
Jujur, Sarah masih kepikiran dengan kejadian Andi berkelahi dengan beberapa preman yang tidak ia kenali itu. Perkara uang lima puluh ribu, nyawa hampir saja menjadi taruhannya. Padahal, uang lima puluh ribu itu sebenarnya jumlah kecil bagi orang sekaya Andi. Entah bagaimana bisa ia bertindak gegabah dengan melawan mereka semua sendirian. Walaupun begitu, Sarah masih bersyukur jika Andi hanya terkena luka keseleo saja.
Ia merasa tidak rela jika Andi dibegitukan. Ingin sekali Sarah mengajak anggota padepokan karatenya untuk melawan preman-preman itu. Namun, ia takut malah kena tabok sama pelatihnya sendiri gara-gara berkelahi hanya untuk balas dendam. Ia diajarkan jika beladiri itu untuk melindungi diri dari situasi-situasi yang berbahaya, bukan menjadi ajang balas dendam seperti yang ia inginkan.
Satu ide mencuat agar menggunakan orang lain untuk membalas para preman-preman itu. Jikalau mereka tidak babak belur, setidaknya uang Andi bisa dikembalikan. Bukannya dikembaliin buat Andi, Sarah malah pengen makan sendiri itu duit buat foya-foya. Parah banget nih Sarah. Oleh karena itu, Sarah mengunjungi seseorang yang menurutnya paling kuat selama ini di dunia premanan SMA. Siapa lagi kalau bukan Kevin sang otot segede nangka.
Kevin sama sekali belum terkalahkan selama SMA. Tidak ada satu pun orang yang mampu mengalahkannya, baik senior maupun junior pada saat itu. Nama Kevin yang melegenda sering membayang-bayangi keseraman para senior sebelumnya, sebagai contoh ialah senior Ali. Tatkala memasukkan Kodomo ke Antophosfer, ia bahkan mampu mengalahkan senior yang menantangnya. Syarat untuk masuk ke dalam Antophosfer yaitu harus gelud dahulu dengan salah satu anggota Antophosfer yang lumayan kuat.
Pram yang sekuat itu bahkan diajarkan langsung kelahi oleh Kevin. Dari cupu manja dan tidak bertenaga, Pram bisa menjadi salah satu pentolan yang wajib diperhitungkan kalau tawuran antar sekolah. Apalagi kalau Kevin melawan para Anak Amak yang beranggotakan Andi, Agus, Nanang, dan Felix. Yang ada mereka semua tumbang dengan satu tangan kiri Kevin yang ototnya nonjol pake banget.
Demi menemui Kevin, Sarah sengaja pergi ke tongkrongan mereka, yaitu Kodomo. Setelah pulang kuliah, ia segera pergi ke sana. Sarah dibuat heran kalau yang nongkrong di kedai kodomo bukanlah mereka lagi, yaitu anak-anak SMA dan preman setempat. Setelah diberitahu kalau anak Kodomo sekarang duduknya di belakang warung, Sarah segera menemui Kevin di sana.
Tampaklah Kevin lagi jongkok buat latihan main klereng melawan Revin nantinya. Ia sedang latihan menembak jarak jauh karena sering kali kalah gara-gara tembakan Revin dengan akurasi tinggi. Berkali-kali ia coba, tetap saja tidak berhasil. Klerengnya pun terhenti ketika menabrak sendal jepit warna merah muda. Ia heran kenapa ada anak cewek pakai setelan blus datang ke kedai. Biasanya kan cuma emak-emak pakai daster yang pengen beli raiko atau pun bocil cewek yang pengen beli kiko.
“Uanjir ternyata elo, Sarah.” Kevin jadi kaget.
“Enggak kerja lo?” Sarah menatap aneh Kevin yang tadi jongkok sambil main klereng.
“Malah main klereng.”
“Lagi gabut aja. Gue lagi kerja kok, itu jaket ojol gue ada di pondok kayu.” Kevin bertegak pinggang. “Wow, lo udah kaya cewek begini? Cantik banget. Dari mana?”
“Yaelah … gue dari dulu memang cewek kali. Lo aja yang enggak nyadar kalau gue secantik ini.” Sarah memegang ujung blus-nya. “Ini gue dari kuliah.”
