Andi X Sarah

Andi X Sarah
77. Biang Lala (SEASON 3)


__ADS_3

Andi berada di kebingungan tingkat tinggi setelah selang sehari pembicaraanya dengan nABE. Siapa yang akan menyangka jika ia harus terjebak di dalam satu situasi pelik bersama Nabe. Berada satu kos-kosan hanya berdua dan hampir saja khilaf. Pasti siapa saja yang mengalami hal tersebut akan membuat jantungnya berdebar-debar. Kalau dibilang Nabe dalam keadaan mabuk, tetapi wanita itu mengatakan jika hal itu adalah benar adanya terjadi atas kemauannya sendiri.


Terkuaklah fakta bahwasanya Nabe menyimpan rasa kepada Andi. Tampak peliklah permasalahan ini. Ada seseorang yang dari dulu bersikap biasa saja, hanya dijadikan tempat bertanya materi kuliah, ternyata di sana tersimpan benih-benih yang dirasakan oleh wanita itu. Andi tidak mengerti bagaimana bisa ia merasakan hal tersebut. Andi tidak pernah bermaksud  mendekati, bahkan dirinya pun tidak ada gelagat ingin mendekati Andi. Mereka sama sekali bersikap sebagaimana teman sekelas pada umumnya.


Selain itu, ternyata sisi lain dari Nabe pun terungkap. Nabe ternyata ngopen be`o. Andi tidak tahu apakah dirinya yang sering diceritakan para senior. Mereka berkata kalau ada cewek di fakultas yang bisa diajak kencan bertarif, lalu main kos-kosan. Main apakah itu, mari berpikir sendiri, pokoknya ada tarifnya sesuai dengan perjanjian di awal. Andi hampir saja beruntung dapet yang gratisan. Ada kemungkinan kalau Nabe juga pernah dikencani oleh orang di fakultas. Andi berharap kalau wania itu selektif dan tidak memilih orang di fakultas agar menjaga nama baik.


Mikirin Nabe, tidak lain dan tidak bukan bakalan mikirin yang enggak-enggak. Andi jadi tegang, apa yang tegang, maksudnya jantungnya jadi tegang. Andi merasa bersalah sekiranya terjadi pengkhianatan terhadap Sarah. Andi juga mengakui ia sempat tergoda dan sedikit memainkan tangan saat itu, meskipun Andi pada akhirnya tegas menolak untuk tidak lagi melanjutkannya karena mikirin Sarah. Andi juga merasa jadi pria paling bangsat karena udah ngelakuinnya kepada teman sekelasnya sendiri.


Rasa bersalah itulah yang membuat Andi selama seminggu penuh terus memerhatikan Sarah. Ia setiap saat nelponin Sarah, ngebeliin Sarah martabak penuh cinta, bawa Sarah jalan-jalan sore, dijadiin samsak karate oleh Sarah, pokoknya biar Andi menghabiskan waktu bersama pacarnya tersebut. Sakin seringnya ketemu sama dia, Sarah jadi heran dan merasa risih kepada Andi. Kayanya kemarin-kemarIn enggak ada kaya gini deh, begitulah yang dipikirkan Sarah.


Malam minggu merupakan hari yang sama di mana Andi terjebak di situasi pelik bersama Nabe. Andi makin kacau kepalanya sehingga membawa Sarah pergi malam mingguan ke pasar malam yang ada di dekat kampus. Hari kemarin ia mendapatkan pamflet promosian kalau sedang berlangsung hiburan pasar malam.


Andi bersiap-siap untuk menjemput Sarah dengan penampilan super keren biar Sarah merasa bangga dibawa jalan olehnya. Sesampainya di rumah Sarah, Andi memasang tampang cool selayaknya seorang pangeran di samping kuda berwarna putih, anggap aja motor bebek Andi itu adalah kuda berwarna putih meskipun warnanya hitam metallic.


“Keren amat kaya nge-date ke mall,” sindir Sarah sembari merapikan tali tas yang ia bawa.


“Ga apa keren, itung-itung bikin jomblo pada ngiri.”


“Lo pasti pengen dilihatin cewek-cewek kan?” Sarah lebih dulu naik ke jok belakang. Padahal Andi sama sekali belum naik, gerak aja belum.


“Enggak dong, biar dilihatin sama elo. Kan elo pacar gue yang paling cantik, buat apa lagi gue nyari perhatian cewek lain.”


“Ih co cwit co cwiitt ….” Sarah memukul-mukul lembut pundak Andi. “JIJIK TAU!”


Andi sudah menebak respon itu. Ceweknya memang enggak pernah mempan dengan gombalan garing seperti itu.


