
Andi termenung di kamarnya ketika mengingat perkataan papanya Sarah beberapa hari yang lalu mengenai pernikahan. Pernikahan merupakans sesuatu yang masih belum dipikirkan oleh Andi. Gimana mau mikirin nikah, anime faforit aja ga update dalam seminggu, Andi udah cemas. Hal itu dapat disimpulkan jika menikah bukanlah sesuatu yang sepele, melainkan harus mempertimbangkan dari berbagai aspek kematangan, baik finansial, emosional, dan dukungan keluarga.
Banyak nih kasusnya muda-mudi yang pengennya nikah muda. Boleh sih nikah muda kalau udah bisa menunjang seluruh aspek tersebut. Dia bisa ngidupin keluarganya tanpa ngeluh lagi sama orangtua. Tapi banyak pula fenomena terjadi permasalahan di muda-mudi yang nikah muda. Mungkin aja masih kurang mapan dari segi materi dan emosional. Kata Nanang yang saudaranya kerja di pengadilan, perceraian banyak terjadi di pasangan dengan pernikahan muda.
Ya, masalah paling utama karena mereka masih belum siap secara emosional. Sedikit terpercik masalah, nanti malah berantem tanpa penyelesaian yang jelas. Di akhir bulan kurang duit, udah berkurang piring kaca di rak lemari. Awalnya janji buat sehidup semati, eh malah melanggar janji itu sendiri. Namanya juga korban postingan kampanye nikah muda dengan dalih menghindari zina. Kan ngindarin zina juga banyak caranya, kata bapaknya Nanang salah satu cara ialah dengan cara berpuasa, bukan ujung-ujungnya harus nikah.
“Ah … perjalanan gue masih panjang. Nanti dulu mikirin nikah ….” Andi pun terlelap dengan piring lontong sarapan masih ada di samping bantalnya.
Lah, modelan ginian mau nikah muda. Mindahin piring sarapan aja mager. Apa enggak ngomel Si Sarah kalau ngelihatin Andi begini. Setelah sarapan bukannya keluar rumah buat melakukan hal bermanfaat, ini malah molor lagi sampe jam sepuluh pagi.
Telinga Andi berdiri karena mamanya udah ngomel-ngomel di bawah pakai Bahasa Minang. Untung aja nih sekitaran rumah kaga ada yang ngerti Bahasa Minang. Emak-Emak Minang selalu punya pepatah yang bikin anak tersindir banget. Andi langsung bangun dan menyapu halaman depan, sekaligus menyirami bunga-bunga.
“Iya Kak, kalau aku sih pakai krim yang itu buat malam.” Terdengar suara Aisyah dari samping rumah.
“Bagus kalau yang itu, pakai aja biar pagi kulitnya cerah. Vitamin dari krim itu cocok banget buat ngembaliin warna kulit asli kita,” ucap seorang perempuan.
Andi pun bingung dengan siapa Aisyah berbicara pagi ini. Ga mungkin ia bicara skincare sama Sarah yang sama sekali enggak ngerti dengan skinkeran. Kalau ga disuruh sama Tami, Sarah sampai sekarang masih pakai bedak bayi doang. Katanya, mending duit skinkeran dibeliin martabak sama gerobaknya sekalian.
“Aisyah … kamu bicara sama siapa⸺”
Terlihatlah perempuan bening tengah berdiri di samping Aisyah sembari memegang thaitea botolan indoapril. Kaya orang bego Andi berdiri lugu dengan cuma memakai singlet serta celana pendek. Air keran masih keluar dari ujungnya, menyirami rerumputan yang sedang Andi pijak sekarang.
“AAAAAA …..” Andi lari kaya bencong dikejar satpol PP karena malu cuma makai singlet dan celana pendek. Ternyata Tasya sedang ada di rumahnya.
Tertawalah dua orang wanita di sana itu, hingga tawanya masih bertahan tatkala Andi kembali lagi.
“Lo kenapa bisa di sini?”
Mamanya Andi keluar dari pintu teras rumah sebelah kanan. “Heh, yang sopan dong kalau ada temennya.”
