Andi X Sarah

Andi X Sarah
124. Jadi Bingung (SEASON 3)


__ADS_3

Andi tertawa dalam hati karena melihat Tasya yang senang hati mengerjakan pekerjaaan rumahnya. Ia bisa mengopi dengan santai sambil scroll-scroll cewek Tik-Tak yang lagi goyang. Terkadang ada pula video Tik-Tak mengenai konspirasi yang bakal dijadiin bahan debat dengan Sarah nantinya. Meskipun cuaca pagi ini sudah panas, tetapi Tasya masih terlihat riang menyirami tamanan. Andi udah kaya lihat bidadari yang lagi nyiramin bunga-bunga surga kali ini.


“Kok Tasya nan manyiram?” Telinga Andi langsung dijewer sama mamanya.


“Aduh … aduh … jangan Ma. Sakit … ampuun ….”


“Tasya, biarin aja Andi ini aja yang nyiram. Malah kamu yang disuruhnya buat nyiramin.” Mamanya melihat Andi yang kabur masuk ke dalam rumah. “Udahlah bangun lambat, kerja pun malas. Mau jadi apa besarnya nanti!”


Tasya tertawa kecil melihat Mama Andi yang marah-marah sama anaknya sendiri. Ia menemukan pemandangan berbeda dari yang ia alami selama ini. Ada orangtua yang memarahi anaknya dengan jeweran telinga. Tasya malah melihatnya sebagai fenomena yang menarik karena Tasya sama sekali tidak pernah dibegitukan oleh kedua orangtuanya. Jangankan menjewer, marah saja jarang. Mungkin salah satu faktornya ialah kurangnya komunikasi dirinya dengan orangtua yang selalu sibuk. Tasya di rumah lebih banyak berinteraksi dengan segudang asisten rumah, mulai dari dapur, kebun, dan pengamanan,.


Makan siang sudah siap. Tami dan Tasya bertandang untuk menikmati hidangan makan siang di rumah Andi. Hidangan khas keluarga Minang sangatlah menggugah selera makan. Tasya tidak peduli lagi dengan dietnya ketika melihat gulai-gulaian dan makanan berminyak lainnya yang mengandung lemak tinggi. Ia ditawari oleh Andi kerupuk jangek atau kerupuk kulit yang dibawa dari Sumatera Barat sebulan yang lalu, soalnya ada keluarga Andi yang datang dan membawa satu plastik besar untuk cemilan rumah.


“Wah … ini kaya makan di restoran Padang ….”


“Kalau orang sini, apa pun daerahnya, tetep aja dipanggil Padang,” balas Andi.


“Lah, gue kan salah kan? Restoran Padang ….”


“Iya sih … betul. Tapi ga semua rumah makan minang itu dari Padanh  loh. Kan Minang itu ga cuma Padang. Ada rumah makan Minang khas Pariaman, Khas Solok, Khas Sawahlunto, dan lain-lain,” jelas Andi.


“Keknya generalisasi gitu sih. Kalau orang Minang, di sini nyebutnya orang Padang,” sambung Tami.


“Kalau ga salah, kalau makan di rumah Naila, bakalan kaya gini juga nih hidangannya. Ada gulai usus, dendeng balado, daun ubi tumbuk. Pokoknya khas rumah makan Padang banget deh ….” Tasya menyicipi daun ubi tumbuk yang di atasnya ditemani oleh cabe matah.


“Naila itu Sikumbang, orang Minang,” balas Mama Andi. “Naila juga lancar kok Bahasa Minangnya, kaya Andi.”


“Sikumbang? Oh iya, nama panjangnya kan Naila Sikumbang. Sikumbang itu apa ya?” tanya Tasya yang bingung.


“Semacam marga gitu. Andi juga punya kok marganya sendiri yang dapet dari Tante.” Tami sedikit banyaknya tahu tentang kebudayaan Minang, terutama dari Mama Andi yang banyak bercerita.


“Kalau kami, itu marganya Piliang. Karena Minang itu garis keturunan dari Ibu, jadi yang bisa nurunin marga nanti cuma Aisyah, Andi tidak … gitu ….” Mama Andi tersenyum.


“Wah gitu rupanya.” Kalimat Tasya terhenti ketika minum air putih. “Kayanya asyik deh kalau main ke Padang. Soalnya gue belum pernah gitu, Tam.”


“Jauh hehe … nyebrang pulau.” Tami tertawa.


“Kalau kalian main ke Padang, nanti bisa nginap di rumah Andi. Rumah Andi di Padang itu kosong. Papanya memang kerja di Padang, tapi tinggal di rumah nenek sekalian jaga nenek,” balas Mama Andi.


