
Kejadian tadi malam sedikit samar-samar di kepala Andi. Mungkin saja ia terlalu mabuk sehingga melakukan apa saja dalam keadaan sadar. Namun, ia tetap merasa bahwasanya sudah terjadi suatu hal antara dirinya dan Pram. Andi ingat jika ia sudah melakukan pemukulan terhadap anak itu, tetapi bingung dalam konteks apa kejadian hal tersebut. Ia pun tidak ingin ambil pusing dan memaklumi bahwasanya apa saja bisa terjadi ketika setengah sadar.
Beruntunglah mereka tidak ketahuan oleh Sarah. Bapak Santoso sudah gercep menyelamatkan hidup mereka dengan cara membersihkan segala sisa-sisa kekacauan tadi malam, seperti botol minum, gelas kaca baik yang utuh atau pun yang sudah pecah, kulit kacang rebus, serta bakwan basi milik Kevin. Ia sudah harap maklum dengan Pram jika membawa teman-temannya ke villa. Pasti dijadikan ajang party seperti itu. Maklum anak muda.
Pagi hari dengan tidur tidak terlalu cukup membuat mata seakan dihimpit batu besar, sulit sekali untuk terbuka. Ditambah lagi kepala yang pusing akibat sisa mabok tadi malam. Untuk menetralisir, Kevin memberikan mereka susu beruang yang ada di penyimpanan villa. Katanya sih bisa bikin normal lagi kalau minum susu beruang, yang ada naganya tapi. Jangan langsung ***** di beruangnya. Yang ada malah diamuk dan ditarik ke goa buat dijadiin sarapan anaknya.
Mereka bersiap-siap untuk pulang. Tubuh sudah harum banget kaya mau pergi ke emol. Mulut anak lelaki masih terasa pahit dan sebagian dari mereka mendapati jika perutnya masih mual akibat malam tadi, terutama Nanang yang tidak terbiasa minum. Sekitar pukul sembilan pagi, mereka berpamitan dan berterima kasih kepada Bapak Santoso yang sudah menjaga mereka selama liburan ini. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu rumah kakek dan nenek dari Pram.
“Waduh kepala gue pusing banget,” keluh Andi di dalam mobil. Ia memegangi kepalanya yang pusing tujuh keliling dan berharap tidak mual di mobil ini, soalnya bakalan nyusahin yang lain.
Dari belakang, Memet langsung menjitaki kepala Andi secara diam-diam. Takutnya nih nanti Andi keceplosan kalau mereka abis mabok-mabokan.
“Jam berapa sih kalian tidur tadi malam? Kayanya berantakan banget muka kalian,” tanya Sarah.
“Hmm … aaaa … jam tiga subuh. Soalnya kami nonton bola juga. Mumpung ada Liga Inggris yang lagi main tadi malam. Ya kan kawan-kawan?” pancing Agus yang lagi nyupir.
“Oh iya bener, Manchester United mainnya jago banget sumpah. Gue suka banget strikernya,” jawab Felix asal nebak.
Sarah menatap heranlah kepada Felix. Sementara itu, Andi menepuk jidat sambil deg-degan. Masalahnya, Sarah itu fans fanatik club Manchester United. Tentu saja Sarah selalu memantau setiap jadwal club fafortinya itu.
“Lah? Gue kok kaga tahu kalau Manchester United lagi main ya tadi malam? Perasaan kaga ada jadwalnya deh,” balas Sarah.
“Hmm … enggak kok. Manchester City yang lagi main. Iya bener, City lagi main tadi malem,” sambung Agus sambil ngelihatin Sarah dari kaca depan. “Nih Felix asal-asalan. Kaga tahu bola juga dia.”
“Mana ada Manchester City main tadi malam. Gue mantau terus kok jadwal Liga Inggis,” balas Sarah dengan curiga.
“Itu siaran ulang pertandingan sebelumnya. Bener, siaran ulang. Tau dong gue soalnya kan gue fans Manchester City.” Andi menekan kukunya karena cemas kalau Sarah terus nanyain dan curiga.
“Oh gitu, oke deh … kaga peduli juga gue sih sama kalian.”
Vangsat nih anak, kesal Agus di dalam hati.
Sekitar satu jam perjalanan dari villa, mereka sampai di sebuah rumah yang terletak di sebuah desa. Awalnya mereka akan mengira jika rumah kakek dan nenek Pram itu terlihat sederhana seperti rumah pedesaan pada umumnya. Meskipun kaya raya, biasanya kan orang paruh baya sudah tidak ingin lagi tinggal di rumah yang terlalu besar.