__ADS_1
“Eh Tante ….” Tasya menyalami mamanya Andi. “Selamat pagi Tante, maap datang tiba-tiba. Soalnya ada urusan kerja sama Tami.
“Kamu ajak tuh Andi biar beraktifitas kalian. Aktifitas yang ndak ada duitnya pun ndak apa-apa, daripada di rumah terus anak itu,” sindir Mama Andi.
“Yaleah Emakku, segitunya ….” Andi memelas wajah.
“Nanti siang kamu makan di sini aja ya, sekalian ajak Tami.” Tangan Mama Andi mengelur rambut Tasya. “Kamu baik banget ngasih Tante bunga mahal.”
“Iya Tante, Bunda di rumah juga seneng pelihara bunga ….”
“Ma … kok bisa kenal sih?” tanya Andi dengan heran. Perasaan Tasya tidak pernah berkunjung sebelumnya.
“Papanya ini loh yang bikin parit permanen di depan komplek kita biar enggak banjir lagi. Ternyata, anaknya bapak itu adalah Tasya. Pas kali awal bulan kemarin Tasya lagi main ke rumah Tami, terus Mama lagi ada di sana.”
“Kalau ada keluhan dari warga lagi, bilang aja ke Tami biar disampaikan ke Papa.”
“OOOOO ….,” ucap Andi dengan panjang.
“Lo ngapain ke sini sih?” tanya Andi tatkala hanya tinggal mereka berdua.
Tasya tertawa kecil. “Lo selalu ga suka kalau gue ada di mana-mana.”
“Ya aneh aja gitu lo datang tiba-tiba, kaya hantu. Kemarin juga di kantin,” balas Andi.
“Tami itu kan fotografer gue buat jualan gue. Jadi, gua datang ke rumah dia buat diskusi kerjaan baru. Nah, modelnya itu Memet. Gue makai jasa dia. Sekalian aja gue datang ke sini, eh sayangnya Memet lagi ga ada di rumah.”
“Yaa … lo ngapain ke rumah gue? Ke rumah Tami, gue ga masalahin ….”
“Mana tahu gue bisa ketemu mertua gue ….”
__ADS_1
“Naujubillah … mertua nyari di rumah gue. Emak gue udah punya menantu!”
“Gue kira lo punya abang atau adik laki-laki gitu, heheh …..” Tasya duduk di ayunan tali yang diikat pada pohon jambu samping rumah. “Rumah lo asyik banget buat duduk-duduk ….”
“Biasa aja menurut gue ….”
Tasya menghela napas. “Rumah gue itu terlalu luas buat tiga orang keluarga inti. Mungkin lebih banyak asisten rumah tangga di rumah gue. Saking luasnya, gue pakai skuter buat ke mana-mana.”
“Orang kaya memang beda, ga sekalian pakai Bo-Jek?”
“Gue boleh ke sini sering-sering ga?” tanya Tasya.
Wajah Andi memereng dengan kalimat tersebut. “Kenapa lo main ke rumah gue?”
“Adik lo asyik kayanya, hehe ….”
“Ga boleh … gue ngelarang dia gaul sama orang kaya ….” Andi menggeleng.
“Lah kok gitu? Naila juga orang kaya.”
“Ya … kalau elo kaya banget, ga normal gitu. Masa ke WC aja pakai skuter di rumah lo.” Andi berbalik diri untuk pergi menuju depan rumah. “Gue mau nyiram tanaman dulu.”
“Gue bantuin ya?” tawar Tasya.
“Ngapain juga lo bantuin gue?” Andi jadi heran.
“Gue ga pernah nyiram tanaman di rumah, soalnya aja tukang kebun heheh …”
Sembari melihat ke kiri dan kanan, Andi pun tersenyum. Alhasil, Tasya disuruh nyiramin sisa tanaman Mamanya. Sementara itu, Andi duduk sambil ngopi di depan teras.
__ADS_1
Hahaha … ternyata begini kalau punya tukang kebun!
***