Andi X Sarah

Andi X Sarah
47. Kebun Teh (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


Melihat otot dada Kevin yang gondal-gandul membuat Andi sakit mata. Untuk meminimalisirnya, ia melirik Tami yang habis mandi, harum banget. Kalau ngelihat Sarah, dia mah udah bosan. Cantik sih cantik, lebih cantik dari Tami. Tapi, Tami lebih nyegerin. Kaya ikan minuman seprit, nyatanya nyegerin.


Ibu-ibu tukang kebun membawa sarapan mereka untuk dimakan di tempat lain. Mungkin saja mereka segan makan kalau di sana ada Pram yang mereka sebut dengan tuan itu. Bapak Santoso masih bertahan bersama Kevin dan Memet untuk saling sharing ilmu permesinan. Sedangkan anak yang lain duduk di halaman belakang, tepat di lapangan basket. Selain di alam terbuka, mereka bisa menikmati pemandangan bukit lebih jelas.


Halaman belakang villa milik Pram ini terbilang luas. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di sini. Terdapat sebuah lapangan basket bagi mereka yang ingin keringetan. Disediakan pula dua buah gawang futsal pada masing-masing ujung tiang. Jika ingin main futsal, tinggal dirapiin aja gawangnya. Paling belakang villa terdapat sepetak lapanga berumput sintetis yang dijadikan tempat bermain golf mini. Sarah dan Tami sedang asyik di sana untuk sekadar belajar bermain olahraga mahal itu. Yang kurang ialah kolam renang, tapi siapa juga yang pengen renang di tempat dingin ini.


Sarapan yang sediakan oleh Tami dan Sarah habis tidak bersisa. Andi dan Memet makanannya kaya porsi makan siang. Kevin lagi-lagi mengingatkan mereka untuk tidak menambah kadar gula berlebih. Mereka mah bodoh amat. Masa bodo dengan gaya hidup sehat.


“Tami … Sarah … sini dulu.” Pram memanggil mereka. Ia masih dengan setelan bapak-bapak, sarungan dan rokok di bibirnya.


Sesampainya Sarah di sana, ia pun bertanya, “Ada apa?”


“Iya sih kita niatannya pengen bertahan di sini selama liburan. Tapi, gue pengen bawa kalian ke sebuah tempat.”


“Tempat apa?” tanya Tami.


“Kebun teh, di sana indah banget. Kalian pasti suka. Di dekat sana ada pintu air irigasi warga. Kita bisa berenang di sana. Gue rekomendasikan tempat itu karena sewaktu kecil gue sering banget ke sana.”


“Gaslah … gue pengen berenang.” Andi bersemangat dengan menangkat tangannya pertanda setuju.


“Kita jarang lihat kebun teh kan? Gue sih setuju-setuju aja,” balas Nanang.


Felix dan Agus mengikuti apa kata Andi.


Mayoritas anggota setuju untuk melakukan perjalan ke kebun teh. Oleh karena itu, mereka bersiap-siap terlebih dahulu. Andi lagi-lagi dimarahin Sarah karena bawaannya berantakan di dalam tas. Katanya mau berenang, baju gantinya pada kerimuk semua. Udah kaya mama Andi saja rasa kesal Sarah. Belum lagi Andi dibedakin Sarah kaya anak keci dengan mengolesi sunscreen di wajah.


“Lo ini bener-bener kaya bocil. Enggak pande ngurus diri.” Sarah mengolesi hidung Andi dengan sunscreen.


“Gue mah pande ngurus diri. Itu dengan perspektif gue. Kalian aja yang enggak suka sama cara gue,” balas Andi dengan wajah murung.


“Nanti lo berenangnya hati-hati. Gue kaga mau manggil tim SAR buat lo.”


“Iya-iya, protektif banget sih lo sama gue.”


Sarah berhenti mengolesi wajah Andi. “Ini bukan protektif, tapi peduli. Gue enggak pernah protektif sama lo, apalagi soal cewek.”

__ADS_1


Gantian Andi yang ngolesi wajah Sarah. Dia pengen juga marahin gadis itu. Dari tadi Sarah mulu yang marah-marah.


“Nanti jangan banyak makan pedes. Nanti malah ngeluh ke gue kalau perutnya sakit. Terus, banyakin minum biar lo enggak batuk-batuk. Dari tadi malam gue denger lo batuk-batuk. Udah gue larang, jangan minum es keterusan.”


“Gantian marah, ya?” tanya Sarah.


“Iya, ini gue marahin lo.” Jemari Andi mengarah ke dahi Sarah. “Walaupun lo sering marahin gue, entah kenapa gue tetap sayang sama lo. Rasa sayang gue ini sebesar Gunung Merapi di depan sana.”


Senyum Sarah melebar tatkala Andi mengatakan hal itu. “Kalau rasa sayang bisa dihitung, itu bukan rasa sayang lagi.”


“Karena kaga bisa dihitung, makanya gue ibaratkan Gunung Merapi di sana. Emangya lo bisa ngukur rasa sayang sebesar Gunung Merapi. Bisa?”


“Heheh … bener juga.” Sarah menyentuh hidung Andi. “Makasih ya.”


“Kaga … lo busuk belum mandi.”


Andi langsung ditabok pakai bantal. Bisa-bisanya ngatain Sarah belum mandi. Yang jelas itu, Andi yang belum mandi. Dia malas banget mandi di udara dingin seperti ini.


