
Andi tidak mengetahui senior mana lagi yang sedang mencari. Sepertinya di dalam hidup Andi banyak sekali senior yang mengincarnya, mulai dari cewek buat ngajak pacaran, maupun cowok yang ngajak ketemuan perbakuhantaman, Padahal, Andi tidak ada mencari masalah karena Andi cenderung pasif terhadap lawan-lawannya, kecuali jika sudah diusik terlebih dahulu.
Tatkala ia tanyai balik Ari Kiting, temannya itu sama sekali tidak mengetahui siapa senior yang sedang mencarinya. Keesokan harinya, Ari menunjuk seseorang yang sedang nongkrong di bawah pohon ketapang fakultas. Terdapat pula beberapa teman-temannya yang turut menikmati momen santai tersebut. Andi tidak mengenal pria itu secara pribadi, tetapi Andi tetap mengenal wajahnya karena sering tampak sebagai orang berpengaruh di BEM Fakultas. Ia juga termasuk pentolan senior dari Jurusan Bahasa Inggris.
“Lo ada masalah apa sih sama mereka?” tanya Nabe tatkala melihat sekelompok senior yang ditunjuk oleh Ari Kiting.
“Kemarin gue narik junior BEM mereka. Soalnya dia songong banget sama gue. Gue mau masuk ke ruangan BEM, eh dia malah cegat gue berasa sok hebat. Ya udah … gue ajak dia ke WC.”
“Emangnya lo ada urusan sama anak BEM? Kek orang sibuk aja,” tanya Ari Kiting kemudian.
“Ketemu Tasya ….”
“Lah kok ketemu Tasya?” Nabe terlihat kaget.
“Lo ngapain juga nyari-nyariin Tasya?”
Andi memandang datar kedua teman somplak yang malah jadi reporter lagi wawancara seorang pelaku.
“Kenapa ya temen gue pada goblok semua.” Andi menggeleng pasrah. “Kan gue ngantarin berkas kalian buat KKN. Kalian mau KKN kaga? Udah untung gue anterin ke dia.”
“Sorry gue enggak KKN bareng kalian,” ucap Ari Kiting.
__ADS_1
“Ya udah … kalau nanti dia nyariin gue, kasih aja langsung nomor gue biar gue berurusan sama dia. Emang gue takut apa?!” pungkas Andi.
Mental Andi sudah teruji dari IPB dan ITB kalau soal yang beginian. Tidak ada alasan bagi Andi untuk takut. Mau itu satu orang atau lebih dari dua orang sekali pun, hal terpenting bagi Andi ialah tidak akan mundur. Kecuali kalau mereka udah megang piso, barulah Andi mundur dulu buat kabur. Ya kali Andi mau gacha nyawa waktu dibacokin. Kevin yang ototnya segede nangka aja bisa tepar, apalagi Andi yang cuma menang di perut buncitnya.
Esok hari datang hati Andi yang mewanti kedatangan senior gelombang dua. Biasanya nih selalu akan datang lagi kalau ajakan pertama tidak bertemu. Kebetulan sekali Andi sedang menghelat kopi senjanya di kantin fakultas, sekalian ngelihat mbak-mbak kantin manis yang selalu bikin Andi kopi. Sehabis dua batang rokok suyra menyelinap di atas asbak, datang dua orang yang tampangnya seperti senior.
“Lo Andi?” tanya pria itu.
“Iya … ada apa ya?” Andi bertanya balik.
“Ikut kami bentar ….”
Udah kaya petrus Orde Baru, Andi seakan ingin diculik lalu dibuang di tepi jalan dengan keadaan memprihatinkan. Tapi, tampang seram senior-senior tersebut tidak membuat Andi gentar. Ia sudah tahu jika diincar oleh orang yang sama.
“Nah elo tahu. Ikut kami bentar …..”
Andi berdiri sembari mematikan ujung rokoknya. Ia mengikuti dua orang itu menuju bagian sepi fakultas, tepatnya di sebalik tangga yang berada di area belakang fakultas. Terdapat tiga orang yang sedang menunggu di sana. Ternyata di sana juga ada Rizk yang merupakan senior dari jurusannya. Pria itu pernah pula Andi hajar bersama teman-temannya sekaligus, hingga minta ampun. Berbeda seperti kemarin, Rizky malah tampak gahar jika berada di kelompoknya.
“Jadi elo yang namanya Andi?”
Orang yang kelihatan paling mendominasi itu memandangi Andi. Label nama Fajri terpampang jelas di dada baju kebanggan anak BEM fakultas. Ia sudah pasti anggota dari BEM. Jika ia berurusan dengan anggota BEM, maka Andi menebak karena masalah kemarin.
__ADS_1
“Iya, ada apa?” balas Andi. Ia merasa diperhatikan di segala sudut. Senior-senior itu mengelilingi Andi. Ia jadi was-was ketik nanti ada serangan mendadak.
“Lo tahu kenapa lo ada di sini?”
“Pastinya bukan karena mau ngajakin gabung tim futsal BEM, kan? Heheheh ….” Andi menunjuk satu per satu sembari bercanda. Tapi, tidak ada satu pun yang merasa lucu. Andi jadi malu karena asyik sendiri. “Sorry ga lucu, ya? Maap …”
“Ga usah sok asyik lo!” Rizky menarik kerah Andi.
Sikap itu membuat Andi berubah serius. Ia mencengkram tangan Rizky dengan satu genggaman sehingga ia perlahan melepaskan kerahnya. Andi pantang sekali dibegitukan jika tidak ada masalah lagi dengan dirinya. Rizky hanya merasa hebat di depan teman-temannya sendiri, menurut Andi.
“Nanti dulu ….” Fajri menahan tubuh Rizky untuk mendekat. Tidak lama kemudian, ia kembali menatap kepada Andi. “Lo apain junior gue kemarin?”
“Gue ajakin dia ke WC. Emangnya ngapa?” tanya Andi balik.
“Memang belagu lo ya sebagai senior. Hormat dikit sama gue!” Fajri melakukan ancang-ancang tamparan.
Pada momen yang tepat, tangan Andi menahan tamparan Fajri.
“Lo kalau mau gelud, jangan di sini. Ajak di tempat lain ….”
Tatapan mereka saling bertemu. Sepertinya Andi harus melanggar janjinya kepada Sarah.
__ADS_1
***