
Entah berapa lama Andi tidak berkelahi. Semenjak tamat dari SMA, ia sama sekali tidak lagi menggenggam tangan untuk memukul seseorang. Situasi itu didukung karena tidak ada lagi peristiwa-peristiwa yang mengancam, sebagimana yang sering terjadi dahulu. Namun, keberanian tidak pernah luntur dari diri Andi. Lingkungan di tengah anak-anak berandal telah menumbuhkan hal tersebut. Andi masih bisa merasakan adrenalin yang sama tatkala menatap musuh-musuhnya.
Keempat preman tersebut meninggalkan pekerjaan mereka yang sedang mengitung uang. Fokus mereka berganti kepada salah satu temannya yang terjerembab ke belakang. Andi langsung berlari ke depan untuk menyerang sisanya. Satu kali tinjuan dan dua kali tendangan bersarang kepada musuh. Posisi berganti di tengah tatkala mereka mengelilingnya. Karena merasa terancam, Andi berusaha melepaskan diri dengan berlari kencang menuju tempat yang lebih luas.
“Ayo, maju satu-satu. Kevin aja takut sama gue!” Andi berceloteh enggak jelas. Belum tentu juga kan preman-preman itu tahu sama Kevin. Lagi pula, mana ada sejarahnya Andi menang sama otot Kevin sebesar nangka.
“Woi bocah! Belum tahu kami aja lo, ya!”
“Sini gelud jangan diem aja di situ!”
Kalimat Andi membuat mereka semakin berang. Secara bersamaan preman-preman itu menyerang Andi. Satu orang yang Andi hindari sebisa mungkin ialah preman yang menggenggam pisau. Sekali tertebas, Andi sudah pasti terkapar tidak bisa apa-apa. Seragan bertubi-tubi Andi rasakan dari mereka, meskipun masih bisa ditangkis berkali-kali. Namun, Andi tetaplah manusia biasa tanpa kekuatan super ngeluarin jarring seperti sapidermen. Berkat itu, Andi pun kabur sekencang-kencangnya.
“Katanya gelud!” Preman itu mengejar Andi.
“Anjir, kalian keroyokan!” Andi menoleh ke belakang untuk memastikan jarak mereka.
Tendangan dari belakang menghantam tubuh bagian belakang Andi. Andi dihimpit oleh preman bertubuh besar dan dihantam dengan kepalan tangan tepat di wajah. Dua yang lain menendang Andi di bagian perut. Sementara preman berpisau tengah menyiapkan diri untuk menusuk Andi.
“Tunggu dulu, kasih gue napas!”
“BACOT!”
Kaki Andi tepat menempel ke kepala preman yang menghimpitnya. Lalu, ia menyerang dua preman yang lain. Merasa kesal karena dihimpit sama celana jeans kotor, Andi melancarkan tendangan fustal terkuatnya hingga musuh berlutut karena mengenai ulu hati.
“Tunggu dulu, gue napas bentar. Udah lama enggak gelud, nih!” Andi bertegak pinggang sambil ngos-ngosan. Ternyata kelahi lebih ngebuat capek daripada main futsal dua jam. Selain terus bergerak, adrenalin semakin dipacu, ditambah lagi mereka bawa pisau.
“Ah, bacot mulu lo!” Ia melancarkan pisaunya.
Tangan Andi sontak menggenggam tangan preman tersebut hingga pisaunya tidak jadi mengenai perut. Darah Andi seketika berdesir karena hampir saja nyawanya melayang. Bisa-bisa, rumah Andi dijadikan ajang tahlilan malam nanti dan temen-temennya dapet nasi berkat. Parahnya, Nanang pasti ngambil dua kotak.
“Satu peraturan kalau pertarungan jalanan.”
Andi memukul tangan preman tersebut. Pisaunya langsung tercampak ke tanah.
__ADS_1
“Jangan pakai senjata!”
Mata Andi menoleh ke preman lain yang bangkit dari rasa sakitnya di ulu hati. Tanpa ia duga sebelumnya, preman-preman tersebut mengeluarkan pisau yang mereka sembunyikan di balik celana. Andi hanya memakai tangan kosong dan sangat riskan sekali untuk menghadapi musuh bersenjata. Merasa terancam nyawanya, Andi benar-benar kabur pakai kaki seribu. Tidak peduli apa yang ada di depan, pokoknya Andi berusaha keluar dari kawasan hijau.
“Jangan kabur lo!” teriak preman tersebut di belakang.
“Ga kabur gue yang mati, guoblok!” Andi mengeluarkan jari tengahnya.
Gerbang kawasan sudah tampak di sana. Saking kecangnya Andi berlari, para remaja yang lagi di pojokan berdua jadi takut. Mereka enggak jadi melancarkan aksi untuk membara di dalam cinta yang hangat itu.
Terlihatlah tiga orang yang sedang berdiri menghadap kawasan hijau tepat di gerbang. Andi terkejut karena mereka merupakan anak kodomo yang dipimpin oleh Ajiz. Tangan Andi melambai cepat, bukan karena meminta bantuan, melainkan menyuruh mereka juga kabur.
