Andi X Sarah

Andi X Sarah
43. Hujan Senja


__ADS_3


Hujan Senja



Bagaikan jadi tank di game MOBA, waktu open war teman-teman malah pergi menjauh. Tinggal kita sendiri yang jadi bulan-bulanan sama tim lawan.


Rasanya pasti sakit sekali, tepat menusuk ke hati. Andi merasakan patah hati untuk pertama kali seumur hidupnya. Oh bukan, Andi pernah patah hati sebelumnya. Itu waktu Raisa (Raisa yang penyanyi itu) nikah sama suaminya.


Ia menadahkan pandangannya ke rintikan hujan di luar sana. Ingin rasanya ia mengirimkan patah hati ini di sela-sela rinai yang tengah menari. Semoga hujan bisa merasakan perasaan yang ia rasakan, sambil berharap rintikan membawa pilunya sebagai tamu untuk dibawa.


Sudah cukup dirinya melihat kedekatan mereka kemarin siang, namun hatinya tak sanggup ketika melihat Pram menjemput Sarah tadi malam. Ia tak sengaja berada di romansa pedih itu.


Tepat dibawah pohon beringin dengan menenteng nasi goreng pesanan Mama, ia bersembunyi sambil melihat Pram membukakan pintu mobil untuk Sarah. Hatinya seketika hancur, sehancur muka genduruwo yang lagi bergelantungan di atas pohon beringin itu.


Bahkan genduruwonya memegangi pundak Andi untuk menyemangati.


"Sabar ya, bro. Gue pernah juga digituin sama nona kuntilanak," ucap genduruwo saat itu. Seketika itu juga Andi lari kalang kabut.


Tidak hanya Andi yang merasakan sedih, teman-teman seperjuangannya turut ikut meramaikan hari patah hati Andi. Mereka bermurung muka di tempat duduk panjang untuk melihat hujan. Sakit satu, sakit semua. Itulah prinsip yang dipegang oleh Anak Amak. Tapi kalau udah enak, yang lain belum tentu dapet enaknya. *** kan ....


"Udahlah ... sebelum status tertulis di bio medsos, lo masih ada kesempatan buat dapetin Sarah," ucap Felix.


"Kevin udah ceritain semuanya kalau Pram itu bukan cowok baik. Dia suka mainin cewek. Gue takut Sarah dimainin sama dia." Pram menyenderkan kepalanya ke pundah Agus.


"Lo patah hati boleh. Tapi jangan nyandar ke gue juga, dong. Kaya maho aja," balas Agus.


"Orang patah hati mah bebas mau ngapain."

__ADS_1


"Anda saja hujan punya telinga, kuharap ia dengar jeritan hatiku yang merana," ucap Andi seperti seorang pujangga. Ia arahkan tangannya seakan ingin menyapa hujan.


"Lebay amat sampe segitunya."


"Biarin."


Rasanya tidak cukup sehari ini untuk merenungi semua apa yang terjadi. Kesempatan yang terbuka lebar, ternyata tak hanya ada satu orang yang ingin menempuhnya. Tetap saja ada orang lain yang mengambil kesempatan tersebut.


Hujan tak kunjung berhenti meneteskan senandungnya. Gemericik bunyi rinai semakin kuat untuk mengaum, menyerang bumi yang haus akan anugerah. Sebenarnya bel pulang sudah sedari tadi berbunyi. Ia tak ingin terlalu lama menunggu hujan yang tak jelas kapan redanya. Semakin ia tunggu hujan, Andi semakin merasa menjadi pujangga lapuk dengan memikirkan syair-syair cinta.


Matanya merambat lurus ke seorang wanita yang tengah menunggu hujan reda. Tangannya menadah untuk menampung di sela-sela rintik rinai. Ia kokoh ditampar dingin karena sebalut hoodie merah yang ia kenakan. Ia tahu Sarah tidak akan pulang sebelum hujan benar-benar reda. Kecil kemungkinan ia menembus hujan menggunakan sepeda.


"Sarah," panggil Andi. "Gua minta maaf ya karena kejadian kemarin. Gua ga enak lagi sama Pram. Gue tau sweater-nya itu limited edition di konser Hatsune Miku di jepang. Gua tau karena gua juga suka sama Hatsune Miku. Maklum gua otaku. Jadi suka yang anime-animean gitu. Pokoknya gua minta maaf. Terserah lo mau maafin gua atau enggak. Pokoknya gua minta maaf sama lo."


Tangan Sarah terus saja menadah hujan. Kepalanya mengangguk-ngangguk seperti asyik dengan sesuatu.


"Ni anak ga dengerin gua kayanya." Tangan Andi merayap ke kepalanya dan membuka bagaian hoodie yang menutup kepalanya. "Woi lo dengerin gua ga?"


