
Momen
Sweater itu memang menjadi beban pikiran tersendiri bagi Sarah. Ia tidak tahu bagaimana cara mengembalikan sweater itu dengan keadaan yang seperti itu. Bahkan, ia tidak berani untuk bertemu dengan Pram. Orang yang menjadi biang keladinya pun tidak ada komentar apa-apa. Seharusnya dirinya yang berinisiatif untuk menyelesaikan masalah ini.
Kepala Sarah masuk ke jendela kelas Pram. Sebenarnya ia ragu untuk memberitahukan ini, namun masalah ini pasti akan diketahui olehnya. Tampak Kevin yang lagi nonton sesuatu tepat di bawah jendela tempat Sarah mengintip.
Ia perhatikan dengan seksama sesuatu yang sedang Kevin tonton sendirian. Suaranya tidak kedengaran karena Kevin menggunakan headset. Mata Kevin juga tampak begitu fokus dengan film di handphone-nya. Akhirnya Sarah menyadari film apa yang sedang Kevin tonton.
"Ngebokep aja terouuuussss ... tonton sampe habis," kata Sarah di jendela.
Sontak Kevin langsung melihat ke segala arah. Wajah panik tidak bisa ia hindarkan. Ia menoleh ke atas dan mendapati Sarah sedang memasang wajah datarnya.
"Eh, elo Sarah." Kevin mematikan handphone-nya.
"Pram mana?" tanya Sarah. Matanya mengedar ke segala arah untuk menemukan Pram.
"Ciee ... nyariin ..."
"Ciee ... yang bentar lagi diaduin gara nonton bokep," balas Sarah.
Kevin terdiam. Sarah memang punya banyak akal buat ngegass anak orang.
"Dia lagi ke kantin lima menit yang lalu,."
Matanya menyipit senang. Ia mengetuk kepala Kevin dengan keras.
"Makasih,lanjutin aja nontonnya."
Keadaan belum membuatnya melangkah sedikit pun. Kepalanya menunduk ke sweater yang robek itu. Entah bagaimana reaksi Pram nantinya jika ia mengetahui hal ini. Mungkin saja jika dibicarakan dengan baik, Pram akan paham. Seketika ia membara kaya ulti Zilong buat memberitahu akan hal ini segera. Ia berbalik dan berlari, mendaki gunung, dan melewati lembah.
Namun, tidak sengaja ia menabrak seseorang. Kepalanya menghantam ke dada empuk pria berwangikan yang sama seperti tubuhnya saat ini. Entah mengapa Sarah merasa nyaman tatkala mendarat di dada bidannya. Matanya mendadah ke atas untuk menangkap binar-binar tatapan Pram yang bagaikan merasuki dirinya. Tatapannya yang sayu dan ekspresi wajah dinginnya itu selalu membuat dirinya tenggelam dalam imajninasinya sendiri.
Jangan natap gue kaya gitu, dong. Gue ga sanggup, ucap Pram dalam hati.
Sesegera mungkin Sarah menghindar selangkah ke belakang. Masing-masing dari mereka tidak bisa menyembunyikan ekpresi canggung yang tercipta. Pram pura-pura melihat ke arah yang lain sambil menggaruk kepalanya. Sedangkan Sarah menyembunyikan sweater itu di belakang tubuhnya.
"Ada apa, Sar? Tumben ke kelas. Anggota gue ada yang buat masalah, ya?" tanya Pram.
Perlahan Sarah memperlihatkan sweater yang robek.
"Maaf, sweater lo robek. Lo tau sendiri gimana usilnya Andi ke gue, kan? Dia kira ini punya gue."
"Ah, masa ga tau? Dia pasti tau wangi parfum gue gimana. Dia sering ngendus wangi-wangi yang menarik gitu."
__ADS_1
Kening Sarah mengerut. Ia mendengar informasi yang absurd mengenai Andi.
"Dia suka ngendus-ngendus kaya babi gitu?" tanya Sarah.