“Nah, itu si Andi.” Ajiz menunjuk segerombolan orang yang lagi main kejar-kejaran. Main kejar-kejaran sih, tapi sekali dapet, bisa kena bacok sama pisau. “Ayo, kita bantu.”
Andi menambah kecepatan larinya. “Lari \*\*\*!”
“Apa kata dia?” tanya Ajiz sama kedua teman yang lain. Namun, teman-temannya tersebut hanya mengangkat bahu karena tidak tahu.
Mata Ajiz fokus kepada empat orang preman yang tengah menggenggam pisau. Andi kembali berteriak untuk meminta mereka kabur segera. Seketika mata Ajiz melotot dan pupilnya melebar tatkala menyadari preman-preman itu sedang bermental membunuh.
“Kabur, \*\*\*. Beneran kabur, dah!” Ajiz menepuk-nepuk pundak temannya,
“Kabur!!!!”
Eh, niat mau nyelamatin Andi malah jadi kabur karena ngelihat preman bawa pisau. Ajiz bisa dibilang hampir sama kemampuan tarungnya dengan Andi pun tidak bisa menghindari ketakutan tersebut. Ia malah jadi paling cepet di antara mereka berempat.
“Ikuti gue, Bang!” Ajiz mendahului Andi. “Cari tempat ramai biar mereka enggak ngeluarin pisau.”
“Beneran juga biar dipanggil polisi!”
Ajiz membawa ketiga temannya tersebut ke kawasan pertokoan yang ramai. Aksi kejar-kejaran tersebut sungguh menguras tenaga, hingga Andi sempat-sempatnya ngeluh pengen minum. Padahal nih, nyawanya lagi terancam karena bisa dibacok sama preman itu. Tatkala sampai di kawasan pertokoan, kedua temannya Ajiz malah ketangkap sama preman, meskipun mereka masih bisa membela diri untuk tidak dibacok.
“Kita enggak bisa ngehindari, nih. Harus gelud segera!” Andi melesat menolongi temen-temen kodomo.
__ADS_1
“Benar, preman-preman itu enggak bakalan berhenti sebelum kita dapet.”
Ajiz melompat ke arah musuh dan langsung membuat wajah preman tersebut membiru. Ia melepaskan genggaman preman kepada kedua temannya, lalu menendangi musuh satu per satu. Stamina Ajiz terkenal tidak ada habis-habisnya, ia masih sanggup bertarung dengan brutal. Andi pun turut membantu Ajiz. Tatkala preman tersebut terjatuh, Andi langsung melayangkan tendangan futsal tepat di wajah. Sebisa mungkin Andi menjauhkan pisau yang tercampak agar mereka bisa menghadapi musuh tanpa senjata.
“Sial! Lo bawa temen!” Preman tersebut berusaha mengambil pisaunya. Namun digagalkan oleh Andi yang menendangnya.
“Kalian bawa senjata. Dasar banci!”
Aksi jual beli serangan tangan kosong pun terjadi cukup lama. Para pejalan kaki tampak menghindar sebagian dari mereka merekam aksi tersebut. Hantaman serangan membuat tubuh tercampak berkali-kali, baik dipihak preman maupun Andi. Tong sampah jadi berserakan karena terkena pentalan tubuh mereka. Toko-toko di sekitaran terpaksa tutup agar menghindari perkelahian sampai ke dalam toko.
Napas Andi ngos-ngosan sekali. Udahlah perutnya tambah buncit, dipaksa bergerak abis-abisan. Ajiz masih tenang-tenang aja menghantam ke segala arah karena Ajiz masih memiliki tubuh yang kurus.
“Ini mereka kapan tumbangnya, sih!” Andi mengeluh setelah wajahnya kena pukulan.
“Enggak tahu, Bang. Kek ngelawan robot aja nih. Apa mereka abis nyabu ya kaga tumbang-tumbang!” Ajiz menghindari salah satu serangan.
Bunyi serine polisi terdengar mendekat. Salah satu pejalan kaki yang khawatir telah menelpon polisi untuk meredam perkelahian. Andi dan yang lain berusaha menahan mereka agar tidak kabur sampai polisi datang. Suara tembakan peringatan menggelegar, memekakkan telinga orang-orang di sekitar. Karena terkejut dan segera mengangkat tangan, Andi melepaskan preman tersebut.
“Tahan, Pak. Kami ga salah apa-apa!” Andi mengangkat tangannya.
Preman-preman tersebut malah kabur tanpa bisa ditangkap oleh bapak polisi. Terdapat dua orang bapak polisi yang mengejar mereka. Sementara dua polisi yang lain sedang mengamankan Andi dan teman-teman.
“Angkat tangan! Jangan bergerak! Dasar preman!”
“Lah kok kami yang jadi premannya sih?!” Ajiz protes keras. “Udah jelas kami membela diri!”
Kepala Ajiz langsung di tempeleng oleh bapak polisi karena bernada kasar. “Diam kalian! Ikut kami ke kantor!”
Niatnya mau nangkepin para maling, eh malah mereka yang jadinya ketangkep. Apes banget nih, terutama buat Ajiz yang niatnya buat nolongin Andi.
\*\*\*
__ADS_1