
Ajiz merupakan pria tertulus yang pernah ia temui sepanjang hidupnya. Dari serangkaian cerita asmara yang pernah Naila alami, hanya Ajiz yang tidak pernah meminta lebih. Sebagaimana pun Naila telah mengabaikan Ajiz, pria itu tetap akan selalu ada di sisinya sepanjang waktu. Meskipun pria itu sudah tahu Naila akan mencueki setiap chat-nya setiap hari, Ajiz akan tetap datang meskipun sekadar membalas story di media sosial. Terkadang, apa yang dibalasnya pun tidak penting sehingga ia tahu Naila pasti mengabaikan.
Benar adanya jika dahulu Naila mengabaikan Ajiz dikarenakan perasaannya kepada Andi. Pada saat itu, hati tengah berlabuh kepada Andi. Namun, perasaanya kepada Andi pun pudur tatkala pria itu telah memilih orang lain. Ajiz mengetahui kisah tersebut dan acap sekali membuatnya patah hati. Bayangkan saja wanita yang ia sukai ternyata memilih orang lain, parahnya lagi orang itu merupakan senior yang Ajiz hormati. Namun, Ajiz tidak pernah menurunkan semangat. Ia tetap berada di sisi Naila apa pun keadaannya.
Ketulusan Ajiz itulah yang membuat Naila sadar jika kehadiran Ajiz sangatlah penting. Pria itu tidak pernah menuntut lebih, tulus dari hati mencintai dirinya. Perjalanan waktu membawa hatinya untuk menumbuhkan benih-benih rasa. Namun, ia yang telah dewasa tidak lagi sebagaimana ia remaja. Berpacaran bukanlah jalan terbaik untuk menjalin hubungan. Ia hanya ingin yang lebih dari itu, yaitu menikah. Hanya saja, jalan ke sana akan membutuhkan waktu yang banyak bagi Ajiz untuk bersiap diri.
Andi teregun tatkala Naila menyatakan kekhawatirannya yang begitu dalam. Rasanya, ingin ia memarahi Sarah yang selalu cemburu jika ia berada dalam satu momen dengan Naila. Naila sama sekali tidak pernah menginginkan dirinya, melainkan hanya ingin berteman seperti biasa. Telah terukir nama seseorang di hati wanita itu, yaitu Ajiz sendiri.
“Nih kasih ya … walaupun enggak seberapa, mungkin bisa memenuhi keperluan kalian di sana.” Sarah memberikan dua kantong besar yang berisikan makanan dan minuman. Satu kantong bersikan makanan sehat, sedangkan satu kantong lagi buat mereka yang menjaga Ajiz.
“Kalau ini lebih dari yang cukup Sar. Makasih banyak ya.” Andi mengangkutnya ke motor untuk dibawa ke rumah sakit.
“Kan Ajiz enggak tinggal sama orangtua, terus orangtuanya juga enggak tahu. Siapa yang ngebayar rumah sakitnya?” tanya Sarah.
“Kata anak Kodomo, Naila yang bayarin. Terus Pram juga bantu juga.”
“Waduh … baik banget ya mereka. Apalagi Naila … mereka pacaran?”
Andi mengangkat bahu. “Kaga tahu deh. Kalau kata anak jaman sekarang, komitmen-komitmen gitu. Gaya pacaran baru kali ya. Heheh ….”
“Suka-suka mereka deh. Yang pasti gue enggak ada prasangka lagi sama Naila. Dia jelas udah suka sama Ajiz.”
Tangan Andi mengusap lembut rambut depan Sarah hingga gadis itu tersipu malu . “Jangan cemburuan napa. Sejauh apa pun gue pergi, sebanyak apa pun temen cewek yang gue punya, gue tetap perginya ke elo kok.”
“Iya sayangku, cintaku ….” Sarah memberikan kunci motor milik Andi. “Udah … pergi sana. Mereka udah kelaparan tuh. Titip salam ya buat Ajiz, moga aja mukanya kembali normal. Katanya bonyok abis.”
“Doanya parah banget …..”
“Ya kan memang begitu faktanya.”
