
Andi menatap undangan warna silver dengan design modern tersebut. Tertera namanya dengan emot tersenyum di sebelahnya. Yang jelas, emoticon tersebut tertulis dengan pena tersendiri, sementara namanya tertulis dengan tulisan di-print. Mungkin saja Tasya sengaja menuliskan emoticon tersebut sebagai tanda bahwasa ia ingin sekali para undangan untuk datang.
Kini, ia sembunyikan undangan tersebut di kotak dashboard. Mobil yang ia gunakan kini merupakan milik Tami. Beruntung wanita itu sudah pulang bekerja. Mobil sedan milik mamanya sedang dibawa Memet untuk membeli sejumlah barang bersama Aisyah, adiknya. Sementara itu, Sarah kini sendirian mengurusi mamanya Andi di rumah sakit. Entah mengapa gadis itu ingin berlama-lama di sana tanpa pulang sedari pagi tadi.
Setelah tiga puluh menit menunggu, tampaklah pria berkemeja biru dengan celana bahan kain berjalan mengarah ke arah mobilnya. Ia tampak bingung melihat mobil tersebut karena tidak pernah melihat. Mobil camry ini terbilang baru dibeli oleh papanya Tami. Sayang sekali mobil semewah ini hanya dipakai satu orang anak gadis yang dipakai pulang pergi bekerja. Seharusnya Tami sedikit bergaya dengan teman-teman menunjukkan seberapa mewah dirinya saat ini.
“Hah … Andi … ini mobil siapa?” tanya papanya tatkala Andi membukakan pintu.
“Mobilnya Tami.”
Ia menyerngit. “Mobilnya Tamia atau papanya?”
“Mobil papanya sih. Tami makai ini sehari-hari. Maklum anak orang kaya,” balas Andi.
“Oh … Papa kira dia udah bisa beli camry semenjak jadi PNS.” Ia mulai masuk ke dalam mobil.
“Ya itu kalau Tami korupsi di kantornya. Kek pejabat-pejabat cuci uang akhir-akhir ini,” balas Andi.
Sementara itu di rumah sakit, Sarah ketawa-ketiwi mendengar cerita mamanya Andi mengenai anaknya tersebut. Semakin asyik Sarah menggali setiap kenalakan Andi dan hal-hal konyol lainnya, seperti masih ngompol waktu kelas lima SD, Andi berhenti minum susu botol waktu kelas 2 SD, atau pun pernah hampir tinggal kelas di SMP karena goblok. Tapi, ia bersyukur punya Andi yang sayang banget sama orangtua meskipun Andi yang senakal itu.
“Udahlah … Mama sering ketawa waktu Andi nangis-nangis di depan guru. Dia bilang tinggal kelas dan Mama harus pindahin dia ke SMP swasta waktu naik kelas tiga esempe.”
“Aduh … Andi segoblok itu. Masa minum susu botol sampe kelas 2 SD,” balas Sarah.
“Benar, sarapan pagi aja harus ada susu botol. Dia itu bisa minum pakai gelas, tapi entah Mama enggak tahu dia maunya pakai botol.”
Tidak lama kemudian, Sarah mendengar suara ketukan pintu. Mamanya Andi meminta untuk dibukakan pintu. Mungkin saja ada tetangga yang datang lagi untuk menjenguk. Kalau ada tetangga, Sarah malu-malu gitu. Bahkan, ada emak-emak komplek yang muji kalau beruntung dapat menantu seperti Sarah. Udahlah anaknya sopan, pintar, dan cantik pula. Padahal nih ya kan, Sarah orangnya bar-bar banget.
“Assalamualaikum,” ucap orang di sebalik pintu.
__ADS_1
Mata Sarah terbuka lebar tatkala melihat Naila. Wanita itu pun terkejut melihat Sarah sedang ada di sana. Meskipun begitu, Sarah memuji Naila di dalam hati karena wanita itu kini cantik sekali dengan penampilan hijab jaman sekarang. Beda banget sama Sarah yang jarang pakai kerudung.
“Walaikumsalam. Oh elo, Nai. Masuk, Andi lagi enggak ada di sini,” jawab Sarah.
Entah menyindir atau bagaimana, Naila heran dengan respon tersebut. Ia sama sekali tidak mencari Andi, melainkan karena mamanya Andi dirawat di sini. Sebagai orang Minang asli dari marga Si kumbang, Naila tentu akrab dengan mamanya. Apalagi kalau Aisyah merupakan teman seangkatan.
“Gue enggak nyari Andi kok Kak. Aisyah ngasih tahu kalau mamanya lagi dirawat di sini.”
