Andi X Sarah

Andi X Sarah
​135. Ada Saos (SEASON 3)


__ADS_3

Andi mengingat jika di plaza ini pernah membawa Sarah yang pengen main timezone. Waktu itu entah kenapa, Sarah lagi pengen aja main yang begituan, Andi mengira kalau Sarah sedang ngidam. Berangkatlah mereka ke sana setelah sebelumnya makan bakso dulu karena Sarah minta dijajanin. Banyak sekali permainan timezone yang dimainkan oleh pacarnya itu, hingga Andi capek sendiri dan duduk di atas mainan kuda-kudaan para bocil. Ngedate mereka ke sana akhirnya membuahkan hasil, Sarah memberikan Andi jam tangan dari hasil kupon yang ia dapatkan.


Namanya juga jam hadiah, pasti tidak mahal. Baru saja sebulan Andi pakai, ternyata sudah rusak. Sarah marah-marah karena jam hadiahnya ternyata dirusakin oleh pacarnya sendiri. Padahal, Andi memakainya secara normal. Udah ajal dari jamnya mungkin.


Kini, Andi tidak pergi bersama Sarah, melainkan dengan Tasya. Posisi mereka berjalan pun hampir sama. Sarah selalu berjalan selangkah lebih cepat, begitu pula yang Andi dapati dengan Tasya. Tasya selalu membicarakan apa saja yang ia sukai dari desa tempat KKN tatkala mereka berjalan menuju tukang jahit. Sesampainya di toko baju itu, Andi melakukan pengukuran baju dengan sang penjahit.


“Mas Andi jangan tahan napas ya,” ucap penjahit. “Lepasin aja.”


Memang Andi tahan napas sedari tadi biar perutnya tidak kelihatan buncit. Namun, hal tersebut malah membuat pengukuran tidak pas. Sewaktu Andi melepaskan napasnya, menggembullah perut buncit Andi yang tumbuh selama kuliah karena jarang olahraga dan banyak makan bersama Sarah.


“Heheh … sory perut gue melar semenjak kuliah ….”


Tasya tersenyum. “Iya, pipi lo juga tembem kek donat.”


“Mau diet tapi gagal mulu. Tiap sore lapar, eh malah jajan. Apa enggak naik mulu nih berat badan,” balas Andi.


Pengukuran pun selesai. Andi sudah menerima informasi mengenai ukuran bajunya. Ia pun meminta dibikin agar lebih kecil dari pengukuran karena membuat tubuhnya cenderung lebih slim.


“Lo udah makan, Ndi? Makan dulu yok.”


“Udah tadi gue makan di kantin ….”


“Makan apa?” tanya Tasya.


“Mie pakai nasi dong, paket hemat cuma buat gue di kantin itu,” balas Andi.

__ADS_1


“Mana cukup makan begituan, ga sehat loh makan mie mulu. Elo kayanya tiap hari makan mie di kantin.” Tasya menunjuk badut iklan restoran cepat saji Basana Chicken. “Mumpung sepi tuh.”


Tatkala melihat pengunjung di sana mengoyak kulit ayam goreng krispi yang dicocol dengan saus sambel, Andi jadi keroncongan seketika. Ia jadi pengen mengoyak kulit ayam segera dan menikmati setiap detik kegurihannya.


“Yaudah ayok, gue juga laper nih heheh ….”


Tanpa ragu dan bimbang, Andi langsung memesan makan bersama Tasya. Andi memesan paket dua ayam satu nasi, sedangkan Tasya hanya memesan paket regular biasa yang hanya satu ayam dan satu nasi. Tasya sebagai orang yang menjaga ketat kadar kalorinya, harus terus memerhatikan asupan makanan agar tubuhnya tetap dalam bentuk yang sempurna. Beda nih sama Andi yang malah makan apa saja yang bisa dimakan.


Waktu Tasya ingin membayar, ia malah ditahan oleh Andi.


“Gue aja yang bayar. Mumpung murah di sin ikan ….”


“Oh ya? Padahal gue mau traktir elo,” ucap Tasya.


Nih anak sementang orang kaya traktir orang malah sembarangan …


“Ya elah gini doang pakai traktir. Sesekali elo yang ditraktir.” Andi menarik tangan Tasya dari meja kasir, lalu ia memberikan sejumlah uang kepada mbak-mbak kasirnya. “Ini mbak, saya yang bayar. Sorry duit gede ….”


Antara mau pamer duit gede atau cuma itu doang duit yang tertinggal satu-satunya, Tasya pun tidak tahu. Mereka makan di meja paling sudut biar jauh dari keramaian dan Andi tidak ingin ada warga kampus yang mendapati mereka sedang makan berdua. Andi tetap berusaha objektif. Ia makan karena memang merasa lapar tanpa ada unsur-unsur bumbu biji wijen-nya.


“Lo ternyata seasyik ini yah,” puji Tasya.


“Ah masa? Biasa aja kok.” Andi mengigit paha ayamnya. Tanpa malu-malu, suapan porsi kuli ia tampakkan di hadapan Sarah. Padahal, Tasya sedari tadi nyuapnya dikit-dikit.


“Gue kira elo itu cowok kalem gitu. Soalnya elo malah diem-diem aja kalau ada gue ….”

__ADS_1


“Anjir … masa gue dibilang pendiem sih?” Andi berpikir sejenak, sebenarnya Andi anaknya petakilan. Tapi karena bersama orang baru, jadinya Andi tidak terlalu terbuka. “Mungkin karena banyak orang baru ya. Gue itu kurang pede kalau bergaul dengan orang baru. Kalau sama orang yang udah kenal, ketawa sampai pagi pun bisa.”


“Hahah … mana ada orang ketawa sampai pagi. Aneh-aneh aja elo ….”


Tasya belum lihat Kevin mabok amer. Kerjaannya ketawa-ketiwi kaya abis ngegele.


“Jadi, KKN kita semuanya aman kan?”


Tasya mengangguk. “Iya, aman semua kok. Aman dan terkendali, tinggal kita aja yang ke sana. Gue enggak sabar tahu.”


“Bener tuh, gue juga enggak sabar. Soalnya di sana kan ada Nanang dan Sarah tuh. Apalagi Nanang, pasti asyik banget. Nanang itu sahabat gue sejak SMA,” balas Andi.


“Andi,” panggil Tasya.


“Iya ….”


Kelingking Tasya menyentuh tepi bibir Andi. Ia sempat diam tidak menggerakkan jari tatkala memandang mata Andi yang bulat.


“Ada saos, lo makan berantakan banget.”


Andi seperti kesentrum sewaktu disentuh Tasya. Pesona wanita itu terperangkap dari binar-binar matanya.


“Oh maap … gue enggak tahu.”


Selembar tissue pun membersihkan tepi bibirnya, tetapi tidak dapat membersihkan apa yang terjadi empat detik yang lalu. Ia sempat menyadari jika Tasya sangat cantik tatkala melakukan itu padanya.

__ADS_1


***


__ADS_2