
Di depan cermin Memet mencoba berbagai bagaimana dirinya akan dijadikan model untuk produk fashion tersebut. Mulai dari gaya cool, senyum lebar sepsoden, dengan tangan terangkat seperti peri lalu mutar-mutar, dan posisi ingin membacok para maling yang sedang memasuki wilayah kekuasaannya. Dari berbagai pose absurd tersebut, Memet merasa pede kalau mukanya cool. Dia meniru bagaimana wajah Pram ketika menatap Tami, fokus, lurus, dan penuh karismatik.
Entah mengapa Memet jijik aja ngelihat mukanya kalau lagi senyum. Dia memang tidak pandai tersenyum menggoda bagaimana para pria di depan wanita. Kalau senyum ya senyum aja kalau Memet ke Andi, tidak bisa dipermanis satu derajat pun. Waktu dia senyum, Memet ngerasa seperti seorang psikopat seram yang pengen menggasak anak orang untuk dijual ke agen human trafficking. Gelap amat nih paragraf.
Sesampainya di rumah Tami, ia mencoba pula pose cool. Sembari menunggu Tami keluar rumah, Memet memastikan jika penampilannya sudah di dalam peforma yang maksima. Rambut udah dipometin, kaos hitam metal udah disetrika, sepatu keren karena harganya mahal hasil menjaga rumah warga selama ini, dan paling utama ialah ketek. Ketek harus wangi, itu yang terpenting bagi seorang pria. Seganteng apa pun cowok, kalau keteknya bau bakalan tetap bikin ilfil para cewek.
“Apaan sih kamu?” tanya Tami sambil mengunci pintu.
“Ya, nyambut elo yang keluar rumah. Ceritanya sih gitu ….:
“Kaya depkoleptor pinjol yang pengen nagih uang, tahu!” Tangan Tami memberikan kunci mobil camry miliknya. “Kamu yang nyetir ya.”
Memet pun bingung melihat kunci mobil mewah tersebut. Biasanya dia cuma megang kunci mobil pick up ketika bapak RT sebelah ingin meminta jasa Memet untuk mengantarkan besi tenda pernikahan, soalnya dia punya usaha tenda acara.
“Maap maap ni ye Tam, tangan gue gemeter kalau nyupir pakai mobil elo,” balas Memet.
“Kaya biasa aja kok, tekan kopling, masukin gigi, dan gas buat jalan.” Tami membalikkan tubuh Memet agar mengarah ke mobil. “Cepet deh, Naila pasti lagi nunggu di rumah.”
Kata para elitis, cewek harus dibukain pintunya biar kelihatan gentle. Tapi, Memet merasa mukanya tidak cocok aja. Nanti malah kaya supir pribadi daripada cowok kaya yang lagi ngajak jalan ceweknya. Alhasil, mereka masuk masing-masing dan Memet menyetel lagi pop punk faforitnya. Untung aja Tami masih masuk-masuk aja kalau dengerin lagu-lagu pop punk.
Mereka sampai ke rumah Naila. Kepala Memet sampe mengadah ke atas waktu ngelihat rumah Naila yang ternyata tiga tingkat, udah kaya ruko aja. Halamannya pun luas, bahkan Memet jadi pengen ngajakin anak komplek main bola di sana. Sewaktu kepala mobil mendekati gerbang, gerbang tersebut terbuka otomatis. Memet jadi seperti orang katrok sedunia.,
“Ini bapaknya Naila kerja apaan sih?” tanya Memet sambil menggerakkan mobil perlahan ke depan rumah Naila.
“Hmm … pengusaha sih. Mamanya juga.”
“Oh pantes rumahnya segede ini.”
Memet celingak-celinguk secara diam-diam. Kalau orang lihatin dia, Memet seperti maling yang lagi observasi celah mana untuk dimasuki nanti malam. Ia turut memencet bel rumah yang suaranya sampe kedengeran ke luar. Tidak lama kemudian, pintu dibukakan oleh Naila sendiri.
