Andi X Sarah

Andi X Sarah
118. Kok Gitu Sih? (SEASON 3)


__ADS_3

Sarah selalu bisa menangkap ekspresi kecil dari Tami apabila ia sedang senang maupun curiga. Bagaimana ia tidak sepeka itu karena setiap hari selalu menghabiskan hari bersama Tami. Tami bukanlah orang yang menunjukkan sisi emosionalnya secara gamblang. Ia menyembunyikan rasa risau di dalam hatinya agar orang itu tidak tersinggung. Hal ini sering terjadi kepada Sarah apabila Sarah berbuat  sesuatu yang tidak ia sukai. Namun, tetap saja Sarah bisa menangkap ekspresi kecil dari Tami.


Meskipun ia cenderung tidak jujur dengan perasaannya terhadap orang lain, Tami terkadang terlalu polos untuk hal-hal tertentu. Rasa penasarannya atau pun sesuatu yang tidak ia ketahui bisa saja ia tanyai secara frontal. Sebagaimana kali ini ia menanyakan apakah Tasya mengenal Pram atau tidak, padahal sebelumnya Tasya sudah bercerita jika ia mengenal Pram. Hanya saja, Tami masih saja menanyakan hal tersebut. Tentu, Tami curiga, itulah yang Sarah pikirkan.


“Dibilang kenal, ya kenal. Soalnya gue pernah ketemu sama dia. Seperti yang gue bilang, dia orangnya ramah dan baik.”


“Oh gitu ya. Menurut aku, Kak Pram juga orang yang seperti itu,” balas Tami.


“Giliran Pram, selalu aja diceritain,” sindir Sarah.


“Yaiyalah Kak, namanya juga Bang Pram. Siapa sih yang enggak kesihir sama dia. Bahkan, cowok-cowok pun bisa aja suka sama dia di jaman sekarang. Hahaha!” Naila tertawa.


“Gue dapet cerita dari Ajiz, kalau Bang Pram itu culun banget dulu. Cupuuu  banget kaya anak-anak freak yang kurang pergaulan ….”


Tami memajukan tubuhnya tanda ia tertarik dengan perkataan Naila tersebut. “Ah masa sih?”


“Iya loh … Bang Pram itu dulu kan culu, sering di-bully sama temen-temennya. Kurang pergaulan juga anaknya, jadi enggak banyak punya temen. Kalau pulang sekolah, selalu dipalakin, apalagi kan dia anak orang kaya dan jajannya selalu banyak. Tapi, karena ia temenan sama Bang Kevin, jadi Pram itu diajarin gimana jadi anak keren,” jelas Naila.


“Malah Kevin yang jadi ketinggalan,” sambung Sarah. Ia sudah mengetahui cerita tersebut dari Andi sendiri. Dikarenakan ia tidak ingin membicarakan Pram, maka Sarah mengalihkan topik obrolan, “Lo ada apa sih sebenarnya sama Ajiz?


“Malu-malu tapi mau gitu, ya kan?” Siku Tasya menyinggung Naila.


Tampaklah wajah Naila yang memerah sembari mengalihkan pandangan.


“Dari tadi ngebicarain Ajiz mulu. Itu anak dengkulnya pernah ampir gue bikin patah gara-gara bandel waktu SMA,” balas Sarah.


“Ya … kan Ajiz itu dulu suka sama gue. Dia perhatian banget sama gue, sampe-sampe hujan-hujanan cuma buat ngantarin martabak. Tapi, dia malah insecure masuk rumah gue dan dikira abang-abang Bo-Food sama bapak security.”


“Parah banget,” balas Tami.


“Terus gimana?” Sarah makin penasaran.


“Gimana ya Kak, aku engggak mau pacaran sih orangnya. Ya … kaya ngabisin waktu aja sih, menurut gue. Setiap orang kan boleh berpendapat masing-masing. Walaupun begitu, aku ngizinin Ajiz buat dekat sama gue.”


“Ngizizin Ajiz buat dekat sama lo, tapi kalau dideketin sama cewek lain, lo marah marah,” sindir Tasya.


“Ah … enggak gitu kok!”


“Yaelah … pacaran aja sekalian. Kalian udah cocok kok,” puji Sarah.


Naila tersenyum. “Beneran ya kami cocok?”

__ADS_1


“Cocok … cuma beda kasta aja kok. Ajiz naik motor bebek, elo naik Pajero. Hahaha ….” Sarah tertawa keras.


“Kan gue enggak mandang harta kok. Gue mandang kesetian. Hahah … sok idealis banget gue,” balas Sarah.


Naila menoleh kepada Tami. “Kak Tami cerita dong lagi deket sama siapa. Kayanya kita semua pada enggak tahu nih Kak Tami suka sama cowok yang gimana …..”


Ingin sekali Sarah membekap Naila akibat topik ini, tapi jadi aneh kalau dia ngelakuin itu. Tampaklah Tami yang panik.


