Andi X Sarah

Andi X Sarah
33. Momen Pagi (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


 Kubu komplek Andi juga sama sibuknya. Tami cukup rempong untuk penampilan diri. Demi kemulusan


kulit putih beningnya itu, Tami luluran di malam hari. Ia tidak ingin kulitnya


nanti kasar kalau kepanasan di bawah terik matahari. Berbagai sekinker sudah ia


persiapkan di dalam tas khusus. Mulai di krim pagi, krim siang, krim malam,


krim dini hari, sampe krin subuh hari. Author kaga tahu apa aja nama sekinker


tersebut, tinggal tanya aja sama Tami bagi cewek-cewek yang penasaran kenapa


bisa Tami kulitnya semulus itu.


Rumah Andi sudah ribut dari tadi


malam. Namanya Andi ingin serba cepat dan simple, seluruh benda yang


dimasukkan di dalam satu koper. Kaga tahu namanya rapi, langsung aja masukin


pokoknya yang penting muat. Nah, di sinilah emak-emak Minang pantang sekali


kalau ngelihat yang berantakan. Andi abis kena omel mamanya karena bikin


pakaian pada kerimuk semua. Udahlah dicuciin, eh malah dibikin kerimuk


gara-gara Andi masukin ke koper enggak pakai hati. Alhasil, mama Andi yang mempersiapkan


seluruh peralatan untuk liburan.


Yang mandiri sih cuma Memet. Dia


mandiri sejak lahir karena nangisnya nangis sendiri. Yaiyalah dedek bayi nangis


sendiri, masa ditakut-takutin sama topeng gorilla. Memet sudah mempersiapkan


bahkan dari hari kemarin karena malamnya dia harus nongkrong di pos ronda, jadi


paginya langsung berangkat. Emaknya Memet mendukung sekali rencana anaknya


berlibur bersama teman-teman karena sumpek melihat anaknya yang punya etos


kerja tinggi. Pagi kerja sampe sore, istirahat bentar, terus lanjut kerja jadi


penjaga komplek di malam harinya.


Nah, yang bikin bingung sih Sarah,


dia enggak ada bunyi semenjak tadi malam. Cuma balas `oke` ketika Tami bilang


jam tujuh pagi harus sudah siap semua, setelah itu Sarah enggak ada muncul.


Mereka akan memakai mobil bapaknya


Agus. Mobil Phanter warna silver tersebut diperbolehkan untuk dibawa berlibur.


Papanya Agus memang masuk ke dalam komunitas mobil Phanter yang sering travelling ke


mana-mana. Pokoknya kalau jarak jauh, Phanter sih jagoannya.


“Mereka udah siap ga ya?” tanya Agus


kepada Nanang.


Agus terlebih dahulu menjemput


Nanang. Sewaktu jemput Nanang, ia sempat ketemu sama bapaknya Nanang yang


ustadz kondang itu. Nah, Agus waktu SMA sering di muhasabah sama ustadz


tersebut karena nakal, termasuk anaknya sendiri. Agus diceramahin lagi nih


dengan nasihat-nasihat agama sebelum pergi berlibur untuk meningkatkan iman.


Tapi ga tau sih imannya bertahan waktu Kevin nunjukin wiski sama dia.


“Enggak tahulah, gue ragunya sama


Sarah sih. Dia itu aneh deh kalau mau pergi-pergi.”


“Aneh gimana?”


“Bisa-bisanya dia boker dulu sampe


dua jam,” jawab Nanang.


“Gile, boker apaan. Mau satu tong


kali ya yang mau dikeluarin.”


Nanang tertawa. “Hahah … bisa jadi.


Kan di makannya banyak.”


Mobil Phanter berhenti tepat di


depan rumah Memet. Anak itu udah kaya nunggu mobil travel pesanan waktu pulang

__ADS_1


kampung. Koper dan tas sudah berjejer di meja depan. Emakny nungguin di depan


pintu, sedangkan adeknya Memet yang masih bocil berdiri dengan mata setengah


sadar. Seluruh barang kemudian dimasukin ke dalam mobil.


“Lo yang bawa mobil kalau malam hari


ya. Soalnya mata gue sering ngantur kalau perjalanan malam. Lo kan udah biasa


ga tidur,” ucap Agus.


“Tenang … urusan main malam mah gue


jagonya. Bagus nih Phanter. Terurus banget,” puji Memet. Selain urusan motor,


Memet juga ngerti dengan mobil. Memet pernah setahun jadi supir travel.


"Bapak gue itu hobinya main mobil.


Ini mobil udah sampe ke Sabang. Lihat tuh stikernya.” Agus menunjuk stiker


tanda sudah main ke Sabang, alias ujung paling barat negeri ini.


Kini, giliran mereka menjemput Andi


dan Tami. Andi sudah berdiri kaya kenek supir di samping mobil Pajero Sport


tepat depan rumah Tami. Tami tampak keluar dari pintu rumah dengan seluruh


pesonanya yang ada. Barang bawaan Tami disambut oleh tangan Pram.


