
Ungkapan
Sesuatu yang tidak bisa Andi jelaskan sendiri. Sesuatu permainan lama yang tiba-tiba ia rasakan kembali. Berbagai rasa yang pernah terjadi, berbagai bentuk hal-hal yang tercipta. Ia pernah menyentuhnya dahulu, terlalu lembut bagi dirinya hingga menyesap ke hati.
Kenapa hal ini sangat sulit dijelaskan? Tidak pernah memilih waktu untuk merekah. Tumbuh begitu saja tanpa disadari.
Benarkah ini yang dinamanya perasaan? Bukankah Andi sudah pernah merasakannya. Namun, perasaan yang kali ini berbeda. Tidak seperti yang pernah terjadi. Ia bingung untuk menentukannya. Kebenaran yang diragukan, atau hanya dirinya sendiri yang sulit untuk membenarkan?
Benarkah gua udah jatuh cinta? Atau gua sendiri yang ga menyadarinya.
Sejak kapan?
Apakah ini yang sebenarnya jatuh cinta?
Berdosakah jika gua bersikeras untuk tetap ga mengakutinya?
Pertanyaan-pertanyaan yang mencuat ia ikat untuk diberi jawaban di suatu hari. Masih butuh waktu untuk mencerna semuanya. Ia ragu jika perasaan itu cinta, atau hanya sekedar rasa berlebih kepada seorang teman. Ia tidak tahu ini semakin tumbuh atau sedang di titik stagnasi yang setelah itu akan turun hingga tidak berupa apa-apa. Ia juga takut jika rasa ini akan cepat hilang hingga ia malu jika terlalu cepat untuk mengakuinya.
Setelah mendengar berita mengejutkan dari Memet, Andi dan Tami langsung menuju rumah sakit yang dituju. Andi tidak peduli jika kelas yang dibelanya sedang mengalami tekanan yang kuat. Ia rela meninggalkan pertandingan itu demi melihat keadaan Sarah segera.
Lo berjanji sama gua kalau lo bakal datang saat gua nyetak gol, tapi lo bohong.
Langkahnya lemah saat mendaki setiap anak tangga rumah sakit. Setiap langkahnya tak luput untuk mengkhawatirkan wanita tangguh itu. Betapa cerobohnya dia hingga bisa mengalami hal ini. Selama ini Andi hanya tahu jika Sarah merupakan wanita yang sangat hati-hati.
Pintu kamar tempat Sarah dirawat akhirnya tampak. Seseorang berpakaian khas dokter baru saja keluar. Dengan cepat Andi menghampirinya.
"Gimana keadaannya, dok?" tanya Andi.
"Sangat parah. Ia sedang kritis. Ada bagian tulang tengkorak yang retak. Beberapa tulang yang sangat vital juga remuk. Saat ini sedang diadakan pemeriksa yang lebih lanjut. Hanya anggota keluarga saja yang boleh masuk."
"Gua mau lihat keadaannya sekarang!" Andi menerobos dokter.
__ADS_1
Dokter dan dua orang perawat laki-laki menahan tubuh Andi untuk menerobos masuk. Andi yang kalah tenaga tidak bisa bergerak masuk. Namun, ia tetap melawan sekuat tenaga.
"Sudah, Andi. Tunggu dia baikan dulu. Keadaan dia ga memungkinkan kita buat menjenguk." Tami menarik tangan Andi. Sentuhan tangn Tami cukup bisa menenangkan Andi.
Andi menatap Tami. Garis tangis yang sedari tadi tumpah, masih terus jatuh dengan deras. Pipinya basah oleh air mata yang menggenang. Ia tidak bisa membendung tangis, ini terlalu berat baginya. Orang yang baru saja menyentuh hatinya kini terkulai lemas di balik sana.
"Ga bisa ... gua cinta sama dia. Gua mau lihat dia walaupun di dalam keadaan terburuk sekali pun."
Cinta??? Tami melepaskan tangannya dari Andi.
Andi kembali berusaha menerobos masuk. Walaupun begitu, Andi tetap kalah jumlah dan tenaga. Beberapa saat kemudian datang seseorang yang menahan tubuh Andi.
Dengan sekuat tenaga ia menarik Andi untuk menjauhkannya dari pintu.
