
Memet jahat banget ngira Andi lagi anget-angetan sama Sarah di kamar berduaan. Sebejat-bejatnya Andi\, dia belum pernah nyentuh apa pun dari Sarah kecuali yang wajar-wajar aja buat disentuh. Ya kali aja mau nyentuh `itu`\, yang ada Andi langsung tepar masuk rumah sakit. Ditendang pakai jurus karate waktu itu aja Andi langsung tepar\, itu pun masih pakai pelindung. Apalagi kalau tidak pakai apa-apa. Andi tidak ingin hal itu terjadi.
Hal yang sebenarnya terjadi ialah benar jika Andi berdebat mengenai bumi datar versus bumi bulat seperti yang dikatakan Tami kepada Memet waktu itu. Andi akhir-akhir ini baru dengerin video baru dari chanel konspirasi
di youtube. Bekal informasi tersebut ia jadikan untuk didebatkan kepada Sarah. Ya kali Sarah jadi percaya. Kan Sarah itu dasar ilmunya sangatlah saintifik, sehingga ia lebih mempercayai bumi bulat daripada bumi datar. Andi akhirnya kalah debat dan kesal sendiri karena pendapatnya bisa dipatahkan dengan mudah.
“Pokoknya bumi itu datar, titik ….”
“Yah … lo gini nih kalau kalah debat. Pakai `titik` segala. Kalau kalah ya kalah aja\, enggak usah pakai ultimatum segala.” Sarah berdiri dari tempat duduknya.
“Yaudah ….” Andi melipat tangannya di dada. “Lo mau main PS ga?”
“Udahlah lo kalah debat, sekarang nantangin gue main PS? Emangnya lo kuat main PS lawan gue?”
“Main bola tapi ….”
Wajah sombong Sarah langsung berubah. Dia sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang bermain bola di PS. Game PS bola juga merupakan salah satu game yang tidak ia sukai untuk dimainkan. Sangat tidak adil sekali jika Andi mengajaknya bermain PS bola dengannya. Hasil akhir sudah bisa langsung ditebak, yaitu kemenangan dair Andi.
“Enggak fair dong. Masa lo ngajakin gue main bola?” tanya Sarah.
“Enggak fair gimana? Kan lo main PS bola juga di rumah sama papa lo.”
“Iya sih gue main sama dia, tapi gue dipaksa tahu! Gue sama sekali enggak pande main bola.” Sarah menggeleng untuk menolak ide tersebut. “Kita main Naruto. Ayo kita battle sampai mampus.”
Harga diri Andi seakan diinjek-injek waktu ditantangin battle main game Naruto di PS4. Sebagai manusia militan dari Naruto sebumi ini, Andi sangatlah mengikuti game Naruto diberbagai konsol. Ia juga sudah menamatkan seluruh seri game Naruto, baik sejak PS 2 hingga PS 4.
“Dari kecil gue udah nonton Naruto sampai mimpi gue tiap minggu pasti ada di desanya Naruto, lo mau nantangin gue battle? Anda bercanda?” tanya Andi dengan mendekatka wajahnya.
“Kenapa lo takut?”
“Ayo kita battle … taruhan buka baju ….”
__ADS_1
“Andi goblok!”
Mereka bergerak ke lantai dua yang mana memiliki ruang santai cukup luas. Terdapat sebuah TV LCD lebar dengan karpet lembut untuk beristirahat di sana. Pram sore tadi sudah memasangkan PS 4 miliknya di sana untuk bisa dimainkan oleh mereka. Namun, rasanya di antara mereka semua cuma Andi dan Sarah yang hobu main PS. Felix yang seorang gamer lebih suka main game di PC, meskipun gamenya tetap ada di konsol.
Layar LCD lebar tersebut merupakan generasi terbaru pada mereknya. Harga jelas dengan kualitas layar jernih. Andi saking katroknya, seakan jadi masuk ke dalam layar. Game battle hampir dimulai. Andi dan Sarah memilih karakter yang ingin dijadikan jagoan sewaktu battle nantinya.
“Lihat nih suami gue ….”
“Suami gue kan elo ….”
Sarah ngelihat kepada Andi. “Oh so sweet …. Ini bukan waktu yang tepat buat uwu-an karena kita lagi battle. Suami gue itu Sasuke.”
“Oh gitu ya. Lo udah selingkuh sama Sasuke. Biar gue rasengan pakai Naruto nih. Abang gue nih Naruto. Sekarang udah jadi kadesnya Konoha. Punya anak dua dan biniknya itu mantan gue, yaitu Hinata.”
“Siapa takut, ayo battle …”
“Geser dikit napa!” Andi memprotes karena Sarah makan banyak tempat. “Awas ih!”
