Andi X Sarah

Andi X Sarah
42. Apalah Daya (SEASON 3)


__ADS_3

 


 


Wajah Bapak Santoso tampak tidak baik-baik saja, cemas bercampur dengan keringat dingin yang menyucur di dahinya. Napas bapak itu terasa berat dan naik turun tatkala menatap mereka di meja makan. Bunyi pintu yang dibuka paksa telah mengejutkan satu meja makan, bahkan Pram seketika berdiri dan menghampiri Bapak Santoso. Ia memegang kedua bahu Bapak Santoso dengan kuat sembari menggoncang-goncang tubuhnya.


Sebelum bertanya, Pram membawa Bapak Santoso ke meja untukminum air putih terlebih dahulu.


“Bapak kenapa?” Sarah memberikan segela penuh air putih kepadanya.


Tanpa menjawab, Bapak Santoso meneguuk air putih sampai habis. Napasnya mulai reda dan tidak ngos-ngosan lagi. Setelah satu helaan napas yang panjang, seketika saja Bapak Santoso tersenyum.


“Wah, saya dikejar anjing tadi ….”


Rahang Sarah menekan keras satu sama lain setelah mendengarpenjelesan itu. Ia kesal banget lihat wajah Bapak Santoso yang seperti becanda. Padahal, mereka baru aja nih dengerin cerita hantu dari Pram. Udahlah tadi Sarah ketakutan sambil ngelihatin jendela yang terbuka, ditambah lagi dengan suara gemuruh dari pintu yang dibuka oleh Bapak Santoso.


Untung aja nih bapak-bapak, ucap Sarah dalam hati.


“Bijimane bisa dikejar anjing, Bapak?” tanya Pram.


“Itu … hmm ….” Ia menghela napas sesaat. “Tadi saya kan baru solat Isya dari masjid. Waktu berjalan menuju ke sini, ada anjing liar yang ngejar saya. Bayangin aja dari bawah bukit lari sampai ke sini, apa enggak


terasa mau mati saya. Aduh ….”


Bapak Santoso menepuk jidatnya sendiri. Sementara itu, Sarah pengen banget menepuknya dengan ujung sendok.


“Mana anjingnya biar gue tabok.” Andi sok-sokan membela.


“Kekerasan binatang diatur oleh undang-undang,” balas Tami sebagai pecinta binatang.


“Bikin kaget aja tahu. Kevin aja sampai megang-megang gue.” Andi melepaskan pegangan tangan Kevin yang dari tadi nempel terus. Ni anak ototnya aja gede, kalau cerita hantu malah takutnya kaya banci dikejar bapak


satpol.


“Ya udah … sekarang selesaiin makanan penutupnya.” Pram

__ADS_1


menunjuk piring-piring yang berisikan makanan penutup. Masih banyak lagi, ga


tahu nih bakalan abis.


“Cerita hantu bikin gue laper lagi,” pungkas Sarah. Tangannya mengambil kue manis di hadapan.


Cerita hantu dari Pram udah selesai. Bapak Santoso aman nyawanya karena anjing tadi tidak jadi menangkap dan membawanya ke semak-semak, terlebih lagi Sarah kaga jadi ngamuk gara-gara dibikin kaget. Perut yang


kenyang membawa mereka untuk bersantai-santai.


Nanang lagi butuh banget untuk digendong tier mobail lejennya sama Felix. Felix bahkan dipuji-puji setelah sebelumnya selalu aja di-bully. Agus pun diajakin. Selama jadi polisi, dia jarang sekali bermain game


bersama. Kebetulan sekali Kevin dan Revin datang ke mereka untuk meminjam pemantik api. Soalnya pemantik api hilang semenjak ngerokok terakhir kali, yaitu sore tadi. Kali aja Pram sang bapak polisi udah berganti profesi jadi


curancis, alias pencurian mancis. Alhasil, mereka main di pos security sambil dilihatin Bapak Santoso yang tidak mengerti apa-apa mengenai aktivitas yang mereka lakukan.


