
Kubu komplek Andi juga sama sibuknya. Tami cukup rempong untuk penampilan diri. Demi kemulusan
kulit putih beningnya itu, Tami luluran di malam hari. Ia tidak ingin kulitnya
nanti kasar kalau kepanasan di bawah terik matahari. Berbagai sekinker sudah ia
persiapkan di dalam tas khusus. Mulai di krim pagi, krim siang, krim malam,
krim dini hari, sampe krin subuh hari. Author kaga tahu apa aja nama sekinker
tersebut, tinggal tanya aja sama Tami bagi cewek-cewek yang penasaran kenapa
bisa Tami kulitnya semulus itu.
Rumah Andi sudah ribut dari tadi
malam. Namanya Andi ingin serba cepat dan simple, seluruh benda yang
dimasukkan di dalam satu koper. Kaga tahu namanya rapi, langsung aja masukin
pokoknya yang penting muat. Nah, di sinilah emak-emak Minang pantang sekali
kalau ngelihat yang berantakan. Andi abis kena omel mamanya karena bikin
pakaian pada kerimuk semua. Udahlah dicuciin, eh malah dibikin kerimuk
gara-gara Andi masukin ke koper enggak pakai hati. Alhasil, mama Andi yang mempersiapkan
seluruh peralatan untuk liburan.
Yang mandiri sih cuma Memet. Dia
mandiri sejak lahir karena nangisnya nangis sendiri. Yaiyalah dedek bayi nangis
sendiri, masa ditakut-takutin sama topeng gorilla. Memet sudah mempersiapkan
bahkan dari hari kemarin karena malamnya dia harus nongkrong di pos ronda, jadi
paginya langsung berangkat. Emaknya Memet mendukung sekali rencana anaknya
berlibur bersama teman-teman karena sumpek melihat anaknya yang punya etos
kerja tinggi. Pagi kerja sampe sore, istirahat bentar, terus lanjut kerja jadi
penjaga komplek di malam harinya.
Nah, yang bikin bingung sih Sarah,
dia enggak ada bunyi semenjak tadi malam. Cuma balas `oke` ketika Tami bilang
jam tujuh pagi harus sudah siap semua, setelah itu Sarah enggak ada muncul.
Mereka akan memakai mobil bapaknya
Agus. Mobil Phanter warna silver tersebut diperbolehkan untuk dibawa berlibur.
Papanya Agus memang masuk ke dalam komunitas mobil Phanter yang sering travelling ke
mana-mana. Pokoknya kalau jarak jauh, Phanter sih jagoannya.
“Mereka udah siap ga ya?” tanya Agus
kepada Nanang.
Agus terlebih dahulu menjemput
Nanang. Sewaktu jemput Nanang, ia sempat ketemu sama bapaknya Nanang yang
ustadz kondang itu. Nah, Agus waktu SMA sering di muhasabah sama ustadz
tersebut karena nakal, termasuk anaknya sendiri. Agus diceramahin lagi nih
dengan nasihat-nasihat agama sebelum pergi berlibur untuk meningkatkan iman.
Tapi ga tau sih imannya bertahan waktu Kevin nunjukin wiski sama dia.
“Enggak tahulah, gue ragunya sama
Sarah sih. Dia itu aneh deh kalau mau pergi-pergi.”
“Aneh gimana?”
“Bisa-bisanya dia boker dulu sampe
dua jam,” jawab Nanang.
“Gile, boker apaan. Mau satu tong
kali ya yang mau dikeluarin.”
Nanang tertawa. “Hahah … bisa jadi.
Kan di makannya banyak.”
Mobil Phanter berhenti tepat di
depan rumah Memet. Anak itu udah kaya nunggu mobil travel pesanan waktu pulang
__ADS_1
kampung. Koper dan tas sudah berjejer di meja depan. Emakny nungguin di depan
pintu, sedangkan adeknya Memet yang masih bocil berdiri dengan mata setengah
sadar. Seluruh barang kemudian dimasukin ke dalam mobil.
“Lo yang bawa mobil kalau malam hari
ya. Soalnya mata gue sering ngantur kalau perjalanan malam. Lo kan udah biasa
ga tidur,” ucap Agus.
“Tenang … urusan main malam mah gue
jagonya. Bagus nih Phanter. Terurus banget,” puji Memet. Selain urusan motor,
Memet juga ngerti dengan mobil. Memet pernah setahun jadi supir travel.
"Bapak gue itu hobinya main mobil.
Ini mobil udah sampe ke Sabang. Lihat tuh stikernya.” Agus menunjuk stiker
tanda sudah main ke Sabang, alias ujung paling barat negeri ini.
Kini, giliran mereka menjemput Andi
dan Tami. Andi sudah berdiri kaya kenek supir di samping mobil Pajero Sport
tepat depan rumah Tami. Tami tampak keluar dari pintu rumah dengan seluruh
pesonanya yang ada. Barang bawaan Tami disambut oleh tangan Pram.
