
Air terjun
Senyum Andi terasa lepas setelah melaksanakan tugas sebagai penanggung jawab pertandingan lari bertantangan. Ia semakin senang setelah mendengar Ajiz berhasil melaksakan tugasnya dengan baik sebagai yang tercepat dan dengan skor terbaik untuk pertandingan kali ini. Sudah dipastikan bahwa kelompok Andi memegang klasemen sementara karena satu-satunya pertandingan yang udah kelar hanyalah lomba lari bertantangan.
Ia menyodori satu per satu adik kelas ngeroko, tapi enggak ada satu pun yang mau menerima. Begitu pula dengan teman seangkatannya yang turut menjadi kakak pembimbing, tetep aja nolak sambil memasang wajah takut ketika Andi menawari. Ya mau gimana lagi ya, semua yang ikut merupakan anak baik-baik, cuma Andi sendiri yang berada di kubu kiri.
Sebenarnya kan ada juga adik-adik ini yang ngerokok. Tapi, mereka masih segan ngerokok terang-terangan. Apalagi nanti ketahuan sama guru yang ikut dan yang paling parah adalah Sarah. Mereka enggak mau dismekdon sama Sarah di air terjun, dijadiin samsak tinju sampe mampus.
Buktinya, Andi ngelihat tadi sore anak laki-laki ada yang ngerokok di balik batu besar air terjun. Ia harap maklum, mereka sama dengannya. Susah banget nahan sakaw rokok. Jadinya, Andi enggak negur mereka. Mau sih negur, tapi mereka udah nangis duluan nanti.
"Bro, makasih ya ... silahkan ke tanah lapang buat bantu-bantu panitia yang lain" Lambaian tangan Andi mengarah kepada teman panitia yang sedang duduk di tepi jalan. "Yang cowok, kalau mau rokok .... jangan malu-malu."
**** banget ngajakin orang buat ginian* .....
Malam terlalu gelap di tepi hutan. Hanya sedikit lampu yang terpasang, salah satunya berada di air terjun. Dari jalanan, tampak cahaya terang dari air terjun yang disediakan untuk para pekemah. Gelap yang kelam mengharuskan Andi membawa senter ke mana-mana.
Cahaya rembulan menuntun Andi menuju deru suara air terjun. Tak peduli baginya jalanan yang gelap dan suasana sunyi di air terjun, namun hatinya memelih menghabiskan sebatang tembakau di sana. Suara tapak yang ia langkah membunyikan suara yang khas pada tanah yang basah. Sesekali Andi mengindari genangan air yang tercipta dari hujan semalam.
** setan*!!!!!!
Matanya terbelalak melihat seorang wanita yang tengah duduk di atas batu air terjun. Tubuhnya terlihat jelas berkat sebuah lampu terang yang terpasang di sana. Tangan wanita itu seperti melemparkan sesuatu ke aliran air. Namun, baju yang ia kenakan membuat Andi kembali melangkah mendekat.
"Woi, gue kira lo hantu!" ucap Andi. Ternyata ia adalah Naila yang tengah duduk sendirian.
Naila hanya menoleh sebentar, lalu kembali melihat pantulan cahaya lampu pada air terjun.
"Lo nangis?" Andi melihat air mata yang mengalir pada pipi Naila.
"Jangan naik," pinta Naila.
Andi tetap naik untuk menanyakan keadaannya yang sebenarnya. Sudah dua kali hari ini ia menangis, yang pertama karena dirinya sendiri, dan yang kali ini ia tidak tahu apa yang terjadi.
"Lo kenapa?"
"Enggak ada ...." Naila menggeleng. "Lagian gue ga mau ngasih tahu."
"Pelit amat kaya Sarah lagi ujian."
__ADS_1
"Emang Sarah pelit kalo lagi ujian?" tanya Naila tanpa menatap.
Andi mencoba tersenyum padanya dengan harapan Naila akan membalas. "Yaa begitulah anak-anak pintar pada umumnya. Dia juga ga pernah nyontek."
"Oh gitu."
Singkat amat ....
Andi mencari cara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Sudah pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Naila bersikap seperti ini.
"Gimana pertandingannya?" tanya Andi.
"Kepo ..."
Sekali baru ya ... jangan bikin gue emosi.
Tangan Naila sedari tadi memegangi kakinya. Andi memerhatikan hal tersebut sedari tadi. "Kaki lo kenapa?"
"Sakit ..."
"Kenapa sakit?"
Dingin sekali Naila malam ini, layaknya udara yang tengah dirasakan saat ini. Naila benar-benar tidak ingin diganggu. Bahkan, menatap saja ia enggan kepada Andi. Sebenarnya Andi masih terlalu penasaran dengan apa yang terjadi. Melihat sikap Naila, ia paham dan mencoba untuk turun dari batu. Ia mengerti jika Naila memerlukan waktu untuk sendiri.
