
Sarah berjalan menuju ke parkiran motor tanpa sempat memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Andi. Sama sekali tidak ia pedulikan Andi yang memanggilnya dari tadi di belakang, sampe-sanpe Andi dilihatin oleh junior-junior yang sempat lewat, kaya di pilem-pilem romansa gitu. Ada yang manggil di belakang, terus ada hujannya. Masalahnya di sini lagi enggak ada hujan. Junior-junior itu pun tampak tidak berani melihat Andi waktu ditatapin balik sama wajah senior yang berubah seram.
Langkah Sarah menuju ke motornya Andi.
“Jangan panggil gue, gue ngambek.”
Padahal nih Sarah berharap banget di kejar Andi dan dipegangin tangannya biar enggak pergi. Dari tadi Sarah mancing-mancing Andi untuk melakukan itu, tetapi Andi tidak peka-peka juga. Ia pun berbalik dan melipat tangan di dada seperti orang ngambek beneran.
“Lo mau ngapain di motor gue?” tanya Andi. “Katanya ngambek.”
“Anterin gue pulang!” paksa Sarah.
“Lah, kan ngambek? Kok dianterin pulang?” tanya Andi kembali. Memang aneh nih cewek, malah minta dianterin balik. Padahalkan seharusnya dia pergi sendiri tanpa ingin dipedulikan oleh Andi.
“Ih kok kok ga peka sih?!”
Gue harus gimana ya Gusti Allah …. Aneh bener nih cewek.
“Aneh banget sih elo.”
“ELO YANG ANEH!” Sarah malah ngegas.
Melihat Sarah yang gelagatnya kaya pengen menjadi huluk lagi, mau tidak mau Andi mengantarkan Sarah pulang. Waktu duduk berboncengan berdua, Sarah menjarakkan dirinya dengan tas miliknya, kaya naik ojol aja. Andi diminta untuk menjarak lagi ke depan hingga paling ujung. Yang namanya Andi takut sama cewek sendiri, maka dari itu ia mengalah untuk kali ini.
Berangkatlah mereka dengan cara yang aneh sambil dilihati sama anak-anak kampus yang ada di jalanan. Ada yang ngira Andi itu ojol ganteng yang baru aja ngangkut penumpang, ada yang benar-benar mengira jika mereka sedang ngambekan.
Sesampainya di depan rumah wanita itu, Sarah masih tidak berkata apa pun. Ia masih berkutat dengan isi tasnya. Setelah itu ia turun tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun. Andi mulai merasa peka, lalu menjemputnya yang sudah hampir menuju pintu. Di saat itulah Andi menyentuh tangan Sarah dan bertanya baik-baik.
“Sarah, gue jujur apa adanya sama lo. Gue enggak ada ngapa-ngapain sama Tasya. Gue beneran dibilang kalau di sana bakalan ada Naila dan dia enggak bisa datang karena ada rapat mendadak. Terus, gue datang ke ulang tahun itu, lo sendiri yang bilang kalau gue dibolehin meskipun itu cewek. Terus, si Tasya kok malah enggak boleh?”
__ADS_1
“Ya gue enggak suka aja karena itu Tasya. Kalau orang lain boleh,” balas Sarah singkat.
Pantas saja ada buku tebal bagaimana cara untuk memahami wanita. Kali ini Andi benar-benar menyetujui hal tersebut. Ia sangat tidak mengerti jalan pikiran dari wanita itu. Sudah dibilang begini, malah minta begitu. Sudah diminta begini, malah mintanya itu.
“Terus, gue harus ngapain?” tanya Andi baik-baik. “Bilang ke gue kalau gue harus ngapain?”
“Ya lo pikirin aja apa salah lo.”
“Butuh argument dong. Lo sendiri pendapat itu butuh argument. Nih argument gue udah sepanjang tali beruk yang manjat pohon kelapa, lo makin aja ngeliunjak begini. Gue sumpah bingung kaga ngerti lagi deh.”
“Ya udah …”
Sarah berbaliik untuk membuka kunci pintu.
“Ya udah? Gitu aja? Ya udah? Ya allah gimana caranya lagi ya ngejelasin ke elo. Butuh gue datengin Tasya ke sini buat ngejelasin semuanya kalau kami enggak ada apa-apa.”