“Jadi ada apa? Tumben ke sini? Pram lagi di kantorlah kalau siang-siang begini.”
“Ngapain gue nyari Pram? Kaya enggak ada kerjaan aja.” Sarah menunjuk Kevin. “Gue nyari lo.”
“Kalau lo nyari gue buat jadi pacar sewaaan malah enggak cocok. Gue cocok disewa buat jadi bodyguard.”
“Nah itu yang gue pengen.”
“Jadi pacar sewaaan?”
Kepala Kevin langsung dilemparin klereng sama Sarah. “Enak aja jadi pacar gue walaupun sewaan. Mending sama Revin yang lumayan. Gue nyewa lo buat jadi bodyguard.”
“Seorang Sarah pengen gue jadi bodyguard? Apa enggak salah?”
“Lawan kali ini bukan anak SMA kaya dulu. Mereka preman taman kota.”
Kepala Kevin memereng. “Kenapa? Ada urusan apa lo sama dia?”
“Andi dicopet sama mereka. Waktu Andi ngedatangin mereka sendirian, malah dikejar pakai pisau. Untung aja ada Ajiz dan kawan-kawan yang datang. Eh, sayangnya mereka malah dibopongk ke kantor polisi.”
“Ooh … kejadian itu. Gue dikasih tahu sama Revin kalau Ajiz dibawa ke kantor polisi..” Kevin mengangguk paham. “Jadi, mereka mau gue apain?”
“Terserah lo, pokoknya bikin mereka balikin duit Andi.”
“Enak banget ya gue ninggalin kerjaan gue buat hal sepele kaya gini.”
__ADS_1
Sarah menepuk jidat karena menghadapi orang yang berhitungan. Sudah pasti Kevin tidak ingin pergi dengan tangan kosong.
“Gini deh, duit Andi itu ada lima puluh ribu sama mereka. Lo ambil aja itu buat lo, terus gue beliin lo rokok sebungkus.”
Tangan Kevin menjangkau untuk bersalaman. “Deal … kapan kita pergi?”
“Sekarang.”
“Pakai Vespa gue ya? Gue bonceng. Sesekali ngebonceng cewek hehehe.”
Sudah tahulah jawaban dari Sarah, yaitu menarik paksa Kevin yang segede gaban itu untuk naik ke mobilnya. Waktu diminta Sarah buat bawa mobil, eh Kevin malah enggak bisa. Kan katanya mau ngebawa cewek jalan sesekali. Ini malah enggak mau. Akhirnya Sarah menyetir menuju taman kota. Tekape sudah diketahui yaitu di kawasan hijau yang sepinya sering dijadiin ajang mesum. Terkenal banget di sekitaran sini kalau banyak pasangan muda keluar masuk di tempat sepi itu.
“Mereka ada di gazebo dalam.” Sarah menutup pintu mobil bersamaan dengan Kevin yang turut keluar.
“Premannya berapa orang?” tanya Kevin.
“Empat orang kata Andi.”
“Badannya gede-gede, ga?”
“Eh, badan lo segede om dedi kobujer aja malah masih nanya gede tubuh lawan. Udah, langsung aja sikat.”
Tangan Kevin memberikan sikap hormat. “Siap bos! Tunggu di sini sekitaran sepuluh menit. Lima menit buat ngehajar mereka, lima menit lagi buat ngehabisin rokok yang gue sita dari mereka.”
“GAS!!!”
“Bang, tahu gazebo yang posisinya di tengah kawasan hijau ga?” tanya Kevin dengan polos.
Mereka saling bertatapan. “Sebentar, abang mau apa?”
“Mereka kemarin nyopet temen gue dan bikin temen gue masuk polsek. Nah di sini gue mau nagih duit dia yang mereka copet.”
“Oh gitu ya ….” Tangan salah satu preman langsung menarik kerah Kevin. “Itu kami. LO MAU APA?”
“Eh, \*\*\*\*\*\* … nyantai dikit ngapa ….” Kevin masih sengaja masih tidak melepaskannya.
Seketika pemimpin mereka melepaskan tangan temannya itu dan langsung menunduk.