Pergilah mereka berdua malam mingguan sederhana di pasar malam. Meskipun macet, Andi tetap sabar menanti sampainya mereka di sana. Setelah diparkiran, Andi menawarkan kepada Sarah kalau malam ini dirinyalah yang mentraktir. Kalau dipikir-pikir lagi, kayanya selalu Andi deh yang traktir Sarah.


“Yee … gue boleh beli apa aja dong ya kan?” tanya Sarah.


“Bener, asal jangan sekalian abang penjualnya dan gerobaknya sekalian,” balas Andi.


Tangan Sarah menggandeng mesra Andi. Mereka pun saling menggenggam satu sama lain untuk menikmati momen romantis sederhana malam ini. Jalannya pun perlahan biar momen tidak berlalu dengan cepat. Merasa irilah jomblowan dan jomblowati yang sedang tidak sengaja melirik kepada pasangan itu.


Sebelum menaiki wahana, mereka pergi beli jajanan dulu. Sarah beli cilok, cilor, telur gulung, sama yang terakhir kembang gula. Banyak banget, untung aja jajanan murah dan pas di kantong Andi. Belum lagi Sarah beli minuman pop ais blender lima ribuan biar kerongkongan enggak serek. Barulah mereka menaiki berbagai wahana-wahana yang ada.


“Woooh seru banget. Gue keinget masa kecil dulu waktu dibawa papa ke pasar malam,” ucap Sarah setelah menaiki wahan pesawat-pesawatan yang diputar dengan cepat oleh abang wahananya.


“Sekarang lo mau apa?”


“Main gelang-gelang yuk,” pinta Sarah.


“Oke gas … kalau yang begitu gue ahlinya.”


Terdapat jejeran tempat untuk bermain lempar gelang dengan sejumlah hadiah sesuai dengan arah jatuh gelangnya itu. Sarah mencoba berkali-kali tetapi ia tidak berhasil mendapatkan hadiah hingga jatah gelangnya habis.


“Diperlukan konsenterasi kalau main ini. Pilih targetnya, lalu lempar …..”


Andi melempar gelang tersebut hingga jatuh secara random di meja target. Penjaganya langsung memberikan hadiah kepada Andi karena gelangnya jatuh ke salah satu target.


“Lah kok rokok?”


Ternyata Andi mendapatkan hadiah sepaket rokok dan mancis.


“Hehehe … ini mah rejeki gue. Lumayan nih buat besok.” Andi mengantongi rokok itu di kantong. “Nih, gue kasih elo hadiah sepeda.”


Andi mencoba melemparkan gelanganya kembali. Gelangnya berhasil jatuh ke target yang berhadiah. Lagi-lagi hadiahnya bikin muka Sarah cemberut.


“Malah minuman emsatulimapuluh.” Sarah melipat tangan di dadanya karena kesel ngelihat Andi enggak bisa memberikan hadiah yang pantas.


“Waduh … ini rejeki gue buat begadang besok malam. Heheh … gue coba lagi nih.” Andi menatap ke penjaga wahana lempar gelang. “Kak, hadiah yang gede ada di mana sih?”


“Di ujung bang paling tepi. Ada kulkas sama dispenser juga loh, lumayan buat emak di rumah.”

__ADS_1


“Tenang Sar, gue kasih elo dispenser buat papa lo yang ngeluh dispensernya sering macet.”


Dengan dada berdetak cepat, Andi konsesntarasi fokus ke target dengan hadiah besar. Gelang pun terlempar dan terhempas-hempas secara random ke target. Andi berharap gelang itu mengarah ke kanan karena ada hadiah dispenser, ternyata malah oleh ke kiri. Andi sempat suudzon nih kalau wahananya udah pakai dukun sebelumnya. Ternyata rezeki Sarah berada di sana.


“NIh bonekanyaaa … kan gue bilang apa. Gue kasih hadiah yang cocok buat elo ….”


Sarah memeluk Andi sekalian bonekanya. “Makasih ya Sayang. Boneka beruangnya imut banget walaupun warna pink. Mana ada beruang warna pink.”


“Lah ayam aja ada warnanya mejikuhibiniu,” balas Andi karena waktu kecil ia sering membeli ayam dengan warna berbagai macam, meskipun mati tidak sampai lima hari setelahnya.


“Itu mah beda. Orang mana yang mau ngecat anak beruang. Yang ada udah diamuk sama emak beruangnya.”


Tangan Sarah menggenggam tangan Andi lagi. Mereka mengarah ke wahana paling terakhir dan menurut Andi paling romantis di antara sekian banyak wahana. Andi sengaja memilih wahana biang lala yang paling terakhir biar ada momen romantis sebelum mereka pulang.


