
Bocah kucel
"Anjir, dia dulu kurus, tinggi, cungkring, bau, pake kacamata, dan jelek banget? Kok bisa seganteng sekarang?" Andi tampak panik karena saingan ketampannya saat ini merupakan cowok jelek di masa dahulu. "Gua yakin dia pake susuk."
"Hahaha ya kali Pram main ke dukun. Ke gua aja dulu dia masih takut-takut." Kevin teratwa sejenak sambil mengisap rokoknya. "Gua ngajakin dia main sama anak KODOMO. Sejak saat itu dia terlindungi dari berandalan ***. Lo tau kekuatan motivasi ga? Dia gunain itu buat jadi ganteng dan keren seperti saat ini."
"Lah kok bisa?"
"Pram punya benci yang mendarah daging pada anak-anak gaol di SMP yang dulu nge-bully dia. Pram juga bertekad kalau dia bisa segaol orang-orang itu. Punya pacar banyak, punya temen banyak, tampang keren, sepatunya yang mahal-mahal, trus like di FB bisa sampe ribuan."
"Trus dia ngapain kok bisa seganteng sekarang?"
Kevin tertawa. "Ini bagian terlucunya, dia dulu ga kenal sama deodorant, ga pernah pake parfum, ga punya pomade, hapenya cuma hape senteran, jadul banget dah. Bayangin aja Pram yang sekeren sekarang, yang wanginya masyaallah bisa tercium dari jarak 5 meter, dulunya kaya gitu. Kucel banget. Padahal dia anak orang kaya."
"Hahahahaha ... Gua ga bisa bayangin itu," balas Andi.
"Gua permak dia habis-habisan. Gua ajak dia ke barbershop pake uang dari upah gua jadi operator warnet di malam minggu. Trus kami juga beli pomade, ini pake uang dia. Dia beliin gua juga. Trus, kami ke tukang parfum isi ulang buat beli parfum. Suatu hari dia dia ngajakin gua ke mall, tiba-tiba dia ngeluarin uang jutaan dari dompetnya. Dia minta gua milihin handphone buat dia. Gua pilihin dia Aipon yang terbaru dan langsung selfie di tempat."
"Oh, jadi elo yang bikin dia wangi kaya sekarang?" tanya Andi.
Kevin tampak tertawa. Masa-masa itu memang sangatlah lucu.
"Bisa dibilang begitulah. Ga hanya itu, saat itu gua udah main ke gym, soalnya punya oom gua yang ototnya sebesar buah nangka. Gede banget, coy. Dia sering nge-posting badannya yang berotot banget ke FB."
"Gua ga nanya otot oom lo mau segede nangka, mau sedege apa kek. Jadi intinya apa?"
"Gua ngajakin Pram nge-gym tiap hari di tempat gym oom gua. Kami betah di sana tiap hari karena gratis. Pram mulai tertarik buat ngebentuk badannya. Karena dia anak orang kaya yang punya banyak uang, dia juga juga rutin beli susu protein yang mahal minta ampun. Bahkan dia juga beliin gua tiap bulan. Kami latihan tiap hari. Hingga kami punya badan yang bagus kaya gini. "
Kevin membuka seragamnya dan memamerkan otot-otot perkasanya. Dia goyang-goyangin otot dadanya. "Coba lo pegang. Empuk loh."
"Ga ah ... jijik gua dasar muke homo."
"Gua lanjutin ... Pram mulai jadi keren. Punya wajah yang terawat dan tubuh yang bagus. Kami pun masuk SMA. Banyak cewek-cewek yang naksir sama dia. Dia juga sering nge-chat sama banyak cewek. Masa' yang ngajarin dia buat keren malah kalah. Tapi gua sadar muka kok."
Tangan Andi menepuk pundak Kevin. "Ga apa-apa. Muka lo memang jelek. Gua sadar itu."
"Tapi, Pram tetaplah Pram yang pemalu dan pendiam kaya dahulu. Dia ga berani nembak cewek. Pada akhirnya ada salah satu cewek yang suka sama dia dan nyatain perasaanya sama Pram. Dia sekarang jadi mantan Pram satu-satunya, yaitu Raisa."
"Raisa mantan gua?" tanya Andi.
