Andi X Sarah

Andi X Sarah
52. Kekunci (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


Hari sudah menjelang gelap. Udara semakin dingin saja pertanda akan datangnya malam. Burung-burung pun pulang, memberi kabar kepada manusia dari kicauannya, Kemuning langit sudah lama memanggil semenjak satu jam yang lalu, kini semakin memudar oleh tenggelamnya mentari. Bergantilah awan gemawan merah menjadi bintang bertaburan membetuk rasi tertentu. Setiap mata yang memandang pasti akan terkesima.


Andi berpikir mengenai maksud dari kalimat tadi. Ia sama sekali tidak menjawab kalimat meremehkan itu karena di depan orang banyak. Jikalau Andi ingin menuruti kata hatinya, sudah pasti kepalan tangan Andi menempel ke kepala Pram, tidak peduli apa pun status Pram di villa ini. Perkataannya bukanlah bermaksud ditujukan ke tim yang menjadi lawan, melainkan terkait hal yang bersifat pribadi. Oleh karena itu kalimat itu mengatasnamakan dirinya sendiri.


Jalanan gelap Andi telusuri menggunakan motor butut milik Bapak Santoso. Ia memboncengi Sarah yang ingin minta dikawankan menuju warung terdekat. Erat sekali pelukan tangan Sarah pada pinggangnya, seakan tidak ingin lepas sama sekali. Padahal laju motor tidaklah begitu seberapa, hanya sebatas menjalankan motor saja. Andi tidak terlalu berani kebut-kebutan di jalanan menurun, terlebih lagi bukan daerah yang sering ia lewati.


“Lo kok diem-diem aja?” tanya Sarah. Ia melepaskan pelukannya dari Andi. “Lagi ngambek?”


Heran dong Andi kenapa anak ini tiba-tiba aja nanya begitu. Cewek memang susah dimengerti, sekali dimengerti, dia malah bilang semua cowok sama aja.


“Lah, emangnya kalau diam artinya ngambek?” tanya balik Andi.


“Iya, biasanya cowok gitu.”


Perasaan cewek lebih dari itu deh …. Andi menggeleng-geleng karena pertanyaan tidak masuk akal dari Sarah.


“Kan diam aja bukan berarti ngambek. Bisa jadi dia lagi lupa napas, terus narik napas sebentar. Lo ini serasa jadi anak Psikologi kaya Nanang, bisa tahu perilaku orang lain.”


“Ya kan bener lo ngambek,” balas Sarah.


“Ngambek dari mana sih sayangku?”


“Itu lo marah-marah nadanya.”


“Terserah lo deh, Sar.”


“Kan bener ….”


Percakapan absurd ini bikin Andi jadi pengen narik gas motor lebih kencang lagi. Hampir aja Sarah jatoh waktu tarikan pertama hingga dia marah-marah di jalan. Mereka akhirnya sampai di warung terdekat untuk membeli mie goreng variasi pedes untuk di makan malam ini. Sebenarnya bahan makanan tersedia di villa, tetapi para wanita lagi males masak dan enggak ada satu pun pria yang pengen masak. Jadinya, mereka lagi pada pergi keluar buat nyari pecel lele. Sementara itu Sarah nolak ikut dan hanya menitip saja. Selain itu, Sarah ingin makan mie super pedas untuk jadi makanan pembuka.


“Gue bilang jangan pedes-pedes. Nanti lo sakit perut,” saran Andi kepada Sarah ketika di perjalanan pulang kembali ke villa.


“Lo ngambek, fixed sih.”


“Sar, lo kaga jelas banget, aneh. Gue kaga ada ngambek, bego … emang gue pernah ngambek sama elo? Malah elo yang sering ngambek ke gue. Kaga usah aneh-aneh nih.” Andi kembali menoleh ke depan. “Kayanya lo bener-bener laper, jadi otaknya kacau.”


“Iya, gue laper. Cepetan pulang.”

__ADS_1


Dapur villa sekarang jadi arena bagi Sarah untuk beraksi memasak mie instan super pedes untuk dua porsi. Segala bumbu masak, sayur mayur, dan peralatan sudah ada di hadapan Sarah yang sedang bertegak pinggang. Ia seakan chef handal kalau lagi masak mie, padahal kan cuma masak mie. Anak SD aja palingan bisa. Andi pun ikut membantu masak. Sarah menyuruhnya untuk menggiling cabe. Menurutnya, cabe yang digiling pake tangan lebih nikmat daripada hasil blenderan.


“Ayo, semangat gilinnya!” ucap Sarah sembari memotong bawang.


“Ini mata gue pengen nangsi karena cabenya.”


“Ah gitu aja lemah. Cepetanlah, gue pengen masak ini.”


“Ya sabarlah dulu. Tangan gue bukan blender sekali pencet.”


Andi mengusap matanya pakai lengan karena matanya penuh dengan air mata. Bukan karena sedih, tetapi sensasi panas dari menggiling cabe.