Sembari jalan bergenggaman tangan berdua seakan dunia milik sendiri, Andi melihat sosok wanita yang lagi berdiri makan kembang gula sambil ngelihat wahana biang lala. Mata Andi melotot dong ngelihat Nabe di tengah mereka lagi nge-date berdua. Andi tidak sempat pula mengubah arah jalan mereka, lebih dulu saling bertatap hingga Nabe menunjuk Andi.


“ANDII!!!”


Mampus gue!


“Loh Ndi, itu ada yang manggil lo?”


“Udah jangan diladenin,” bisik Andi ke telinga Sarah.


“Jangan gitu dong, kaga sopan.” Sarah membawa Andi kepada Nabe.


Tersenyum lebarlah Nabe kepada mereka berdua, hingga Andi jadi salting. Tetapi Andi tetap berusaha tenang agar Nabe tidak mengatakan hal yang gegabah, hingga dirinya dismekdon di tempat oleh Sarah sendiri.


“Lagi nge-date berdua nih?” tanya Nabe. Ia menatap Sarah kemudian, “Oh iya, kenalin gue Nana temen sekelasnya Andi.”


Baru kali ini Sarah bertemu dengan teman sekelasnya Andi. Andi jarang sekali memberitahu nama-nama teman sekelasnya, kecuali Ari Kiting yang sempat Andi kenalkan ketika di fakultas. Mereka berdua kini bersalaman dengan hangat, tanpa ada prasangaka di hati Sarah.


“Oh gue Sarah. Kalian sekelas ya?” tanya Sarah untuk memastikan.


Sarah heran dong kenapa nih cewek bohai sendirian, kaya lagi nunggu pelanggan. Ia memerhatikan penampilan Nabe dari ujung kaki ke ujung rambut. Beda banget sama dirinya yang tepos. Kulitnya juga putih kinclong, hampir sama kaya Tami. Sayang banget sendirian dianggurin sama cowok-cowok.


“Sendirian aja lo?”  tanya Sarah.


“Iya dong sendirian, jomblo soalnya.” Kalimat itu ia tekankan kepada Andi.


Andi jagi gagal fokus kalau ngelihat Nabe di mana pun ia berada, baik di kampus, di pasar malam, apalagi di kosan kaya kemarin.


“Tahu ga, Andi itu jarang banget cerita kalau dia punya temen sekelas. Kadang gue ragu dia kuliah atau enggak. Hehehe …’”


Nabe ikutan tertawa. “Hahah masa iya sih dia enggak pernah cerita? Apalagi … hmmm …. Ari Kiting kan temen dia.”


Jantung Andi makin serasa pengen copot waktu Nabe bilang apalagi, soalnya nada Nabe sedikit menahan-nahan kalimatnya. Bisa-bisa Nabe sengaja membeberkan hal tersebut dan berakhirlah sudah cerita ini. Author langsung kabur karena takut dikejar sama Sarah.


“Oh kalau Ari Kiting mah gue tahu.” Sarah menoleh kepada Andi. “Andi, lo kok diam aja sih? Itu loh temen sekelas lo lagi di sini.”


“Eh iya, Nabe. Hai ….,” balas Andi dengan gugup.


“Anaknya memang pendiam di kelas,” sindir Nabe mengenai kebiasan Andi yang memang cenderung pendiam di kelas, hanya berkomunikasi dengan Ari Kiting saja.


“Ah itu mah  biar kelihatan cool dan bikin cewek-cewek ngegatel. Dia gatel kan di kelas? SMA mah gitu dia, modelan fakboy gitu.” Siku Sarah menyenggol Andi.


Telapak tangan Nabe menutup bibirnya waktu ketawa, ala-ala ibu-ibu komplek kalau sedang merumpikan sesuatu.


“Haha … ngegatel sih enggak. Tapi ga tau ya kalau di belakang. Ya kan Andi?” tanya Nabe. Nadanya memancing.


“Kaga ada, jangan dengerin dia Sar.”


“Hahaha … kan gitu dia malu-malu. Kayanya Andi banyak simpenan deh di belakang gue.” Sarah ikut kaya modelan ibu-ibu komplek merumpi. “Ya udah deh, kami lanjut dulu ya Nabe. Cari cowok gih, jangan sendirian. Nanti diculik sama om-om loh.”

__ADS_1


Udah sering mah kalau om-om, jawab Nabe di dalam hati berkat pengalamannya di dunia per-BO-an. Tapi tidak mungkin juga Nabe mengatakan hal yang sejujurnya kepada Andi.


“Oke Sarah. Senang deh kenalan sama lo. Selamat malam mingguan buat kalian berdua, gue mau beli cireng dulu.”


“Byeee ….”