“Aku?”


“Iya nih, kayanya kalau tipe elo ini banyak yang deketin deh. Sumpah, lo itu cantik banget loh. Gue yang ngeluarin biaya besar buat perawatan, enggak bisa lebih cantik dari elo,” puji Tasya.


“Ah enggak ada kok, aku kurang suka deket sama cowok.”


Sarah sudah bisa menebak jawaban dari Tami. Ia tahu jika Tami sangat tertutup untuk hal-hal yang bersifat privat. Bahkan, untuk hal tertentu Tami masih menutupinya dari Sarah sampai Sarah mencari tahu dengan memanfaatkan kepolosan Tami.


“Enggak yakin gue kalau lo enggak ada deket sama cowok. Pasti di hape lo banyak chat dari cowok-cowok, ya kan?


Bibir Tami melebar berkat hal tersebut. “Kalau itu sih bener, Bang Kevin aja ngechat bodoh tiap malem. Gabut kayanya ….”


“Bangsat tuh Kevin, awas aja kalau ketemu sama gue,” balas Sarah. “Bisa-bisanya dia ngechat elo ….”


Giliran Sarah yang jadi penasaran kali ini.


“Kalau elo, gimana Tasya … lagi deket sama siapa?”


“Gue? Gue banyak deket sama cowok ….,” balas Tasya tanpa ragu.


“Kalau Kak Tasya ini banyak sih simpenannya. Hahah,” sambung Naila.


“Gile sih … lo pasti sering ngedekatin cowoknya orang kan?” Nada Sarah terdengar bercanda, tapi sebenarnya ia serius.


“Jangan buka cookie dong,” ucap Tasya dengan pelan. “Hahah … gue pernah deket sama beberapa cowok akhir-akhir ini. Tapi enggak ada yang lengket satu pun, mungkin karena enggak cocok sih.”


Bangsat nih anak … malah bercanda, malah diiyain ….


Sarah tetap membawa senyum dengan kalimat Tasya.


“Jangan deketin cowok gue yaaaa …. Hahaha ….” Sarah memancing lagi.


“Ga tau kalau cowok lo yang ngedeketin gue ….,” balas Tasya dengan mengikuti nada Sarah. “Haha … enggak kok. Gue ga ada kaya gitu … gue kan cewek juga, jadi tahu perasaan cewek kalau cowoknya dideketin cowok. Yang normal-normal aja deh, kaga mau jadi pelakor ya kan?”

__ADS_1


“Nah gitu ding, kita harus membasmi pelakor dengan karatenya Kak Sarah,” pungkas Naila.


Jawaban Tasya itu masih memanas di hati Sarah. Hingga mereka asyik-asyikan di oulet boba kekinian, Sarah masih kepikiran dengan kalimat itu. Namun, ia harus tetap berbaur dengan bercanda sebagaimana biasanya. Sekitar pukul tiga sore, mereka pulang. Tasya mengantar Sarah dan Tami. Sebelum itu, Tami meminta berhenti di outlet martabak manis untuk dibawa pulang.


Sesampainya di rumah, Sarah bertanya untuk apa martabak tersebut.


“Buat apa martabak?”


“Nanti ada rekan kerja aku yang datang ke rumah. Jadi, lumayan buat ngobrol bareng,” balas Tami.


“Oh gitu oke deh. Gue balik dulu ya, Bye Tami ….”


Sarah pun pulang ke rumah. Setelah memastikan Sarah tidak ada lagi di sekitaran rumahnya, diam-diam Tami mengeluarkan mobil dan pergi menuju kawasan belakang komplek. Ia bertujuan untuk menemui Memet.


Tampaklah Memet sedang sendirian ngop dengan masih seragam kerjanya.


“Hai Memet,” sapa Tami saat mengampiri.


“Tumben ke sini?” Mata Memet mengarah ke plastik martabak tersebut. “Buat gue?”


“Iya ini buat lo ….”


“Makasih banget ….”


Seketika hape Memet berbunyi. Sempat Tami melihat layar handphone Memet yang menunjukkan foto LINE seorang wanita.


“Bentar ya?” Memet mengangkat panggilan tersebut. “Halo Ipit?”


Ipit? Tami bertanya-tanya di dalam hati siapa gerangan wanita itu.


“Lagi sibuk ya?” tanya Tami sewaktu Memet selesai dengan hapenya.


“Makasih banget ya martabaknya. Sayang banget, sore ini gue ada ketemu sama orang ….”


“Oh oke, ga apa sih. Gue balik dulu …”


“Sekali lagi … makasih banyak ya … gue ganti baju dulu ke dalam. Bye ….”


Dengan meninggalkan senyum, Memet pun masuk ke dalam rumah. Tami pun sendirian balik ke dalam mobil sembari bertanya dalam hati, kok gitu sih?


***

__ADS_1


__ADS_2