“Oh gitu, gue kira lo nyariin Andi. Hmmm … ayo masuk. Mamanya Andi pasti senang kalau lo datang.”
“Terima kasih ….”
Iya sih Sarah dan Tami udah pernah main ke rumahnya Naila. Tapi sebagai pacar, Sarah tetap memiliki jiwa-jiwa protektif kalau ada orang masa lalu dari Andi kembali muncul. Ia tahu itikad baik Naila yang ingin berkenalan lagi dengan Sarah dan Tami, tetapi Sarah tetap cewek yang punya rasa kekhawatiran kalau Naila dan Andi dekat kembali. Ia tidak ingin mereka kembali retak dikarenakan hal itu lagi.
Perbincangan pun terjadi antara mereka bertiga, mengalir sebagaimana harusnya tanpa ada sindiran dari Sarah lagi. Naila pun merasa enjoy setelah tiga puluh menit menemani dan menghibur mamanya Andi. Namun sayang sekali, Aisyah sedang tidak ada di sini. Padahal, ia ingin sekali bertemu dengan wanita imut itu. Ada banyak jasa Aisyah padanya, termasuk bagaimana mengajari dirinya untuk tetap teguh memakai jilbab.
“Ma … Sarah ke bawah dulu ya. Memet udah nyampe bawain pesanan kita.”
Udah manggil Mama aja nih, ucap Naila di dalam hati.
Ngapain sih ni anak? Mau ngambil hat Mama gue ya? Sarah memulai peperangan batin. Tapi Sarah mencoba realitis saja, kakinya mager banget buat gerak. Jadi, dia mempersilahkan Naila buat menemui Memet di bawah sana.
“Ya sudah deh, lo aja yang ke bawah. Lo tahu mobil Andi kan? Dia di parkiran depan. Aisyah ada di sana juga kok.”
“Oke, Kak. Aku ke bawah dulu.”
Pergilah Naila ke bawah untuk menemui Memet. Setelah mencari keberadaan mobil tersebut, terlihatlah pria tinggi tegap sedang berdiri seperti tukang parkir yang minta duit. Walaupun seram begitu, Naila mengakui ada aura ke badboy-an dari Memet yang bisa menarik perhatian dari pria.
“Memet?” tanya Naila.
Memet melihat ke belakang, mana tahu ada cowok lain bernama Memet yang dipanggil oleh cewek itu. Merasa benar-benar dirinya yang sedang dipanggil, ia pun mengangguk. Ia sama sekali belum pernah bertemu wanita itu sebelumnya.
“Oh gue Memet. Siapa ya?” tanya Memet.
__ADS_1
Tanpa menyebutkan nama, Naila membuka pintu mobil tersebut. “Gue disuruh mamanya Andi buat bantuin elo ngantarin barang-barang ini ke sana.”
“Oh oke, terima kasih banget yaa.”
Memet pun tidak mau menanyakan nama apalagi bersalaman untuk berkenalan. Ia termasuk tipe-tipe cowok pemalu. Padahal, ia mengakui jika wanita itu karismatik dengan fashion hijab kekinian. Mungkin aja cewek begituan enggak mau menyalami seorang pria. Tanpa pembicaraan lebih lanjut, ia pun mengangkut seluruh barang dalam sekali perjalanan.
“Aisyah mana ya Bang?”
Lah kok abang, Memet aja … Memet malah malu bilang begitu.
“Aisyah pulang dulu buat masak. Papanya pulang hari ini, sekaligus buat diantar ke rumah sakit. Gue bentar lagi mungkin balik lagi ke rumahnya Andi buat jemput Aisyah.”
“Oh, deket ya sama Aisyah?”
“Gila … masa dibilang deket. Gue malah dibacok sama Andi kalau begitu.” Memet malah kebablasan bicaranya, tidak cool seperti tadi. “Karena gue temenan sama Andi, jadi udah kenal sama Aisyah dari kecil. Kenal Aisyah juga ya?”
Naila mengangguk. “Dia temen gue waktu masih SMA, Bang.”
“Oh gitu ….”
Sesampainya di ruang inap, Memet berpamitan kepada mamanya Andi dan Sarah untuk kembali ke rumah sebentar. Ia akan ke sini lagi dengan membawa Aisyah.
“Ini kenalin dia Naila,” ucap Sarah.
“Oh Aisyah … gue Memet.”
“Udah tahu kok kalau Abang namanya Memet.”
Tunggu dulu, Naila? Oh dia kayanya yang dibilang sama Tami bakalan jadiin gue model ….
Memet baru ingat waktu itu kalau Naila sedang mencari seorang model untuk produk fashion darinya.
***
__ADS_1