
Tiada menyangka Andi jika mamanya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Matanya terus saja tertutup oleh tubuh yang lelah. Selang infus memajang melalui selang kecil warna bening, berhilir dari kantung cairan infuse yang tergantung di atasnya. Titik demi titik air infuse tersebut tidak berbunyi, lebih keras suara denting jam ketika menunggu waktu. Meskipun senyap hilang oleh gelak tawa acara komedi TV, tetapi rasa khawatir tidak kunjung hilang.
Itulah yang Andi rasakan semenjak bermalam tidak tidur di samping ranjang Mamanya. Hanya ia sendiri yang menunggu tanpa siapa-siapa. Bahkan, ia tidak takut lagi cerita hantu di rumah sakit yang sering ia tonton di film-film. Mata Andi hanya terpejam sesaat, lalu kembali terbuka melihat keadaan mamanya. Tidak hentinya Andi melakukan itu hingga tidak bisa tidur.
Pagi hari tiba. Ketukan pintu menyadarkan dirinya yang setengah tidur. Ternyata, mamanya sudah banguun dengan mata melihat acara televisi. Mamanya meminta Andi untuk melihat siapa gerangan yang datang. Mungkin saja suster atau dokter untuk mengontrol kesehatan. Tatkala Andi membukakan pintu, ternyata Sarah datang dengan bawaan berupa buah-buahan dan makanan sehat lainnya.
“Lo harus kuliah,” ucap Sarah tanpa bersalam lebih dahulu.
“Darimana lo tahu gue harus kuliah?”
“Andi, gue tahu kebiasaan lo setiap pagi. Kan gue yang ngingetin elo kalau Aisyah bilang elo masih molor,” balas Sarah. Ia menyentuh bawah mata Andi. “Andi, lo enggak tidur?”
Andi lantas menggeleng. Ia hanya bisa menutup mata di dalam tidur yang dangkal. Mungkin saja hanya semenit-dua menit, Andi kembali lagi terbangun dan melihat keadaan mamanya.
“Gue udah biasa begini, jadi jangan khawatir.”
“Lo udah sarapan?” tanya Sarah lagi.
“Belum … bahkan gue belum gosok gigi. Nih baunya. Hoooh ….”
Awalnya Sarah khawatir sama Andi yang keliahatn kacau, malah jadi emosi gara-gara Andi memberikan napas pagi kepada dirinya. Padahal, Andi sama sekali belum gosok gigi dan bau rokok subuh tadi. Ade-ade aje nih anak yang satu ini.
“Bisa-bisanya elo ya becanda di keadaan yang begini. Pergi sana gosok gigi dan pergi dari sini. Nanti gue kasih duit buat sarapan!” Sarah mendorong Andi untuk memberikannya jalan masuk.
__ADS_1
“Lah kok ngusir?!” tanya balik Andi.
“Suka-suka gue dong. Gue mau ngerawat calon mama gue.”
Mendengar hal tersebut, mata Andi langsung kaya minum ekstra jos susu dua gelas. Dia secepatnya untuk gosok gigi dan menadahkan tangan buat minta jajan. Sarah udah kaya seorang kakak yang ngasih jajan sepuluh ribuan.
“Jangan dibeliin rokok ya. Awas kalau beli rokok, gue jual paru-paru lo itu ke rumah sakit ini. Mana tahu mereka lagi butuh.”
Andi menyentuh dadanya. Gila-gilanya Sarah mau ngejual paru-parunya. Kalau paru-paru dijual, terus siapa lagi pembalut jantung yang berdetak untuk wanita di hadapannya kali ini. Setiap detak jantung ini bersemat namanya yang mengandung rindu tiap saat. Andi jadi berpuisi di hadapan Sarah yang bikin Sarah makin jadi jijik.
Uang jajan sarapan pagi sudah didapat. Gigi udah bersih kinclong kaya ubin keramik. Meskipun ketek belum mandi, parfum mahal Sarah sudah menutupinya kali ini. Setelah itu, Andi berpamitan kepada Mama sekalgus memberitahu jikalau Papa akan datang ke ibu kota sore nanti. Wajah mamanya riang seketika mendengar suami yang akan datang. Ia tidak sabar untuk segera bertemu dengan kekasih hatinya tersebut.
