Andi X Sarah

Andi X Sarah
13. Abang Bakso Bawa Walkie Talkie (SEASON 3)


__ADS_3

Tiada disangka dan tiada satu pun yang mengira jikalau Agus merupakan abang-abang bakso yang sedang viral di tempat ini. Setiap orang yang sedang di lewat di kawasan ini pasti melihat spot makan bakso yang ramai, baik pesan buat dibawa pulang maupun makan di tempat. Hal itu pula yang membawa Sarah untuk makan di sini. Ternyata eh ternyata, temannya sendiri yang jualan bakso.


“Lah, elo kenapa di sini?” tanya Agus dengan panik.



“Lah, harusnya gue yang nanya itu ke elo,” balas Agus sambil masukin bakso ke dalam mangkuk.



“Lo kan pol⸺”



Mulut Andi langsung disumpel pakai bakso bulat. Andi keenakan dong karena langsung disuapin abang baksonya.



“Diam dulu, jangan banyak bacot. Udah … duduk aja di sana biar gue siapin pesanan lo. Dan jangan sekali-sekali bilang tentang itu.”



“Lo lagi nyam⸺” Andi makan bakso kedua yang disumpel langsung dari Agus.



“Woi suaminya huluk, diam napa! Sana dulu, gue enggak konsen nih!”



Tidak mendapatkan alasan yang jelas serta kalau di sana mulu Andi bisa kenyang tanpa harus makan porsi baksonya nanti, ia terpaksa kembali bersama Sarah. Sarah lagi asyik memutar game slot online yang ada kakek-kakek jenggotan baju merah. Tepat pada saat itu Sarah lagi dapet jackpot dan menang besar yang bikin Andi jadi ngiri. Andi ini guoblok banget kalau main itu dibandingkan Sarah. Malah Andi yang sering minta chip sama Sarah.



“Itu ada Agus.” Andi memberitahunya dengan enteng.



“Wah, lagi laper juga ya dia?” tanya Sarah tanpa menoleh.



“Bukan, dia yang juala bakso ini.”



“Oh … jualan bakso. Bagus dong ada bisnis tambahan.” Kalimat itu secara tidak sadar keluar dari mulut Sarah karena sedang sibuk memutar scatter di hapenya. Tidak lama kemudian, kepala Sarah langsung menoleh kepada Andi. “APA?”



“Itu … abang bakso itu sebenarnya Agus. Lo kan belum pernah ke sini, begitu juga gue, jadi kita sama-sama enggak tahu.”



“Kok enak banget baksonya kata orang?” tanya Sarah.



“Bukan itu intinya. Kenapa bisa dia jualan bakso?”



“So bakso … so bakso … so bakso ….” Mata Sarah tidak sengaja merangkak ke baliho kepakan sayap. Otaknya langsung mengarah kepada sesuatu. “Jangan-jangan dia lagi nyamar atau gimana.”



Andi menjentikkan jemari karena setuju. “Nah, itu yang gue pikirin.”



“AGOSS!” panggil Sarah kaya preman yang lagi teriakin temannya sendiri.



Panggilan tersebut tidak digubris karena Agus lagi sibuk meraci bakso buat pelanggan. Sarah dan Andi terus saja menunggu Agus yang tidak berhenti-hentinya mainin bakso. Sudah lebih dari lima belas menit mereka menunggu dan pelanggan pun berangsur-angsur pulang karena sudah mendapatkan pesanannya. Andi pun terkejut tatkala Agus mengecilkan cahaya lampu gerobak dan menutup kaca penyimpanan mie dan bakso. Dengan dua mangkuk bakso dan satu porsi yang dibawa pulang, Agus membawanya kepada Andi dan Sarah.


__ADS_1


“Ini bakso kalian ….”



“Lah, kok ga jualan lagi? Tadi ada pelanggan yang datang lagi, loh.” Sarah meletakkan bakso meja plastik kecil di depan mereka.



“Gue bilang aja kuahnya abis dan sudah mau pulang.” Agus melirik ke kiri dan ke kanan, tampak sedang waspada akan sesuatu. “Dua minggu ini gue lagi nyamar di sini. Ada dugaan terjadi transaksi narkoba.”



“Pfft … HAHAHAHA!!!!” Sarah ketawa puas.



“Gila? Lo beneran jadi intel sekarang?” tanya Andi.