"Iya, Raisa mantannya lo. Mereka jalin hubungan lebih dari setahun dan putus karena Pram sadar jika Raisa cuma manfaatin dia aja. Sejak saat itu Pram banyak berubah, Karena dia udah merasa ganteng dan keren, dia malah semakin menjadi-jadi buat deketin banyak cewek. Dia lupa kalau dahulu Pram juga orang yang tersakiti. Kebanyakan dari cewek itu dia campakin di tengah jalan. Banyak cewek yang bodoh dan mau dideketin sama Pram dan ujung-ujungnya ditinggalin gitu aja. Mereka pada digantungin sama Pram. Salah satunya adalah Sarah."
"Gua ga nyangka kalau Pram seperti ini. Jadi ceritanya Sarah bakal digituin sama Pram?"
Kevin mengangkat bahu.
"Gua kurang yakin, tergantung niat dia sekarang apa. Kalau dia memang tulus, dia bakal nembak Sarah. Gua mau minta satu hal sama lo, satu hal yang jadi inti gua cerita panjang lebar kaya gini," kata Kevin dengan serius. Ia menatap mata Andi.
__ADS_1
"Apa?" balas Andi.
Kevin mencampakkan puntuk rokoknya ke lantai.
"Tolong lo rebut secepatnya Sarah. Gua ga peduli jika cinta Pram pada Sarah bener-bener serius dan dia pingin menjalin hubungan dengan Sarah secara serius, tapi lo harus ngerebut Sarah secepatnya. Pokoknya lo jangan ketikung dari Pram. Tikungan Pram itu kaya tikungan Rossi yang lagi balapan. Dia raja tikung, walaupun cewek itu udah nolak dia sebelumnya. Tikungan dia setajam mulut emak-emak kalau kehilangan taperwer."
"Emangnya kenapa"
"Biar dia tahu kalau ga semua cewek bisa dia dapetin. Biar dia sadar kalau jadi cowok jangan tamak, sementang dia gantengnya luar biasa."
Kalimat terakhir dari Kevin terus saja beringiang-ngiang di telinga Andi. Sekelibat pertanyaan diajukan dalam otaknya. Ia tidak mengerti bagaimana Pram yang ia kenal bisa berbuat seperti ini, bahkan sahabatnya saja mengakuinya. Ia masih tidak percaya, namun itulah realita yang terjadi. Ia telah salah melihat Pram hanya dari satu sudut pandang saja.
Ia tidak bisa menemukan Sarah walaupun Andi sudah berlari ke sana ke mari. Dengan kaki yang seperti itu, tidak mungkin ia bisa berjalan ke sekolah. Andi bermaksud untuk membawanya pulang.
Sebuah pesan LINE berbunyi tatkala Tami memasuki mobil Andi.
"Imut banget suara LINE kamu," kata Tami.
"Iya, imut kaya lo."
Tami tertegun mendengar pujian dari Andi. Sudah berkali-kali ia mengucapkan pujian-pujian yang acap kali membuatnya salah tingkah. Tidak hanya saat ini, bahkan bertahun-tahun lalu saat mereka masih seorang bocah ingusan.
Andi meraih handphone-nya dan mengeceknya.
LINE
Sarah : Jangan cari gue, gue udah balik duluan.
Sarah : Jangan ... om-om itu berat. Biar kamu aja.
Andi : Idih, sekarang pande ngelucu, yaa (READ)
Mata Andi melotot tanpa kedip sedikit pun ke layar handphone. Satu detik, dua detik, tiga detik, belum juga ada balasan dari Sarah. Sepuluh detik, lima belas detik, dua puluh detik, ternyata LINE bunyi lagi.
Eh waktu dicek, ternyata dari OA bacolan yang ngirim tawaran group yang unbarokah. Satu menit, dua menit, LINE bunyi lagi. Waktu dicek ternyata dari admin Minang Kocak kampret yang lagi ngebully dedemit. Lime menit kemudian ....
"Lah, mobilnya dari tadi kok ga jalan??" tanya Tami sambil ngerapiin rambutnya. "Kamu liatin apa, sih"
Mata Andi bergerak pelan ke arah Tami. Andi gam au kalau chatnya kali ini ketahuan sama Tami. "Ini ... hmmm ... ada parodian pilem Dilan."
"Kok ga ngakak?" tanya Tami lagi.
"Garing, kaya kerupuk Mpok Romlah kantin."
Andi kembali membuka LINE dan mengetuk chat-nya dengan Sarah.
Kampret ... cuma read doang ....
Mobil menyala dengan segurat senyum di bibir Andi. Ia senang jika Sarah tidak pergi ke mana-mana dengan keadaannya saat ini. Ia juga senang jika Sarah memberinya kabar. Kaya orang yang lagi pacaran aja.