Untung aja Andi udah pergi, jadi Sarah leluasa bicara sama calon mertuanya tersebut. Biasanya nih Andi banyak nyindirnya kalau Sarah lagi bicara sama mamanya Andi. Sarah dibilang pemalaslah, galaklah, anak geng motorlah. Padahal kan saat itu mereka lagi ngebicarain resep rahasia opor ayam.
“Mama ….” Sarah jadi deg-degan nyebut panggilan itu, padahal dia sudah mendapatkan izin akan hal tersebut. “Sarah jagain Mama di sini. Andi pergi kuliah, Aisyah juga. Nanti siang Tami ke sini kok waktu istirahat siang. Kalau sekarang mah dia lagi kerja.”
“Enggak apa kok Ma. Sarah lagi kosong hari ini. Papanya Sarah malah nyuruh buat jagain Mama di sini. Soalnya, Andi pasti nanti keluyuran.”
“Hahaha … Andi oh Andi. Dia memang anak yang suka keluyuran. Tapi, di antara Aisyah dan dia, Andi yang paling kelihatan khawatir kalau Mama lagi sakit. Mungkin karena Andi itu dari kecil sampai besar selalu di bawah ketiak Mama.”
“Dia katanya enggak tidur. Kantung matanya punya kantung mata,” balas Sarah.
“Iya, Mama tahu kok. Andi enggak tidur dari tadi malam. Bahkan, saking enggak tidurnya, dia malah ngerokok di balkon ruang inap ini. Dia kira Mama tidur terus sampe Mama enggak tahu kalau dia di sana. Tapi, ya udahlah ….”
Vangsat nih anak, bisa-bisanya! Sarah makin enggak sabar mau nyeleding kepala Andi kalau ketemu nanti. Malah nyebat di balkon ruang inap ini. Padahal rumah sakit itu bebas dari asap rokok.
Dokter beserta perawat masuk ke ruangan untuk pemeriksaaan kesehatan. Sarah yang notabene seorang anak kedokteran memperhatikan serius bagaimana dokter memeriksa seorang pasien. Kelak berharap Sarah bisa menjadi seorang dokter spesialis yang sedang berbicara di ruangan ini. Setelah pemeriksaaan dilakukan dan dokter muda tersebut menyatakan jika keadaan mamanya Andi relatif lebih membaik, Sarah berterima kasih dengan mengantarkannya keluar.
__ADS_1
“Terima kasih ya, Dok.”
Dokter tersebut terdiam sesaat. Ia memerhatikan wajahnya Sarah dengan seksama.
“Kamu bukannya mahasiswi dari Dokter Cipto?”
Eh, bagaiman dia tahu kalau gue mahasiswi dosen kocak itu ….
Dokter Cipto merupakan dosen pembimbing akademik dari Sarah, semacam wali kelaslah kalau di sekolah umum. Sarah sering banget berususan dengan Dokter Cipto yang sering hilang di ruangan, lalu tiba-tiba aja udah ada di rumah sakit atau di kantin buat ngopi. Kalau ketawa, Dokter Cipto vibes-nya kaya bapak-bapak banget. Candaannya garing dan Sarah selalu saja terpaksa buat ketawa.
“Iya, saya mahasiswa dari Dokter Cipto. Dokter kok tahu?”
“Masa kamu lupa? Waktu di semester awal kamu pernah ngantarkan berkas penelitian dari Dokter Cipto ke saya.”
Setelah diingat-ingat, Sarah banyak banget disuruh oleh Dokter Cipto. Tidak hanya membantu penelitian, malah Sarah disuruh bikin kopi dan diantar ke ruangan kalau mau minta tanda-tangan. Belum lagi kalau beliau nyuruh Sarah beliin ayam geprek depan kampus. Udahlah belinya panas-panas, eh Dokter Ciptonya malah enggak ada di ruangan lagi.
“Maap ni ye Dok, Dokter Cipto itu banyak banget saya bantuin penelitiannya. Jadi antar ke sana-sini udah biasa. Kayanya saya lupa deh.”
“Oh iya, waktu itu kamu cuma nganterin berkasnya di lobby rumah sakit ini. Kebetulan saya lagi menuju ke sana dan nampak kamu …. Saya Dokter Fero, salam kenal …. Anda berarti junior saya di Fakultas Kedokteran karena saya juga berasal dari sana.”
Sarah pun menyalami dokter muda tersebut.
***
__ADS_1