Sebagai pacar sendiri, Andi membiarkan Sarah buat tiduran di pahanya sendiri. Walaupun hampir kena sama paman Jhony miliknya, Andi tetap mengendalikan diri. Kadang Andi jadi bingung, kenapa ada aja sesuatu yang bikin romantisme menggema di saat sebenarnya mereka lagi berdebat atau ngambekan. Contohnnya saat ini, Sarah malah milih tiduran di paha Andi sambil main PS 4, meskipun dibungkus dengan alasan battle Naruto sambil emosian. Padahal, hal-hal yang begini bikin iri para jomblowan dan jomblowati di atas bumi ini.
Apa dia sebenarnya nyari perhatian gue ya?
Tangan Andi membelai rambut Sarah dengan lembut, lalu menyentuh pipinya. Wajah Sarah tampak mereda dari kekesalan menjadi manja pengen dicubit. Mata Sarah melemah menatap jemari Andi yang lagi mainin pipinya, lalu menekan-nekannya dengan pelan.
“Jangan tekan pipi gue, fokus aja sama stik PS lo.”
“Kaga mau … gue mau gangguin lo main PS.”
“Oke gue gangguin lo juga.”
Sarah membalas menekan-nekan pipi Andi. Terjadilah aktivitas tekan-menekan di antara mereka sembari nunggu loading game Naruto setelah memilih karakter. Tibalah waktu mereka untuk bertarung. Lembutnya pipi berganti dengan analog, tangan mereka masing-masing sibuk mengendalikan karakter yang sedang dimainkan. Mata tidak ingin terpicing sedikit pun untuk mengantisipasi setiap serangan yang terjadi.
__ADS_1
Andi sudah hapal sekali dengan pola permainan Naruto. Setiap jurus dan combo serangan sudah menjadi makanan sehari-hari di rumah untuk mengalahkan Aisyah yang terkadang gangguin Andi lagi main. Naruto mode Kyuubi tersebut memiliki gerakan yang sangat cepat sehingga mampu mengecoh pergerakan karakter Sasuke milik Sarah. Sama hal dengan Sarah yang menggunakan karakter Sasuke. Dia berkali-kali membuat papanya frustasi kalau diajakin main game PS Naruto. Sarah sangat suka sekali menggunakan karakter sasuke dikarenakan
memiliki wajah yang tampan. Terlebih lagi Sasuke punya skill khusus yaitu mata saringan dan mata rinnegan sehingga memaksimalkan pola serangan.
Tapi, Sarah dibikin frustasi oleh Andi karena karakternya kenagebuk terus pakai jurus. Alhasil, Sarah KO karena habis-habisan dan tidak berdaya, malahan kalau bisa Sasuke-nya itu minta ampun sama Naruto milik Andi.
“Ah, ini gara-gara stik gue berminyak.”
Sarah mengambil alih stik milik Andi dan menukarnya dengan punya dia sendiri.
“Gini nih kalau kalah, pasti nyalahin stik. Kaga ada hubungan sama stik, lo aja yang goblok mainnya.”
“Iihh ….” Sarah mencubit paha Andi. “Ayo kita main sekali.”
Andi sekarang mengalah dengan memilih karakter lebih lemah, tetapi ia tetap saja punya taktik khusus yang sudah ia kembangkan selama ini. Berkali-kali Sarah kalah tanpa memetik kemenangan sekali pun dan ia pun melepaskan stik di tangannya.
“Ah gue kalah mulu.”
“Ya elo sendiri yang nantangi gue main Naruto. Udah gue bilang, dari kecil sampe besar, dari Naruto kena bully sampe jadi bapak kades di Konoha, gue udah jadi fans militant anime Naruto.”
“Andi ….” Sarah menyentuh wajah Andi. “Maapin gue yang marah-marah sama lo.”
“Lo lagi PMS, jadi gue paham kenapa lo emosian mulu.”
Tanpa ia duga, Sarah menarik wajah Andi. Bibir mereka saling bersentuhan dan merasakan lembutnya setiap lekukan. Setiap mata terpejam untuk menikmati momen sunyi malam ini. Sunyi yang bergema itu tertahan dalam satu titik hingga setiap bunyi di luar sana tidaklah berarti lagi.
“Siapa sih yang main PS kaga dimatiin. Jadi pengen main nih.”
Sontak dua sejoli ini melepaskan wajahnya masing-masing. Terlihatlah Kevin yang tidak tahu kalau ada dua orang yang lagi anget-angetan di sini, soalnya tubuh mereka terhalang.
“Sorry, gue balik lagi. Silahkan lanjutin ….” Kevin berbalik melangkah meninggalkan mereka.
__ADS_1
***