
Matahari telah tenggalam di ufuk berat. Langit perlahan menggelap sebagai tanda setiap manusia kembali ke rumah masing-masing. Awan gemawan mulai redup, berwarna abu-bu tatkala di pandang dari bawah bumi. Sementara Gunung Merapi hanya seperti bayangan hitam raksasa, berdampingan dengan bulan dan gemintang yang seakan melayang-melayang di atasnya. Bersemayam para serangga bernyanyi untuk menunjukkan eksistensi malam ini. Kental sekali dengan suasana sepi dan sunyi.
Sore tadi terjadi rebutan kamar antara Sarah dan Andi. Nah, habis magrib pun terjadi laki aktivitas rebut-merebut. Ni dua orang suka banget ya rebutan kaya anak kecil. Permasalahannya pun bukan lagi masalah kamar,
melainkan rebutan kamar mandi. Sebenarnya di villa terdapat banyak kamar mandi yang bisa digunakan, tetapi hanya terdapat dua kamar mandi besar yang memiliki bathup. Kan nanmanya Andi di rumahnya kaga punya bath up, jadi dia rebutan untuk itu.
Lagi-lagi yang lain dibikin geleng-geleng ngelihat tingkah mereka yang rebutan kamar mandi. Kali aja WC kebuat dari emas terus bisa dibawa
pulang. Kan Pram anak sultan.
“Kenapa?” tanya Andi sambil melipat handuknya di leher. “Semua cowok
sama aja?”
“Iya, semua cowok sama aja.”
Tangan Andi ngegaruk-garuk kepala. Kenapa sih setiap masalah yang disalahin itu selalu cowok. Cowok kan juga manusia, emang rocker aja yang juga
manusia.
“Yaudeh – yaudeh … semua cowok sama aja. Sama-sama disalahin mulu.
Aktivitas mandi-memandikan, lah kok memandikan. Emang ada yang dimandiin. Rencananya sih gitu. Cerita kotornya Kevin pengen mandiin Tami. Tapi ga jadi karen atakut dibacok sama Sarah terus dibuang Andi ke semak-semak.
Makan malam disiapkan oleh para anak cewek. Seluruh bahan makanan sudah dipersiapkan oleh Bapak Santoso sebelum mereka nyampe. Terdapat berbagai bahan makanan yang dibeli Bapak Santoso di pasar, yaitu ayam, daging sapi, sayur mayur, ikan, dan bumbu-bumbu masak lainnya. Nah di sini nih Sarah banyak
belajar dari Tami yang udah pro masaknya. Kan dia tinggal sendirian dan bener-bener dipaksa untuk masak sendiri. Masakannya pun kaga mau yang simple-simple, melainkan gulai ayam dengan sambel bacok. Kenapa disebut sambel bacok, karena pedes pakai banget.
Mereka pun terkejut tatkala Tatkala Tami menghidangkan di meja makan besar. Sudah tersedia segala macam lalapan, makanan penutup, serta makanan pembuka lainnya.
“Gimana?”
“Udah bener nih jadi bini gue,” rayu Kevin.
__ADS_1
Memet langsung ngelihat sinis tanpa disadari oleh yang lain. Sementara Andi udah pengen ngelempar sendok nasi.
“Ini semua resep dari Tami. Siapa yang bilang enggak enak, gue sundul kepalanya,” ucap Sarah sembari memberikan piring kepada Andi.
“Emangnya bola disundul,” sindir Felix.
Andi heran nih kenapa nih Sarah nyendokin nasi ke piringnya. Mungkin aja lagi lupa kalau tadi mereka saling ngambekan gara-gara dua kali rebutan tempat. Dikira lagi baikan, eh ternyata Andi terkejut ngelihat piringnya penuh sama nasi. Porsinya kaya porsi lagi ngebunuh orang, banyak banget. Sampe-sampe belum makan aja, Andi udah ngerasa kenyang.
“Uanjir, nih mau ngebunuh orang atau gimana.”
“Pokoknya makan aja.” Sarah duduk pada kursinya.
Makanan dinikmati denga khidmat hingga Nanang nambahnya banyak. Andi mau muntah lagi gara-gara dipaksa makan terus sama Sarah. Baru saja selesai ngehabisin nasi, lah malah ditambahlah lagi dan dipaksa dengan alasan mubazir. Temen-temen yang lain malah ngomporin sampe Andi nyerah makan.
