
Malam ini Tami sedikit pulang malam karena masih ada laporan yang harus dikerjakan. Namanya anak muda nih ya, masih ada tenaga lebih buat lembur-lembut sedikit. Jadi, daripada pulang sambil mikirin tugas yang belum selesai, maka Tami lebih memilih untuk menyelesaikannya di kantor. Laporan sudah selesai pukul tujuh malam dan ia baru pulang setelah pukul delapan. Ternyata cemilan kantor masih banyak tersisa. Dia ngemil dulu sambil ngedonlot drakor buat ditonton menjelang tidur.
Cemilan tidak dihabiskan sendirian. Ternyata masih ada ibu-ibu *cleaning service* dan satpam yang menemani Tami bercerita. Namanya anak gadis yang belum nikah, pasti ditanya-tanyain tuh apakah sudah ada pacar. Ibu-ibu CS ngerayu Tami buat deketin PNS muda divisi sebelah. Katanya masih jomblo. Nah, Bapak Satpam malah minta Tami buat nyari polisi aja karena kantor mereka deket banget sama Polda. Percakapan ringan tersebut berakhir. Tami pun pamit pulang sambil ketawa-ketawa sendiri.
“Oh jadi ini Bakso yang lagi viral itu. Bakso apa yah dibilang temen aku kemarin? Oh iya, bakso kepala T-rex.” Tami memutar mobilnya ke tepian jalan untuk mampir ke bakso gerobak yang ramai itu.
Gerobak bakso masih terdapat beberapa orang ngantri untuk membeli makanan. Sementara di bagian belakang sudah duduk pula pelanggan-pelanggan yang makan di tempat, belum lagi terpal tipis bagi pelanggan yang ingin duduk bersantai sambil makan. Suara Tami yang kecil jadi tidak terdengar oleh kedua abang bakso tersebut, sementara itu pelanggan yang lain terus saja menyebutkan pesanannya. Setelah beberapa saat menunggu, barulah pelanggan sudah lengang sedikit. Tami leluasa maju untuk mengatakan pesanannya.
“Mas, bangksonya dua bungkus,” ucap Tami.
“Oke, Mbak. Bentar yaa ….”
Rencananya Tami ingin memanggil Sarah untuk makan di rumahnya. Biasanya Sarah pasti lapar kalau diajak makan lagi. Sekalian nanti mereka bisa nonton episode terbaru dari drakor yang Tami donlot di kantor.
Abang bakso yang satu lagi nyamperin Tami.
“Mbak, baksonya⸺” Abang bakso itu langsung memalingkan muka.
“Baksonya kenapa?” tanya Tami. Muka Tami langsung ngelihat ke arah yang ditatap oleh abang bakso. Merasa tidak ada yang aneh di sana, ia bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama. Namun, perlahan abang bakso itu pun menunjukkan wajah tampannya. Tami jadi kaget. “Lah, Agus?!”
“Lo bukan orang pertama yang kaget begini,” balas Agus.
“Kamu dipecat jadi polisi?” Tami jadi heran.
Cukup sulit untuk menjelaskan bagaimana dia bisa berada di sini sebagai abang bakso. Agus menghela napas sesaat. “Hmm … bukan gitu. Biar lebih mudahnya, ini usaha baru gue. Hehehe ….”
“Wah, ternyata bakso yang selama ini viral punya kamu, Agus. Aku enggak nyangka banget kamu yang punya.”
__ADS_1
“Heheh … aku juga enggak nyangka bisa punya usaha bakso. Walaupun buda-bude aku semuanya pengusaha bakso, aku awalnya sama sekali enggak tertarik.” Agus menggaruk-garuk rambutnya. “Jadi baksonya bakso telur, bakso urat, arau bakso kepala t-rex?”
“Bakso urat biasa aja. Mie putih ya, jangan mie kuning. Oke?”
“Sipp … sekalian ajak temen-temennya makan di sini. Bentar lagi aku nyewa kecil yang ada di belakang ini. Biar berkembang.”
“Amaan … Andi dan Sarah udah ke sini?” tanya Tami.
“Mereka yang pertama tahu malahan, hahaha ….” Agus agak gugup waktu menyebutkan ini soalnya Andi dan Sarah yang mergokin Agus jualan bakso.
Jadi gini, sekitar seminggu yang lalu bandar sabu yang jadi incaran Agus sudah tertangkap. Agus sudah selesai dari tugas intelegennya untuk memata-matai transaksi narkoba di area tersebut. Semenjak pertemuan Andi dan Sarah di lokasi bakso, Agus jadi kepikiran karena untuk jadi tukang bakso malah lebih gede. Kalau tiap malam ramenya begini, sebulannya gede juga. Belum lagi kalau Agus nyewa tempat yang permanen sehingga pelanggan leluasa makan di sana.
