Andi X Sarah

Andi X Sarah
17. Adik Kelas (SEASON 2)


__ADS_3

Adik Kelas


Informasi mengenai rencana mereka mengerjakan karya sudah diberikan di group chat bimbingan. Sore hari setelah bel berbunyi, Andi dan adik bimbingannya bersiap-siap untuk pergi ke rumah Naila. Sebenarnya Andi malas banget buat yang beginian, tapi kan ini tanggung jawab dan tidak bisa dielakkan lagi. Bandel-bandel gini Andi pengen belajar buat bertanggung jawab penuh dengan tugas penting yang sudah ia emban.


Kelompok bimbingan Andi cuma ada satu orang cowok adik bimbingannya, selebihnya merupakan perempuan. Yang bikin Andi ga bisa konsentrasi ialah adik bimbingannya yang cewek-cewek ini bisa dibilang cantik. Andi sering ga fokus kalau ngumpul, pasti pikirannya entah ke mana-mana.


"Plis, kami ikut, ya ...." Agus memohon kepada Andi.


Nanang satu pemikiran dengan Agus karena pengen kenalan sama adik-adik bimbingan Andi. Sementara itu, Felix hanya diam tanpa meminta buat ikut. Memang, di antara mereka berempat, cuma Felix yang enggak banyak omong.


"Enggak boleh, lo kira gue mau pergi main?" balas Andi.


"Ya, kan kita pengen kenalan sama adik-adik itu," balas Nanang.


Felix menarik Nanang dan Agus. "Eh, kalian emang enggak punya malu, ya. Ngapain ke sana segala?"


Tangan Agus menyingkir dari tarikan Felix. "Gue kadang mikir lo itu gay. Coba kenalan sama cewek gih ...."


"Eh, kalau gue mau, Sarah bisa gue pacarin," balas Felix.


Andi langsung memandang ke Felix. Memang sih, Felix lebih ganteng dan lebih kaya dari dirinya. Banyak cewek yang suka sama dia. Terutama cewek yang suka sama cowok cool.


"Pokoknya enggak boleh." Andi melambai kepada mereka. "Gue pergi dulu."


Langkah Andi bergerak menuju parkiran karena adik-adik bimbingannya sudah menunggu di mobil Andi. Keempat adik bimbingannya yang cewek berencana menumpang di mobil Andi karena mereka enggak bawa kendaraan, termasuk Naila sendiri. Sementara itu, Ajiz berencana bawa motor sendiri ke sana.


Kalau Agus dan Nanang tahu semua cewek numpang ke mobil Andi, bisa-bisa dia dicegat nih sama mereka.


"Ayo, cepet masuk. Sebelum mereka tahu," ucap Andi ke Naila.


"Mereka siapa?" tanya Naila.


"Lo tahu sendiri kan temen gue, apalagi kalau kalian numpang mobil gue."


"Temen lo jones amat," balas Naila.


Tangan Andi membuka pintu. "Nah ... lo tahu tuh."


Andi  pergi menuju ke tekape sambil harap-harap digengbeng sama adik bimbingan. Walah *** sekali Andi sendirian di tengah gerombolan dedek-dedek cakep di mobilnya. Apa enggak ke mana-mana tuh pikiran. Untung aja Andi masih ngingat Sarah biar enggak keceplosan ngegoda adik-adik.


Sesampainya di rumah Naila, Andi langsung duduk sembari ngerokok di gazebo taman rumahnya. Ternyata ni anak tajir juga. Rumahnya lumayan gede kaya rumahnya Tami. Ditambah lagi ada gazebo buat nyante-nyante.


"Lo kok ngerokok, sih?" tanya Naila.

__ADS_1


Andi menyodorkan rokoknya. "Kalau lo pengen, yaudah ambil aja."


"Ih *** ... serasa rumah sendiri, ya?" tanya Naila agak emosian.


"Bodo."


Andi menyodorkan rokoknya ke Aziz. Barangkali dia mau ngerokok. "Jiz, kalau lo mau ambil aja. Ga usah segan-segan sama gue."


"Oh, makasih, Bang."


Alhasil, mereka nyebat berdua selagi nungguin anak perempuan nyelesaiin karya mereka.


Andi dan Ajiz enggak ikutan bikin karya soalnya tangan mereka kasar banget. Bukannya bantuin, nanti malah ngerusak. Jadinya, Naila ngelarang mereka ikutan. Biar aja mereka yang bikin karya.


Terlihat tangan lihai mereka merakit koran yang sudah dipilin dan disusun menjadi pot bunga berukuran sedang. Anak cewek memang handal kalau bikin yang kaya gini. Beda sama Andi yang handal dalam obrak-abrik motor.