“Maaf Bang Kevin, kami ternyata nyopet temennya abang.”
Heran dong temen-temennya ngelihat dia minta maaf sama Kevin.
Kevin berusaha dengan kuat mengingat wajah preman yang satu itu. Seperti ada pencerahan, ia baru sadar kalau pernah bertemu dengan preman itu sebelumnya. “Oh elu yang nyuri gas LPG terus gue bonyokin di warung depan indoapril waktu itu?”
“Iya bang … itu gue.” Ia langsung mengkode buat ngasih duit ke Kevin. “Kasih abang ini duitnya.”
“Lima puluh ribu. Tapi sebelum itu ….” Kevin menampari mereka satu per satu dengan kuat. Teler langsung dah kena tamparan dari tangan berotot Kevin. “Lain kali liat dulu orang yang kalian copet. Jangan temen gue. Untung aja temen kalian pernah gue bonyokin. Gue enggak pernah ngebonyokin orang dua kali karena yang kedua kalinya pasti masuk rumah sakit.”
__ADS_1
Mereka semua menelan ludah karena diancam oleh Kevin. Setelah itu mereka dibawa ke hadapan paduka ratu Sarah yang lagi jongkok di samping mobil karena ada anak ayam yang masuk ke kolong-kolong mobil. Ia sadar kalau Kevin membawa preman-preman itu kehadapannya.
“Minta maap dulu, itu pacarnya.” Kevin mendorong mereka semua.
*Lah … mereka kok mudah banget begini dibikin takut sama Kevin*.
“Cepet banget?” tanya Sarah pada Kevin.
“Ketua premannya aja pernah gue bonyokin karena nyuri LPG di warung indoapril gue. Apalagi lawan anak buahnya. Pakai satu tangan aja bisa selesai.”
“Maaf kak, ini duitnya ….”
“Kalian kok nyopet sih?” tanya Sarah.
“Buat makan kak. Kami enggak ada kerjaan lain.” Ia memberikan sejumlah uang yang sudah disebutkan oleh Kevin tadi.
“Terus kenapa harus nyopet. Kalian ampir aja ngebunuh pacar gue.”
Mereka semakin menunduk di hadapan Sarah. “Maapin kami Kak. Lain kali kami bakalan enggak nyopet lagi. Moon maap jangan lapor polisi Kak. Kasiani kami.”
Sarah menghela napas sambil mengambil uang tersebut. Tidak lama kemudian, Kevin mengambil uang tersebut.
“Kalian ada rokok? Mulut gue asem,” pinta Kevin.
“Ada Bang, bentar ya.” Ia dengan sopan menyelipkan rokok di mulut Kevin serta menyulutnya agar mulut Kevin enggak asem lagi.
“Ini tiga puluh ribu. Beli nasi dua bungkus terus makan berempat.” Kevin menyerahkan uang tersebut.
“Bang … ini kan bukan uang kami.”
“Udah … ambil aja. Gue banyak kenal orang kaya kalian dan mereka semua memang laper-laper.”
“Makasih banget Bang.” Preman itu menatap Sarah. “Makasih banyak Kak. Kalau ada apa-apa, panggil aja kami. Kami siap sedia buat bantu.”
“Ya sudah … pergi beli nasi biar makan siang.”
Sarah dan Kevin kembali masuk ke dalam mobil. Preman-preman itu pun pulang dengan rasa aman dari amukan Kevin yang kaya king-kong, serta bisa makan siang dengan nikmat walaupun dibagi berempat.
Tangan Sarah memberikan sejumlah duit buat uang rokok Kevin. “Lo baik banget sama mereka.”
“Sar, lo itu orang kaya. Enggak sama kaya gue dan mereka. Sebenarnya gue paham kok kenapa mereka nyopet. Gue pernah diposisi mereka walaupun dengan cara busuk yang lain. Makanya gue kasih lepas aja mereka.”
“Sekali lagi, makasih banyak.”
“Iya, sama-sama.”
Sarah tersenyum hari ini karena memetik sebuah makna dari orang terkuat di SMA pada masanya, yaitu tetaplah merendah meskipun tahu bahwa ia yang terkuat.
__ADS_1
\*\*\*