Pram seperti tuan rumah yang punya istana. Dia makan di kursi paling gede dengan segala pesona yang ada. Tami pun enggak luput dari ngelirik-lirik pria itu.
“Terima kasih atas makannya para ladies, enak banget makanan malam ini,” ucap Pram.
“Jelas dong. Kan kami yang bikin.”
“Yaelah … kalau cuma ngaduk makanan gue juga bisa.” Felix menyindir.
“Enggak dong, gue juga ngasih bumbu.” Sarah menunjuk Felix dengan tegas. “Emangnya elo cuma pande makan.”
“Sudah … sudah ….” Kevin mengetuk meja dua kali. “Dari tadi kerjaan nyari ribut.”
“Sekarang kita bisa istirahat. Yang mau ngopi, ya ngopi. Yang mau nonton TV bisa. Terus kalau yang mau main PS 4, gue bawa PS 4 kok. Pokoknya kalian enggak bakal ngebosenin di sini.
“Jangan lupa tutup tirai kalau tidur dari magrib tadi ….” Kevin tiba-tiba bicara.
Seluruh mata tertuju kepada Kevin. Hening tercipta oleh kalimatnya yang bernada berat, seperti om-om kenek angkot yang lagi manggil pelanggan.
“Emangnya kenapa?” tanya Andi.
Pandangan Kevin beralih kepada Pram. Ia menutup sendok garpunya hingga berbunyi denting pada piring.
“Loh, elo belum ngasih tahu Pram?”
__ADS_1
“Kenapa sih?” tanya Sarah.
“Apa yang terjadi?” Tami jadi panik sendiri.
“Aduh … maap. Itu cuma bualan anak itu,” balas Pram.
“Pram … gue udah ingetin kalau ngasih tahu mereka nutup tirai jendela.”
“Kak Pram, emangnya kenapa?” Tami bertanya sekali lagi.
Sesaat Pram diam sembari menyingkirkan piring di atas meja. Rokok bungkusan milik Andi ia pinta sebatang karena sedikit bervariasi daripada rokok patungan yang Kevin beli. Asap menyulut di antara mereka dan terbang mengarah keluar jendela yang terbuka. Lilin bergerak perlahan, menimbulkan cahaya kilatan pada teko teh di atas meja.
“Hmm … gimana ya bilangnya.” Pram menyentuh bibirnya. “Jadi, ada suatu ketika jaman-jaman pertama kali villa ini dibuka, ada penginap yang meninggal.”
Mulut Sarah terbuka karen terkejut. Tangannya menutup karena cemas. “Meninggal kenapa?”
Ujung rokok Pram memerah cukup lama. Gemeretak bunyi cengkeh di dalamnya jelas sekali terdengar oleh Andi yang berada di samping.
“Bunuh diri … dia meninggal karena bunuh diri. Menurut penelusuran polisi sewaktu itu, bunuh diri karena depresi. Jadi, dia memang ke villa dengan maksud untuk bunuh diri di keheningan. Karena merasa villa nenek dan kakek gue ini cocok, maka dia milih bunuh diri di sini.”
“Lo ngelihat penampakan apa aja di sana?”
Batuk Andi keras banget, sampe bikin fokus menjadi kabur. Batuknya bukan tiga kali, melankan berkali-kali kaya bapak-bapak di pagi hari. Kayanya gara keselek minyak gulai ayam buatan Tami.
“Ada beberapa kasus kesurupan di sini. Kalau yang kesurupan, mereka biasanya lari ke bukit di belakang. Enggak hanya sekali kejadian itu, tetapi berkali-kali. Kata orang pinter di sini, arwah penasaran dari orang bunuh diri itu sedang bersemayam di kawasan bukit.”
“Pram, elo serius dengan hal itu?” tanya Andi. Andi jadi makin takut karena kamarnya itu kondisinya gelap banget.
“Serius … dari jama kakek gue, orangtua gue, dan gue … selalu ada kejadian seperti itu.”
“Kenapa lo bawa kita ke rumah hantu sih?”
“Ya … cuma di sini bisa ditempati secara gratis. Tenang … di sini aman kalau kalian enggak melanggar pantangannya. Kalau ngomong di jaga⸺”
Seketika pintu villa terbuka dengan paksa. Terdapat Bapak Santoso yang berlari dengan napas ngos-ngosan.
“Tuan Pram ….”
__ADS_1
Mata Pram terbuka lebar setelah kalimat setelahnya.
***