“Hehe … makasih banyak Tante,” pungkas Tasya.


Makan siang di rumah Andi memang selalu menyimpan cerita karena Mama Andi merupakan orang yang senang mengobrol. Apa aja diobrolin, apalagi kalau sama cewek. Bahkan, urusan pasangan seleb yang nikah dan punya anak aja diomongin, padahal kan ga penting banget dan ga ada hubungannya dengan kondisi politik Indonesia. Andi gedeg banget kalau Mamanya ngomongin keromantisan pasangan yang berjulukan Jeslar atau Jesson-Larasati. Mau mereka nikah, punya anak, dan begadang buat nyusuin anak, Andi tidak peduli. Tapi anehnya selalu saja diangkat di headlinebertia.


Selesainya makan, Tasya dan Tami masih bertahan di rumah Andi untuk nonton film bareng  di kamar Aisyah. Ia izin sebentar buat ngambil minum, tetapi ia berhenti melangkah tatkala melihat kamar berpintu dengan tulisan nama Andi. Mumpung Mama Andi lagi pergi keluar rumah, Tasya mencoba mengintip Andi yang lagi ada di kamarnya itu. Tentu saja Tasya penasaran apa saja yang dilakukan anak laki-laki ketika berada di kamar.


Terlihatlah Andi yang lagi ngangkang dengan pose aneh. Tangannya ke atas, persis kaya orang kesurupan. Terdengar pula bunyi musik harmoni yang ia putar melalui handphone. Melihat Andi seperti itu, tentu saja Tasya merasa heran. Kali aja Andi lagi melakukan prosesi pemujaan setan.


“Andi, lo ngapain?!” tanya Tasya.


“Ya Allah … gue kira siapa ….” Andi menoleh ke belakang dengan cepat. “Ketuk dulu sebelum masuk.”


“Kan gue ga masuk, gue di luar. Tapi, pintu lo kebuka.” Mata Tasya memicing. “Lo lagi ngapain? Kaya ritual pemujaan setan.”


“Gile aja lu gue begituan.” Andi menempelkan kedua telapang tangannya seperti orang berdoa. “Ini namanya Yoga.”


“Masa sih Yoga begitu?” Tasya juga pernah Yoga di pusat kebugaran yang sering ia kunjungi. Tapi, tidak ada gerakan yang dilakukan seperti Andi. “Perasan dulu gue Yoga ga begitu.”


“Itu sih lo enggak tahu, ini namanya Yoga. Kalau Yogi, itu tetangga gue sebelah masih bocil. Namanya Yogi.”


Tasya membuka pintu Andi lebar-lebar, lalu ia berjalan masuk tanpa segan. Ia tatap mata Andi dengan sinis.


“Kamar ini kok kerasa aneh ya?”

__ADS_1


Andi mundur ke belakang. Tubuh mereka terlalu dekat. “Hah? Aneh kenapa?”


“Lo pernah bawa cewek ke dalam kamar ini?”


Andi makin mundur lagi karena sikap Tasya yang menekannya.


“Lo kenapa sih? Ya pernahlah, adek gue tiap hari masuk buat bangunin gue.”


Tasya menggeleng. “Cewek selain adek lo sendiri?”


“Sarah … kenapa sih? Gue jadi takut sama lo.”


Gaya Tasya udah kaya psikopat yang mau nerkam orang. Ia terus menekan Andi untuk mundur hingga mereka berada di ujung kasur.


“Bukan, cewek lain barangkali?” Tangan Tasya memanjang ke kasur Andi dan mengambil sebuah bantal lope-lope. “Ini punya Tami, gue tahu!”


“Eh, ini bukan kaya yang lo pikirin kok.” Andi mengangkat kedua tangannya. “Dua hari yang lalu Tami tidur di sini.”


“APA?! DIA TIDUR SAMA LO?”


“Bukan gitu, cantik-cantik kok goblok sih?!”


Andi jadi bingung gimana nyeritain kebiasaan Tami yang udah kaya adik kandungnya sendiri. Tami selalu saja masuk ke kamar Andi dan molor di kasurnya tanpa sepengetahuan Andi. Padahal, Tami berencana mau nonton drakor bareng Aisyah. Tapi karena Aisyah ada meeting organisasi lewat online, Tami malah ketiduran di kamar Andi. Alhasil, Andi harus tidur di sofa lantai bawah.


“Gue ga nyangka loh Ndi ….”


“Aduh … gimana bilangnya yaa ….”