“Ya lo pikirin aja sendiri.”
Sayangku … cintaku …. Itulah kalimat yang sering didengar oleh Andi dari Sarah. Wanita itu sering bermanis dengan kedua kata yang berhasil membuay Andi tersenyum lebar. Terdengar lembut sekali, merasuk ke dalam hatinya.
“Lain kali jangan gitu ya, jangan makan sama cewek berdua meskipun di sana harusnya kalian ada bertiga kaya kemarin. Gimana kata orang nanti kalau orang lain lihat. Lo kan udah punya pacar, pacarnya itu adalah gue. Apa kata orang lain nanti kalau ngelihat lo begitu? Pasti bilang lo lagi main api sama cewek lain. Gue ngerasa enggak dihargain saja. Terus, si Tasya itu kayanya suka lo. Jadi, jangan terlalu deket sama dia. Gue enggak suka.”
Andi terdiam sesaat mendengar kalimat panjang dari Sarah tersebut. Selama ini yang ia anggap biasa-biasa saja, seperti makan di kantin dengan cewek, atau pun terlihat dekat dengan cewek, ternyata Sarah pun merasakan perasaan cemburu. Setahunya, Sarah pasti paham Andi hanya ada untuknhya, bukan orang lain. Meskipun orang itu terlihat dekat dengannya, maka bukan berarti Andi sedang bermain api. Hanya sebatas teman, hanya itu.
Tangan Andi membelai rambut Sarah dengan lembut.
“Iya gue minta maaf ya. Gue enggak akan ngelakuin hal itu lagi. Ada hal lain yang bikin lo khawatir?” tanya Andi.
Sarah menggeleng. “Udah itu aja. Ga tau kalau besok.”
__ADS_1
Wajah Sarah tertuang jelas ekspresi tidak baik-baik saja, meskipun dari bibirnya telah terucap segala hal yang menjadi kekhatiran.
“Kita baik-baik aja kan?” tanya Andi.
“Iya, kita baik-baik aja.” Sarah menatap Andi. “Pulanglah, makan siang di rumah. Jangan makan di luar lagi. Kemarin Mama bilang lo keseringan makan di luar. Hargain Mama yang udah masak buat lo.”
“Oke gue balik ke rumah. Lo jangan lupa makan juga.”
“Beliin gue martabak penuh cinta ….”
Sinyal ini pertanda kalau Sarah sudah baikan. Sudah hapal sekali pola perilaku wanita itu bagi Andi. Selagi dia lapar dan mengadu kepada Andi, maka masih ada harapan bagi Andi untuk berbaikan. Jangan harap kalau Sarah benar-benar diam dan tidak bilang kalau dia lagi lapar.
“Martabak penuh cinta kan bukanya malam. Jadi nanti gue beliin elo malam. Nanti gue ke sini sambil bawain susu indomilik faforit lo.”
Sarah memeluk Andi sesaat, lalu Andi tidak ingin melepaskan momen ini begitu saja. Ia kecup kening Sarah seakan itu yang terakhir. Begitu sayang dirinya pada Sarah.
“Makasih udah ngertiin gue ….”
“Gue pulang dulu ….”
Bergegas pergilah Andi dengan motornya sembari lambaian lemah dari Sarah. Sesampainya di rumah, Andi menginstropeksi diri sendiri di hadapan cermin, mencerna lagi apa yang sudah selama ini ia lakukan. Kurangkah perhatiannya kepada Sarah? Seringkah ia menyakiti hati Sarah baik secara jelas maupun tidak sengaja?
Sekektika itu juga Andi berpikir sangat beruntung memiliki wanita yang begitu perhatian padanya, bahkan untuk hal-hal kecil sekali pun.
Tiba-tiba datanglah pesan chat dari Felix, Woi main PUBG yuk ….
Andi langsung membalas, Ayuukk ….
Akhirnya Andi main game PC sampe sore dan lupa makan. Padahal dari tadi ia berniat untuk mengubungi Sarah kalau dia udah makan. Ya begitulah cowok, sangat mudah teralihkan jika sudah masuk ke dalam dunianya sendiri. Manusia tidak ada yang sempurna.
__ADS_1
***