“Cantik banget pagi ini. Kaya mau


pergi ke mall aja,” puji Pram.


Kedua pipi Tami memerah tatkala


dikatakan begitu. Ia membuang muka karena gugup menatap Pram.


“Ah, kakak bisa aja.”


“Masih tinggal di rumah Andi?” tanya


Pram.


“IYE! Dia masih tinggal di rumah


gue.” Tangan Andi merebut barang-barang Tami. Ia udah ga tahan Tami lama-lama


sama Pram.


“Oh gitu ya. Bagus dong biar Tami


Mata Andi memicing curiga. “Peduli


apa lo?”


“Eh, sudah-sudah … kita sekarang


jemput Sarah.” Tami malah mengambil alih barang bawaannya untuk dibawa sendiri.


“Met, tolong ya ….”


“Oke Tami ….”


Pram dan Andi dianggurin nih sama


Tami.


Tibalah mereka di depan rumah Sarah.


Andi manggilin Sarah kaya bocil yang ngajak pergi main. Cukup lama Andi


mengetuk rumah, tetapi tidak ada satu pun balasan dari dalam rumah. Pram


menelpon Sarah berkali-kali, tetapi juga tidak ada balasan. Memet meriksa sampe


ke balakang rumah, dibalik pohon kalau Sarah diculik genduruwo, di dalam kolam


kalau dia ngigonya sampe berenang.


“Nih anak ke mana ya?” tanya Kevin.


“Biasanya dia ada kan pagi-pagi begini?”


“Sarah itu pagi selalu ada di rumah.


Dia kalau mau pergi, selalu nyiapin papanya makanan,” balas Andi.


Terdengarlah suara motor butut


papanya Sarah yang baru pulang dari masjid. Ia masih memakai setelan sarung


pecian.


“Lah, Sarahnya ada di rumah kok,”


balas papanya Sarah sambil turun dari motor. “Ini om baru pulang dari masjid.


Ada rapat panitia masjid. Mari masuk dulu ke rumah.”

__ADS_1


Andi melangkah masuk ke dalam mobil,


diikuti oleh Pram. Sementara yang lain duduk di bawah pohon rambutan sambil


makan buahnya.


“Kamu cek aja ke kamarnya, Ndi.”


“Oke om ….” Andi melihat Pram yang


terkejut. “Apa lo? Biasa aja kali, kan gue pacarnya.”


“Ya, gue tahu. Enggak usah


diperjelas,” balas Pram.


Pintu kamar gadis itu dibuka.


Terlihat Sarah lagi ngorok dengan nikmatnya dengan posisi ngangkang dan


diantara kedua kaki tergeletak guling warna merah jambu. Andi menghela napas


melihat kondisi Sarah yang masih tertidur pulas. Ia mencoba


menggoyang-goyangkan tubuh Sarah agar terbangun.


“Sayang … bangun. Kita mau pergi


nih,” ucap Andi. Ia diam sesaat karena Sarah sama sekali tidak merespon. “Woy,


kita mau pergi.”


Tangan Sarah bergerak untuk menyingkirkan


tangan Andi. “Jangan mendekat. Monster itu ingin menyerang kita.”


Monster dari mana? Sarah


ternyat lagi ngigo.


“Sarah, ini gue. Bukan monster yang


kita lawan di PS kemarin. Bangun, Sar. Mereka udah nungguin.”


Perlahan mata Sarah terbuka pelan.


Tiba-tiba tangan Sarah menarik Andi untuk jatuh di tubuhnya. Sontak hal yang


diinginkan itu membuat Andi terkejut.


“Sar, jangan nodain aku.”


“Biarin bentar, gue pengen lo meluk


gue pagi-pagi begini.”


“Nanti dilihatin Papa!” Andi


melepaskan tangan Sarah.


Sarah bangkit dari posisi tidur.


“Sorry gue ketiduran. Dari subuh gue bikinin Papa makan buat tiga hari. Jadi


gue kecapean.”


Mata Sarah terlihat kurang tidur


dengan noda hitam dibawahnya. “Ya udah, sekarang lo siap-siap. Biar gue bawa


barang lo.”


“Gue udah mandi kok, tinggal pasang


baju.”


“Sekarang bangun.” Andi membantu


Sarah untuk berdiri.


“Pasangin baju gue ….”


“KAGA!” Andi mengangkat koper Sarah.


Tatkala tubuh Andi berbalik untuk


pergi, Sarah menahannya dan malah menarik Andi untuk mendekat. Satu titik yang


membuat pagi ini terhenti ialah tatkala momen bibir mereka saling bersentuhan


satu sama lain. Mata terpejam menyadari hal ini terjadi begitu cepat.


“Gue berharap setiap pagi lo yang


bangunin gue.”


Andi malah mendekatkan wajahnya


kembali. “Setelah hari-hari itu tiba, lo yang bikin gue sarapan setiap paginya.”


Pagi ini penuh momen bagi Andi dan

__ADS_1


Sarah.


***


__ADS_2