“Oh kamu Kak Tami⸺” Naila fokus melihat Memet.
Sementara itu Memet pura-pura enggak lihat.
“Hai,” sapa Memet dengan singkat.
__ADS_1
“Elo Memet yang kemarin itu, kan?” tanya Naila.
“Iya ini gue hehe ….”
Naila tertawa sejenak karena mereka telah pernah bertemu sebelumnya di rumah sakit.
“Kenapa enggak bilang kalau orangnya itu elo,” ucap Naila.
“Kayanya Tami belum ngasih tahu ya kalau gue orangnya. Hmm … kemarin itu gue masih ragu apakah Naila-nya itu elo, jadi gue diam aja gitu,” balas Memet.
“Oh, kalian udah ketemu sebelumnya ya?” tanya Tami.
Naila mengangguk. “Bener, waktu itu di rumah sakit ada Memet. Ya aku enggak tahu dong Kak kalau orangnya itu Memet. Tapi cocok sih buat dijadiin model. Posturnya pas banget.”
Siku Tami menyinggung Memet. “Nah apa aku bilang. Dari pada Andi, aku lebih milih kamu.”
“Oke, langsung aja deh di belakang kita fotonya. Taman belakang gue bagus, kalian harus lihat,” ajak Naila.
Melihat Tami melepaskan sepatu, Memet juga ikutan. Dia mengira kalau masuk rumah besar seperti ini tidak harus melepaskan sepatu. Soalnya di pilem sinetron begitu. Waktu Memet menginjakkan kaki pertama kali ke sana, ia merasa betapa kerdil dirinya. Beda banget sama rumahnya di komplek. Ubin keramik rumahnya Memet juga ada yang sudah retak, sementara di sini waduuh bisa dijadiin ice skating kayanya.
Sebelum itu, Memet di make up dulu sama temennya Naila yang sudah ada di belakang rumah. Ya, tata rias cowok standarlah, tidak terlalu mencolok kaya wanita. Hal itu dilakukan demi memaksimalkan hasil foto nanti. Muka Memet dibedakin tipis biar kinclong. Rambutnya disisirin dulu biar keren.
Gile ni sepatu mahal, bikin kaki gue insekyur karena sering nginjek semen bangunan ….
Naila mengarahkan Memet untuk berdiri di mana dan membebaskan Memet bergaya seperti apa. Hal itu tergantung fotografer yang kali ini ialah Tami sendiri. Memet jadi enggak gugup karena Tami yang akan memberikan arahan pose.
“Bulan ini toko gue ada launcing produk nuansa jejepangan gitu. Ada banyak macam yang akan dijual. Untuk terima kasih, gue ngasih kalian produknya sebelum launcing. Tapi jangan lupa dipromosiin di medsos kalian ya,” ucap Naila.
“Aman Nai, kalau itu mah gampang.” Memet meemberikan jempolnya.
“Lo udah siap?” tanya Tami.
Tidak sesiap diriku untuk meminangmu, Memet malah berpuisi di dalam hati. Tapi ga mungkin juga dia bilang begitu. Memet hanya mengangguk dan meminta Tami untuk segera memotretkannya.
Jepretan kamera berkali-kali ia tatap. Berbagai produk baru dari toko fashion Naila pun silih berganti untuk Memet coba, mulai dari kaos, kemeja, hoodie, serta aksesoris-aksesoris lainnya. Tami dengan semangat memberikan arahan dan jempol apabila Memet melakukan satu jepretan dengan baik. Sementara Naila dengan serius melihat Memet yang berpose cool di taman belakang, sesekali dia tertawa karena Memet orangnya kocakan gitu.
Tepuk tangan Naila bersemat kepada Memet. Memet pun tersipu malu karena penghargaan tersebut.
“Kayanya dia berbakat deh,” puji Naila.