Biasanya Sarah selalu memiliki insting kecurigaan yang kuat apabila ada wanita yang mengenalinya. Namun, ia tidak menaruh sedikit pun curiga terhadap Nabe. Sarah dan Nabe malah bicara akrab satu sama lain, seperti orang yang sudah berkenalan lama.


Sewaktu Andi menggenggam tangan Sarah ketika berjalan ke biang lala, handphone Andi berbunyi di dalam saku. Segera Andi mengecek siapa gerengan yang sedang mengirim chat, mana tahu komplotan Kodomo yang katanya mau nongkrong di indoapril tempat Kevin bekerja malam. Ternyata, nama dari chat tersebut ialah Nabe sendiri. Waktu Andi buka diam-diam, dia langsung menghapus chat dari Nabe tersebut.


Hati-hati ya sayang, jangan lupa ke kos nanti ….


Di ujung chatnya ada stiker lope-lope.


Nabe tertawa-tawa waktu melihat tingkah Andi membawa chat tersebut. Sekarang ia tahu bagaimana pacarnya Andi. Kalau soal Sarah, Nabe tidak merasa insekyur. Kalau cuma begitu, itu mah sepele …., ucap Nabe di dalam hati. Tapi Nabe tidak akan mengusik hubungan mereka berdua secara kasar. Nabe hanya memastikan kalau sekiranya Andi dan Sarah renggang, pria itu akan datang kepadanya.


Naiklah Andi dan Sarah ke wahana biang lala tersebut. Duduknya samping-sampingan, terus tangan Andi melebar ke ujung bahu Sarah. Untung aja Andi sudah memakai deodorant yang model iklannya om Cristian Ronaldo dan parfum yang bikin bidadari jatuh kalau dipakai ke badan. Mereka bercanda ria berdua, menceritakan keluh kesah perkuliahan selama seminggu ini. Tangan Andi terus saja membelai rambut Sarah hingga wanita itu makin nempel sama Andi.


“Itu baju Nana kekurangan bahan atau gimana ya, ketat banget sumpah ….”


Mulai nih mulut-mulut lambe turah. Sarah memang sering begitu. Dia manis di depan, nanti bicarainnya di belakang sambil nyindir hal yang tidak ia suka dari seseorang.


“Oh, udah biasa mah dia begitu.”


“Anak orang kaya pasti? Gayanya kaya anak orang kaya.”


“Mungkin aja, memang glamor hidupnya Nabe.”


“Nabe? Panggilan sayang lo ke dia ya?”


Andi menepuk dahi Sarah dengan lembut. “Itu mulut atau ember sih suka banget bocor kaga jelas. Nabe itu Nana Behel, julukan dia di kelas. Jadi sekelas manggil dia dengan nama Nabe.”


“Oh gitu ya … tapi kasian dia jomblo, kaga kaya kita. Oh cwit co cwiitt …..”


“Co cwit co cwitt ….” Andi jadi ikut-ikutan gaya bicara Sarah.


Mereka diam sejenak menikmati langit ketika posisi mereka sedang berada di puncang biang lala. Di sela-sela keadaan berhenti itulah Andi menatap Sarah. Ia ingin menghapus jejak kecupan malam minggu lalu agar kembali menjadi milik Sarah. Tangannya menyentuh wajah Sarah, lalu mendekatkan bibir satu sama lain. Mata pun terpejam menikmati momen yang disengajakan ini.


Tanpa ia duga, handphone pun berbunyi.


“Aduuh … siapa sih lagi iniiii. Gangguin ajaa ….”


“Hahah … angkat dong,” balas Sarah sambil bersandar di tubuh Andi.


Perkiraannya salah, bukan dari Nabe yang ingin menganggunya. Telepon berasal dari Kevin. Jarang sekali anak itu menelpon kalau sedang bekerja.


“Halo bos, ada apa?” tanya Andi.


“Ajis masuk rumah sakit.”


Andi diam sejenak, dia mengira kalau Ajiz jarang banget sakit parah.


“Lah, emangnya kenapa? Perasaan kemarin baik-baik aja deh.” tanya Andi kembali.


“Sekelompok preman mengeroyok Ajiz sampe bonyok. Sekarang dia dirawat. Tanyain Revin karena malam ini mereka ada di sana ….”


“Oke, Kevin. Gue segera ke sana ….”


Sarah melihat Andi. “Emangnya ada apa sama Kevin?”


“Enggak ada, gue disuruh ke indoapril buat nongkrong setelah ini.”


Di dalam hati Andi sangat merasa cemas. Ada seseorang yang telah dikeroyok oleh sejumlah preman. Sepengalamannya, ini akan menjadi pertanda permusuhan mereka dengan kelompok lain.

__ADS_1


***


__ADS_2