Andi jadi bingung.


***


124. Jadi Bingung


Andi tertawa dalam hati karena melihat Tasya yang senang hati mengerjakan pekerjaaan rumahnya. Ia bisa mengopi dengan santai sambil scroll-scroll cewek Tik-Tak yang lagi goyang. Terkadang ada pula video Tik-Tak mengenai konspirasi yang bakal dijadiin bahan debat dengan Sarah nantinya. Meskipun cuaca pagi ini sudah panas, tetapi Tasya masih terlihat riang menyirami tamanan. Andi udah kaya lihat bidadari yang lagi nyiramin bunga-bunga surga kali ini.


“Kok Tasya nan manyiram?” Telinga Andi langsung dijewer sama mamanya.


“Aduh … aduh … jangan Ma. Sakit … ampuun ….”


“Tasya, biarin aja Andi ini aja yang nyiram. Malah kamu yang disuruhnya buat nyiramin.” Mamanya melihat Andi yang kabur masuk ke dalam rumah. “Udahlah bangun lambat, kerja pun malas. Mau jadi apa besarnya nanti!”


Tasya tertawa kecil melihat Mama Andi yang marah-marah sama anaknya sendiri. Ia menemukan pemandangan berbeda dari yang ia alami selama ini. Ada orangtua yang memarahi anaknya dengan jeweran telinga. Tasya malah melihatnya sebagai fenomena yang menarik karena Tasya sama sekali tidak pernah dibegitukan oleh kedua orangtuanya. Jangankan menjewer, marah saja jarang. Mungkin salah satu faktornya ialah kurangnya komunikasi dirinya dengan orangtua yang selalu sibuk. Tasya di rumah lebih banyak berinteraksi dengan segudang asisten rumah, mulai dari dapur, kebun, dan pengamanan,.


Makan siang sudah siap. Tami dan Tasya bertandang untuk menikmati hidangan makan siang di rumah Andi. Hidangan khas keluarga Minang sangatlah menggugah selera makan. Tasya tidak peduli lagi dengan dietnya ketika melihat gulai-gulaian dan makanan berminyak lainnya yang mengandung lemak tinggi. Ia ditawari oleh Andi kerupuk jangek atau kerupuk kulit yang dibawa dari Sumatera Barat sebulan yang lalu, soalnya ada keluarga Andi yang datang dan membawa satu plastik besar untuk cemilan rumah.


“Wah … ini kaya makan di restoran Padang ….”


“Kalau orang sini, apa pun daerahnya, tetep aja dipanggil Padang,” balas Andi.


“Lah, gue kan salah kan? Restoran Padang ….”


“Iya sih … betul. Tapi ga semua rumah makan minang itu dari Padanh  loh. Kan Minang itu ga cuma Padang. Ada rumah makan Minang khas Pariaman, Khas Solok, Khas Sawahlunto, dan lain-lain,” jelas Andi.


“Keknya generalisasi gitu sih. Kalau orang Minang, di sini nyebutnya orang Padang,” sambung Tami.


“Kalau ga salah, kalau makan di rumah Naila, bakalan kaya gini juga nih hidangannya. Ada gulai usus, dendeng balado, daun ubi tumbuk. Pokoknya khas rumah makan Padang banget deh ….” Tasya menyicipi daun ubi tumbuk yang di atasnya ditemani oleh cabe matah.


“Naila itu Sikumbang, orang Minang,” balas Mama Andi. “Naila juga lancar kok Bahasa Minangnya, kaya Andi.”


“Sikumbang? Oh iya, nama panjangnya kan Naila Sikumbang. Sikumbang itu apa ya?” tanya Tasya yang bingung.

__ADS_1


“Semacam marga gitu. Andi juga punya kok marganya sendiri yang dapet dari Tante.” Tami sedikit banyaknya tahu tentang kebudayaan Minang, terutama dari Mama Andi yang banyak bercerita.


“Kalau kami, itu marganya Piliang. Karena Minang itu garis keturunan dari Ibu, jadi yang bisa nurunin marga nanti cuma Aisyah, Andi tidak … gitu ….” Mama Andi tersenyum.


“Wah gitu rupanya.” Kalimat Tasya terhenti ketika minum air putih. “Kayanya asyik deh kalau main ke Padang. Soalnya gue belum pernah gitu, Tam.”


“Jauh hehe … nyebrang pulau.” Tami tertawa.


“Kalau kalian main ke Padang, nanti bisa nginap di rumah Andi. Rumah Andi di Padang itu kosong. Papanya memang kerja di Padang, tapi tinggal di rumah nenek sekalian jaga nenek,” balas Mama Andi.


