Andi X Sarah

Andi X Sarah
25. Debat (SEASON 2)


__ADS_3


Debat



Semuanya sudah dipersiapkan oleh adik bimbingan Andi. Enak bener jadi Andi, tinggal hengkang-hengkang kaki semuanya udah siap. Ketika Andi datang, api kecil sudah dihidupkan untuk menanak nasi dan air, tenda sudah berdiri, barang-barang sudah dimasukkan, garam sudah ditabur di sekitaran tenda, serta perlengkapan pendukung lainnya. Dengan senang hati Andi masuk ke dalam tenda dan berbaring diri tanpa tahu diri.


Sementara itu, urat kening Naila keluar semua ngelihat Andi yang baring-baring di tenda. Namun, wanita itu tidak bisa marah karena Andi baru saja meminjamkan sweater karena sekujur tubuh Naila yang basah karena kecemplung. Ya sabar-sabar aja ngelihat kelakuan Andi yang kaya setan sedikit.


Tidak henti-hentinya Naila ngendus sweater Andi yang harum banget. Ni parfum memang premium, atau yang kw tapi makenya sebotol penuh, Naila juga ga tau. Tapi, intinya Naila asyik banget ngendus sweater kaya orang lagi mabok lem.


Saatnya makan siang di tenda masing-masing. Sambal bisa diambil di bus perlengkapan yang sudah dijatah sebelumnya. Memang, mereka hanya menanak nasi untuk siang hari ini. Di jam makan selanjutnya, mereka akan dibagikan nasi bungkus. Untung Andi punya orang dalam, jadi dia bisa booking nasi padang yang isinya rendang plus kuah asam pedas, khusus buat ni anak.


"Kalau kita tidur, semuanya di dalam ya?" tanya Ajiz.


"Ya tentu dong─" Andi dengan semangat.


Tiba-tiba ada suara berat dari belakang. "Enggak, cowok tidur di luar."


Ternyata yang baru aja Sarah lewat buat buang sampah. Andi langsung senyam-senyum sama yang lain.


"Nah, ternyata kita di luar." Siku Andi menyinggung Ajiz.


Setelah makan, adik bimbingan dipersilahan buat istirahat. Para kakak pembimbing di minta untuk berkumpul di tepi tanah lapang yang lumayan teduh karena Sarah sebagai ketua para kakak pembinging ingin menyampaikan jalannya program kemah ini.


Semuanya ngumpul, tapi Andi masih aja ngambil rute lain buat ngerokok sebentar. Ora ngudud paru ora smile, kalau enggak ngerokok paru-paru ga bakalan senyum. Dia tahu Sarah pasti marah besar kalau dia enggak ke sana. Yaaa mau enggak mau, harus tetap ngumpul.


"Samlekom semuanya, gue Sarah dan semuanya pasti tahu gue," ucap Sarah sembari berdiri.


Ya iyalah semuanya tahu karena lo itu mantan ketua OSIS, Andi menepuk jidad.


"Gue mau menyampaikan jalannya acara ini. Pertama yaitu yang sudah dilalui, yaitu persiapan dan makan siang. Sekarang mereka lagi istirahat─" Kalimat Sarah terpotong sama anak kelas 11 yang juga jadi kakak pembimbing.


"Eh lo kacamata bisa diam dulu ga? gue belum selesai nih!" tunjuk Sarah tanpa menatap. Adik kelas itu jadi menunduk karena Sarah yang marah.

__ADS_1


Andi jadi menahan ketawa karena Sarah beraninya menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Padahal kan ini lagi di di depan forum.


"Itu yang di belakang, yang baru aja terlambat. Kalau masih mau ketawa, keluar aja!" Sarah menatap garang kepada Andi.


Andi jadi pucat pasi. "Iya Kak, maap"


"Oke kita mulai lagi ya. Mereka istirahat sampai adzan isya berkumandang, lalu bakalan kita lanjut dengan perlombaan pertama. Malamnya setelah makan malam sekitar selesai Isya, kita bakalan ngadain acara api unggun yang diikuti perlombaan yang kedua. Sampai sini ada pertanyaan?"


"Tidurnya jam berapa? Dan laki-laki tidur di mana?" tanya Andi.


"Kalau semua acara udah selesai, kita langsung tidur. Untuk laki-laki tidur di luar."


"*** kok di luar?" tanya Andi terkejut.


Sontak Andi langung diliatin sama semuanya karena berani-beraninya berkata seperti itu kepada Sarah. Tapi, Andi enteng-enteng aja karena Sarah pasti udah biasa ngedengerin Andi kaya gini.


