
Dahulu kala terdapat empat anak muda yang beringas dan selalu saja membuat guru jengkel. Tiap hari nasihat guru tidak pernah luput dari mereka. Selalu aja masalah yang bisa diperbuat dan membuat guru memberikan wejangan agar mereka berubah. Yang namanya anak bebal, pasti setiap arahan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Guru pun sampai bosan memarahi mereka yang selalu bikin ulah.
Kejadian demi kejadian tersebut akan selalu dikenang oleh Anak Amak. Mereka akan selalu ingat bagaimana guru memarahi mereka dan segala hal yang menjadi konsenkuensi dari kelakuan konyol mereka. Mulai dari cabut, ngerokok di WC, sampai terlibat perkelahian antar siswa. Pada akhirnya mereka pun mengakui hal tersebut merupakan perbuatan salah. Pendewasaan telah mengarahkan mereka kepada kebijaksanaan dan mengakui setiap kesalahan. Padahal dulu dunia seakan di dalam genggaman tangan, membara dengan semangat remaja yang bergelora.
Hari ini tepatnya, Andi dan teman-temannya berkunjung ke SMA tercinta. Sudah lama sekali mereka tidak makan dikantin, bertemu guru-guru yang dulu mereka tidak sukai, atau pun menggoda guru-guru muda magang yang mungkin saja hampir seumuran dengan mereka. Bertepatan sekalu hari ini Agus dan Felix diundang oleh OSIS sebagai pemateri di acara kesiswaan. Mereka dijadikan contoh alumni-alumni yang dianggap berkembang dengan baik, sementara Andi dan Nanang masih jadi beban keluarga hingga kini.
Agus dijadikan pembicara dengan materi kiat-kiat untuk menjadi seorang polisi yang baik. Awalnya siswa tidak mengira kalau Agus merupakan seorang polisi karena Agus lebih cocok dibilang preman pasar karena wajahnya yang sangar dengan rambut seperti preman. Maklum Agus kan seorang intel. Ia pun memberikan wejangan kepada para siswa untuk fokus berlatih fisik. Tidak hanya itu, Agus mengingatkan mereka untuk mempelajari buku-buku soal tes perekrutas polisi agar mereka terbiasa ketika tes nanti. Siswa pun jadi semangat untuk giat berlatih lagi agar kelak mereka seperti Agus.
Berlainan bidang dengan Agus, Felix diundang untuk menjadi pembicara sebagai pengusaha muda sukses. Bayangkan saja, di umurnya yang tidak sampai menyentuh 23 tahun, Felix sudah memiliki dua toko konter hape yang salah satunya berada di mall terkenal. Felix berceria bagaimana awal karirnya yang hanya sebagai penjual pulsa, menjual casing hape ke siswa-siswa sekolah, sampe dia malu kalau bawain jualanan dia ke sekolah. Felix pun memutuskan membuka konter kecil di depan toko bapaknya dan berkembang hingga sekarang.
Penghasilan bersih dua digit sudah ia rasakan semenjak dua tahun ini ketika toko kedua di mall itu sudah dibuka. Dia bisa membantu untuk angsuran orangtuanya untuk membeli ruko agar mereka tidak lagi menyewa. Felix juga sudah membeli mobil sendiri dan mengangsur sebuah rumah, meskipun belum ia tempati, hanya dijadikan gudang penyimpanan barang konter. Antusias siswa kepada Felix lebih besar karena pengalamannya bener-bener dari bawah. Memang sih ada modal awal dari orangtuanya. Namun sebagai keturunan Tionghoa yang hobi berdagang, ia diajarkan begitu keras untuk berjuang dan tangguh menghadapi jatuh bangunnya sebuah bisnis. Jiwa-jiwa kewirausahaan para siswa pun menggembara. Mereka pun ingin jualan setelah ini, terutama OSIS yang suka jualan piscok sama bakwan.
Terduduk lesulah dua orang beban keluarga di belakang kumpulan para siswa yang sedang mendengarkan kedua tokoh alumni tersebut. Orang itu ialah Andi dan Nanang. Andi dan Nanang masih berjuang menyelesaikan perkuliahan dan seluruh hidupnya pun masih ditopang oleh keluarga. Terkadang mereka jadi iris ama Agus dan Felix yang memiliki nasib baik untuk masa depannya. Ya, namanya hidup kaga mungkin mulus ya. Mana tahu Andi dan Nanang bisa jadi orang gede nantinya.
“Bang, abang temennya Bang Agus dan Bang Felix ya?” tanya siswi perempuan yang ada di depannya. Soalnya Agus dan Felix sedari tadi nyebutin kalau mereka itu sahabat mereka dan masih beban keluarga sampai sekarang.
“Iya Dek. Abang temennya Agus sama Felix,” jawab Andi.
“Oh gitu … kok beda ya Bang?” tanya siswi itu kembali.
“Beda kenapa?”
Tampak temen sampingnya langsung menepuk paha siswi tersebut karena pertanyaan itu sensitif banget. Memang kaga ada akhlaknya nih anak.
