Andi X Sarah

Andi X Sarah
58. Ketemu Lagi (SEASON 2)


__ADS_3


Ketemu Lagi



"Kita ketemu lagi," ucap Pram tatkala berpapasan dengan Andi di kantin.


Menatap wajah pria itu saja sudah membuat Andi muak, apalagi berbicara yang tidak ada gunanya. Melangkah ke kantin ternyata berbuah kesialan, Andi harus berpapasan dengan Pram yang selalu saja tampil menyebalkan. Ia tahu, Pram menang segalanya, termasuk haknya atas Sarah. Tidak ada yang ia permasalahkan lagi. Andi tidak lagi ingin berurusan dengan Sarah dan Pram.


"Kalau bicara sama senior, lihat dong ...." Nada Pram sedikit meninggi.


"Udah Pram ... gue ga mau lo dapat masalahh," potong Kevin.


Andi berbalik arah menuju ke hadapan Pram. Aksi Andi membuat seluruh anggota Kodomo berdiri. Hal tersebut tidak membuat Andi ciut sedikit pun, ia maju selangkah menghadapi Pram.


"Lo mau apa sih? Lo udah menang ...."


Sebelah bibir Pram tersenyum. "Apa salahnya gue nyapa teman lama gue?"


"Gue bukan teman lo," balas Andi.


Suasana kantin menjadi kaku karena kehadiran dua senior yang paling berpengaruh tengah berhadapan. Seluruh pasang mata menghadap kepada mereka. Belum lagi segerombolan anggota Arman dan Four Dog turut menyaksikan perseteruan tersebut.


"Selama ini gue ga ada kesempatan buat bicara sama lo. Sekarang gue mau bilang ....." Kalimat Pram berhenti sesaat. "Lo itu *******. Udah gue bilang kan sekali lo nyakitin Sarah, Sarah lepas dari lo."


Tangan Andi dibuat terkepal karena menahan emosi. Ia tahu, tidak mungkin ia mengamuk dengan orang yang sedang menjalani pendidikan polisi. Selain itu, ia tidak ingin berhadapan dengan anggota Kodomo secara serius. Banyak imbas yang akan terjadi. Apalagi Ajiz kini merupakan bawahan Kodomo.


"Iya, sekarang lo puas, kan? Terserah lo mau lo apain Sarah. Gue ga peduli."


Andi pergi meninggalkan Pram.


"Selamanya lo ga bakalan bisa menang dari gue, Andi."


Oh, ni anak minta gelud!!!!!

__ADS_1


Andi mengurungkan niat untuk pergi. Dengan cepat ia berbalik arah dan bergerak cepat menuju Pram. Tangannya melesat dengan cepat memidik kepala Pram yang tengah tersenyum sinis kepadanya. Tepat sepersekian detik hendak mengenai target, Kevin menahan serangan Andi.


"Selagi ada gue, lo ga bakalan bisa nyentuh anggota gue, walaupun seratus orang lo bawa.." Kevin menurunkan tangan Andi. "Gue ga suka kalian kelahi. Kita ini satu."


Hentakan tangan Kevin menjalar hingga ke bahu Andi. Sungguh, ia satu-satunya orang terkuat yang pernah Andi temui. Hingga saat ini, masih ada perasaan cemas jika berhadapan dengan Kevin.


Naila yang lagi enak jalan-jalan terhenti oleh muka-muka tegang di kantin. Ia lihat tangan Andi yang ditahan oleh Kevin. Berkat itu ia dengan cepat menghampiri untuk ngelerai.


"Woi, lo apain Andi?!" tantang Naila dengan polos. Padahal dia ga tau nih dengan siapa dirinya berhadapan.


Tangan Naila mendorong Kevin dan Pram untuk menjauhi Andi.


"Hush-hush ... udah tua kelakuan kaya anak-anak ...." Naila mencemeeh. "Kalian siapa sih?"


Ni anak siapa sih? tanya Kevin dalam hati.


"Woi nih siapa?" tanya Kevin kepada Revin dengan nada pelan.


"Itu loh Naila yang diceritain sama Ajiz."


Tangan Naila menunjuk mereka satu per satu. "Sementang senior emang gue takut?"


"Woi, lo ga tau siapa gue?!" tantang Kevin..


"Emang lo siapa?" balas Naila.


Kevin membuang mukanya karena kesal. "Gue ini senior yang megang sekolah ini. Ga ada yang berani ngelawan gue."


"Gue berani, emangnya napa?"


"Emangnya lo berani sama gue??"


Naila maju satu langkah. "Lo om-om yang ngajarin Ajiz yang enggak-enggak, kan??? Oh ... gue tahu lo yang sering nongkrong di kedai domino itu. Ajiz agak aneh semenjak gaul sama lo."


"Ih, lo ngatain gue ya? Gue ini masih remaja, bukan om-om." Kevin kesal dikatain om-om sama Naila.

__ADS_1


"Iya, muka lo kaya om-om."


"***** lo ya ... Ga ada yang berani lawan gue di sekolah."


Langkah sepatu seseorang membuat Kevin dan yang lain menatap. Terlihat wanita dengan rambut terikat sedang melangkah ke arah mereka. Sontak kehadirannya membuat mereka terdiam sejenak. Soalnya dulu sering kena kejar sama wanita berjulukan huluk tersebut.


"GUE BERANI LAWAN LO ... EMANG LO BERANI??!!!" Sarah menyingsingkan lengan bajunya.


"Eh, elo Sar ... kalau elo pengecualian ..." Kevin menghadap ke Revin. "Bro, ada Sarah nih gue takut."


"Yaealah otot lo doang yang gede," balas Revin. "Gue juga takut nih. Cabut yuk .... trauma masa lalu."


"Ayuk ..."


Akhirnya Kevin mundur dari kerumunan.


Andi menghela napas melihat Sarah yang datang tiba-tiba. Sudah jelas baginya jika Sarah ingin menjumpai Pram. Ia tarik tangan Naila untuk pergi, "Ayo kita pergi Naila. Kayanya mereka ingin ketemuan."


"Tapi, Andi ...."


Andi, kok gitu..., Sarah merasa miris dengan kalimat Andi.


Semenjak kejadian tersebut, Naila anti banget nyentuh Andi karena segan kepada Sarah. Ia dibawa oleh Andi untuk menjau dari kantin. Sesampainya di depan kelas Naila, Andi melepaskan tangan Naila.


"Thanks buat tadi ..."


Wajah Naila malu-malu untuk menatap Andi. "Iya, ga apa-apa. Oh, iya ... kita udah lama ga bicara. Apa kabar?"


"Baik kaya biasa ... gue pergi dulu?"


Dia ga nanyain balik kabar gue gitu? Naila kecewa.


Naila hanya mengangguk tanpa menjawab. Setelah itu, Andi pergi meninggalkannya. Sebelum Andi menjauh, wanita tersebut memanggil Andi dengan berteriak.


"ANDI!!!!" teriak Naila. "MAAFIN GUE ... BALIKAN LAH SAMA SARAH. GUE MOHON!!!" pinta Naila sambil membungkuk.

__ADS_1


***


__ADS_2