Mie instan pun sudah jadi, Sarah menghidangkan mie instan kuah pedes di hadapan Andi. Kuahnya bener-bener merah dan sudah pasti pedes mampus. Andi dasarnya memang suka pedes, tapi kalau lihat yang beginian, bisa jadi KO setelah itu. Tatkala ia coba, ternyata enak juga. Ia tidak pernah meragukan kenikmatan mie instan buatan Sarah. Mereka makan sembari main PS Naruto. Sarah ingin membalas kekalahannya di pertarungan yang lalu.


Makan pun usai, Sarah berbaik hati mencucikan piring Andi ke bawah. Sementara itu Andi lanjut main PS sendirian. Sudah sekitar lima belas menit ia melanjutkan permainan PS, Sarah tidak kunjung kembali menemaninya. Heran bercampur gabut, ia mencari Sarah ke lantai satu.


Dari tangga kelihatan Sarah sedang membawa baju kotor di tangan. Langkahnya pergi menuju gudang belakang yang terdapat mesin cuci di dalamnya. Sudah jelas Sarah mau cuci baju, masa mau main bola. Andi pun iseng ngikutin Sarah dengan maksud menakut-takuti. Ia tahu Sarah masih terngiang-ngiang ceria hanti di villa ini.


“Kali ini lo gue bikin kaget. Hahaha,” ucap Andi pelan-pelan.


Sarah sudah masuk duluan ke gudang. Tatkala Sarah ke kamar mandi yang ada di sana, Andi diam-diam masuk dan menutup pintu gudang dengan pelan. Sengaja ia pukul-pukul pintu tersebut agar Sarah menjadi takut.


“Siapa itu?” Sarah merespon ketukan pintu gudang yang keras. Tetapi, tidak ada siapa-siapa yang membalas. Ia keluar dari kamar mandi dan mendapati gudang sudah dalam keadaan tertutup. “Siapa yang nutup ya? Ah, kali aja angin.”


“Gue kira gue takut hantu. Sini gue pecahin kepalanya!” Sarah mengambil ember kecil dan pergi menuju pintu. Bukannya Sarah yang terkejut, malah Andi yang kaget. “Kan bener elo. Lo kira gue takut diginin? Mampus lu!”


Berkali-kali Sarah mukulin Andi sama ember karena kesel udah ditakut-takutin begini.


“Ampun Sar, jangan pukul lagi. Sorry ….”


“Sekarang kelu⸺”


Mereka sama-sama melihat ke gagang pintu. Pintu sama sekali tidak mau terbuka, alias kekunci.


“Mampus kita, pintunya kekunci,” ucap Andi.


“Ih! Kan gara lo kita kekunci di sini. Mereka masih lama pula!”


“Ya kan gue kaga tahu. Untung aja gue enggak lo sendiri yang kekunci di sini,” balas Andi sembari mencoba menarik gagang pintu, tetapi tetap sama saja terkunci.


“Ya sudah, bantuin gue nyuci sambil nungguin mereka pulang.”

__ADS_1


Sarah pun menelpon Agus untuk segera memberitahu Pram kalau mereka terkunci di gudang. Sayangnya, Pram kesulitan menghubungi Bapak Santoso. Mungkin saja handphone-nya tidak sedang bersamanya. Oleh karena itu, mereka berjanji untuk segera kembali ke villa.


“Kurang baik apa gue lagi? Baju lo aja gue cuciin.” Sarah mengucek baju Andi yang sudah dari sore direndam olehnya.


“Iya, makasih banyak udah cuciin baju gue. Lo pacar gue yang paling baik.”


“Lo pacar gue yang paling nyusahin.”


“Itu mah nyindir.”


Mereka akhirnya selesai pada kegitan cuci-mencuci baju. Duduklah mereka di tepian dinding kaya orang merenung. Membosankan memang menunggu dalam waktu yang lama, hingga mereka pun terlampau gabut.


“Andi, kalau lo gue ajak nge-*** mau ga?”


Sontak Andi terbatuk mendengar hal tersebut. Setelah itu, ia memandang aneh kepada Andi.


“Apaan sih Sar, dari tadi lo aneh mulu.”


“Lo udah tidur sama cewek ga sebelum pacaran sama gue?” tanya Sarah.


“Sar, lo kenapa?”


“Enggak ada, gue penasaran aja seberapa nakal diri lo dulu.”


Andi merubah arah duduknya berhadap-hadapan dengan Sarah. Ia menggenggam tangan wanita itu dengar lembut, lalu menciumnya perlahan.


“Gue kaga pernah tidur sama cewek, kecuali tidur di ketek mama gue waktu kecil.”


“Kalau ciuman selain dari gue?” tanya Sarah. Ia menatap dalam-dalam mata Andi. “Jujur loh.”


“Pernah, sama mantan gue waktu SMA. Mantan gue waktu SMA, ya cuma Raisa. Itu aja kok.”


“Lo boleh kok ngelakuin apa aja sama gue.”


Kepala Andi pun memereng. “Maksudnya?”


Seketika Sarah mendorong Andi ke belakang, lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2