
Andi masih berada di euforia kemenangan timnya tadi saat bertanding three on three basket melawan tim Pram. Entah mengapa Sarah memilih pertandingan basket padahal ia tahu jika Pram itu pemain basket selama SMA. Merasa tidak menjadi masalah jika Pram sudah pro dalam permainan itu, ia pun mengajak Andi untuk mengalahkan mereka. Tidak main-main, ternyata Felix juga jago main basketnya. Ia termasuk jajaran pemain basket SMA yang diperhitungkan. Pengalamannya di sekolah di SMP yang notabene isinya para chindo jago main basket dan selalu juara di turnamen se-kota, akhirnya Felix mampu membawa timnya untuk memenangkan pertandingan kali ini.
Entah pertandingan apa yang akan Sarah canangkan selanjutnya. Ia masih belum memikirkan hal tersebut. Malam ini, aktifitas berlangsung di halaman belakang villa. Ikan hasil pancingan Andi dan Sarah dijadikan makan malam dengan cara dipanggang bersama. Belum lagi Pak Santoso berbaik hati membawakan hasil tani jagungnya, sehingga ada makanan manis untuk keseruan malam ini. Meriah sekali malam di bawah pemandangan bukit gelap dan bintang yang berkelap-keli di atas. Syahdu untuk melangsungkan canda dan tawa bersama.
Perut sudah terisi. Pram meminta teman-temannya untuk tidur yang cepat karena pagi esok mereka harus segera pergi pulang ke kota. Ia juga memberitahukan jika sebelum pulang, mereka turut mampir ke rumah Kakek dan Nenek dari Pram. Kakek dan Nenek Pram ingin sekali bertemu dengan pengunjung villa kali ini. Selain itu, Pram juga merindukan mereka.
Tidurlah seluruh pengunjung villa. Tidak lupa pula mereka menutup tirai jendela karena mitosnya ada hantu yang sering mengintip. Andi yang seorang nocturnal kaya kalelawar, ia tidak akan bisa tidur secepat itu. Ada sesuatu yang ia tunggu, yaitu ketukan pintu kamar.
Andi pun berdiri tatkala ketukan pintu kamar telah berbunyi. Tatkala itu pula ia membangunkan Memet yang tidur dengan posisi ngangkang. Terdapat jiplakan lautan di bantal kepalanya.
“Met, bangun Met. Itu Kevin udah getuk pintu,” ucap Andi kepada Memet.
Tatkala Memet dibangunkan, ia mengelap air liur yang sempat menetes sewaktu tidur. Sedikit tidak jelas apa yang ia dengar, tetapi Memet tetap berusaha bangun.
“Kevin mau pulang?” tanya Memet.
“Apaan sih? Kan kita mau party.”
“Astagfirullah, malah mau party.” Memet langsung membuang selimut. “Digaskanlah segera tanpa menunggu waktu lagi. Kalau yang ini gue semangat.”
Benar adanya jika Kevin telah menunggu di depan pintu kamar. Mereka pun mengendap-ngendap agar tidak ribut menuju kamar Agus dan Nanang. Mereka juga diangkut menuju bangunan belakang di mana komplotan Kevin berada. Sebelum itu, mereka harus memastikan Sarah dan Tami sudah tidur dengan pulas. Jika mereka tahu, urusannya bakalan barabe. Sarah bisa ngamuk, terutama ke Andi.
Jadi, Kevin sudah merencakan jika para pria akan mengadakan acara party di bangunan belakang di malam terakhir menginap. Oleh karena itu, Kevin dan Pram membawa minuman minuman alkohol berupa amer yang biasanya dijual di warung remang-remang, terus ditambah wine mewah pemberian pengunjung sebelumnya kepada Pram. Persiapan sudah matang. Sudah ada music DJ jedag-jedug kaya di club malam, kacang atom dan kacang kulit biar asyik ngemilnya, terus bakwan kuah yang dibeli sama Revin di desa sebelah.
Aneh juga kenapa party ada bakwan kuah. Biasanya kan party itu makanannya agak elitis gitu kan. Pokoknya Kevin lagi ngidam bakwan kuah malam ini.
“Sumpah ini aman, Kevin?” Andi melihat ke belakang. “Gue kaga mau nih Sarah tiba-tiba muncul dan ngeobrak-abrik lapak kita.”
“Tenang aja … Pram udah bilang ke Bapak Santoso biar selalu stand by di villa. Kalau ada pergerakan dari Sarah, dia langsung nelpon. Terus kita bisa nyimpanin botol minuman kita dan beralih dengan alasan turnamen PS 4.”
__ADS_1
“Pinter juga yaa. Kalau kaya gini, makin asyik dong,” seru Felix.
