Andi X Sarah

Andi X Sarah
146. Andi Nukang (SEASON 3)


__ADS_3

“WOI TASYA!”  Andi menoleh ke belakang. “Gue sih ga nolak disenderin cewek cantik, tapi gue punya cewek woi!”


“Oiya Sorry ….” Tasya mengangkat kepalanya lagi.


“Somplak lu!”


Walaupun enak disenderin sama cewek secantik Tasya dan sebohai dia, tapi Andi masih nyadar diri karena punya cewek. Ceweknya pun sedang di ujung penglihatan, nongkrong sama yang lain di depan posko. Bedebag bedebug suara jantung Andi ketika disenderin sama Tasya di belakang, kini hilang tatkala Tasya menarik kembali kepalanya. Takutnya, posko KKN akan dijadikan ring tinju antara satu cewek dan sepasang manusia yang dianggap selingkuh. Andi ga berani lawan Sarah, soalnya sekali tendang bikin ulu hati langsung sakit. Kan Andi pernah jadi korban samsak karate sama Sarah.


Sarah melihat saja sewaktu mereka turun dari motor. Yang lain bertanya apa saja yang dilakukan di SD, sekaligus Andi menjelaskan bahwasanya nanti setiap hari akan ada perwakilan anak KKN yang standby untuk membantu proses pembelajaran. Semua ini dimasukkan ke program kerja bidang pendidikan dan menambah pengalaman-pengalaman bagi anak Jurusan Keguruan.


Para wanita sudah mendapatkan tugas untuk membantu ibu-ibu posyandu desa. Akan ada pemberian vitamin untuk anak balita esok pagi. Ruang depan penuh oleh mereka yang sedang membuat poster-poster berisikan penyuluhan, nanti akan ditempel di posyandu. Sarah paling semangat membuat hal-hal seperti ini. Ditambah lagi untuk laporan pribadinya ia memang berurusan dengan kesehatan, terutama posyandu ini.


“Nabe … bikinin ekstrajoss susu ya …”


“Pakai susu apa?”


“Susu itu …” Andi ngelag sedikit. “Itu susu kental yang gue beli di kota.”


“Gue kira susu apa ….” Nabe segera ke dapur. “Gue kira susu yang itu …”


Otak Andi menganalisa teka-teki dari Nabe. “Kalau susu yang itu juga mau sih gue. Lebih asyik.”


“Susu beruang puya Rijek?”


“Nah itu hehehe.”


“Bisa aja lu Bambang ….”


Nabe kini membuat ekstra joss susu karena anak cowok mau buat pondok di belakang posko. Prinsip jadi kuli yang handal itu harus ada ekstra joss dulu. Kayu yang dibutuhkan sudah dicari oleh Nanang dan Rijek, baik dari hasil penelusuran di hutan atau pun meminta bantuan dari Bang Asep. Keluar dari hutan, muka Nanang dan Rijek langsung bentol-bentol karena diserang sama lebah. Bisa-bisanya Rijek memotong dahan yang ada sarang lebahnya. Mereka pun kocar-kacir membawa kayu hasil buruan mereka.


“Makanya, lo bedain dulu mana kayu dahan yang aman sama yang udah dihinggapi lebah.” Andi mau ketawa melihat bibir Nanang yang bentol di sebelah kiri. Dower banget kaya habis makan cabe satu kilo. Ia harap bisa pulih lagi esok pagi biar tidak malu kalau dilihatin orang.


“Ya gue mana tahu ada lebahnya di sana. Kan enggak sengaja,” balas Rijek. Pelipis kanannya juga bengkak karena disengat lebah.


“Aduh … gue suruh anak cewek deh nanti ngolesin minyak tawon ke muka gue,” ucap Nanang.


“Heleh! Itu mah akal-akalan lo aja. Kan bisa sendiri.” Andi mengangkat kayu-kayu tadi untuk ditumpuk ke satu tempat.

__ADS_1


Sewaktu Andi membakar rokoknya, Nabe datang dengan membawa satu teko esktra joss yang sudah  dicampur oleh susu. Nabe udah kaya asisten rumah tangga sexy yang bikini minum buat majikannya. Pantas Rijek dan Nanang gagal fokus sewaktu Nabe membawa tekonya ke tempat mereka.


“Ini ya esktra joss susunya ….”


“Pakai susu ya?” Nanang mengambil gelas, tapi matanya entah ke mana.


“Kan Andi yang minta susu. Jadi gue kasih ….”


“Ah .. ayo minum cepat!” Andi menuangkan esktra joss susu tersebut biar pembicaraan ini tidak ngawur ke mana-mana. Nanang kalau enggak diginin, nanti malah makin menjadi-jadi.


"Muka kelen kaya zombie.” Nabe berbalik dan meninggalkan mereka.


