Andi X Sarah

Andi X Sarah
10. Baku Hantam (SEASON 2)


__ADS_3

Baku Hantam


Masih ingat dalam ingatan tawuran besar antara SMA-nya Andi dan SMK-nya Memet yang menimbulkan dendam yang kesumat di antara dua kubu tersebut. Berkali-kali kalah, akhirnya mereka bisa menang sewaktu Antophosfer masih dipimpin oleh Bang Ali, senior dua tahun di atas mereka. SMK-nya Memet bisa sekuat itu hanya dengan satu kelompok saja, tanpa membawa geng-geng yang masih berada di sekolah mereka itu.


Dalam hal jumlah, mereka hanya berjumlah belasan orang. Namun, jika melihat dengan cara bertarung, mereka tidak bisa dianggap enteng. Senior-senior mereka berhasil melambungkan nama SMK mereka sebagai SMK permesinan yang paling ditakuti se-kota.


Ditambah lagi dengan bergabungnya Memet yang sangat handal dalam berkelahi, nyali-nyali lawan menjadi ciut jika mendengar nama sekolah mereka. Bahkan, satu-satunya orang yang berani menyentuh Kevin hanyalah Memet seorang. Kevin dikenal sebagai pentolan berandalan yang memimpin Kodomo, Kedai Domino Momon. Andi saja pernah babak belur dan berpikir dua kali jika berurusan serius dengan Kevin.


Memet tidak hanya handal dalam berkelahi, namun juga lihai dalam memimpin. Bukti nyata dari hal itu, ia memiliki banyak pengikut yang berjalan di belakang langkahnya. Tidak salah senior terdahulu memberi mandat kepemimpinan Prebep kepada Memet.


Semuanya hilang ketika para senior tamat dan meninggalkan sekolah mereka. Anggota Prebeb memang sebagian besar merupakan para senior, sebagian kecilnya ialah pengikut Memet dan beberapa junior mereka. Prebeb mulai kehilangan kekuatan dan taringnya.


Satu hal fatal yang menjadi titik kemunduran mereka ialah dominasi satu kelompok kuat yang berasal dari anak kelas 10 yang baru masuk di SMK permesinan. Mereka berhasil mempengaruhi angkatan mereka untuk bergabung ke Ghost Night, bahkan beberapa anak kelas 11 dan 12 juga. Pengikut Memet yang berasal dari kalangan kelas 10 dan 11 mulai berpindah satu per satu, hingga hanya menyisakan beberapa orang saja dari angkatannya yang masih setia dengan Prebeb.


Jika urusan nyali, Memet bisa saja menyerang satu kedai tongkrongan mereka hanya dengan sendirian. Namun, Memet tahu hal itu hanya sia-sia dan berakibatkan kepada kekalahan. Kekuatan Ghost Night tidak hanya mereka saja, mereka merupakan pecahan dari kelompok geng motor yang menanam rasa benci terhadap Prebeb, yaitu geng motor yang menguasai sekitaran lingkungan SMK. Salah satu orang berpengaruh di dalamnya ialah Wandra, sang penyebar skandal itu.


"Maaf. karena hal itu, gue enggak bisa," ucap Memet dengan nada rendah.


Kopi mereka berdua sudah habis dan hanya meninggalkan ampas di dalamnya. Lebih dari lima batang rokok yang dihabiskan untuk membincangkan hal itu. Namun, apalah daya ketika Memet menolaknya.


"Oke, gue ngerti kalau lo nolak." Ia menghabiskan hisapan terakhirnya. "Tapi, gue masih enggak terima Prebeb bisa kalah sama kelompok Ghost Night."


"Apa boleh buat? Gue juga senang masih ada beberapa teman setia gue. Kami jadi lebih sering terhindar dari masalah. Kami bisa tenang duduk di kedai ini," balas Memet.


"Bukan malasah itu, tapi masalah harga diri. Prebeb bertahun-tahun menguasai sekolah kalian. Bahkan, kami takut sama kalian waktu dulu."

__ADS_1


Memet tertawa kecil ketika mengingat masa-masa itu. "Hahaha ... kejayaan selalu ada akhirnya."


