
Aduh sakit
"Aduh sakit!!!!!!!!!!!!"
"Woi lo lagi di klinik *****, sopan dikit napa," bentak Agus.
Andi udah ga tahan karena lengannya dijahit sama perawat klinik. Memang sih mata Andi dimanjain sama perawat klinik yang masih muda banget dan pastinya bening aduhai, tetapi tangannya jahat banget nusukin jarum buat ngejahit tangan Andi. Ya mau gimana lagi, namanya kan juga dijahit. Masalahnya, ketoxikan Andi ini udah ga ngenal tempat. Di mana pun berada pasti aja ngomong toxic.
"Tahan ya adek,"
"Iya, kakak ...." Andi tersenyum. Nih kakak bening amat. "Adu sakit ...."
"Tahan yah bentar lagi."
"Ga tahan lagi kak, mau keluar aja ...."
"Bentar lagi, mau selesai kok."
Muka Andi memberi isyarat kepada Agus. Mukanya itu loh muka pengen ditampol. Agus menepuk jidat. Di saat-saat yang seperti ini Andi malah mikirin yang enggak-enggak.
Sentuhan terakhir yang apik sekali bergemulai mengikat benang jahit di tangan Andi. Lah ini kok ada sentuhan estetiknya yah. Perawat tersebut selesai dengan tugasnya. Setelah itu Andi tersenyum melihat kakak perawat cantik yang dengan manja memegangi tangan Andi sedari tadi. Yaa ada untungnya juga ke klinik ini, soalnya ada cewek cantik. Andi kan pernah berobat ke sini sebelumnya.
Nama Andi dipanggil untuk mengambil obat. Sembari berjalan, Andi menyenggol tangan Agus.
"Gus, pake uang lo dulu. Gue ga punya uang."
"Yaelah, lo yang sakit, gue yang repot. Untung aja kawan," balas Agus.
"Lo kira BPJS nanggung buat korban tawuran apa? Yang ada kita pergi ke polsek entar," pungkas Andi.
Lah, malah kakak yang tadi ngasih obat. Andi senyum-senyum sendiri sembari mengambil obat-obatan.
"Ini antibiotik dimakan tiga kali sehari biar enggak infeksi. Jangan kena air dulu, trus diolesin sama salep ini, ya ..."
"Eh, iya kak ...." Andi mengangguk. "Kalau boleh, boleh minta─"
Agus menarik Andi ke belakang. Nih anak ga bisa ditahan yaah.
"Udah berapa semuanya kak?" tanya Agus.
"Lima puluh ribu semuanya."
Agus memberikan selembar uang biru dengan berat hati. Padahal ini jatah jajannya minggu ini yang masih tersisa. Eh, Andi malah minta bayarin. Ini ga bisa ditunda-tunda pembayaran utangnya, harus ditagih terus biar Andi ga pura-pura lupa. Soalnya nagih utang ke kawan itu susah banget.
"Makasih, ya kak ..." Agus menunduk hormat.
Di pintu klinik berdiri seorang wanita dengan jaket biker dan celana jeans robek dilutut. Tangannya melipat di dada sembari menyorot mereka berdua yang pucat ketakutan. Mata Sarah terlihat garang, soalnya mereka kan habis tawuran. Padahal sedari kemarin Sarah melarang keras mereka buat tawuran kembali.
"Ini udah kedua kalinya gue ngejemput lo ke klinik gara-gara tawuran!" ucap Sarah.
__ADS_1
"Santuy ... ini tempat umum," balas Agus lancang.
"Santuy-santuy kepala bapak lo. Di sekitaran sana lagi patroli polisi, pasti nyariin kalian semua!"
Suara Sarah menarik perhatian pengunjung klinik. Melihat itu, Agus cepat-cepat keluar.
"Maaf, dong Sar. Ini ga bisa dibiarin, kalau kami ga datang malah mereka yang ngedatangin kami," sambung Andi.
"Hmm ... kalian ini memang bebal ya. Untung aja gue udah ga suka marah-marah lagi," balas Sarah.
Ga suka marah-marah gimana??? tanya Andi dalam hati.
Trus, lo lagi ngapain sekarang? Lagi baca puisi??? Agus heran.
"Mana tangan lo, gue denger dari Felix kalau tangan lo dijahit ....." Sarah membuka lengan baju Andi. "Alah, cuma segini minta dijahit."
"Ini dalam loh!! sakitt!!!" balas Andi ngegas.
"Udah Andi, jangan dilawan makhluk bar-bar ini." Agus melanjutkan langkahnya.
"Gus, lo bawa motor Andi ke rumah lo. Biar gue anter Andi ke rumah."
Agus berhenti. Kenapa dia yang harus bawa motor Andi, soalnya Agus males banget bawa motor orang ke rumah. Bapaknya bakalan banyak tanya nanti.
"Tapi, Sar─"
Wajah Sarah menatap datar. Hal tersebut langsung dimengerti Agus. Sarah pasti pingin bicara berdua sama Andi.