Usaha Andi untuk turun terhentikan oleh tangan Naila yang menahannya.
"Naik lagi ... bukannya lo penasaran?"
Walaupun Naila tetap memasang wajah datar, Andi tetap berusaha untuk tersenyum. Ia kembali duduk di samping Naila.
"Tadi gue dikasarin waktu dilapangan. Hasilnya ini ...." Naila memperlihatkan kakinya yang membiru. "Gue kasarin balik, dianya marah. Kami kelahi tadi di dekat tenda."
"Kalau cowok sih biasa ... mungkin sama cewek ga wajar. Trus, cuma gara-gara itu lo nangis?"
"Setelah itu Kak Sarah datang dan marah besar."
"Hahahaha ... udah liat Sarah marahnya gimana kan? Udah ... dia marahnya cuma sampe di situ kok. Jangan dibawa ke hati. Sarah memang ga suka ngelihat ketidakberesan."
__ADS_1
Wanita itu masih dengan wajah murung yang terpasang. "Menurut lo apa kita terlalu dekat?"
"Maksud lo?" tanya Andi.
"Gue teringat kata cewek tadi kalau gue terlihat genit sama lo dan bisa ngerusak hubungan lo sama Kak Sarah."
Tubuh Andi duduk bersila menghadap Naila. Ia menarik kedua bahu Naila untuk bisa menghadap padanya. Kalimat yang ia katakan tadi tidaklah benar. Sarah bukanlah wanita yang suka cemburuan dan ia sudah paham dengan keadaan Andi.
"Denger sama gue, semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan, itu urusan gue. Lagian Sarah bukanlah cewek posesif sama pacarnya." Andi memerengkan wajahnya. "Senyum, dong. Ngambek mulu kaya gue di akhir bulan."
Candaan Andi walaupun receh, selalu membuat Naila bisa tersenyum. Perlahan ia melebarkan senyum tatkala tatapan Naila sepenuhnya merambat pada bola mata Andi yang gelap. Bayang-bayang tubuh Andi jatuh kepadanya berkat cahaya lampu yang bersinar di sebelah sana. Tanpa sadar, ia tetap mempertahankan senyum semenjak beberapa detik yang lalu.
"Nah gitu, dong." Andi kembali menghadap air terjun. "Kalau gini kan gue ikut senang, ga khawatir lagi."
"Emang lo khawatir sama gue?'
Andi tertawa sesaaat. "Yang benar saja? Lo itu adik bimbingan gue. Lagian, gue selalu khawatir dengan orang yang dekat sama gue. Kalau enggak percaya, tanya aja Agus. E'eknya susah aja bisa bikin gue khawatir."
"Hahaha .... emangnya Agus sering sembelit?' tanya Naila.
Kepalanya menangguk. "Sering, jarang makan sayur ama buah sih. Makannya indomie mulu."
"Berari lo nganggap gue orang dekat lo?"
"Kalau iya, kenapa?" Andi menoleh padanya.
"Enggak apa-apa sih ...." Naila tersenyum. "By the way ... thanks."
Mereka tetap berbincang hingga mendengar langkah para panitia yang baru saja pergi dari pos lari pertama. Andi kembali turun sembari memegang tangan Naila yang terlihat tidak kuat untuk menuruni batu yang tingginya hampir dua meter. Mereka kembali menuju tanah lapang karena timnya tengah bermain, walaupun Naila digantikan posisinya dengan yang lain.
Sementara itu di lain tempat, Ajiz mengintip seorang wania nan tengah berdiri dengan wajah murung. Setitik cahaya yang bersinar di bawah sana tak sampai menyentuh wanita yang tengah berdiri di sana. Sebisa mungkin Ajiz untuk tidak membuat pergerakan yang akan membunyikan suara ketika kaki bersentuhan dengan dedaunan kering. Tubuhnya cukup terhalang oleh pohon tempat ia bersembunyi.
Ia dengan cepat menarik tubuhnya dibalik pohon karena wanita itu berbalik arah melangkah. Dengan dada yang berdegup kencang, ia berusaha untuk setenang mungkin agar tidak ketahuan. Suara isakan tangis terdengar ketika wanita itu mendekati pohonnya. Barulah Ajiz melihat dengan jelas jika wanita itu ialah Kak Sarah. Ia terheran-heran kenapa Kak Sarah menangis tiba-tiba.
Rasa penasaran membuatnya untuk melangkah ke tempat Kak Sarah berdiri. Di bawah sana terlihat pemandangan air terjun yang diterangi oleh sebuah lampu yang terpasang di tepian. Terdapat sebuah batu besar dengan puncak yang cukup lebar. Duduklah sepasang insan yang tengah bersenda gurau di atas sana. Tidak lama kemudian mereka turun dengan bergenggaman tangan. Seketika hatinya seperti terhujam, tersentak oleh sesuatu yang tatap.
Naila dan Andi?
__ADS_1
Ia mengepal tangan dengan kuat.
***