
Gebetan
"Tami?" tanya Andi di hadapan wanita yang menabraknya. Tangannya segera membantu wanita itu untuk kembali berdiri.
"Kak Andi?" balas Tami.
Mereka saling tatapan. Rasanya sudah bertahun-tahun Andi tidak melihat anak kecil bersinglet kuning yang sering main ke rumahnya dulu. Masih dengan memakai kolor naruto, Andi menyambut Tami di depan pintu rumah. Singlet kuning dan kolor naruto saling membagi tawa saat bermain pe'es satu.
Kini dia menjadi gadis mungil yang manis. Kacamatanya yang besar memperlurus tatapannya kepada Andi.
"Ke mana aja selama ini? Rumah kamu tapi dijual." Sesekali Andi melihat Sarah yang melipat tangan di depan pintu masuk studio bioskop.
"Aku di Bandung, Kak. Tapi sekarang bakal di sini lagi," balas Tami.
"Ga usah panggil kakak, deh. Kita sebetulnya seumuran. " Tangan Andi mengacak-acak rambut Tami. Keakraban mereka seketika kembali muncul kembali.
"Hahaha, betewe ngapain ke sini?"
"Nonton sama temen aku. Tuh ...." Andi menunjuk Sarah di sana. Sebelah alisnya naik. Ada yang ga beres dari Sarah.
Njir, mukanya kok tiba-tiba serem gitu yaa ....
Tampak Sarah melangkah ke arah Andi dan Tami. Andi masih tidak merasakan hawa-hawa transformasi huluk betina di langkahnya Sarah. Tapi tetap kelihatan seram
"Pilemnya udah mulai ... gua mau nonton, atau lo tinggal aja di sini," kata Sarah sambil menatap sinis kepada Andi.
"Jadi, ini pacar kamu?" tanya Tami. "Kok serem, ya. Dulu kecil katanya mau cari pacar yang kaya─" Kalimat Tami berhasil dipatahkan Andi.
"Kami masuk dulu, ya─"
"Ini cewek baru jumpa udah minta disleding, ya?" Sarah langsung menerobos. Kalimat yang baru diucapkan Tami berasa nyungsep banget ke Sarah.
"Sans dikit napa, Sar," ucap Andi. Matanya menyorot Tami. "Kami pergi dulu."
Tangan Andi menyeret Sarah jauh-jauh. Setelah masuk ke dalam studio bioskop, Sarah menyubit Andi dengan keras.
"Woi, temen lo ga bisa jaga mulut ya ...."
"Lo ga bisa nyantai dikit, sih. Tami memang ceplas-ceplos gitu. Sama kaya elo."
__ADS_1
"Lah, berani-beraninya lo nyamain gue sama dia," balas Sarah dengan cepat.
"WOI BISA DIAM GA?" Orang di atas mereka protes.
Andi dan Sarah akhirnya terdiam.
Pilem sudah diputar sepuluh menit yang lalu. Mereka baru datang setelahnya. Baru saja pilem dimulai Andi mulai kedinginan karena AC dalam bioskop itu dingin banget. Ini cowok katrok banget. Sama dingin AC mall aja alergi. Tapi ga apalah, Sarah masih bisa menahan malunya karena punya temen kaya Andi. Berkali-kali Andi berkeluh kesah karena dirinya kedinginan banget.
Adegan pilem Rinai Hujan yang begitu romantis menyedot perhatian Andi. Dirinya yang selama ini cuma nonton pilem aksi dan komedi, kali ini disuguhkan oleh adegan yang bisa bikin mewek cewek satu kampung. Karakter cowoknya yang bernama Farel begitu mendalami adegannnya, sedangkan Alvia si karakter cewek tampan menawan.
"Eh tau ga, pilem ini berawal kerapuhan hati authornya cerita ini loh...," kata Sarah sambil tersenyum melihat ketampanan pemeran cowok di pilem.
"Apaan tuh?" tanya Andi.
Sarah mengela napas sejenak. "Itu loh, Ga tau juga lo? Authornya itu yang Bang Jai-Bang Jai itu namanya. Ga terkenal sih ...."
"Itu kan author cerita kita, njir!!!!"
"Berarti kita satu produk, dong."
Lupakan, masa' mereka cerita begituan ....
"Romantis ya ceritanya. Ga salah kita nonton," ucap Sarah di akhir-akhir pilem. "Moga aja ada pilem lanjutannya. Bener, kan?"