Satu jam perjalan mereka lalui menuju kebun teh yang dimaksud. Perjalanan kelok berkelok, tikung menikung, naik dan turun, mereka jalani hingga mendapatkan view terbaik. Setelah memarkirkan mobil, mereka pun bergegas turun karena tidak sabar menikmati alam yang luas. Terlihalah hijaunya kebun teh yang terhampar luas. Setiap daunnya terang oleh pantulan cahaya mentari pagi. Angin pegunungan berhembus untuk membawa mereka terus menelusuri jalur kebun teh.


Mereka pun berpencar. Sudah pasti Andi bersama Sarah berduaan. Tangan mereka saling bergenggaman tangan. Padahal, Sarah sebetulnya terhitung jarang jalan-jalan dengan dipegangin tangan. Seperti jalan-jalan di mall, ia sedikit malu dan gugup jika dilihat orang dengan keadaan tergenggam tangan Andi. Namun karena di sin, ia sendiri yang menggenggam erat tangan Andi.


“Kita foto berdua yuk,” pinta Andi.


“Ayuk. Tapi tunggu dulu, kenapa sih Instagram lo itu enggak ada foto gue yang di posting?”


“Heheh … gue ga mau aja sih kehidupan privat gue di-share. Tapi kan gue tetap share story kalau kita bikin berdua.”


Sarah mengeluarkan hape aiponnya yang memiliki kamera lebih bagus daripada punya Andi. Hape Andi itu kan siomi yang memang dikhususkan buat main game. Dia pun jarang foto-foto di sana. Malahan lebih banyak foto Sarah daripada foto wajahnya sendiri.


“Gue enggak mau foto, kecuali lo posting langsung di Instagram.”


“Oke deh gue posting foto kita berdua.” Andi memanggil Kevin yang sedang melakukan gerakan yoga sederhana. Ni anak di mana-mana selalu olahraga, Andi jadi heran. “Kevin, fotoin kami.”


Kevin yang sedang berdiri dengan yoga meditasinya kini beralih menatap Andi dan Sarah. Mendengar panggilan tersebut, ia mengampiri mereka berdua.


“Lo ngangguin sesi meditasi gue aja. Di sini cocok banget buat menyerap energi alam.”


Sarah menatap Kevin dengan aneh. “Lo sejak kapann sih seribet ini? Perasaan lo itu dulu nyeremin. Kalau begini terus, siapa yang takut sama lo?”

__ADS_1


“Gue enggak butuh nyeremin buat nakutin orang. Orang lain udah tahu gimana aslinya gue.” Ia mengambil alih hape Aipon milik Sarah. “Gantian ya, setelah ini fotoin gue. Hape gue kameranya kaga mumpuni.”


Sarah menggandeng erat tangan Andi dan menempelkan wajahnya pada bahu pacarnya itu. Sementara Andi, satu tangannya melingkar ke pinggang Sarah seakan tidak ada jarak di antara mereka. Dua bibir pun tersenyum untuk menyimpan momen ini dalam satu kilatan foto. Setelah berfoto, Sarah mengambil handphone-nya kembali dan meminta Andi untuk mem-posting segera foto tersebut. Bahkan, Sarah sendiri yang menuliskan caption terbaiknya.


Bersama untuk kita berdua, menjadi satu atas nama cinta. Terima kasih udah setia selama ini … Andi ngintipin Sarah waktu dia menuliskan caption tersebut. Foto pun terkirim di laman Instagram sehingga bisa dilihat oleh seluruh pengikut.


Berbunyi notifikasi like dari seseorang. Tatkala Andi lihat, ternyata terdapat juga komentar yang ditulis.


Wah serasi banget, cantik banget pacarnya … bikin iri deh ….


Tertera nama Tasya di sana yang merupakan cewek famous jurusan Bahasa Inggris. Ia mengenali wanita itu ketika dikenalkan oleh Naila sewaktu malam bermain futsal.


“Wah ada yang komen, Lah, ini Nanang ngapain komen kaga jelas, dia malah jualan produk pembesar di sana.” Sarah nge-scroll komentar lagi. “Hmm … Tasya ini siapa?”


“Tasya?” Andi pun bingung mau menjawab apa. Takutnya Sarah kesel.


“Oh, ni anak selebgram itu ya? Dia temennya Naila juga. Followernya … anjirr, udah lima ratus ribu? Kenapa dia bisa follow elo?”


“Kaga tahu tuh, dia yang follow gue. Lihat aja, gue mana ada folbek cewek itu.”


“Awas lo ya macam-macam?” Sarah kembali melirik foto-foto Tasya di Instagram. “Waduh, cantik banget nih cewek, kek bidadari. Tami aja kalah jauh dari dia. Tangannya itu tuh bening banget, beda sama gue.”


Andi menempelkan kepala Sarah di dadanya, lalu mencium dahi Sarah. “Udah … lo begini aja cantik. Gue cuma butuh itu.”


“Makasih banget ya, Sayang.”


“Jangan gede-gede bilang sayangnya. Takut Kevin di belakang jadi minder … Hahaha ….”


Dari kejauhan Pram terus saja menatap kemesraan mereka berdua. Dalam hatinya miris karena tidak bisa mendapatkan apa yang seharusnya dulu ia dapatkan. Fokusnya seketika buyar tatkala secara diam-diam Tami memotretnya. Seraya tersenyum, ia pun mengganti gaya karena sudah sadar kamera.


“Sini gue fotoin elo, gantian ….,” ucap Pram.


***


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2