Andi X Sarah

Andi X Sarah
11. Prebep (SEASON 3)


__ADS_3

Kesal di dalam hati Andi masih belum hilang dikarenakan Sarah setuju dengan rencana Pram yang akan pergi. Pram pergi bersama kedua sahabatnya sebagai syarat mereka untuk mendapatkan villa gratis. Sarah dengan senang hati bersalam ria untuk deal negosiasi tersebut. Bagaimana tidak senang kalau mendapatkan villa gratis, mengingat liburan kali ini akan menghabiskan banyak dana dalam penyewaan villa. Ditambah lagi Sarah akan menanggung biaya dari Memet. Dengan adanya villa gratisan ini, Sarah menjadi lebih terbantu.



Andi tetap saja tidak suka dengan keputusan tersebut. Baginya, harga diri begitu tercoreng ketika berhubungan dengan Pram dalam hal seperti ini. Ia tidak rela Pram ikut dan lebih memilih untuk membayar dengan harga mahal. Pram adalah rival dan Andi tidak ingin kalah darinya. Ya mau gimana pun, dari berbagai bidang Pram jauh banget unggul dari Andi. Mau dari segi muka, Andi kalah mulus. Dari segi uang, Andi cuma seorang beban keluarga dengan kedok gembel yang ngabisin duit tiap hari. Dari segi kepintaran, Andi sampe bikin Sarah ngamuk gara-gara diajarin kaga-kaga ngerti. Dari segi kendaraan, Andi sehari-hari cuma pakai motor butut dan gobloknya dia enggak mau minta dibeliin motor bagus.



Ya begitulah Andi dengan segala keabsurdannya. Mau dikatain kaga ganteng, mantannya bernama Raisa adalah orang tercantik pada zamannya. Lagi-lagi Andi masih kalah dari Pram karena Raisa juga mantannya Pram. Mau dikatain cupu sama cewek, Sarah aja berani dia lawan, padahal Sarah itu ada mode huluknya. Lagi-lagi Andi pernah hampir kalah karena Pram berhasil ngedeketin Sarah waktu SMA. Mau dikatain kere, Andi juga dari kalangan keluarga yang kaya, tapi dia aja yang enggak pandai bergaya dengan fasilitas finansial dari kedua orangtuanya. Lagi-lagi Andi kalah dari Pram kalau soal itu. Kan Babang Pram udahlah anak orang kaya, sekarang jadi abdi negara idaman calon mertua.



Acara dirumah Tami diakhiri dengan nyanyian mesra yang menghancurkan telinga dari Kevin. Kevin yang badannya gede udah kaya tokoh Jaiyen di kartun doraemon. Sarah malah senang ngelihat Kevin lucu-lucuan di atas pondok bambu halaman rumah Tami. Sarah juga nyawer Kevin pakai sebatang rokok punya Andi.



“Makasih banget ya temen-temen. Gue senang banget kalian datang,” ucap Sarah sambil membungkuk hormat tatkala teman-temannya mulai pamitan pulang.



“Oke … gue pula⸺” Andi seketika menoleh ke samping tatkala Sarah mencubit pinggangnya


.


“Rumah sejengkal malah minta pulang. Lo nanti dulu pulangnya biar kita bersih-bersih dulu.”


“Yauda … gass …,” balas Andi.


__ADS_1


Pram dengan senyum lembut banget kek marshmellow saling bertatapan dengan Tami. Andi ngelihat curiga dari kejauhan sambil mikir satu hal, yaitu gigi Pram putih banget kek gigi-gigi seleb. Beda sama Andi yang masih ada nyangkut cabe, itu pun kalau enggak disindir sama Sarah, cabe itu masih nempel sampe sekarang. Andi bingung itu Pram perawatan gigi di mana. Mau nanya malah segan karena takut harga diri tumbang.



“Gue pulang dulu. Kalau ada perubahan tentang liburannya, hubungin gue aja. Kalau soal gue, Kevin, ama Revin itu mah aman. Gue jamin mereka ikut kalian,” ucap Pram.



“Iya, Kak. Kalau ada apa-apa, nanti aku *chat* aja Kakak.”