"Gue seperti enggak bicara dengan Memet yang gue kenal." Andi berdiri dari duduknya.


"Inilah gue sekarang. Mau enggak mau lo harus terima," jawab Memet.


Mata Andi menatap tajam Memet. "Jika lo butuh bantuan, Antophosfer selalu ada."


"Gue enggak butuh pertolongan kalian."


Percakapn tersebut berakhir buntu. Andi dan Felix pulang tanpa hasil. Tidak ada jalan lain selain meminta tolong kepada Memet. Namun, keadaan saat ini tidak memungkinkan untuk meminta tolong kepada mereka.


Motor supra maut Andi berjalan lambat di sebuah jalan beraspal di dekat SMK permesinan. Dari kaca spion terlihat beberapa pemuda sedang mengikuti mereka. Andi sadar jika di sekitar ini, banyak anak-anak yang agak sensitif sama motor yang modelnya kaya motor Andi. Apalagi knalpot berisik yang makin membuat risih preman-preman di sekitar sini.


Andi mengangguk karena menyadari hal itu dari tadi. "Apa pun yang terjadi, bersikap tenang aja. Jangan takut. Paling mereka bakalan pergi kalau udah keluar dari kawasan mereka."


"Kalau mereka tetap ngikutin kita terus, gimana?" tanya Felix.


"Yaa .... Dihajar lah. Siapa takut?" tantang Andi.


"Yaelah ... rasanya gue pengen tobat tawuran."


"Hidup itu keras ....."


Beberepaa remaja yang ngikutin mereka tidak kunjung pergi. Salah satu dari mereka malah menyamakan laju motor di samping motor maut Andi. Untuk tetap bersikap tenang, Andi tidak melirik sedikit pun ke arah mereka. Padahal, Andi tahu jika mereka sedari tadi ngelirik tajam kepada Andi dan Felix.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mereka membanting stir ke kanan dan hampir mengenggol motor Andi. Felix hampir jatuh, untung saja bisa mengatur keseimbangan.


"Berhenti lo!!!!" teriak mereka.


Aden ang gituan, anjiang!!!! ucap Andi dalam hati dengan berbahasa Minang.


Gue yang lo gituin, anjing!!!


Andi menepi dan melepas helm untuk menatap tajam mereka. Satu motor lagi yang mengikuti mereka tiba dari belakang. Jumlah mereka yang berempat tidak menyiutkan nyali Andi, tapi Felix aja yang agak pucat ngelihat wajah mereka yang sangar-sangar.


"Mau apa lo?" tanya Andi. "Lo kira bapak lo yang punya jalan?"


Mata Andi melirik ke motor modifikasi yang mereka gunakan. Terdapat sebuah stiker bertulisan Ghost Night. Sudah dipastikan mereka merupakan geng motor yang dikatakan oleh Memet.


"Lo kira jalan ini juga punya bapak lo? Knalpot lo bisa selow dikit, ga?"


"Emangnya kenapa knalpot gue? Knalpot mahal, lo ga bakalan bisa beli."


Merasa direndahin, salah satu dari mereka langsung menendang perut Andi. Hantaman yang kuat di ulu hati mengakibatkan Andi tidak bisa bangun kembali. Ia mengerang kesakitan di trotoar jalan. Felix terpaksa berkelahi sendirian. Ia bisa menang melawan dua orang karena postur tubuhnya yang jangkung, namun tidak dengan dua orang lagi yang baru saja tiba.


Berkali-kali Felix jatuh bangun untuk melindungi Andi yang tidak bisa bangun. Walaupun sebenarnya ia takut, namun ia tidak bisa membiarkan Andi yang terkapar di trotoal. Ia menghantam mereka satu per satu, walaupun serangan balasan lebih terasa menyakitkan.


Kemampuan Felix tidak bisa menyamai jumlah mereka berempat. Tangannya terasa ingin patah karena dihantam berkali-kali. Hidungnya sudah berdarah, serta matanya terasa membengkak. Ia tersungkur di samping Andi yang masih tidak bisa bergerak. Andi mulai dihantam karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka berdua menjadi bulan-bulanan anggota Ghost Night yang berjumlah lebih banyak dari mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2