"HAIII!!!!" Tiba-tiba Tami melambai karena lagi video call sama Agus dan yang lain. Suara dari sana terdengar sedikit ribut. Maklum, mereka lagi ngumpul.
__ADS_1
"Hai juga sayang ... eh Tami. Lagi di mana? kayanya di mobil." Suara Agus yang berat kaya om-om supir travel.
"Ini lagi sama Andi. Mau pulang. Kalian lagi di mana?" tanya Tami balik.
"Kami lagi di rukonya Felix. Mamanya lagi masak masakan chinese. Lo denger Felix lagi bicara bahasa mandarin ke keluarganya," balas Andi sambil mengarahkan handphone-nya ke Felix. "Denger, kan? Kami ga ngerti. Serasa mau gue jawab pake bahasa Jawa."
"Koko Felix sipit banget matanya. Imut banget," puji Tami.
"Lah, Tami bilang Abang ga imut, gitu?" Agus memperlihatkan muka imutnya.
Tami tertawa melihat muka Agus. Kalau bisa disensor mukanya dari layar. "Enggak, kamu kaya om-om bengkel. Sangar. Udah ... kami mau beduaan dulu di mobil."
"Bilang juga ke dia buat jangan dibawa Tami ke mana-mana. Biasanya Andi otaknya bisa oleng dikit," kata Agus.
"Ciumnya mana?" Nanang tiba-tiba merebut handphone Agus.
"Muachh ..."
Seketika Agus, Nanang, dan Felix mimisan di tempat.
Suara merdu dari vokalis Payung Teduh berakhir tepat di depan rumah Tami. Wanita dengan wajah kecil itu memamerkan senyumnya pada Andi. Ia tak kunjung keluar, entah apa yang membuatnya tetap bertahan menunggu musik selanjutnya terputar. Saat bunyi melodi gitar klasik dari Payung Teduh mendayu, ia mendekat ke arah Andi.
"Kamu masih ingat perkataan bodoh kamu tentang orang yang bakal jadi kekasih kamu nantinya?" tanya Tami. Matanya tetap bertahan pada Andi.
"Itu kan waktu gua kecil dulu, sekarang mah beda." Andi mengalihkan pandangannya dari Tami.
Tami tertawa kecil. "Kamu bilang kalau kamu mau cari pacar nantinya yang kaya aku."
"Iya, yang kaya Tami, cuma bukan Tami. Seorang cewek yang paling mengerti gua. Cewek yang ga pernah gengsian sama gua, persis kaya Tami." balas Andi.
"Aku suka sama kamu Andi." Tami mendekatkan wajahnya pada Andi. Ia mengecup pipi kiri kiri Andi. "Sarah pernah bilang ke aku kalau setiap cewek yang dekat sama kamu pada akhirnya bakal jatuh cinta. Dan itu terjadi."
"Tapi aku udah nganggap Tami kaya adik aku sendiri. Kita udah sama-sama dari kecil. Dari kita sama-sama pake kolor waktu main ke luar rumah."
"Cinta itu datang ga kenal waktu, ke kenal orang. Dia bebas berlabuh ke mana aja." Tami menghela napas. "Tapi bukan berarti kamu bisa jadi milik aku. Ada seseorang yang lebih pantas."
"Siapa?"
"Kamu yang bilang sendiri, semua cewek yang dekat sama kamu pada akhirnya bakal jatuh cinta. Sarah juga ngerasain hal yang sama. Cuma dia ga mau ungkapin karena ada aku."
"Sarah? Dari mana Tami tau?" tanya Andi.
"Dia cerita sama aku. Dia senang banget karena kamu nembak dia. Baikan lagi ya sama Sarah. Dia udah lama suka sama kamu, dia kepingin ngerubah kamu jadi anak yang baik. Ga bandel kaya dulu."
Hidung Andi kempas-kempis kaya jantung diajak lari lima kilometer. Dadanya deg-degan kaya main ML cuma tinggal satu tower lagi, eh malah kena comeback sama lawan. Hatinya girang kaya tante-tante baru dapet brondong. Pokoknya seneng banger. Tangan mengepal kepingin mencari Sarah sesegera mungkin.
Di dalam hati Andi berkata, ternyata pelet dari lo memang manjur, Gus!!!!!
Ia menyisir rambutnya yang diminyakin pake kemiri. Ini adalah resep ganteng pelekat cewek dari Agus. Kata bapak Agus kalau cowok pake minyak kemiri, gantengnya bakal meningkat sekian persen. Buktinya aja bapaknya Agus ngedapetin emaknya Agus pake minyak kemiri.
***
__ADS_1