Dengan menghela napas ngelihat kelakuan Andi, Sarah masih bisa menjawab pertanyaan dengan tenang. "Tenang, Pak. Kalian ga bakalan kita suruh tidur di pohon. Karena jumlah anak cowok sedikit, jadi kita bisa minjam sleeping bag anak pramuka. Lumayan banyak ada tiga puluhan. kalau enggak cukup, tolong utama kan sama adik-adik kita."


Andi menangguk mengerti. Ga penting juga sih mau tidur di mana, lagian Andi ga bakalan tidur karena disuruh Sarah buat jaga-jaga di sekitaran.


Seseorang mengangkat tangan. Ia merupakan Wakil Ketua OSIS yang mendapingi Sarah sewaktu itu. Anak yang sekelas sama Nanang dan terkenal pintar. Beliau bernama Kiki Gendut karena dia memang gendut. "Bagaimana kalau kita bikin prank gitu."


"Maksud lo prank gimana?" tanya Sarah.


"Waktu pagi, kita pura-pura ada barang yang hilang dan kita menuduh adik bimbingan yang ngambil. Sampai salah satu ada yang berani berbicara lantang buat ngejelasin sama kita. Asyiknya adalah karena sebelum itu kita suruh semuanya nyebur di sungai."


Mendengar itu, Andi langsung berdiri. "Gue enggak setuju, itu namanya perpeloncoan!"


"Ya biasa aja kali, dulu kita digituin. Jadi, intinya adalah buat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan berani mengutarakan pendapat kepada mereka. Jadi, kita tahu siapa yang bener-bener bisa jadi pemimpin di sana. Gue yakin, sang pemimpin yang berani membela teman-temannya."


"Sarah, pokoknya gue ga setuju. Apalagi adik bimbingan gue dibentak-bentak, kalau bisa gue hantam siapa yang ngebentak."


Beberapa teman-teman yang lain menelan ludah karena memang suka ngebentak waktu masih masa orientasi. Dan yang mereka bentak itu adalah adik bimbingan Andi. Apalagi Andi memang ditakuti sama angkatan kelas 12.


Sarah tersenyum melihat Andi yang berani menyatakan pendapatnya. Padahal dia bukan anak organisasi yang suka debat waktu rapat, tapi kali ini ia melihat Andi yang berbeda.

__ADS_1


"Jadi apa untungnya mereka begitu?" tanya Sarah.


"Kita bakalan tumbuhin rasa tanggung jawab, tenggang rasa, membela yang benar, serta tidak takut mengatakan pendapat. Kita bakalan memotivasi mereka buat sekolah baik-baik, dan hal-hal lainnya. Gue minta satu orang yang jadi korlapnya."


"Menarik juga pendapatnya, bagaimana dengan Pak Andi?" Sarah menatap Andi.


"Gue tetap ga setuju, pagi pagi itu dingin, mereka malah disuruh nyebut ke sungai. masuk akal gak tuh?" Telunjuk Andi menempel ke kepala.


"Gue setuju dengan pendapat Kiki. Ya kan kita suruh mereka masuk ke sungai yang sepinggang. Lagian, kita ada maksud baik." Sarah menantang.


"Gila lo ya, Sar!" protes Andi.


"Kadang kita perlu gila. Lo emang ada ide?" tantang Sarah.


"Pokoknya gue ga setuju."


Sarah tertawa. Sementara yang lain diam mendengar adu mulut antara dua orang yang memiliki hubungan spesial ini. Sudah lama mereka tidak mendengar Sarah beradu mulut dengan Andi.


"Kita voting, suara yang banyak itu yang kita pilih. Ada yang tidak setuju?" tanya Sarah.


Hampir semua anggota memilih untuk menjalankan ide tersebut. Hanya dua orang yang menangkat tangan, salah satunya Andi. Berkat tidak ada yang mendukungnya, wajah Andi menjadi merah padam bercampur marah. Merasa tidak peduli, Andi langsung menyulut rokok di tempat.


"Setelah itu, kalian yang masuk ke sungai. Semuanya hantar mereka lagi ke tepian. Gue ga mau satu pun ada yang kering." Andi terpaksa mengalah.


"Gimana?" Wajah Sarah tersenyum kepada anggota yang lain.


Tampak anggukan setuju. Melihat itu, Andi menjadi sedikit lega. Namun, ia masih tidak sampai hati.


"Namun, lo yang gue pilih jadi koordinator lapangan. Lo yang bakalan teriak di sana nuduh siapa yang ngambil barang. Setelah itu, kita motivasi mereka."


"Kenapa harus gue?" tanya Andi sambil menghembuskan rokok.


"Karena lo satu-satunya orang yang ditakuti di sini."


"Oke, gue jabanin."

__ADS_1


***


__ADS_2