"Jadi lo ga dengerin gua dari tadi?" tanya Andi. "Besok-besok kuping itu dikorek, bukan dijadiin tambang."


"Hahaha ... gua ga sadar gara-gara dengerin lagunya Via Vallen. Koplo banget ... gue suka,"


"Tadi malam lo ke mana? gua telpon tapi lo ga angkat. Btw ... hoodie-nya bagus juga. Pasti dibeliin sama Pram, kan?"


Sarah mematikan musik koplo yang sedang berdendang di telinganya. Penekanan yang penuh disindirian terdengar dari kalimat Andi saat menyebutkan nama Pram. Ia tahu kalau Andi tidak menyukai Pram dekat dengannya. Namun, ia tak pernah menginginkan Andi bersikap seperti ini.


"Kalau iya, emangnya napa? Tadi malam gue pergi jalan sama Pram. Kami makan-makan. Dia beliin juga gue hoodie. Baik banget, kan?" balas Sarah. Matanya menunjukkan ia sedang tidak menyukai kalimat dari Andi tadi.


"Pram itu cowok ***, tau ga? Dia suka mainin cewek cuma buat kesenangannya semata. Plis ... jangan dekat sama dia. Gua takut lo kenapa-napa."

__ADS_1


Sebuah tamparan keras menempel di wajah Andi. Terasa panas walaupun udara sangatlah dingin sekarang.


"Gue minta sama lo jangan pernah ngatain Pram dengan kata-kata hina. Gue tau tentang masa lalu Pram. Ga semua orang yang punya masa lalu buruk, akan terus jadi orang yang buruk. Pram udah sadar kalau yang selama ini ia lakukan. Pram nyesal dan udah minta maaf sama gue."


Andi memegangi pundak Sarah dengan keras. Ia berusaha memberikannya keyakinan untuk tetap menjauh dari Pram.


"Sarah, lo ga tau betapa bangsatnya cowok itu. Bahkan dia lebih *** dari gue. Gue takut lo kenapa-kenapa. Dia itu cowok berdarah dingin. Plis Sarah, dengerin gue kali ini."


Dorongan kecil Sarah membuat Andi mundur selangkah.


"Plis .. jangan bilang Pram dengan kata kasar sekali lagi. Gue ga suka itu. Pram bukanlah cowok yang seperti di pikiran lo."


"Jangan mau dideketin sama Pram ... TITIK!!!"


Sarah bertegak pinggang sejenak. "Lo bukan siapa-siapa gue. Lo ga lebih dari cowok biasa yang ga sengaja suka sama gue dan berharap gue terima dengan bersikap sok peduli dan ngejelekin orang yang ia anggap lawannya sendiri.


Setajam itu mulut lo, Sar?


Kata-kata itu terlalu tajam, menusuk Andi melalui setiap detik hujatan kata-kata yang keluar dari mulut Sarah. Dadanya seketika terasa sesak, seakan berhenti untuk berdetak. Lelaki yang selama ini ia anggap haram untuk menangis, kini ia melanggar prinsip bodoh itu. Matanya meneteskan segaris air mata yang membuat jalur memanjang hingga menetes di tepi dagu. Ia tetap berusaha tegar. Senyumnya berusaha keras untuk merekah.


Di balik senyum tipisnya Andi menyembunyikan tangisnya.


"Gue mungkin ga bakalan bisa ngedapatin lo. Syarat lo terlalu berat sama gue untuk masuk sepuluh besar di kelas. Hal mustahil buat orang bodoh kaya gue. Gue juga bukan cowok baik, gue berandal sekolah. Selalu kena marah sama guru, selalu ga disukai oleh orang banyak gara perilaku gue. Thanks udah ngizinin gue buat suka sama lo"


Hujan di sore ini hanya menyisakan rintik yang beriak kecil di genangan air jalanan. Terdengar bunyi berdecit pada pagar yang Sarah buka. Perasaannya saat ini sedang gundah dan bimbang. Hatinya menimbang-nimbang perkataannya pada Andi sewaktu di sekolah tadi. Ia memang sudah berkata sekasar itu, namun ia sangat tidak suka Andi menyebut Pram seperti itu.


Ia berhenti sejenak. Kepalanya sedikit basah oleh gerimis manja yang jatuh semenjak hujan reda. Tepat di tempat ia berpijak Pram menanyakan pendapat Sarah jika Pram tetap berjuang mengambil hatinya.


"Maaf, mungkin gue masih ada perasaan sama lo. Tapi, gue udah terlanjur ngizinin seseorang buat merjuangin hati gue," ucap Sarah malam itu.

__ADS_1


***


__ADS_2