Andi, Nanang, dan Rijek petantang petuntung di belakang posko untuk membangun pondokan yang berguna sebagai tongkrongan asyik nantinya. Di mulai dari empat tonggak penyangga, lalu Andi memotong-motong kayu panjang seukuran yang sesuai kebutuhan. Beruntung ada donasi dari warga kayu papan. Andi mengukur lagi sebagai dijadikan papan lantai pondokan. Sedangkan dua cecunguk lainnya sungguh beban. Diminta gergaji satu kayu, nanti ngerokoknya selama lima belas menit buat istirahat. Belum lagi kalau Andi kerja mereka cuma malah ngelihatin. Beruntung Andi sudah meminum ekstra joss susu buatan Nabe. Tenanganya bertumbuh lima jam. Di saat ekstra jossmu kuminum, di sanalah istanamu terbangun.


“Hah … akhirnya tinggal atep doang.” Andi menyerahkan palu kepada Rijek. “Lo pasang tuh atap sengnya.”


Atap seng juga diambil dari sisa-sisa aset posko yang tidak terpakai. Andi sudah minta izin kepada Bang Asep untuk menggunakannya.


“Aduh … gue ga bisa.”


“Lo deh Nanang. Pasang atap seng-nya, lalu kita makan,” pinta Andi sembari menyulut rokok di ujung bibirnya.


“Gimana caranya yak?” tanya Nanang dengan bertegak pinggang. “Ini rumit sekali.”


“Rumut kepala babeh elo. Apa susahnya sih?!” tanya balik Andi.


“Lah, kalau ga susah … kenapa enggak elo aja?”


Kalimat Nanang benar-benar meningkatkan tingkat keinginan untuk menyeleding kaki seseorang. Udah lama sudah tidak menyeleding kaki Nanang karena dulu Andi cukup sering melakukan itu ketika bermain fustal.


“Aduh … anak kota ya begini. Kalian ngapain aja sih di rumah? Apa-apa pasti diupahin ya?”


“Kalau bisa diupahin, kenapa harus dikerjain sendiri, ya kan?” Rijek menoleh kepada Nanang.


“Bener banget tuh. Mending push rank ya kan?”


“Anak pant⸺”

__ADS_1


Hampir saja jiwa-jiwa Minang Andi keluar. Beneran dah, mereka sama sekali ga guna kecuali nyari kayu. Itu pun ga semua kayu dari mereka karena ada bantuan dan Bang Asep. Mau tidak mau, Andi yang memanjak tangga ke atas. Di bawah sana ia pinta Rijek untuk memegangi tangga agar tidak goyang.


“Pegangin loh. Gue yang jatuh, palu ini nempel ke muka elo.” Andi menunduk ke bawah/


“Iye … iye … cepetan dah!”


“Hah … untung gue udah minum ekstra joss susunya Nabe, eh salah. Ekstra joss susu buatan Nabe, maksudnya.”


Andi membuka baju. Otot-otot anak mudanya sudah ketutupan lemak semasa kuliah. Perutnya menggembul keluar karena sudah jarang bakar lemak dan kebanyakan makan bersama Sarah. Kata orang, perut buncit tanda makmur. Lah, ini perut buncit malah jadi gembel karena kurang duit.


Bunyi orang bertukang sangat khas sekali. Palu diayun ke kepala paku. Bunyi seng bergesekan di kayu-kayu atas. Andi berkeringat peluh di atas tangga pada pukul sempat sore, padahal matahari senja sedang panas-panasnya kali ini. Atap pun perlahan jadi, menutupi area dalam pondokan. Andi tinggal memasang daun nira sebagai langit-langit agar bocaran seng tidak merembes jatuh.


Anak-anak cewek ngelihatin Andi yang jadi tukang dadakan. Bukannya malah ngebantuin, datanglah otak-otak bejat seperti Sarah.


“Mampus lo!” Sarah ngelemparin Andi dengan sendal.


“Anjir … seru juga!”


Kelly jadi ikut-ikutan ngerjain Andi karena itulah kerjaan faforitnya bersama Sarah.


“Woi jangan!”


“Biarin aja!” Sarah tidak mau berhenti, ia terus ngelemparin Andi pakai sendal.


“Aduh … awas-awasss ….!!!!!”


Rijek yang ikut-ikutan dilempar, kini menghindar dari tangga. Andi pun hilang keseimbangan. Perlahan tapi pasti, tangga pun jatuh ke belakang. Andi jatuh ke tanah berumput. Beruntung tangga tidak terlalu tinggi, Andi bisa menyelamatkan diri.


Semuanya tertawa sore ini dari hasil jenakanya Sarah dan Andi.


“Mereka itu sebenarnya pacaran ga sih?” tanya Nabe yang tepat berada di samping Tasya.


“Tunggu aja bentar lagi ….”


Nabe menoleh ke arah Tasya yang tiba-tiba menjawab kalimatnya. Ada hal aneh yang tersirat dari wanita itu.


***

__ADS_1


__ADS_2