Ternyata eh ternyata, mereka melongo melihat kawasan rumah kakek dan nenek Pram tersebut. Sewaktu mereka masuk, mereka disambut oleh truk-truk yang berjejer terparkir. Terdapat seperti gudang besar dan para pekerja yang sedang melakukan aktifitas kerjanya. Rumah kakek dan nenek Pram berada di belakang gudang besar tersebut. Rumah satu tingkat yang terlihat kesan mewahnya. Di depan rumah tersebut terparkirlah mobil Parejo Sport hitam dengan seseorang yang sedang mencucinya.
__ADS_1
“Uanjir, ini gudang apaan Pram?” tanya Andi.
Mereka baru saja memarkirkan mobil di luar halaman rumah. Halaman rumah tersebut terbilang kecil, sehingga tidak memungkinkan mereka memasuki mobil. Meskipun halamannya kecil, dekorasi tamannya sangatlah bagus dan memanjakan mata. Belum lagi rumah tersebut memiliki arsitektur modern, rumah Andi mah kalah, menang dua tingkat doang.
“Ini itu usaha dari kakek gue. Dia punya gudang berbagai jenis pupuk buat dijualin ke petani-petani. Kualitas ekspor juga loh,” jawab Pram.
“Banyak banget truk kakek lo dong. Ngeri banget.” Agus teringat dengan bapaknya yang punya satu truk pengangkut buah sawit di Sumatera.
“Ya … begitulah. Butuh banyak truk buat operasional usaha pupuk ini. Pokoknya kakek gue itu, tua-tua tapi jiwanya pengusaha muda banget.”
Da real keturunan sultan, puji Andi di dalam hati. Bagaimana Pram kaga pernah jadi gembel kalau kakeknya aja sekaya ini, apalagi kedua orangtuanya Pram. Udahlah ganteng, kaya, pintar lagi. Apa enggak makin insekyur Andi ngelihatnya. Andi masih gini-gini aja dan ngegembel minta duit sama orang tua tiap bulan.
Mereka dipersilahkan masuk ke pekarangan rumah. Ia disambut oleh supir pribadi keluarga kakeknya yang sedang nyuci mobil. Tatkala nenek Pram menampakkan diri, tidak ada kata selain rindu yang bisa disimpulkan. Beliau mencium pipi Pram seakan ia masih anak kecil yang dulu ia pinang ketika ibunya Pram sedang pergi keluar.
“Akhirnya kamu datang ke sini Pram!!!” ucap nenek Pram.
“Iya, Nenek. Pram senang jumpa nenek lagi.” Ia menoleh ke belakang. “Kenalin nih teman-teman Pram.”
Satu per satu dari mereka menyalami Pram. Bahkan, anak cewek dipeluk oleh beliau.
“Kakek kamu ada di dalam tuh lagi mandiin burung. Ayo masuk ke dalam. Kita makan siang dulu.”
“Waduuh … kenyang banget.” Andi menepu-nepuk perutnya. Ia sengaja ke dekat mobil dulu buat ngerokok karena di sana cukup teduh. “ Ngerokok dulu ah⸺”
Andi tidak jadi menarik batang rokoknya karena kedatangan Pram.
“Lah elo di sin rupanya,” sapa Pram. Ia berjongkok di dekat mobilnya untuk mengecek ban. “Ternyata perasaan gue doang. Bannya enggak kempes.”
Teringat Andi mengenai kejadian tadi malam.
“Tadi malam kita kelahi ya?” tanya Andi.
Pertanyaan itu membuat Pram diam sejenak. “Menurut lo?”
Tangan Pram menunjuk pelipisnya yang sedikit bengkak.
“Gara apa?”
“Lo kaga terima kalau gue masih suka sama Sarah.”
__ADS_1
“Kenapa sih lo enggak ngejauh aja. Lo mau apalagi sih? Lo udah punya semuanya. Lo bisa nyari cewek lain yang lebih cantik,” saran Andi dengan nada sedikit menekan.
“Enggak, gue maunya Sarah. Dan lo enggak berhak ngatur hati gue.”
Andi mendekati dirinya. Mereka saling berhadap-hadapan.
“Berani aja lo nyentuh Sarah, gue enggak segan-segan ngehajar lo.”
Pram balas lebih mendekat.
“Gue enggak cowok gampangan, Ndi. Gue enggak bakalan berusaha merebut. Tapi gue menunggu momen. Sekali lo nyakitin dia, Sarah punya gue. Ingat itu …”
Tangan Andi mengepal dengan kuat tatkala ia pergi begitu saja.
***
__ADS_1