“Iya dong, kami ini beda. Kami ini akademisi. Yang kamu pelajari hari ini juga dari orang-orang kampus. Emangnya ada buku cetak MTK yang dibikin sama polisi atau pengusaha konter? Kan kaga ada Dek.”
Andi pun bertutur bijak. Nanang sampe ngelus dada karena Andi kaga sampe ngamuk dan nyeret siswi cewek itu. Apalagi siswi itu cantik, bisa jadi diajakin kenalan sama Andi, lalu di-ghosting biar dia kesel.
“Oh gitu ya Bang. Oke deh. Good luck ….”
Kalau lo cowok, gue seret ke WC elu Dek, kesal Andi di dalam hati.
__ADS_1
Felix tampak menyorakkan semangat di atas panggung. Seluruh siswa bersorak gembira atas semangat yang telah ia dapatkan.
“Ayo Dek, kita semua bisa!!!”
Jangan percaya, Dek. Dia ditaburi biji wijen, ucap Nanang di dalam hati.
Acara pembacotan OSIS yang mengundang Felix dan Agus sudah berakhir. Seluruh siswa sekarang kembali lagi ke kelas buat belajar lagi. Semangat yang sebelumnya membara, kini luntur oleh suara guru yang memanggil dengan suara menggema-gema. Mari masuk …. Belajar MTK itu menyenangkan ….
Andi dan temen-temennya kini menyalami guru-guru. Hati pun jadi senang saat dipeluk bahagia oleh guru tersebut, tidak terkecuali Andi sendiri.
“Loh ini Andi yang dulu pacaran sama Ketua OSIS, siapa sih namanya?” tanya salah satu guru. Dia pernah jewer Andi waktu mamerin perutnya di depan kelas dengan spidol berbentuk kotak-kotak. Sarah mengadu dengan guru hingga Andi dikejar,
“Sarah bu namanya. Sarah Veronika.”
“Kamu masih pacaran sama dia?” tanya guru itu kembali.
“Iya dong bu. Cinta kami bagaikan samudera dan ombak, tidak akan lengkap jika menghilang. Hehehe ….”
“Bisa aja deh kamu. Cepet nikah ya. Ga baik pacaran lama-lama, dosa tahu ….”
Mereka kini beranjak ke kantin di mana mereka sering menitip rokok untuk diambil lagi ketika waktu istirahat. Rokok itu akan dihisap di kamar mandi sekolah bersama-sama. Terkadang, kantin tersebut jadi tempat mereka bersembunyi kalau ada razia rambut. Dengan sekotak rokok sogokan, rambut mereka jadi aman.
Andi mulai nih goda-godain cewek-cewek SMA yang lagi bolos kelas. Biasanya nih kan cewek-cewek yang sering bolos ini para senior. Bajunya udah di-press sampe mampus dan bikin dadanya menjerit. Bahkan, kancingnya aja minta tolong buat narik kainnya. Andi melihat ke roknya, Nanang nutup mata karena keinget apa kata bapaknya. Rok senior cewek memang kaga ada ampun. Serasa kalau tubuhnya paling sexoy sedunia. Apa enggak nyaman guru olahraga kalau ngajarin cewek-cewek, terutama Andi yang nanti bakalan jadi guru olahraga kalau tamat dari kuliah.
“Waduh, jadi pengen masuk SMA lagi nih.” Andi menyicipi mie instan dabel khas mamang kantin.
“Sumpah anak sekarang cepet banget gedenya. Mukanya itu loh udah kaya anak kuliahan,” balas Nanang.
“Ah, kalian aja kali yang sagnean.” Felix memalingkan wajah dari cewek-cewek tersebut.
“Elu sih kelamaan jomblo,” sindir Agus kepada Felix.
“Hahaha bukan jomblo, dia itu gay⸺”
Kalimat Andi terhentikan oleh sekelompok siswa kelas dua belas yang menghampiri mereka. Siswa-siswa tersebut kaya tipikal Anak Amak sewaktu itu yang songong banget.
__ADS_1
“Kami duduk di sini.” Ia menunjuk meja. “Udah ada tandanya.”
Andi melihat ke tanda tersebut, Terlihat tanda X yang ditulis menggunakan sebuah spidol.
Dilatin terus sama Andi, si siswa enggak mundur-mundur. Dideketin sama Andi, si siswa makin mendekat.
Untung aja Agus menahan Andi sehingga Andi tidak jadi meladeni anak tersebut.
“Anak kedai mana lu?” tanya Andi.
“Kodomo, tahu kodomo kan?” balas siswa tersebut.
Seketika seluruh Anak Amak tertawa terbahak-bahak mendengar nama kedai tersebut. Apa enggak ketawa soalnya sesepuh Kodomo itu merupakan temen mabok mereka.
Tangan Andi membuka handphone-nya, lalu mencari nomor seseorang yang tidak lain dan tidak bukan ialah Kevin. Setelah panggilan tersebut diangkat, ia memberikan nomor telepon itu kepada siswa tersebut.
“Halo?”
“Halo dengan saya sendiri di sini, Kevin ….”
Langsung deh siswa tersebut berbalik arah. Ternyata mereka salah lawan.
***
__ADS_1