"Iya, masa ga tau? Lo kan deket sama dia."
"Entahlah, dia memang agak aneh gitu sih." Sarah melebarkan sweater hingga menampakka bagian pinggang yang robek. "Gue ganti. Lo beli di mana?"
"Yakin mau ganti?" Pram membalas bertanya. Senyum tipisnya melebar ke sudut paling maksimal
"Semahal apa pun sweater lo itu bakal gue beli. Yaa ... sebagai tanda minta maaf gue."
"Gue beli di Jepang tahun kemarin. Kalau dirupiahin harganya satu jutaan lah." Pram mengambil sweater itu dari tangan Sarah. Tampak Sarah menganga dengan ucapan Pram.
Anjir ... sweater ginian mahalnya kok pakai banget!!!
"Yaa ... gimana ya ... kan di mall-mall banyak yang ginian. Paling juga ada yang ngimpor ke sini. Lebih murah lagi," balas Sarah biar ga malu.
Pram melebarkan kembali sweaternya. Terdapat sebuah gambar anime cewek berambut biru dengan mata yang berwarna sama. Bajunya yang abu-abu lengkap dengan sebuah rok di atas lutut berwarna hitam. Itu adalah Hatsune Miku, anime idol yang bisa nanyi dan terkenal di seluruh dunia, terutama bagi para wibu.
"Ini limited edition. Gue beli waktu Hatsune Miku lagi konser di Jepang. Ga akan mungkin ada yang ngimpor ke sini."
EH??? Segitu banget ....
"Gue ganti deh ... walupun ga semahal dan se-limited edition kaya sweater lo itu. Udah tipis mahal lagi. Di distro mah banyak yang lebih bagus."
Sarah sedikit ragu untuk pergi bersama Pram. Namun dengan keadannya saat ini, Papa pastinya tidak memperbolehkan menaiki motor lagi. Lagi pula, motornya masih belum siap dirakit ulang sama Sarah. Banyak onderdil yang rusak dan patut diganti.
"Jemput gue nanti malam ba'da Isya."
Senyum Pram merekah saat mendengar kalimat Sarah. Ia menjentik kening Sarah. "Tunggu nanti malam."
Sementara itu, Andi dan ketiga temen gilanya mengintip di sebalik dinding. Andi udah panas dingin melihat kedekatan Sarah dan Pram. Agus dan Nanang mengelus-elus dada Andi biar ga panas. Soalnya kalau keadaan yang seperti ini, bisa-bisa Andi bisa ngelonja tiba-tiba.
"Udah dong, Andi. Biarin aja, kan Sarah cuma ngasih sweater yang robek gara-gara lo," kata Agus sambil mengelus dada Andi.
Napas Andi udah ngos-ngosan gara melihat kedekatan mereka. "Ga bisa gitu, dong. Dia kan gebetan gue. Ga boleh ada cowok yang bisa nyentuh dia."
"Emang udah yakin Sarah mau sama elo?" tanya Nanang.
"Jelas dong. Gue kan tampan dan pemberani." Andi menepuk dadanya seakan bangga sekali.
"Pede amat lo, ***." Felix menepuk kepala Andi biar dia sadar.
Malam itu Sarah dijemput oleh Sarah untuk membeli sweater di sebuah mall. Sarah terasa deg-degan tatkala berada satu mobil bersama Pram. Pria itu memang pernah membuatnya patah hati sebelumnya, namun dengan segenap hati yang penuh dosa itu ia telah meminta maaf. Tak ada alasan lagi bagi Sarah untuk membencinya.
Langkah mereka bersanding berdua di keramaian mall. Pram terlihat menarik dengan kemeja lengan pendek yang pas dengan postur tubuhnya. Sementara itu Sarah terlihat sedikit tomboy dengan baju bahan kaos dan sepatu Converse.
__ADS_1
"Coba ini," pinta Sarah sambil menyerahkan sweater. "Lo mau yang hoodie atau yang biasa?"