Kasiannya, Memet tidak main sama mereka. Memang sih, Memet diajakin sama Kevin buat main. Tapi karena Memet tier mobail lejennya terlampau rendah untuk bermain sama mereka, jadi Memet memutuskan untuk membuat kopi saja di villa. Dia ngecariin Andi buat ngopi, tapi tidak kunjung ditemukan. Waktu di buka kamarnya, ternyata dikunci. Memet pun ke teras belakang vila untuk menikmati pemandangan bukit di malam hari.


“Eh, Memet?”


“Elo, Tam. Ngopi yuk.” Memet mengangkat kopinya.


“Ini aku buat teh.” Langkah Tami menuju kursi tepat di samping Memet. “Boleh aku duduk di sini?”


“Boleh, kok. Duduk aja. Ngomong-ngomong, Andi sama Sarah lagi ada di mana?”


Tami diam sejenak untuk mengingat.


“Oh iya, tadi lima belas menit yang lalu aku nampak dia berduaan di ruang tengah sambil debat bumi datar versus bumi bulat.”


“Gue kok ga lihat ya?” Memet keinget pintu kamar Andi yang kekunci. Dia langsung tersenyum jenaka ke arah yang berlawanan dengan Tami biar  kegiatan. Pasti mereka Andi dan Sarah lagi ada berdua di dalam kamar. Positif aja, mungkin lagi belajar rumus MTK. “Lupakan ….”


“Lupakan apa?”


“Ga ada … lupain aja apa yang harus dilupain.”

__ADS_1


“Gimana? Kamu senang di sini?” tanya Tami.


Mendengar pertanyaan tersebut, Memet terasa diperhatikan sekali. Padahal kan cuma nanyain begitu aja. Biasa aja bagi seorang teman menanyakan apakah dia bahagia atau tidak. Yang namanya orang jatuh cinta, tai


pun jadi rasa permen, begitulah istilahnya.


“Seneng banget. Udah lama gue kaga liburan begini. Biasanya nih malam begini gue harus keliling komplek atau main catur lawan bapak-bapak.”


“Kamu ini ya suka keluyuran malam,” balas Tami.


“Tam …,” panggil Memet sejenak. “Gue pengen kuliah.”


“Bagus dong ….”


Memet menghela napas di dalam hati. Untung aja dia kaga bilang, emang lo ada biaya? Kalau Tami begitu, bisa-bisa Memet langsung ngasih bendera perjuangan ke Pram yang dianggap saingan dan lanjut terjun dari atas bukit.


“Hehe … gue ngerasa udah waktunya buat kuliah dengan harapan karir gue di masa depan bisa lebih baik.”


“Kamu itu pasti sukses kok di masa depan. Di antara kita semua, aku rasa kamu sendiri yang paling bekerja keras. Yang lain udah punya privilege sebelumnya, jadi lancar-lancar aja dan tanpa cemas.”


“Makasih ya udah nyemangatin. Gue dibikin langsung pengen daftar besok pagi. Hahah ….” Memet tersenyum sejenak, lalu ia diam seketika. “Tam, lo lagi deket sama Pram?”


Cangkir Tami berdenting di atas meja kaca. Ia letakkan sejenak sembari melihat Memet yang serius.


“Kalau aku deket sama dia, emangnya kenapa?” tanya Tami  balik.


Serasa ragu di dalam hati untuk mengatakan hal yang sebenarnya ingin dikatakan. Memet ingin sekali untuk menjelaskan bahwas dirinyalah yang selama ini berjuang mati-matian buat wanita itu dan seakan dihempas apabila ada orang baru dengan mudah saja masuk di dalam kisah ini. Memet yang sadboy sejati pun mengurungkan untuk memberitahukan itu kepada Tami. Kembali lagi ke masalah hati, ia tidak ingin hubungan mereka kembali merenggang setelah baik akhir-akhir ini.


“Ya enggak apa-apa sih. Apa daya gue buat ngelarang lo, kan?”


Antara sebuah kebenaran dan satire, Tami masih menerka-nerka di dalam hati. Hal pasti yang disimpulkan oleh Tami ialah wajah Memet yang kecewa. Namun, ia kembali bertanya kepada diri sendiri, apa ada sesuatu di


antara dirinya dan Pram? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.


***

__ADS_1


__ADS_2