Andi pergi menuju rumah sakit untuk memberikan benda-benda belanjaan dari Sarah dan dirinya. Di rumah sakit, sudah ada tiga orang yang menjaga Ajiz. Ia sudah bisa bicara, meskipun matanya kanannya tertutup karena bengkak. Tampak Ajiz tersenyum pelan melihat Andi yang datang. Ajiz kini sedang dalam keadaan duduk untuk disuapi bubur oleh Naila.
“Nih dari Sarah dan gue.”
Tangan Naila menyambut barang bawaan tersebut.
“Makasih ya Bang. Sampein ke Kak Sarah,” jawab Ajiz.
“Gimana keadaan lo?”
“Ya begitulah, muka gue bonyok. Udahlah jelek, tambah jelek. Heheh ….”
Di saat-saat yang begini, Ajiz pun masih sempat bercanda. Ya mau giman lagi, tidak cukup waktu untuk merasa cemas sepanjang hari.
“Enggak boleh gitu dong Jiz. Muka lo nanti gue kasih skincare biar rapi lagi,” balas Naila.
“Kalau muka gue begini Nai, butuh waktu berbulan-bulan buat pulih lagi,” jawab Ajiz.
Tiba-tiba aja terdengar riuh suara dari Kevin dan Revin. Mereka sedang main ps bola di laptop.
“GOOOL !!!!” ucap Kevin dengan keras.
“Astagfirullah, Bang!” Naila jadi terkejut.
Bayangin aja di ruang inap rumah sakit, ada orang lagi sekarat, mereka malah asyik-asyiknya main game. Pakai suara gede pula yang bikin orang sakit jadi tambah sakit telinganya.
“Senior lo kaga tahu tempat memang ya,” sindir Andi.
“Biarin aja deh Bang. Mereka ada di sini aja gue udah seneng. Siapa lagi yang ngejagain gue kalau bukan mereka.”
Kevin menoleh kepada Naila. “Nai, siapa tuh temen lo yang tadi? Itu tuh yang lo suruh beli air minum ke indoapril. Udah lo bilang kan kalau gue mesen kopi kalengan.”
“Tasya Bang, Udah kok tadi Naila bilang kalau abang mesen kopi,” jawab Naila.
“Loh, ada Tasya ya di sini?” tanya Andi dengan terkejut.
“Iya Ndi, gue baru aja dari rumah dia. Terus gue minta anterin ke rumah sakit buat ngejenguk Ajiz.”
Permainan bola pe`es di laptop tampaknya sudah selesai. Kevin yang tersenyum lebar menandakan dirinya sebagai pemenang. Laptop pun ditutup seiring tubuh Kevin yang menghadap ke Andi.
__ADS_1
“Anaknya cantik banget loh Ndi. Sebelas dua belas dong sama Tami. Tapi kayanya lebih imutan Tami,” ucap Kevin.
“Cantikan dia sih menurut gue.” Revin pun ikut-ikutan memberikan review-nya.
“Giliran cewek cakep malah cepet ya kalian para-para bangsat.” Sindir Andi.
Kevin pun menjentikkan jari. “Kalau ada Pram, kita langsung kalah saing dong. Pokoknya jangan biarin Tasya ketemu sama Pram deh. Bisa-bisa sekali kedip sama Pram, Tasya langsung minta diajak jalan sama dia.”
“Ada-ada aja sih Bang. Kak Tasya itu orangnya enggak mandang fisik kok,” sanggah Naila.
Bibir Kevin tampak mencibir kalimat itu. “Iya sih kaga mandang fisik, tapi mandang pangkat sama duit. Lah gue, cuma ojol sama penjaga indoapril.”
“Ush … kaga boleh mandingin diri dengan orang lain ….” Andi melempari Kevin dengan sebungkus rokok pemberian Sarah. “Nih dari Sarah. Besok dia beliin lagi asal kalian ngejagain Ajiz di sini ya.”
“Nah gitu dong. Gue makin restuin nih kalau elo cepet kawin sama Sarah.” Kevin senyam-senyum karena dapet rokok gratisan dari Sarahh.
“Oke gue balik dulu ya guys. Ada banyak kerjaan nih di rumah ….” Andi mendempetkan kedua tangannya.
“Pengangguran banyak gaya!” pungkas Kevin.
Andi pun berbalik diri untuk segera pulang. Sewaktu membuka pintu, ternyata Tasya juga sama-sama ingin masuk. Andi hanya memberikan senyum kepada Tasya sebagai saapaan dan memberikan jalan untuk Tasya masuk. Setelah menutup pintu, Andi pun pergi.