"Gue makai yang elo pilihin buat gue," balas Pram. Ia menggapai sweater pilihan Sarah.
Tanpa basa-basi Pram langsung memakainya ditempat, ga perlu ke ruang ganti segala. Kalau bisa langsung dibayar sambil makai sweater ini. Tampak kepala Pram mengangguk karena merasa cocok dengan sweater pilihan Sarah.
"Yaudah, ini aja." Pram melepas sweaternya.
"Lah, cepet banget. Ga coba yang lain?"
"Gue ini cowok, bukan cewek yang suka menye-menye kalau milih pakaian."
Tangan Sarah digenggam untuk menuntunnya ke kasir. Namun, seketika Pram berhenti di sebuah jejeran hoodie yang bermodelkan sebuah patung wanita. Ia mengambil satu dan mendekatka ke tubuh Sarah.
"Lo suka?" tanya Pram.
"Kan gue ga ada maksud beli hoodie buat gue," balas Sarah.
"Gue nanya, lo suka atau enggak?" paksa Pram. Matanya merambat lurus ke wajah Sarah.
"Yaudah deh. Gue suka. Lo kok suka maksa gitu─"
Kalimat Sarah terpotong oleh suara Pram yang memanggil seorang pramuniaga di sana. Terdenga olehnya Pram sedang berbincang-bincang dengan pramuniaga itu. Tak lama kemudian ia membawa secarik kertas yang akan diberikan kepada kasir untuk mengambil pakaian yang mereka beli.
"Kan gue ga mau beli. Kok lo ambil, sih!!!"
"Siapa bilang lo yang beli. Lo beliin sweater gue, dan gue beliin hoodie buat lo. Impas, kan?"
Hoodie merah itu terlihat menarik di mata Sarah. Ia sangat terlihat cocok ketika mencoba memakainya. Sarah yang berkarakter tomboy bertambah sangar dengan hoodie tersebut. Ditambah lagi ia menggunakan jeans dan sepatu Converse-nya.
Pram tidak bisa beranjak untuk memandangi wanita yang tengah bersanding di sampingnya. Ia sangat ingin menggenggam jemari kecil dan mengis kekosongan antara sela-selanya. Memberinya kehangatan melalui garis-garis tangannya yang kasar. Namun, itu semua hanyalah imajinasi tingat tinggi semata. Tidak akan bisa diraih, tidak akan bisa untuk ditempuh, tertumpu oleh kenyataan cinta yang tak bisa ia genggam.
Perasaan ini memang tidak bisa untuk mengelak. Ia tidak mau menjadi orang paling naïf sedunia karena tidak menyukai wanita itu, terutama setelah menyatakan bahwa dirinya menyerah dengan semuanya. Ia mungkin menyerah untuk merebut Sarah, namun ini ialah kata hati yang tidak bisa ia bohongi. Seberapa jauh pun langkah yang ia tempuh untuk menyembunyikan, suara hatinya tidak akan bisa ia pungkiri.
"Makasih ya udah beliin gue hoodie-nya." Tangan Sarah mengangkat hoodie pemberian dari Pram.
"Iya, sama-sama."
"Gue masuk dulu," kata Sarah. Ia menyimpulkan senyum perpisahan.
Pram berusaha untuk mendekap senyum yang Sarah berikan. Betapa manisnya senyum wanita berkarakter maskulin itu. Di sela-sela angin malam yang dingin, senyum itu cukup terasa hangat. Ia biarkan langkah kecilnya itu beranjak pergi. Hanya senyum tadi yang ia simpan untuk dikenang dari malam ini. Meletakkannya dalam memori indah yang bersanding dengan rintikan hujan yang ia sukai. Tak akan ia lupakan momen malam ini. Begitu indah untuk dilupakan.
"Sar, bagaimana pendapat lo kalau gue tetap merjuangin lo?"
Langkah Sarah terhenti di depan pintu.
***
__ADS_1