"Eh, dari tadi lo molor?" tanya Sarah sambil menyingkirkan kepala Andi dari pundaknya.
Seketika Andi berdiri sambil mengelap ilernya yang menetes sedikit. Ia lihat para penonton masih duduk di tempatnya. Dia sendiri yang berdiri tiba-tiba.
"Uanjir, gua kira udab selesai," balas Andi.
"Andi, lo mahal-mahal traktir gua nonton cuma buat molor?"
"Maap, deh. Pilemnya udah sampai mana, nih?" Mata Andi melihat ke layar bioskop. Ternyata pilemnya udah abis. Hanya berisikan tulisan para aktor yang berjalan dari atas ke bawah.
Lampu dihidupkan. Para penonton berjalan ke bawah buat keluar. Tanpa rasa sesal sedikit pun, Andi berjalan dengan tenang. Harusnya dirinya merasa rugi karena ga nonton keseluruhan pilem. Sarah berjalan lebih dulu. Dia ga mau deket-deket sama Andi yang katroknya luar biasa.
"Makan, yuk," pinta Andi.
"Di mana?"
"Cari warteg, di mana yang murah aja. Gua ga punya duit kalo traktir makan di mall."
"Lo bisa bokek juga, ya?" balas Sarah. Matanya menangkap tulisan kaefci di sana. "Ayo makan di sana. Gua yang traktir."
__ADS_1
Tanpa bicara, Andi hanya mengangguk senang. Akhirnya perutnya bisa keisi pake makanan yang agak mahalan dikit. Ia mengikuti langkah Sarah yang cepet. Tanpa mencari tempat duduk terlebih dahulu, Sarah langsung menuju abang-abang kaefci buat memesan makanan. Sementara itu Andi melirik sana sini untuk mencari tempat yang kosong.
Tidak terlalu lama Andi menunggu makanan yang dirindukan, Sarah datang dengan ayam goreng lengkap dengan minuman cola. Mata Andi tak lagi melirik cewek-cewek yang lagi nongkrong di sana. Sedari tadi dirinya memerhatikan bidadari yang sedang berbincang satu sama lain.
"Jangan terburu-buru. Ntar keselek, mati lo," ancam Sarah pada Andi. Biasanya Andi memang makannya cepet banget.
"Care banget lo sama gua." Andi menyuap suapan pertamanya. Merica dalam bumbu tepung sungguh terasa di lidahnya.
Sarah mengernyit. "Jijik gua sama lo, udah makan aja sana."
Memang benar, Andi makannya lahap bener. Ayam Sarah belum habis seperempat, ayam Andi cuma tinggal keraknya doang.
"Sarah, lo punya pacar atau gebetan, ga?" tanya Andi dengan penasaran. Sarah selama ini memang terlalu menutup diri dengan hal-hal yang seperti itu.
Tangannya mengambil gelas cola dan meminumnya dengan cepat. "Apa lo bilang?"
"Selama ini orang penasaran loh. Bahkan gua juga. Siapa gerangan yang disukai sama huluk betina. Spesies apa gitu ...."
"Jangan panggil gua huluk pliss, deh." Sarah menyuap ayamnya.
Ia memikirkan sesuatu. Selama ini memang menjadi bunga kecil yang perlahan merekah dalam benaknya. Berawalkan dari tatapan kosong yang dingin, hingga sentuhan tangannya yang lembut.
"Gua ga punya pacar. Tapi gebetan mungkin ada."
Andi terkejut. Ternyata huluk betina bisa suka sama orang juga. Bukan sama huluk jantan yang satu spesies dengan dia.
"Siapa? Kasih tau gua, dong."
"Enggak! Ntar lo rumpiin sama temen-temen *** lo itu."
"Yaelah, sama gua aja. Gua janji bakal jaga janji." Andi melebarkan telunjuk dan jari tengahnya.
"Beneran ga bakal bocor?" tanya Sarah.
Kepala Andi mengangguk. "Beneran. Menurut Kode Etik keberandalan No 4 tahun 2017, pria itu yang dipegang omongannya."
"Suka-suka lo deh mau kode etik kek mau kode apa kek. Yang penting lo harus jaga rahasia."
"Jadi siapa?"
"Pram." Sarah melebarkan senyumnya. "Gua suka sama dia."
***
__ADS_1