Baru saja Andi memasuki lift, terseliplah tangan untuk menghentikan pintunya. Seketika Andi panik karena takut kaya di adegan pilem-pilem gitu, tanganya kepotong dan terjadilah adegan menyeramkan yang seharusnya tidak terjadi. Ternyata imajinasi Andi berlebihan, kayanya terlalu banyak nonton film genre thriller. Tasya baru saja menghentikan pintu lift tertutup. Ia mengejar Andi, padahal jarak ruang inap Ajiz dan lift relative jauh.
“Loh, mau ke mana?” tanya Andi.
“Hmm enggak ke mana-mana. Naila bilang kalau dia bakalan di antar sama Bang Revin.” Ia memasuki lift dan menoleh pada Andi ketika mereka berdua berada di sana. “Lo sibuk ga? Ngopi dulu yuk di cafetaria.”
Sebenarnya Andi tidak ada jadwal hari ini. Alasannya cepet pulang cuma buat nonton anime di rumah. Ia memahami maksud Tasya yang mengejarnya, hanya buat ngajak ngopi. Terjebak di situasi segan dan ingin pulang, Andi memilih mengiyakan ajakan Tasya. Lagi pula hari ini ia belum ngerokok sambil ngopi. Soalnya hal itu jadi aktivitas wajib biar santuy setiap hari.
“Tapi gue boleh ngerokok ya ….”
“Emangnya di rumah sakit boleh ngerokok?” tanya Tasya balik.
“Setahu gue itu smoking area di cafetaria.”
“Ya udah deh iya, boleh ….”
Café ramai oleh bapak-bapak yang sedang melepas candu ngopi dan ngerokok. Andi memilih tempat duduk di pojokan biar Tasya tidak terlalu terganggu dengan asap rokok. Terkadang Andi mikirin juga orang lain, meskipun dirinya sendiri ngerokok di depan orang itu.
Kopi datang tidak lama setelah Tasya duduk bersamanya.
“Ahhhh …. Nikmat sekali …..” Andi frontal sekali mendesah karena nikmatnya rokok. “Izin ngerokok dulu ….”
“Gue baru tahu kalau lo ngerokok. Tampang lo kaya orang ga ngerokok,” ucap Tasya.
“Emangnya ada tanda-tanda orang ngerokok atau enggak? Kayanya kaga ada beda deh.”
“Ada tau … ya gitulah ….”
Tidak ada tampang terganggu dari wajah Tasya tatkala Andi menghembuskan asap rokok suyra miliknya. Biasanya nih Andi peka banget ngelihat wajah orang yang terganggu. Ada yang nahan napas, ada yang ngehindar, ada yang ngambil rokok Andi terus dikerimukin kaya Sarah kalau lagi marahin Andi ngerokok.
“Lo mau aja diajak Naila ke sini,” ucap Andi.
“Lagi pengen aja, gabut juga di rumah enggak ada ngapa-ngapain. Sekalian nambah temen baru. Jadinya gue kenal sama gebetan Naila, Bang Kevin, Bang Revin. Mereka orangnya asyik.”
“Tunggu dulu, gebetan Naila? Jadi Naila beneran suka sama Ajis gitu?” tanya Andi untuk memastikan.
“Terkadang Naila cerita kalau dia punya gebetan dari teman SMA-nya. Kata Naila, si Ajiz dulu ngejar-ngejar Naila, tapi Naila nolak karena seseorang.”
Tangan Andi menarik rokoknya dari bibir. Orang yang Naila maksud sudah pasti dirinya. Tapi semua itu hanyalah masa lalu. Kini kisah sudah berjalan dengan sendirinya.
“Oh gitu … kayanya Ajiz beruntung banget disukai balik sama orang yang dia sukai. Tapi kenapa ga pacaran ya?”
“Enggak tahu tuh, Naila katanya enggak mau pacaran.” Tasya menyeruput kopinya. “Lo waktu pulang sama Nana ya waktu dari ulang tahun gue?”
Kaget dong Andi mendengar pertanyaan itu. Dari mana ia tahu mengenai hal tersebut, Andi tidak mengetahuinya.
“Iya, lo kok tahu?”
