
Curhat
"Bang ...." Andi menyapa pria tersebut tatkala berbalik arah.
Jika dipikir-pikir, mungkin saja Clara sudah mempunyai kekasih. Lah dia kaya kembang desa gitu. Pasti banyak pemuda desa di sini yang ngincarin Clara. Yang jadi pertanyaan besar ialah siapa pria tersebut. Andi menduga bahwa pria tersebut adalah seseorang yang tengah suka sama Clara. Makanya dia ngajakin Clara pergi jalan. Eh, malah Andi yang jadi alasannya buat nolak. Andi ketawa-ketiwi selama di jalan karena ingat hal tersebut.
Tidak seperti biasanya, Nenek selalu meminta Andi buat sholat jamaah di surau. Yang biasanya dia solat di rumah, sekarang udah ke surau. Bandel-bandel gini, Andi tetep aja ingat Tuhan. Bandel itu hanya diluar, di dalamnya selalu beriman. aseek. Walaupun kadang-kadang nonton yang enggak-enggak juga.
Andi banyak membantu Nenek di rumah. Pekerjaan Clara kini ia emban, seperti mengangkat air dari sumur, menanak nasi, mencuci baju nenek, kadang-kadang ngasih makan ayam di samping rumah. Katanya, nenek juga punya kandang sapi. Letaknya cukup jauh dari rumah dan sekarang dikelola oleh sanak famili di sana. Dulu, Datuk atau kakeknya yang mengurusi sapi dan kerbau tersebut.
Ketika di sore hari, Andi yang nyapu halaman depan. Soalnya ada pohon sawo dan pohon rambutan. Daun-daun kering bakalan banyak mengotori kalau ga selalu di sapu. Setelah itu, nenek berbaik hati ngebuatin kopi buat Andi. Barulah Andi memulai senjanya, kaya anak-anak indie gitu.
Rokok yang disulut mengeluarkan gemeretak suara tembakau yang terbakar. Perasaan begitu santai dan syahdu. Secangkir kopi hitam pekat menghiasi bibir Andi. Ia mendesah, senja kali ini terasa nikmat. Matanya selalu dimanjakan oleh pemandangan Gunung Singgalang dan Gunung Merapi yang bersamping-sampingan. Andi jatuh dalam harmoninya.
Sedari tadi handphone berbunyi berkat pesan LINE di group Anak Amak. Seperti biasanya, mereka pasti ga jauh-jauh dari bahasan cewek dan anime yang terbaru. Jika ditanya perihal alasannya ke sini, Andi selalu menjawab jika ia sangat rindu kepada neneknya. Padahal tidak, ia mencari ketenangan yang perlahan ia dapatkan di sini.
Pesannya kepada Sarah tidak ada dijawab sedari minggu lalu. Ah sudahlah, ia tidak peduli. Ia yang meninggalkan Andi dan Andi yakin akan ada suatu saat ia menemukan wanita yang lebih baik. Wanita tidak selalu Sarah, Andi selalu mencari pembenaran atas perasaannya.
Tami muncul di layar handphone. Wanita tersebut ingin melakukan video call dengannya.
"Hai Andi ...." Terlihat Tami sedang tersenyum manis di teras belakan rumah.
"Hai juga Tam. Apa kabar?" tanya Andi.
"Baik kok. Kamu baik-baik aja di sana?"
Andi mengangguk.
__ADS_1
"Iya, aku baik-baik aja di sini. Di sini tenang banget loh. Ada kopi dan ada gunung." Andi menunjukkan Gunung Singgalang yang kokoh menjulang di sana.
"Syukurlah, kapan balik?" tanya Tami.
"Hmm ... kira-kira tiga hari atau dua hari lagi."
"Jangan lama-lama ... Sarah kangen."
Seketika Andi terdiam. Ia hisap rokoknya perlahan.
"Heheh, iya ...."
"Andi ...," panggil Tami. "Aku tahu kok ... kamu sama Sarah. Sarah cerita ke aku."
"Oh ya? Tumbenan anak itu mau cerita," balas Andi.
"Aku ga sepenuhnya nyalahin kamu kok. Sarah itu orangnya memang seperti itu. Orangnya mudah emosian, trus selalu ngambil keputusan sepihak. Dia sayang bangeeeet loh sama kamu. Tiap malam dia chat sama aku cuma buat nyeritain kamu. Tapi, kamu udah buat kecewa dia."
"Iya, maaf. Gue yang sebenarnya salah kok. Gue udah jalan sama Naila. Padahal kan itu ga boleh."
"Jadiin semua ini pelajaran, Andi."
Andi mengangguk. "Iya, gue paham kok ...."
"Kamu ga ada niatan buat balikan gitu?" tanya Tami.
"Sepertinya belum ada semenjak ngelihat respon Sarah. Dia benar-benar kecewa sama gue. Gue juga lagi butuh ketenangan, makanya gue ke sini. Selain itu, kayanya Sarah masih punya perasaan sama Pram. Terutama semenjak Pram udah tamat dan ditambah lagi Pram udah mau jadi polisi. Cewek mana yang ga mau sama cowok yang masa depannya jelas kaya dia."
"Andi, kamu itu harus percaya diri dong. Kamu harus ngeyakinin diri kalau kamu lebih baik dari Pram."
"Gue mikir gini karena diam-diam Sarah masih chat sama Pram. Diam-diam mereka telponan, diam-diam dia ketemuan sama Pram. Kayanya memang gue yang ga pantas sama Sarah. Harusnya hubungan ini ga terjadi, sebenarnya kan Pram yang pertama kali ngedeketin Sarah. Yaa sama aja gue ini penikung kan? Penikung yang ditikung balik."
__ADS_1
"Yaa kalau kaya gini masalahnya jadi tambah rumit dong. Gini aja deh, semua ada di keputusan kamu. Kalau kamu yakin buat ninggalin Sarah, yaa silahkan. Semoga aja kamu bisa ngedapetin wanita yang lebih baik."
"Harapan gue juga seperti itu, Tam."
Senyum Tami melebar untuk menyemangati Andi. Teman masa kecilnya itu memang benar-benar butuh teman yang selalu mendampinginya. Terutama, masalah cinta.
"Eh, kayanya Nanang ngedeketin Adek kamu ..."
Andi langsung berdiri dari duduknya. "Ah masa? Dari mana lo tahu?"
"Tadi sore gue lihat Aisyah baru aja keluar dari mobil Nanang. Nanang ngantarin adik kamu."
"Haha ... mungkin aja dia baru aja dari rumah Nanang. Babehnya Nanang yang ustadz itu ternyata pemibimbing adik gue buat lomba seni baca Al-Quran se-nasiona."
"Yaa ... mungkin aja ya." Tami mengiyakan. "Tapi kalau beneran, gimana? Nanang ngedeketin Aisyah."
"GUE HAJAR NANANG SAMPE KE SEMAK-SEMAK. LEWATIN DULU NYAWA GUE, BARU DIA NGEDEKETIN AISYAH."
"Hahaha ... posesif banget sama Aisyah."
"Hahha ... Aiyah itu masih polos. Gue ga mau sama orang setengah gila kaya Nanang."
"Yaudah deh, gue tutup dulu ya," ucap Tami.
"Iya, dada bebeb."
"Dada juga bebebqu."
Friendship goal banget yaah ...
***
__ADS_1