"Pasirnya mau dikasih apa?" tanya Andi.


"Lo ada pasir kucing, ga?" tanya Naila.


"Emang ada ya pasir kucing?" tanya balik Andi.


Tangan Naila kembali pada tugas yang ia emban. "Ya ada lah ... lo katrok banget ga tau."


"Biar gue yang beli," ujar Ajiz. "Gue juga punya kucing. Sekalian beli buat punya kita."


"Nah, gitu, dong." Mata Naila menatap sinis kepada Andi.


Ni anak lama-lama mirip Sarah, ya?"


Kelakuan Naila memang rada-rada mirip Sarah. Apalagi kalau lagi ngegass. Cuma, Sarah itu lebih berotot dan lebih perkasa. Gimana enggak perkasa? Kerjaannya tiap hari ngelatih anak-anak karate.


Andi meminta izin untuk membuat kopi di rumah Naila. Mumpung orangtua Naila lagi enggak ada, jadi ia dengan leluasa bergerak di dapur. Dengan senang hati Andi juga meracik kopi untuk Ajiz. Ternyata anak itu punya selera yang baik untuk menikmati senja, yaitu dengan secangkir kopi dan sebat.


Aroma kopi menyeruak di gazebo ketika mereka memutar sendok pada cangkir. Serbuk-serbuk kopi bergerak memutar di atas permukaannya yang hitam pekat. Suara seruputan kopi Andi terdengar, disusul oleh desah Andi yang terlihat nikmat sekali dengan kopi tersebut.


Entah kenapa setiap dua orang yang sedang mengopi seakan memiliki ikatan batin yang tib-tiba. Suasana yang kaku menjadi cair tak bertepi. Senyum melebar hingga ke sudut maksimalnya ketika Ajiz menatap langit barat yang mulai menguning. Ia yang sedari tadi menjaga sikap dengan Andi, kini sedikit lebih luwes dalam memulai percakapan.


"Gue denger dari temen-temen gue, kita sering ikutan tawuran, ya?" tanya Ajiz.


Andi meletak cangkirnya. "Ya, itu dulu. Sekarang enggak lagi."


"Antophosfer itu apa, Bang?" tanya Ajiz.

__ADS_1


Mata Andi langsung menatap tegas. Setahunya, nama Antophosfer itu sangat rahasia dan hanya orang tertentu yang mengetahuinya. Orang-orang biasa seperti Ajiz dan yang lain tidak diperbolehkan untuk tahu. Kenapa bisa begitu? Itu sudah menjadi peraturan yang turun-temurun dari para senior terdahulu.


"Apa, ya? Gue enggak tahu."


"Oh, gitu ... soalnya temen gue pernah cerita itu."


"Siapa?" tanya Andi.


"Temen sekelas gue cerita kalau ada perkumpulan berandalan yang megang sekolah, trus mereka yang wajib turun kalau ada tawuran."


"Oh, gitu ...." Andi menghembuskan rokoknya. "Gue kurang tahu soal Antophosfer. Tapi, kalau tentang tawuran, gue tahu itu. Kita dulu sering tawuran sama anak SMK sebelah."


"Katanya ada anak angkatan gue yang pengen ngehancurin Antophosfer."


Andi langsung terbatuk ketika berusaha menyeruput kopi hitamnya. Baru kali ini ia mendengar pernyataan seperti itu. Selama ini, tidak ada satu orang pun preman di sekolah yang berani mengusik nama Antophosfer.


"Walaupun Antophosfer itu ada, emang dia bisa?" tanya Andi dengan tenang.


"Ga tahu juga. Rumor-rumornya, dia jago kelahi."


Handphone Andi berdering ketika Ajiz menjawab pertanyaannya. Terlihat nama Agus tertera di layar. Ia dengan cepat mengangkatnya.


"Udah gue bilang, kalian enggak boleh ke sini," kata Andi.


"Bukan itu, ***!!!"


"Lah, ngegass? Jadi apa?"


"Arman babak belur dihajar!"


"SAMA SIAPA?"


"Ga tau ... katanya sama anak kelas 10."


"LAH KOK BISA? Itu Arman loh!!! Bukan kaleng-kaleng."


"YA MANA TAHU GUE! Gue lagi di kedai, Arman ngadu ke sini."


"OTW ***!!!!"


Tidak ia pedulikan adik kelasnya yang sedang sibuk, Andi langsung pergi tanpa meminta izin.


***

__ADS_1


__ADS_2