“Hehe … makasih banyak Tante,” pungkas Tasya.


Makan siang di rumah Andi memang selalu menyimpan cerita karena Mama Andi merupakan orang yang senang mengobrol. Apa aja diobrolin, apalagi kalau sama cewek. Bahkan, urusan pasangan seleb yang nikah dan punya anak aja diomongin, padahal kan ga penting banget dan ga ada hubungannya dengan kondisi politik Indonesia. Andi gedeg banget kalau Mamanya ngomongin keromantisan pasangan yang berjulukan Jeslar atau Jesson-Larasati. Mau mereka nikah, punya anak, dan begadang buat nyusuin anak, Andi tidak peduli. Tapi anehnya selalu saja diangkat di headlinebertia.


Selesainya makan, Tasya dan Tami masih bertahan di rumah Andi untuk nonton film bareng  di kamar Aisyah. Ia izin sebentar buat ngambil minum, tetapi ia berhenti melangkah tatkala melihat kamar berpintu dengan tulisan nama Andi. Mumpung Mama Andi lagi pergi keluar rumah, Tasya mencoba mengintip Andi yang lagi ada di kamarnya itu. Tentu saja Tasya penasaran apa saja yang dilakukan anak laki-laki ketika berada di kamar.


Terlihatlah Andi yang lagi ngangkang dengan pose aneh. Tangannya ke atas, persis kaya orang kesurupan. Terdengar pula bunyi musik harmoni yang ia putar melalui handphone. Melihat Andi seperti itu, tentu saja Tasya merasa heran. Kali aja Andi lagi melakukan prosesi pemujaan setan.


“Andi, lo ngapain?!” tanya Tasya.


“Ya Allah … gue kira siapa ….” Andi menoleh ke belakang dengan cepat. “Ketuk dulu sebelum masuk.”


“Kan gue ga masuk, gue di luar. Tapi, pintu lo kebuka.” Mata Tasya memicing. “Lo lagi ngapain? Kaya ritual pemujaan setan.”


“Gile aja lu gue begituan.” Andi menempelkan kedua telapang tangannya seperti orang berdoa. “Ini namanya Yoga.”


“Masa sih Yoga begitu?” Tasya juga pernah Yoga di pusat kebugaran yang sering ia kunjungi. Tapi, tidak ada gerakan yang dilakukan seperti Andi. “Perasan dulu gue Yoga ga begitu.”


“Itu sih lo enggak tahu, ini namanya Yoga. Kalau Yogi, itu tetangga gue sebelah masih bocil. Namanya Yogi.”


Tasya membuka pintu Andi lebar-lebar, lalu ia berjalan masuk tanpa segan. Ia tatap mata Andi dengan sinis.


“Kamar ini kok kerasa aneh ya?”


Andi mundur ke belakang. Tubuh mereka terlalu dekat. “Hah? Aneh kenapa?”


“Lo pernah bawa cewek ke dalam kamar ini?”


Andi makin mundur lagi karena sikap Tasya yang menekannya.


“Lo kenapa sih? Ya pernahlah, adek gue tiap hari masuk buat bangunin gue.”


Tasya menggeleng. “Cewek selain adek lo sendiri?”


“Sarah … kenapa sih? Gue jadi takut sama lo.”


Gaya Tasya udah kaya psikopat yang mau nerkam orang. Ia terus menekan Andi untuk mundur hingga mereka berada di ujung kasur.


“Bukan, cewek lain barangkali?” Tangan Tasya memanjang ke kasur Andi dan mengambil sebuah bantal lope-lope. “Ini punya Tami, gue tahu!”


“Eh, ini bukan kaya yang lo pikirin kok.” Andi mengangkat kedua tangannya. “Dua hari yang lalu Tami tidur di sini.”


“APA?! DIA TIDUR SAMA LO?”


“Bukan gitu, cantik-cantik kok goblok sih?!”


Andi jadi bingung gimana nyeritain kebiasaan Tami yang udah kaya adik kandungnya sendiri. Tami selalu saja masuk ke kamar Andi dan molor di kasurnya tanpa sepengetahuan Andi. Padahal, Tami berencana mau nonton drakor bareng Aisyah. Tapi karena Aisyah ada meeting organisasi lewat online, Tami malah ketiduran di kamar Andi. Alhasil, Andi harus tidur di sofa lantai bawah.


“Gue ga nyangka loh Ndi ….”


“Aduh … gimana bilangnya yaa ….”

__ADS_1


Andi jadi bingung.


***


__ADS_2