melakukan tugas dengan baik.” Mata Kevin memicing manja untuk merayu.
Sementara di tim sebelah, Andi fokus memandangi Pram yang bicara sama Tami. Pertandingan ini mempertaruhkan harga diri. Ia tidak ingin kalah dari Pram untuk sekian kalinya. Memet pun merasa begitu. Walaupun Tami ada menjadi penjaga gawang, ia tidak akan menjaga diri untuk membuat skor. Ia akan membuat mulut Pram tembungkam.
“Sarah, ada bola sikat aja. Patahin kakinya kalau bisa. Apalagi Pram.”
Bukannya khawatir Sarah kenapa-kenapa, Andi malah ngedukung Sarah buat bikin rusuh.
“Lakukan aja tugas lo dengan baik. Gue mau makan-makan setelah liburan ini dari uang kompetisi. Kevin pun gue jabanin kakinya.” Sarah memukul-mukul tulang keringnya. “Ini kaki udah dikasih jimat sama pelatih gue. Siapa yang kena tendang, langsung pecah mental.”
Pluit pun berbunyi. Pram mengoper bola kepada Kevin. Sebelum Kevin mengolah bola, dia membuka baju dahulu sehingga memperlihatkan otot dada yang gondal-gandul. Revin jadi enggan mendekat karena takutnya Kevin memeluknya dan menempelkan ke ketek Revin yang selalu berkeringat.
Bola kini berada di kaki Nanang. Ia bergerak seperti messi yang lagi ngamuk kalau timnya ketinggalan skor. Revin yang merupakan penyerang handar, kini dapat dilewati. Ia lihat sejenak Felix yang sedang menunggu di depan gawang, planga-plongo kaga ngerti main bola. Bukannya mencari celah kosong, dia malah nunggu di belakang Sarah. Yang ada dia nanti kena bogem Sarah kalau dikasih umpan lambung.
Memet sigap mengambil bola dari Nanang. Terdengar ucapan kesal karena gagal membawa bola. Dari kejauhan, Revin meminta umpan terobosan. Tatkala Revin berhasil mendapatkan bola, melaju Agus dari sisi kanan dan mengantarkan bola memasuki gawang Tami.
“Awas lo. Gue memang kaga bisa main bola, tapi kalau cuma nendang bola ke gawang, gue bisa,” balas Felix.
Tangan Pram membelai rambut Tami tanpa ragu di hadapan orang banyak. Wajah khawatir Tami jadi berubah tenang dengan ucapan lembut Pram. Ia disemangati oleh Pram agar ia tidak lagi kebobolan.
“Kasih tahu Pram siapa yang ngejuarain turnamen antar kelas kita di sekolah.” Kevin mendorong Pram ke depan.
Perhatian Pram tertuju ke kaki Andi yang sudah membuat kuda-kuda agar tidak kelewatan bola. Ia tahu jika Andi merupakan tipikal-tipikal penjaga gawang tanpa tanda menyerah. Ia selalu jadi jagoan SMA kalau turnamen antar sekolah. Namun, hal itu tidak menjadi halangan bagi Pram.
Bola kembali dioper ke belakang. Nanang membawa bola ke depan sembari melihat pegerakan Pram yang bebas. Sedari tadi Pram meminta Felix untuk tenang saja di depan tanpa mau dipengaruhi oleh Sarah si vangsat itu. Felix ini mentalnya lemah banget kalau digangguin. Bola pun berhasil dioper kepada Pram.
“Felix!!!” teriak Pram.
Bukannya bersiap-siap, Felix malah kesandung. Matanya tertutup karena lututnya terhantam oleh lantai semen lapangan basket ini. Dia pun tepar tanpa siapa-siapa yang menganggunya. Namun, bola tepat mengarah kepada kepala Felix yang terjerembab. Ia tidak sengaja menyundul bola di bawah, hingga bola melewati kolong-kolong dari Sarah.
Eh, malah gol? Felix merasa tidak percaya.
__ADS_1
“GOOLLL!!!” Kevin goyang tiktok di hadapan Andi.
Sarah hanya bisa bertegak pinggang karena kebobolan dengan memalukan, yaitu melalui kolong antara kaki dan dibobol sama Felix sendiri.
Bunyi pluit tanda istirahat terdengar. Mereka minum sebentar untuk mendinginkan diri. Masing-masing kapten tim menyusun strategi yang cocok buat memenangkan pertandingan. Pram tetap nyuruh Felix di depan untuk menunggu bola. Kalau ada bola, langsung aja ditendang. Kalau Felix disuruh ke belakang, nanti bakalan nyusahin. Sementara Pram, meminta Agus buat jangan takut ngelihat otot Kevin yang sering gondal-gandul itu. Selain itu, dia bertekad untuk menahan pergerakan Pram sebagai playmaker tim lawan.
Babak kedua dimulai. Andi membawa bola dengan mengoper kepada Agus ke kiri. Revin yang paham bergerakk dari sisi kanan. Umpan menyilang berhasil dilakukan. Kreatifitas dari Revin pun muncul, ia mengarahkan bola kepada Andi yang sedikit serong ke belakang. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Andi untuk melakukan shooting manja, kenapa manja, kalau keras nanti golnya tidak disahkan. Namun, tidak sengaja Andi malah kekencengan nendanganya. Untung aja Kevin si pertahanan baja hanya menahan tendangan Andi dengan satu kaki.
“Lah, segini doang?” Kevin meremehkannya. “Woi sipit, larilah!”
Felix langsung lari ke depan. Satu umpan lambung dari Kevin dapat melewati Andi yang terlampau jauh di depan. Bola tepat mengarah ke kaki Revin. Sempat gugup waktu membawa bola karena dari belakang Andi udah kaya kereta api yang siap menabrakkan diri. Jelas saja, Andi memoton bola dengan menendangnya ke sisi kanan lapangan. Pram melihat pergerakan bebas Felix tatkala memasukkan bola kembali. Umpan pendek pun mengarah kepada pria yang samas sama sekali tidak pande main bola itu. Bola terpantul ke sebelah kiri Sarah dan terjadi sebuah gol.
“GOOLL!” Felix mengangkat tangannya. Ia tidak percaya menghasilkan gol kedua bagi timnya sendiri. “Gue ngegolin ***!”
“Hahah … ternyata selain kesempatan bisnis, lo bisa juga nyari kesempatan ngegolin,” puji Pram.
“Kok bisa jaga dijaga sih anak in!” protes Sarah sama Andi. “Kan kita jadi ketinggalan.”
“Ya maap gue kaga perhatiin dia tadi.”
Dengan masing-masing tensi yang masih bergejolak, permainan dilanjutkan kembali hingga peluit terakhir. Tidak ada terjadi gol setelah Felix menjebolkan bola ke gawang Sarah. Tim Pram berhasil memenangkan pertandingan pertama dengan mudah dan penuh keberuntungan.
Kesal Sarah masih tidak hilang, dia tetep nyalahin Andi yang kaga becus jagain lawan. Padahal kan pemain bukan dirinya seorang. Andi diam saja tanpa ingin melawan.
Namun, Pram secara diam-diam mendekati Andi.
“Lo mau ngalahin gue? Enggak bisa ….”
Seketika Andi mengepalkan tangan tatkala diremehkan seperti itu.
***
__ADS_1