“Waduh, kaga diterima deh solat gue empat puluh hari.” Nanang menutup wajahnya.
Padahal nih ya kan bapaknya Nanang itu ustadz kondang yang nyuruh jemaahnya buat tobat. Lah ini anaknya malah pergi maksiat. Ceramah bapaknya masuk di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.
“Kaga usah sok alim lo. Kemarin aja lo minta nomor michet cewek sama gue,” sanggah Agus.
“Itu mah buat asyik-asyik aja. Ya kali gue pakai. Gue ini masih suci dong!” pungkas Nanang.
Musik jedag-jedug bergema di lantai dua bangunan tersebut. Sudah diatur sedemikian rupa agar tidak sampai suaranya ke villa. Sesampainya di sana, Revin sok-sokan jadi security club malam yang ngegeledah pengunjung. Takutnya pengunjung bawa barang yang tidak diizinkan.
“No drugs, okkay? Happy party,” ucap Revin setelah menggeledah Nanang.
“Na`am, syukron ….”
“Mana nih cewek-ceweknya. Party harus pakai cewek dong. Masa batangan semua,” seru Andi.
“Noh, lo panggil Sarah ke sini biar ikut pary. Sekalian bangunan ini dia obrak-abrik sekalian,” balas Agus.
Revin dan Pram sedang asyik main PS 4 berdua. Ia sedang memainkan permainan guitar hero sembari menunggu Andi dan kawan-kawan datang. Tatkala melihat mereka datang, Pram menyambutnya dengan mengangkat gelas piala.
“Udah lama banget nih kita kaga party begini …,” ucap Pram.
“Jelas dong … waktu dulu di rumahnya Pram sumpah asyik banget. Anak Kodomo datang semua. Sebagian anak Prebep juga ikut. Junior-junior kita diajakin. Pokoknya ngumpul semua,” balas Andi.
“Silahkan diminum. Ada amer seperti biasa yang kalian minum. Gue sih gengsi minum amer, masa kaya jamet pengen tinggi. Gue mah wine punya Pram,” sambung Revin.
“Yaelah … jangan kebanyakan loh. Itu wine cepet banget bikin lo mabok,” balas Pram.
__ADS_1
Kevin seperti seorang barista yang menuangkan minuman ke gelas-gelas kaca. Ia turut menambah volume musik agar semakin asyik. Sambil kaya seorang barista keren, Kevin tetap mengunyah bakwan kuah yang sedang ia idamkan itu. Satu per satu gelas diberikan kepada masing-masing dari mereka.
“Ayo saling bersulang, malam ini milik kita!” seru Kevin dengan semangat.
“Ingat … siapa yang muntah, kaga pulang ke kota ya!” tantang Andi.
“OKEEE!!!!!!”
Jedag jedug jedag jedug ….. kira-kira begini yang sedang mereka dengarkan. Selayaknya sedang berada di sebuah club malam, lampu pun dimatikan. Hanya penerangan dari pencahayaan TV yang dihidupkan. Mereka pun ngangguk-ngangguk seiring ritme musik dari speaker. Minuman yang habis, segera diisi kembali oleh Kevin sebagai barista. Tidak ada yang tidak minum, tanpa terkecuali Nanang sendiri yang notabene punya iman paling kuat di antara mereka.
Keadaan makin tinggi saja. Ngomong pun sudah ngelantur. Felix udah mabok berat sampai tidur dalam keadaan nungging di atas sofa. Kevin masih berputar-putar di dekat speaker. Revin berpelukan dengan Memet, padahal mereka kan tidak terlalu kenal. Sementara Agus ketawa-ketawa melihat tingkah Andi dan Pram yang menari tidak jelas.
“PRAM TERNYATA LO ASYIK JUGA!!!” puji Andi dengan suara kaya orang mabok.
Begitu pula Pram, suaranya juga tidak terdengar jelas.
“LO JUGA ANDI. TERNYATA DUGAAN GUE SELAMA INI KE ELO SALAH!”
“Sekarang kita sahabatan yaaa!” Andi memeluk Pram.
“IYA DONG KITA SAHABATAN. TAPI, SARAH PUNYA GUE! LO KAGA PANTAS NGEDAPETIN DIA! LO KAN KAGA SEKAYA DAN SEGANTENG GUE!!!”
Kevin, Agus, Revin, dan Memet pun melihat ke arah Pram. Meskipun lagi keadaan mabok, mereka masih mengerti apa yang dikatakan oleh Pram. Dari ekspresi Pram, tidak ada kata becanda di sana. Tangan Pram memegang kerah Andi dengan kuat.
“SIALAN LO!”
Pram tumbang dipukulin sama Andi. Sontak seluruh orang yang masih sadar di lantai dua ini melerai mereka berdua.
***
__ADS_1