“Cantik banget pagi ini. Kaya mau
pergi ke mall aja,” puji Pram.
Kedua pipi Tami memerah tatkala
dikatakan begitu. Ia membuang muka karena gugup menatap Pram.
“Ah, kakak bisa aja.”
“Masih tinggal di rumah Andi?” tanya
Pram.
“IYE! Dia masih tinggal di rumah
gue.” Tangan Andi merebut barang-barang Tami. Ia udah ga tahan Tami lama-lama
sama Pram.
“Oh gitu ya. Bagus dong biar Tami
Mata Andi memicing curiga. “Peduli
apa lo?”
“Eh, sudah-sudah … kita sekarang
jemput Sarah.” Tami malah mengambil alih barang bawaannya untuk dibawa sendiri.
“Met, tolong ya ….”
“Oke Tami ….”
Pram dan Andi dianggurin nih sama
Tami.
Tibalah mereka di depan rumah Sarah.
Andi manggilin Sarah kaya bocil yang ngajak pergi main. Cukup lama Andi
mengetuk rumah, tetapi tidak ada satu pun balasan dari dalam rumah. Pram
menelpon Sarah berkali-kali, tetapi juga tidak ada balasan. Memet meriksa sampe
ke balakang rumah, dibalik pohon kalau Sarah diculik genduruwo, di dalam kolam
kalau dia ngigonya sampe berenang.
“Nih anak ke mana ya?” tanya Kevin.
“Biasanya dia ada kan pagi-pagi begini?”
“Sarah itu pagi selalu ada di rumah.
Dia kalau mau pergi, selalu nyiapin papanya makanan,” balas Andi.
Terdengarlah suara motor butut
papanya Sarah yang baru pulang dari masjid. Ia masih memakai setelan sarung
pecian.
“Lah, Sarahnya ada di rumah kok,”
balas papanya Sarah sambil turun dari motor. “Ini om baru pulang dari masjid.
Ada rapat panitia masjid. Mari masuk dulu ke rumah.”
__ADS_1
Andi melangkah masuk ke dalam mobil,
diikuti oleh Pram. Sementara yang lain duduk di bawah pohon rambutan sambil
makan buahnya.
“Kamu cek aja ke kamarnya, Ndi.”
“Oke om ….” Andi melihat Pram yang
terkejut. “Apa lo? Biasa aja kali, kan gue pacarnya.”
“Ya, gue tahu. Enggak usah
diperjelas,” balas Pram.
Pintu kamar gadis itu dibuka.
Terlihat Sarah lagi ngorok dengan nikmatnya dengan posisi ngangkang dan
diantara kedua kaki tergeletak guling warna merah jambu. Andi menghela napas
melihat kondisi Sarah yang masih tertidur pulas. Ia mencoba
menggoyang-goyangkan tubuh Sarah agar terbangun.
“Sayang … bangun. Kita mau pergi
nih,” ucap Andi. Ia diam sesaat karena Sarah sama sekali tidak merespon. “Woy,
kita mau pergi.”
Tangan Sarah bergerak untuk menyingkirkan
tangan Andi. “Jangan mendekat. Monster itu ingin menyerang kita.”
Monster dari mana? Sarah
ternyat lagi ngigo.
“Sarah, ini gue. Bukan monster yang
kita lawan di PS kemarin. Bangun, Sar. Mereka udah nungguin.”
Perlahan mata Sarah terbuka pelan.
Tiba-tiba tangan Sarah menarik Andi untuk jatuh di tubuhnya. Sontak hal yang
diinginkan itu membuat Andi terkejut.
“Sar, jangan nodain aku.”
“Biarin bentar, gue pengen lo meluk
gue pagi-pagi begini.”
“Nanti dilihatin Papa!” Andi
melepaskan tangan Sarah.
Sarah bangkit dari posisi tidur.
“Sorry gue ketiduran. Dari subuh gue bikinin Papa makan buat tiga hari. Jadi
gue kecapean.”
Mata Sarah terlihat kurang tidur
dengan noda hitam dibawahnya. “Ya udah, sekarang lo siap-siap. Biar gue bawa
barang lo.”
“Gue udah mandi kok, tinggal pasang
baju.”
“Sekarang bangun.” Andi membantu
Sarah untuk berdiri.
“Pasangin baju gue ….”
“KAGA!” Andi mengangkat koper Sarah.
Tatkala tubuh Andi berbalik untuk
pergi, Sarah menahannya dan malah menarik Andi untuk mendekat. Satu titik yang
membuat pagi ini terhenti ialah tatkala momen bibir mereka saling bersentuhan
satu sama lain. Mata terpejam menyadari hal ini terjadi begitu cepat.
“Gue berharap setiap pagi lo yang
bangunin gue.”
Andi malah mendekatkan wajahnya
kembali. “Setelah hari-hari itu tiba, lo yang bikin gue sarapan setiap paginya.”
Pagi ini penuh momen bagi Andi dan
__ADS_1
Sarah.
***