
“Ayok kita hari minggu main air ke waterpark!”
Video call itu berlangsung lama antara Sarah, Tami, Naila, Tasya. Semuanya menyambut antusias rencana main air tersebut. Hari minggu merupakan hari yang cocok untuk bersenang-senang agar pikiran kembali segar setelah berkutat dengan kesibukan selama seminggu. Jelang beberapa hari esok, Tami juga yakin jika tubuhnya sudah pulih dan bisa berkelana bersama teman-temannya itu.
Setengah hati Sarah setuju untuk ikut bersama mereka. Ia segan menolak karena Tami begitu semangat kalau main air. Ia sudah lama tidak berenang karena tidak ada juga teman yang bisa diajak berenang. Sementara Sarah, jangakan berenang, mandi aja males. Mandi sore aja bisa ditunda sampe malam karena mager megang air. Sarah begitu karena tidak terlalu suka dengan kedinginan.
Ia pun bercerita dengan Andi tentang rencana tersebut. Ternyata, respon Andi tidak seperti yang ia harapkan. Andi malah semangat jika Sarah bisa ikut bersama mereka bersenang-senang. Menurut Andi, hal itu bisa menjalin silaturahmi dengan teman-temannya karena Sarah jarang sekali pergi bareng gitu. Ia lebih banyak bermain bersama Vanessa atau Kelly, itu pun hanya dengan teman akrabnya saja. Ya … kurang lebih kaya Andi juga.
Di halaman belakang Andi, mereka duduk berdua. Andi lagi memotong kuku kakinya yang udah panjang dan masih ada tanah sisa main bola sore kemarin di lapangan. Sementara Sarah, sibuk memberi makan ikan nila di kolam kecil dengan melemparkan pakan pelet.
“Apa gue harus beli baju renang ya?” tanya Sarah sembari membuka aplikasi shoppay. Ia hanya melihat kisaran harga tanpa membelinya, jika membeli melalui aplikasi tersebut, bisa seminggu datang barangnya.
“Terserah elo sih. Emang butuh banget ya baju renang?” Andi menoleh ke arah yang lain untuk membayangkan Sarah memakai baju renang. “Aduh … kayanya enggak cocok deh buat lo. Kaya bocil lagi les renang.”
“Bener juga apa kata lo. Enggak usah deh.” Sarah menutup layar handphone-nya. “Gue pakai baju bola aja.”
“Jangan yang pakai Manchaster United lagi, soalnya sering kalah club-nya. Pakai Bayern Munchen aja.”
“Gue pakai baju Timna aja besok biar merah merona,” balas Sarah.
“Jadi, Tami bakalan ikut juga?” Teringat oleh Andi mengenai misi yang diberikan kepada Sarah. “Oh iya gue jadi lupa, lo udah tanya-tanya Tami mengenai Pram?”
Sarah mengangguk. “Ternyata bener, mereka lagi dekat. Pram itu kaya care gitu sama Tami. Kok bisa ya? Padahal mereka kenalnya juga baru-baru ini.”
“Entahlah, gue juga enggak tahu.” Bahu Andi terangkat. “Mungkin semenjak mereka liburan kemarin mungkin. Menurut lo gimana? Setuju Tami dengan Pram?”
__ADS_1
“Ya terserah dia dong, gue juga enggak ngurus. Yang penting, Tami pertimbangin matang-matang kalau mau sama Pram. Kan lo tahu sendiri Pram gimana.”
Kuku Andi sudah bersih, tidak lagi panjang kaya anak yang ga diurus. Ia meletakkan pemotong kuku itu di atas meja, lalu meminum sedikit susu Sarah dengan cara menyedotnya, maksudnya susu indomilik rasa vanilla milik Sarah.
“Kasian Memet ya … gue jadi prihatin sama dia.”
Sarah menoleh kepada Andi. “Tenang aja … kaya enggak ada cewek lain aja yang lebih setara sama Memet. Maksud gue, yang sederhana kaya Memet, enggak nuntut ini itu, ya yang cocok dengan karakter Memet deh.”
“Bener juga, moga dia dapet move on dari Tami secepatnya.”