"Woi, lo ngapain ngamuk di sini?"
Andi mengenal pria itu. Itu adalah Memet sang pria paling tamvan tingkat kelurahan versi tempoe masa bocah.
"Gua mau lihat Sarah. Dia sedang kritis di sana."
Memet dengan cepat menepuk kepala Andi agar segera cepat sadar. Ia tertawa terbahak-bahak.
EH???????
Mendengar kalimat itu, Tami menutup muka pake tangan. Dari dulu sampe sekarang gobloknya sama aja. Ga ada beda sedikit pun. Udah pake nangis-nangis kaya orang gila di sini, eh malah salah kamar. Mau di mana nih letak muka.
Tangan Andi mengusap air matanya. "Jadi VIP, bukan VVIP?"
"Iya, lo salah denger tadi."
"Jadi gua salah, gitu?"
Tami geram melihat kegoblokan Andi yang luar biasa. Ia menarik tangan Andi buat menjauh dari dokter dan dua perawat. Malunya udah ga bisa ditahan lagi. Ingin rasanya meng-smekdon segera kaya Sarah lakukan kepada Andi jika gobloknya kambuh. Untung aja ga banyak orang yang lihat, hanya mereka saja.
"Kamu itu goblok banget, sih? Malah salah kamar. Malu tau!!!" Tami menuntun Andi menuju ke kamar yang dituju.
__ADS_1
"Iya, maap. Kan gua salah denger."
"Ih, nyesal aku udah kasihan sama kamu tadi. Ih kesel!!! Anjir!!!"
EH? Tami barusan bilang apa??? .... Tumben banget.
"Ini seumur hidup aku bilang kata kasar!" kata Tami. Ia mencengkram tangan Andi sekuat tenaga. "Plis jangan coba-coba bikin aku bilang itu lagi, ***!!!"
Dua kali???? Lo belajar bicara itu dari mana??? Pasti gara bergaul sama Sarah nih ...
Tangan Andi perlahan membuka pintu kamar tempat Sarah dirawat. Dinginnya gagang pintu sama dengan dingin tangannya saat ini. Wangi pengharum menyeruak seketika saat dirinya melangkah masuk. Sarah terkulai lemah di atas ranjang rumah sakit. Sebuah selang infuse menancap ke tangannya.
Seorang pria gemuk yang tak muda lagi berdiri menyambut kami. Senyum lebarnya persis dengan Sarah punya.
"Selamat datang, untung kalian ke sini. Tolong jaga Sarah sebentar, Om mau ke bawah dulu."
Papa Sarah melangkah keluar kamar. Ia tak ingin menganggu kegelisahan mereka atas hal yang menimpa Sarah. Ia biarkan Andi, Tami, dan Memet melepas rasa cemasnya.
Mata Sarah lemas menatap temannya yang datang. Kepalanya masih terasa berat untuk diangkat. Benturan tadi terasa begitu keras hingga membuat dirinya tak sadarkan diri. Entah apa yang membuatnya begitu ceroboh hingga tak melihat ada pengendara lain yang sedang melintas. Satu hal tujuan terakhir yang ia ingat ...
Gue pingin ngelihat lo nyetak gol untuk gue.
Tangannya disentuh oleh Andi. Lekukan garis sempurna dari bibirnya menyiratkan rasa sedih yang tak cukup ia ungkapkan melalui tangis. Bahkan tangan pria itu bergetar dibalik dingin yang menjalar. Mungkin tatapan Sarah masih lemah untuk melihatnya dengan sempurna, tapi ia sadar bahwa ada orang yang begitu peduli denganya.
"Sarah, lo janji buat liat gua waktu nyetak gol, kan?" tanya Andi sambil menyelipkan helaian rambut Sarah ke belakang telinga. "Lo bohong sama gua."
"Bukannya turnamen belum selesai? Kelas kita belum kalah, kan?" Sarah bertanya balik. Suara terlalu lemah untuk diucapkan.
"Kekhawatiran gua ke lo lebih besar daripada menanggung pilu karena kalah di pertandingan."
Sarah berusaha untuk tertawa. "Dasar, sok puitis!"
"Sarah," panggil Andi.
"Iya?"
__ADS_1
"Gue suka sama lo."
***