"YAUDAH ... YAUDAH ... GUE PERGI SENDIRI ....."
"Gue ...," ucap mereka sama-sama.
Mereka diam beberapa saat.
"Lo dulu." Sarah mempersilahkan.
"Hmm ... gue mau minta maaf. Gue salah selama ini. Entah kenapa gue bisa deket sama cewek lain waktu itu."
Sarah menghela napas menengarkan kalimat itu. Fokusnya teralihkan dari gerakan stir mobil menuju gerbang komplek rumah mereka.
"Pernah ga lo dikecewain sama seseorang? trus lo dibuat merasa bersalah atas hal itu?" tanya Sarah.
Andi hanya menggeleng, belum pernah ia merasakan perasaan seperti itu. Kecewaan yang selam ini ia rasakan murni kesalahan dari orang lain dan ia tak pernah merasa bersalah akan hal itu.
"Lo yang kecewain gue, tetapi kenapa gue yang malah bersalah? Gue itu bodoh banget yaa ...."
"Gue minta maaf, mungkin aja lo sakit akan hal itu."
"Gue muak dengerin kata maaf yang cuma formalitas. Cukup sekali saja lo bilang kata maaf, itu udah cukup. Kita sama-sama salah dari awal. Ego yang bikin kita pisah. Persetan harga diri tinggi yang bikin kita ga mau mengalah satu sama lain."
"Gue masih cinta sama lo, Sar. Lo masih begitu,kan? Lo ga mau kehilangan gue, kan?" tanya Andi.
Air mata Sarah keluar deras. Ia benamkan wajah ke stir karena tak sanggup menahan tangis. Pria itu benar, Sarah tak pernah menginginkan Andi pergi. Ia tak ingin orang yang selalu membuatnya nyaman hilang. Bersusah payah dirinya untuk membuat perubahan pada diri Andi, tidak ingin ia hilangkan dengan sia-sia. Cinta mempertahankan itu semua.
__ADS_1
"Gue sayang sama lo."
"Kita balikan ...." Mobil berhenti tepat ketika ia menyampaikan jawaban yang sempat ia gantung. "Kita ga perlu nahan-nahan rindu lagi."
"Sar ...." Andi terheran melihat Sarah yang hanya melihat ke depan tanpa merespon kalimatnya. "Sar ... lo denger gue kan??"
"Siapa itu?" tanya Sarah.
Telunjuknya menunjuk seorang wanita yang sedang menenteng kopernya di depan gerbang rumah Andi. Tangan wanita tersebut tidak henti-henti menekan tombol bel sembari menjinjit karena tidak sampai. Mata Andi melebar, ia wanita yang sempat ia kenal ketika liburan kemarin.
"CLARA!!!" Andi terkejut.
"Lah, itu Clara?" tanya Sarah.
"Iya, dia itu Clara. Masa gue salah sih ...."
"Cantik bener sumpah ... kaya bidadari."
"Memang sih ...."
"APA!!!!" Sarah menepuk pundak Andi.
"Santai dong."
"Kan, lo itu selalu aja ngerusak suasana. Baru aja kita romantis-romantisan."
"Romantis itu bukan cara gue." Andi keluar dari mobil.
Tatap Andi dan Clara saling bertemu di satu titik murka yang penuh dengan sorot cemburu dari Sarah. Sarah masang muka masam di mobil sambil mikirin Andi pasti dipeluk sama itu cewek. Lah, ternyata benar ... Clara meluk Andi tiba-tiba deng. Apa ga sakit tuh hati.
"Andi, aku rindu sama kamu ....," ucap Clara.
"Lah, kamu kok bisa di sini?" Perlahan Andi melepas pelukan Clara.
Awas lo entar, ga idup lo gue bikin! Sarah lagi ngasah golok di mobil.
Mampus gue!!! Andi mulai cemas.
"Ada urusan yang ga bisa aku elakkan ke Bandung. Bunda juga minta buat mampir ke rumah Andi. Makanya aku ke sini."
"Oh gitu ya ... hmmm ... sebelum lo gue suruh masuk ...." Lagi-lagi Andi kebawa logat anak jekate, padahal Clara agak risih kalau Andi bicara sama logat ibu kotanya. "Aku mau ngenalin kamu ke seseorang."
WOI KELUAR WOI!!! Andi melambaikan tangan ke Sarah buat minta dia ke sini.
"Itu siapa? Seram kali," ujar Clara.
Memang seram, gue aja takut ....
"Itu Sarah ... pacar aku."
"Sarah yang waktu itu mutusin kamu?!!!" Clara meninggikan nadanya.
Tatapan Clara dan Sarah langsung beradu kaya kucing lagi kelahi. Boss terakhir dari dungeon cinta milik Sarah akhirnya keluar. Dengan equipment yang seadanya, ia mencoba mengalahkan sendiri agar mendapatkan sebuah rare item, yaitu Andi.
__ADS_1
Lah udah kaya game MMORPG aja.
***