“Jangan keras-keras, dong!!!” tangan Agus langsung mengusap kening Andi buat ditepuk.



“Da real abang tukang bakso bawa walkie talkie. Lo beneran bawa walkie talkie?” tanya Sarah penasaran.



“Ada di gerobak. Tapi ngapain juga gue keluarin. Mending pakai hape.” Agus memerhatikan mereka berdua sebentar. “Nanya mulu, makannya kapan?”



“Oh, iya … jadi lupa.” Sarah mencoba satu suap penuh dan suapan itu tidak normal bagi cewek-cewek pada umumnya. “Suompah! Sumpah ini enak banget. Berhenti aja lo jadi polisi, mending jualan bakso kalau begini enaknya.”



“Mulut apa mulut? Capek-capek gue keringetan latihan buat tes polisi, sekarang lo malah nyuruh gue berhenti.”




“Jadi gimana ceritanya lo jadi tukang bakso?”



“Jadi gini ….” Suara Agus bernada rendah. Ia jongkok sambil ngisap rokok kretek berat yang dia beli dari pedagang asongan. Sikap Agus tersebut membuat Sarah dan Andi semakin penasaran karena pembawaan yang mencekam. Helaan napas Agus menjadi berat setelah memicingkan mata untuk memikirkan kata-kata. “Itu rahasia ….”



Hampir saja mangkuk plus bakso-baksonya melayang ke mukanya Agus. Sarah bermuka masam karena berhasil dibikin penasaran sama abang tukang bakso bawa walkie talkie. Untung saja Sarah tidak sedang jadi mode beruang betina lapar karena sudah makan bakso beberapa suap.



“Eh, gue enggak mandang lo polisi atau bukan. Sumpah itu ngeselin!” Sarah memukul kepala Agus pakai garpu.



“SAKIT GUOBLOK!”



“Jadi kenapa lo kok bisa jualan bakso?”



“Lah, kok maksa sih? Ya rahasia gue sama kantor, dong! sPenasaran banget kek Mata Najwa kalau lagi wawancara.”



“Jadi, di mana transaksi narkobanya? Biar gue yang nangkepin.”



“Mereka biasanya mapping,” jawab Agus.


__ADS_1


Tentu saja istilah itu merupakan kata asing bagi Sarah. Ia sama sekali tidak pernah mengetahui kata tersebut. Yang ia tahu cuma mind mapping yang biasa ia buat buat mengkaji kembali mata kuliah. Sementara bagi Andi, kata tersebut tidaklah asing lagi karena semenjak SMA pengedaran narkoba di kalangan preman-preman sekitaran sekolah sudah menjadi rahasia umum.



“Apa itu?” tanya Sarah penasaran.



“Itu … semacam ngeletak barangnya di suatu tempat, nanti diambil sama pemesan. Gunanya biar ngehindarin cod-an dan keciduk tangkap tangan waktu transaksi.”



Sarah langsung memicing mengingat sesuatu. Tepat di salah satu tong sampah terpencil di sudut warung tempat ia duduk ini tadi terdapat seseorang membuang sesuatu. Sekitaran lima menit kemudian, ada orang yang ngorek-ngorek tong sampah tersebut.



“Oh, gitu. Keknya gue lihat seseorang tadi deh.”



Kalimat Sarah membuat telinga Agus berdiri.



“Maksud lo?”



Sarah menunjuk tong sampah tersebut. “Tadi ada orang buang sesuatu di sana, terus sekitaran lima menit kemudian ada orang yang ngorek-ngorek tong sampah.”



“Lah, kenapa lo enggak bilang?” tanya Andi.



“Beneran?!” Agus jadi panik sendiri.



“Lah, buat apa bohong coba? Beneran ….”



“Terus, yang ngebuang barang itu ke mana sekarang?” tanya Agus.



“Dia beli baksonya elu ….”



Agus nepok jidat. Targetnya malah beli bakso dagangannya.



“Kan udah gue bilang, jadi tukang bakso aja udah. Lo lebih sukses di sana.” Tangan Andi menepuk-nepuk pundak Agus yang tampak lemas.



“Bener, lo sehari bisa dapet berapa?”



“Tiga ratus ribuan kalau dari sore bisa dapet.”



“Anjir kalau sebulan bisa sembilan juta dong. Melebihi gaji lo jadi polisi. Hahaha ….”



“ENGGAK GITU JUGA KONSEPNYA!!!”



\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2