Hari minggu pun tiba. Persiapan untuk berenang di waterpark hari esok sudah Sarah persiapkan. Karena Sarah dan Tami udah seperti anak sendiri bagi mamanya Andi, mereka juga dimasakin bekal sekalian diajarin masak makanan. Agar tidak membeli makanan di luar, mamanya Andi memasak dendeng daging balado khas Minang agar mereka bisa mendapatkan feel bertamasya sebenarnya. Bawa bekal yang dimasak sendiri itu lebih nikmat daripada beli di luar.
Rencananya, mereka berempat nanti akan pergi minum boba dulu di salah satu outlet boba yang lagi trend akhir-akhir ini. Oleh karena itu, Andi mengantar Sarah dan Tami menggunakan mobilnya agar waktu pulangnya mereka bisa pergi bersama satu mobil. Nanti, Tasya akan mengantar Sarah dan Tami sampe ke rumah.
“Mending begini karena dimasakin oleh mertua tercinta.” Sarah tersenyum. “Sumpah gue itu pengen banget dibekalin sama orangtua perempuan. Untung aja gue punya mamanya Andi.”
Sarah kan ibundanya sudah tiada semenjak kecil, jadi ia tidak lagi pernah merasakan bagaimana masakan ibu untuk dibawa sebagai bekal. Walaupun sederhana, bagi Sarah begitu spesial.
“Baik banget mama kamu mau bekalin kami makanan. Ada dendeng, ada kue, ada kerupuk, ada sandwich, minuman pun dia bikinin,” puji Tami.
“Tentu dong, Mama itu memang royal sama temen-temen gue. Contohnya aja kalau Agus, Nanang, sama Felix ke rumah, pasti kenyang sampe kaga bisa makan lagi karena dipaksa makan terus.
Sarah dan Tami masuk di bangku belakang. Mobil sedan lama milik mamanya Andi bergerak menuju waterpark yang dituju. Sekitar empat puluh menit kemudian, sampailah mereka di waterpark tersebut. Andi memarkirkan mobil sembari menunggu Tasya dan Naila datang.
“Jangan lupa pakai sunblock, jangan berenang di tengah terik, hati-hati kalau naik wahana seluncuran yang tinggi, jangan lupa minum biar ga dehidrasi, jangan hilang diculik om-om.”
__ADS_1
“Lo bukan papa gue, jadi ga usah khawatir. Udah kaya bapak-bapak aja ….” Sarah membuka sedikit jendela mobil. Ia menoleh kepada Tami kemudian. “Tami, lo pakai baju renang?”
“Iya, aku kan punya baju renang. Sayang kalau dibiarin enggak dipakai. Mumpung kita di sini, jadi aku pakai itu nanti.”
“Nah, Tami aja pakai baju renang,” ucap Sarah kepada Andi.
“Lah, kan elo yang minta pakai baju bola aja. Udaah … berenang aja mungkin cuma sekali beberapa bulan, enggak usah pakai beli baju renang segala. Pakai aja apa yang ada, yang penting pakai baju. Lo mau pakai bikini? Itu sih kostum renang paling simple.”
“Najis!”
Sekitar lima belas menit menunggu, mobil sedan BMW mewah tiba di samping mereka. Tasya dan Naila keluar dari mobil tersebut dengan segala karisma cewek kelas atas. Tidak lupa pula Tasya memakai kaca mata hitamnya tatkala menutup pintu, lalu melambai ke arah mobil Andi.
“Wah, ada Andi juga … ikut yuk,” pinta Tasya.
Andi mau bilang mau karena pasti bakalan melihat pemandangan indah, tetapi di sampingnya lagi ada huluk yang siap-siap mengamuk kalau Andi setuju. Sementara itu, Sarah ingin sekali menyeleding Tasya secepatnya gara-gara mau ngajakin Andi.
“Andi kaga suka air, dia takut air.” Sarah membawa santai.
Tasya pun tersenyum. “Ayuk kita masuk … hari ini … aku yang bayarin tiket masuk.”
Tentu saja hati Sarah dan Tami senang gara-gara ditraktir tiket masuk waterpark. Mereka tidak sia-sia berteman dengan anak sultan yang notabene anak dari seorang anggota DPR. Mobilnya aja semewah itu, beda banget sama Sarah yang cuma bawa motor trail buat balap-balap.
Andi pun melambai dari mobil tatkala mereka pergi. Namun, tatkala Tasya menoleh ke belakang, tampak sebelah mata Tasya memicing padanya seperti ingin menggoda.
***
__ADS_1