Agus kemudian memutuskan untuk beneran buka usaha bakso di sini, bukan atas nama dinas kepolisian sebagaimana yang ia lakukan sebelumnya, melainkan atas nama dirinya sendiri. Agus pun mulai beriklan di pesbuk, bikin ig baksonya, daftarin ke Bo-Food, dan minta endorse ke *food vlogger*. Selain itu, dirinya juga merekrut satu karyawan sehingga ia tidak lagi terjun langsung untuk melayani pelanggan karena Agus juga sibuk sebagai polisi.
“Makasih banget ya, Gus. Besok-besok aku beli di sini lagi ….”
“Ah, itu besok-besok aja dulu. Hahah …. Daaah, aku pergi dulu.”
Tami tidak sabar pulang untuk menikmati bakso buatan Agus ini. Sesampainya di rumah, Tami menyiapkan semuanya di dapur termasuk minuman dingin. Meskipun terdapat bunyi grusuk-grusuk dari kucing di belakang rumah yang bikin Tami merinding, hal itu tidak memutuskan semangat Tami buat menikmatinya di ruangan tengah.
“Ini kucingnya lagi kawin atau gimana ya ….” Tami lama-lama jadi merinding.
Makan jadi tidak nikmat karena terus mendengar suara gaduh dari belakang. Mungkin aja kucing jalanan yang Andi pelihara lagi masa musim kawin. Tami pindah ke kamarnya untuk menikmati baksonya.
*Gue hampir lupa Sarah*!
Handphone Tami hanya menghasilkan berdengung saja tanpa jawaban dari Sarah. Kali aja Sarah malam ini lagi ada di bengkel atau perguruan karatenya. Tami kini memutuskan untuk makan sendirian, seperti anda-anda semua yang masih tanpa kekasih.
__ADS_1
“Uanjir … kucingnya tambah gila aja.” Tami membuka sedikit pintunya untuk memastikan keadaan. “Apa aku panggil⸺”
Seketika Tami menutup pintu karena mendengar jendela belakang rumah seperti ada yang membukanya dengan keras. Setelah itu, terdapat iringan suara vas bunga yang jatuh. Tepat sekali vas bunga tersebut berada di dalam rumah yang langsung berdempetan dengan jendela tersebut. Tami cepat-cepat menelpon Aisyah untuk melihat keadaan belakang rumah, tetapi Aisyah menjawab jika belakang rumah tidak ada masalah. Cemas di hati Tami membawanya untuk menelpon Andi.
“Apa? Ada yang buka jendela?” Andi jadi panik mendengar hal tersebut.
“Iya, aku denger jendela dibuka paksa. Terus vas bunga di meja dekat jendela juga jatuh. Aku takut banget, Ndi!”
“Tunggu, gue minta Aisyah jangan ke rumah lo. Gue nelpon Memet dulu, dia jam-jam segini pasti sama anggotanya di pos ronda.”
“Cepat ya, Andi,” balas Tami sambil menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Kunci kamar kamu, terus tahan dengan meja, kursi, atau apa. Gue sekitaran tiga puluh menit lagi ke rumah lo soalnya jarak pulang ke sana juga jauh.”
“Makasih banget!” Tami dengan cepat bergerak menuju meja belajarnya dan menyeretnya ke pintu agar tidak dibuka.
Tidak lama setelah laporan tersebut, Memet menerima telepon langsung dari Andi. Andi menceritakan detail kejadiannya sekaligus denah rumah Tami agar Memet tahu di mana kamar Tami berada. Mendengar hal tersebut, Memet turut khawatir karena adinda tercinta sedang dalam bahaya. Di sisi lain, hasrat ingin menggebuki seseorang tengah membara-bara di tangannya.
“Guys, kita bergerak malam ini. Ada laporan maling tengah masuk.”
Seketika preman-preman pos ronda bawahan Memet mengambil seluruh benda untuk bersiaga. Ternyata seluruh barang-barang untuk mempermak wajah maling sudah siap siaga di pos ronda.
“Dengar perinta gue.” Memet membusungkan dada seperti panglima perang beneran. “Jangan sampe mati, cukup bonyok dan mukanya enggak bisa dikenali lagi. Oke?”
“SIAP BANG!!!”
Mereka langsung berlari. Pos ronda kini berganti menjadi gelanggang catur bapak-bapak karena ngelihat anak mudanya pada pergi.
__ADS_1
\*\*\*