__ADS_1
“Katanya pergi sendiri, tapi ternyata berdua. Bo`ong lo ya?”
“Eh mana ada, gue itu pulang karena Nana itu mabuk. Kasian gue ngelihat dia pulang sendirian dengan keadaan seperti itu.”
Tasya menunjuk Andi dengan curiga. “Lo main ke kos-kosan Nana ya?”
Bujubuset … nih anak tahu atau gimana sih, kok nanya begitu …..
“Mana, gue nganterin sampai depan kos.”
“Kayanya lo deket sama Nana,” pancing Tasya lagi.
“Ya iyalah deket, kan gue temen sekelasnya. Lo jangan mikir aneh-aneh, gue udah punya cewek.”
Wajah Tasya tampak berubah saat mendengar hal itu. “Tapi lo tahu ga kalau Nana itu …. aduh gimana bilangnya ya.”
“Maksud lo gimana?” Andi mencurigai jika Tasya mengetahui rahasia dari Nabe.
“Kata orang-orang nih ya, cowoknya itu bangsat banget. Gue kaga tahu kebenarnanya. Pokoknya cowoknya itu sering ngajak Nabe ke kos-kosan.”
“Kayanya biasa aja sih kalau cowok ngajak main ceweknya ke kos-kosan. Tipikal anak kota banget. Sering terjadi di kota-kota besar, hehehe …..”
“Tapi katanya cowoknya itu ngancem-ngancem Nana buat ngelakuin hal yang dia mau.”
Fakta itu membuat Andi semakin tertarik menguak rahasia sebenarnya dari Rizky tersebut. Nabe bercerita sebelumnya jika ia memiliki masalah dengan pacarnya tersebut. Meskipun ia sering terlihat ceria di kelas, Nabe sebenarnya menyimpan masalah yang tidak bisa ia ceritakan.
“Ceritnya gimana nih, jangan bikin gue penasaran dong.”
“Nabe itu dipaksa gitu-gituan sama cowoknya. Karena Nabe diancam terus, jadi Nabe enggak bisa ngelawan,” jawab Tasya.
“Kemarin dia curhat sama gue kalau Nana udah putus.”
Mata Tasya memicing curiga. “Kok dia curhat sama lo sih?”
“Ya apa salahnya dia curhat sama gue? Suka-suka dia mau cerita sama dia.”
“Berarti lo deket sama dia dong?”
Ni anak aneh banget. Kayanya biassa aja deh kalau cerita masalah itu.
“Ya ga gitu juga kali Tasya.”
“Jangan deket sama Nana ya …..”
Andi berhenti menghisap rokok setelah Tasya mengucapkan kalimat itu.
“Lah kok ngatooor …..”
“Ya ga ada, gue bilang aja ….”
Tasya menunjuk handphone Andi yang bergetar. Ia tidak bisa melihat siapa yang sedang menelpon karena hape Andi dalam keadaan terbalik. Melihat hapenya ada yang sedang menelpon, Andi permisi sebentar untuk mengangkatnya. Tertera nama Nana Behel di layar handphone miliknya.
“Woi, ngapain nelpon gue?”
“Lo lagi di mana?”
“Emangnya mau ngapain?” tanya Andi dengan memelankan suaranya.
“Gue rindu ….”
“Kepala lo rindu, rindu tuh sama pohon ….”
“Lah kok gitu sih ngomongnya. Ke kosan lah,” pinta Nabe dengan memelas.
“Eh Behel, gue kaga mau dibawa ke pos siskamling gara main ke kosan lo ya. Gue kaga mau bonyok digebukin pemuda setempat,” balas Andi sedikti emosi. balas Andi sedikti emosi.
“Lag emangnya ke kosan gue harus gituan? Belajar MTK kek, belajar fisika, kimia, apa aja kita belajar bareng. Lo kan sering nanya materi sama gue, sini gue ajarin secara privat.”
“Sudah gila anda ini. Saya sedang sibuk, jangan dihubungi!” Andi menutup sambungan panggilan tersebut.
__ADS_1
Hari ini Andi bertemu satu orang cewek aneh yang sok ngatur, satu lagi cewek gila yang kerjaannya bikin Andi emosi. Kayanya Andi balik lagi kaya di masa-masa SMA karena ada banyak cewek yang datang dengan kararistik aneh.
***