“*Goodnight* …”



Mendengar salam terakhir itu, Sarah dan Andi sama-sama muntah di dalam hati. Author juga enggak tahu giman atuh muntah di dalam hati. Sementara Tami, malah senyam-senyum waktu ngelihatin Pram pergi. Gimana enggak baper kalau digituin sama orang karismatik kaya Pram. Namun, di antara orang senyum hari ini, di antara orang yang pengen muntah malam ini, ada satu orang yang terpecah hatinya. Ia duduk di ayunan sambil ngerokok, itu pun rokoknya minta sama Kevin dulu. Matanya terus menatap Tami yang lagi baper. Helaan napas Memet begitu berat kaya laju motor butut Andi yang pernah enggak di-*service* berbulan-bulan.



Iya, sih pahit di akhir bulan. Tapi kan bukan itu konsepnya.


Sepahit-pahitnya kopi malam ini, lebih pahit kisah yang terjadi diantara iringan kenangan manis. Ia terjebak dalam dialektika paradoksal, mencoba meraih kata-kata yang bergelantungan di langit sana, lalu disusun sebagai bentuk teriakan patah hati. Cowok kalau lagi patah hati bisa-bisa jadi pujangga dalam satu malam. Contohnya Author cerita ini.


“Bengong aja kek monyet minta kawin.” Andi ngomong asal-asalan.


“Setahu gue kalau monyet minta kawin malah jadi agresif. Gobloknya elu enggak berubah, Ndi,” balas Memet.


“Mikirin apa, sih?” tanya Andi sambil membakar rokok. “Gue di sini dulu deh. Kalau masuk, malah disuruh bersih-bersih sama Sarah.”

__ADS_1


“Enggak ada, lagi pengen menikmati malam aja.”


Andi mengangguk. “Oh gitu … ngomong-ngomong, gimana kabar Prebep. Udah lama gue enggak ngelihat kalian.”


“Kira-kira hampir sama deh sama Kodomo. Gue denger Kodomo yang ngumpul cuma orang itu-itu aja.”


“Hmm … semakin dewasa kita makin sibuk sama diri masing-masing, ya ….”


Tawa Memet terpancar mendengar kalimat Andi yang terkesan bijak. “Zaman udah berubah, biarin aja penerus yang ngelanjutin apa yang udah kita mulai di sekolah dulu. Prebep udah bubar semenjak kuliah.”


Kalimat tersebut mengejutkan Andi. “Apa? Apa gue enggak salah denger?”


“Preman Belum Pensiun, geng yang pernah terkenal pada masanya, terutama sekitaran SMK Permesinan. Gue sendiri yang jadi ketua dan paling disegani di SMK. Tapi, lo harus tahu kalau kita enggak lagi di sekolah. Ya biarin aja yang nguasain sekitaran SMK adalah adik-adik kelas gue.”


“Iya, gue tahu dominasi kalian bakalan tergantikan sama adik-adik kelas. Gue dan Kodomo juga gitu, bahkan gue sampe sekarang enggak tahu siapa yang lagi megang sekolah. Tapi, gue kaget kalau Prebep sampe bubar.”


“Bisa dibilang begitu. Lo tahu sendiri kan kalau anak SMK itu banyak yang langsung kerja. Banyak di antara kami yang fokus kerja, jadi banyak juga yang enggak nongkrong lagi. Tapi, gue bersyukur masih ada yang masih setia sama gue.”


“Kalau masih nongkrong, itu mah belum bubar. Ampir sama kaya Kodomo yang orangnya itu-itu aja,” balas Andi.


Memet merespon dengan menggeleng.


“Prebep bukan lagi Prebep. Preman Belum Pensiun sekarang bener-bener pensiun. Kami janji enggak lagi jadi preman kaya dulu.”


“Wow, satu kata keren dari dari Memet malam ini.” Andi menepuk dada Memet. “Udah lama banget kita enggak duduk berdua kaya gini. Padahal dulu waktu kecil sering banget.”


“Iya, tepatnya di pondok bambu itu. Tami sering banget digigit nyamuk dan ngeluh sama gue.”


Mata Memet mengarah kepada Tami yang baru aja keluar dari rumah. Seketika itu pula ia pun sadar pada realita, bahwasanya bumi sedang menginginkan langit.

__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2