__ADS_1
“Ah, ga ada bakat sebenarnya. Karena cocok aja pakaiannya sama gue, pas banget gitu,” balas Memet.
“Tubuh lo atletis, wajah lo bersih meskipun gelap, ada sisi karisma yang nampak ketika lo dipotret. Hmm … lo mau jadi model tetap produk gue?”
Memet terdiam mendengar hal tersebut. Serasa kaya di acara-acara kompetisi nyanyi gitu, Memet jadi pengen sujud syukur, menghadap kamera, lalu memberikan salam kepada orangtua yang menonton di rumah. Tapi kan kelihata aneh kalau Memet ngelakuin hal tersebut. Alhasil, Memet langsung meminta Naila bersalaman biar kelihatan keren. Jaga image juga dong di depan bos baru.
“Gue terima tawaran itu, terima kasih ….”
“Oke, ini bisa jadi kesempatan besar loh. Bisa jadi ada produk toko lain yang ngelihat lo dan ngerasa cocok buat dijadiin model. Biasanya sih gitu.” Naila menyentuh pundak Tami. “Makasih ya Kak dah ngenalin aku ke Memet.”
“Iya, makasih banyak juga udah ngasih job ke kami. Lumayan buat nambah pengalaman hobi Kakak,” balas Tami.
Sebelum pulang, mereka berbincang-bincang sedikit mengenai bisnis Naila sembari minum teh bersama. Setelah mendapatkan hal yang sangat ditunggu-tunggu, terutama Memet, yaitu amplop fee, Memet dan Tami pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Tami, Memet membuka isi amplop tersebut. Ia terkeju melihat pecahan duit seratus ribuh sejumlah sepuluh lembar.
“Apa kita enggak ketukar ya, gue dapet sejuta. Mahal banget dia bayar orang yang non pengalaman kaya gue,” ucap Memet.
Tami tersenyum sembari mengangkat amplopnya. “Punya aku pasti lebih dari itu karena aku juga editin foto kamu.”
“Waduh … makasih banget ya Tam udah ngenalin gue sama kerjaan ini. Gue jadi kebantu buat perbaiki mesin cuci emak di rumah. Gue jadi kasian sama Emak yang nyucinya pakai tangan gara-gara mesin cuci rusak.”
“Iya sama-sama … perbaiki mesin Emak cepet.”
“Gue pamit dulu ya. Assalamulaikum ….”
“Walaikumsalam ….”
Memet pun pulang dengan mata hijau karena cuan mendadak. Ia jadi tidak sabar untuk mengantarkan mesin cuci punya Emak ke tukang servis.
Tami tidak jadi masuk ke rumah karena ia teringat jika dompetnya ketinggalan di kotak dashboard. Kembalilah Tami ke dalam mobil. Tatkala ia membuka kotak tersebut, terlihat sebuah undangan ulang tahun yang sama sekali bukan ditujukan dirinya. Ia membawa nama yang tertera di depan undangan tersebut, ternyata undangan itu punya Andi. Mungkin saja Andi lupa mengambilnya sewaktu Andi meminjam mobil ini.
“Tasya? Siapa ya?” Tami mikir sejenak mengenai nama tersebut. “Oh … Tasya yang dibilang sama Sarah waktu itu. Oh ini si cewek yang bikin Sarah khawatir. Enggak bisa dibiarin ini!”
Ternyata eh ternyata, Sarah curhat dong sama Tami gara-gara setiap postingan Andi semasa liburan bersama Sarah selalu dikomen sama seorang cewek yang tidak dia kenal. Sarah sampe khawatir banget sama Andi kalau lagi dideketin sama cewek itu, soalnya komenannya itu terlihat centil sekali. Bahkan, Tasya juga nge-dm Andi buat komenin setiap story yang ada, baik yang penting atau pun hasil dari kegabutan Andi ngefotoin kucing-kucing Tami. Nah, Sarah sampe sedih dan bercerita dengan mata berkaca-kaca sama Tami.
***
__ADS_1